The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Makan Siang Bersama



The Clink Restaurant, Avenue London


Setelah sekian lama tidak makan siang bersama, kini Arthur, Helena dan Mike menyempatkan waktu untuk makan siang bersama di salah satu Restauran di Pusat Kota London. Ketiganya berbincang kecil sembari menunggu kedatangan Elie yang masih dalam perjalanan. Sebenarnya Mike memaksa untuk menjemput sang istri dari lokasi pemotretan, tetapi Elie mengatakan tidak perlu, karena wanita itu sudah berada di dalam perjalanan bersama Veronica.


"Kapan jadwal operasi Paman Matthew?" tanya Arthur usai menyesap coffee miliknya. Saat ini memang di atas meja hanya tersedia minuman saja, sebab Mike dan Arthur menyampaikan kepada pelayan agar mengeluarkan makanan menunggu instruksi dari mereka.


"Lusa. Saat ini Daddy sudah berada di rumah sakit untuk melakukan beberapa pemeriksaan sebelum operasi," sahut Mike.


Arthur mengangguk. "Maaf, aku belum sempat mengunjungi Paman."


"Tidak masalah, Paman Vier dan Bibi Elle sudah cukup mewakilkan."


Memang beberapa hari ini, Xavier serta Elleana selalu berada di sisi Aprille dan Matthew. Sebagai teman baik, mereka ingin memberikan dukungan. Dan hal itu sudah cukup untuk Mike, sebab Keluarga Romanov sudah sangat membantu keluarganya.


"Lalu bagaimana dengan Mei?" tanya Arthur kembali. Sudah lama sekali ia tidak mendengar berita tentang Meisha. Ia berharap Meisha sudah menjalani kehidupan normal.


"Ah, Mei baik-baik saja. Saat ini aku sudah memanggil guru privat untuknya. Dia bersikeras untuk mengulang pelajaran yang sempat tertunda dan dia merasa jika sudah menjadi bodoh dengan tidak tau apapun." Mike teringat akan perkataan Meisha setelah ia pulang dari honeymoon. Adiknya itu bersikeras untuk memulai dari awal dan ingin menjalani keseharian yang telah banyak terlewati.


Arthur dan Helena terdiam. Memang menurut mereka, Meisha sudah banyak kehilangan waktunya. Tetapi mereka pun turut senang jika Meisha bersemangat untuk menjalani hari-harinya.


"Mei, pasti bisa melewatinya. Ada kau sebagai kakak yang selalu berada disisinya dan juga ada Paman dan Bibi Aprille," ujar Arthur. Untuk pertama kalinya ia bicara dengan Mike begitu lembut dan menghibur.


"Kau benar, kami tidak mungkin membiarkan Mei melewati seorang diri."


Helena menipiskan senyumnya ketika pandangannya bertemu dengan Mike. Wanita itu tidak menduga jika hubungannya dengan pria itu akan sebaik ini jika mengingat sikap Mike yang selalu menjaga jarak dengannya.


Mendapati pandangan Helena yang tertuju pada Mike, Arthur mendekati wajah tepat di cuping telinga istrinya itu. Kemudian berbisik, "Jangan melihatnya terlalu lama, Love. Kau hanya boleh menatapku saja. Mengerti hm."


Tubuh Helena menegang sekaligus berdesir, ia menelan susah payah salivanya yang kering. Kemudian menoleh dan mendapati wajah suaminya yang menatapnya tajam.


"Maaf Honey. Tidak akan lagi." Bagaikan tertangkap tengah berselingkuh mata, Helena tersenyum kuda. Lalu mengecup bibir Arthur untuk mengalihkan kemarahan suaminya itu.


Dan tindakannya itu berhasil meredam rasa cemburu Arthur, pria itu menarik tengkuk leher Helena dan melummat bibir istrinya itu.


Mike yang menyaksikan mereka tengah menyatukan bibir, membuang pandangannya ke arah lain. "Sial, mereka lupa jika disini ada orang lain," batinnya kesal. Jika saja ada Elie, sudah pasti ia akan melakukan hal yang sama. Kemudian Mike baru menoleh kembali ketika ciuman Arthur dan Helena berakhir.


"Maaf, aku terlalu lama datang." Elie datang tergesa-gesa dengan deru napas yang tidak beraturan. Wanita itu hanya tidak ingin membuat suami serta kakak dan kakak iparnya menunggu, sehingga ia berjalan dengan tergesa-gesa sejak di parkiran Restauran.


"Tidak apa-apa, Sweetheart." Melihat kedatangan sang istri, Mike mengembangkan senyumnya. Bangkit berdiri lalu menyeka setitik keringat di kening Elie. Sebelum kemudian menarik tengkuk leher Elie dan membenamkan kecupan di bibir sang istri. Tidak hanya kecupan, melainkan lumatann panjang sehingga mau tidak mau Elie harus membalas ciuman suaminya.


Arthur dan Helena hanya menggelengkan kepala. Mereka mengerti jika Mike hanya ingin membalas dendam kepada mereka. Berbeda dengan seorang wanita cantik yang berdiri hingga terpaku selama beberapa saat, ketika melihat secara live pasangan suami istri yang berciuman mesra.


"Mike, kau ini..." Elie mendorong dada Mike, sebagai bentuk protes akan tindakan sang suami yang tidak tau malu. Meskipun yang melihat hanya Helena, Arthur dan Veronica.


"Tapi kau menikmatinya, Sweetheart." Mike terkekeh, lalu menyeka sudut bibir Elie yang meninggalkan jejak saliva mereka.


Elie menyembulkan rona malu di wajahnya. Ya, memang ia selalu menikmati ciuman Mike yang memabukkan.


"Aduh, kenapa disini panas sekali. Apa di ruangan ini tidak ada pendinginnya?" Veronica mengibaskan tangannya di depan wajah, seolah hawa disana benar-benar panas dan ia memang sengaja mengeraskan suara agar mereka yang tengah bermesraan itu menyadari keberadaan dirinya yang hanya datang seorang diri saja. Lalu ia berjalan menuju meja, melintasi Elie dan Mike begitu saja. "Hai, Helen. Bagaimana kabarmu?" sapanya kemudian kepada Helena.


Helena menyambut baik sapaan Veronica. "Aku baik, Vero. Kau sendiri bagaimana?"


"Aku juga baik." Seperti biasa Veronica selalu heboh dimanapun dan kapanpun. Dan pandangannya tidak sengaja bersitatap dengan Arthur, senyum yang mengembang itu perlahan menyurut saat ditatap begitu tajam oleh Arthur.


Astaga, dia menyeramkan sekali.


"Kenapa berdiri saja, Vero. Duduklah." Elie merangkul teman baiknya itu, lalu menuntunnya untuk segera duduk.


Veronica mengusap lehernya, sejujurnya ia merasa sangat canggung berada di antara Taun Arthur dan Tuan Mikel. Tetapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin menolak ajakan makan siang Elie serta Helena.


Semuanya sudah duduk di kursi masing-masing. Veronica mengambil kuris di samping Elie, sehingga Elie berada di antara Mike dan Veronica. Makanan yang dipesan sudah tersaji di atas meja, Veronica begitu tergiur dengan banyaknya makanan yang mereka pesan. Dan semua terlihat lezat dan tentu saja sangat mahal.


Meskipun canggung berada di antara keempat pasangan mesra itu, tidak menyurutkan napsu makan Veronica. Wanita itu, tetap menikmati makan siangnya. Sebab sayang sekali makanan semahal itu jika tidak dinikmati dengan suka cita, pikirnya.


Suara ketukan pintu menjeda perhatian Arthur sejenak. Tak lama, muncullah sosok pria tampan dengan setelan jasnya, setelah satu minggu berada di Jepang.


"Ar, aku sudah membawakan dokumen yang kau inginkan."


"Uhukk...." Mendengar suara yang tidak asing, membuat Veronica gagal meluncurkan kunyahan makanannya ke dalam tenggorokan, sehingga wanita itu tersedak.


"Astaga Vero, pelan-pelan saja." Elie memberikan segelas air mineral kepada Veronica yang segera diraihnya, lalu diteguk oleh wanita itu.


Veronica bernapas lega setelah minum. Ia bahkan tidak begitu jelas mendengar percakapan pria itu dengan Arthur. Padahal berdiri menjulang tepat di sisinya.


"Tuan Darren," gumamnya. Hanya ia sendiri yang dapat mendengar. Veronica meneguk salivanya ketika ia mengangkat wajah dan pandangannya bertemu dengan Darren yang menatap ke arahnya.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...