
Helena tidak ingin pedulikan lagi perihal Darren yang enggan menjawab pertanyaannya. Ia mengerti kenapa pria itu menghindari pertanyaannya, sebab selama yang ia tahu dari Arthur jika Darren tidak memiliki kekasih dan tipikal pria yang sulit di dekati oleh wanita. Tidak berbeda jauh dengan Arthur dan ia merasa beruntung karena telah berhasil meluluhkan pria dingin seperti Arthur. Dari banyaknya wanita yang berusaha mendekati pria itu, hanya dirinya yang dipilih dan itu merupakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Kenapa, hm?" Usapan lembut di kepala Helena menyadarkan wanita itu dari lamunannya.
Helena yang terkesiap menampilkan senyum tipis. Di tatapnya wajah Arthur yang selalu tampan dan menawan. Pria di hadapannya itu adalah suaminya dan Daddy dari kedua janinnya.
"Tidak apa," jawabnya dengan seulas senyum.
Arthur mengangguk saja. Ia kembali memusatkan perhatian pada Darren dan melanjutkan percakapan.
Seruan seseorang yang baru saja masuk ke dalam mansion mengalihkan perhatian ketiganya. Di susul suara langkah kaki yang semakin mendekat.
"Oh, ada kau rupanya Der." Austin berpura-pura terkejut. Padahal di depan pelataran ia sudah melihat mobil Darren yang terpakir disana.
"Helen, hai...." Elie menyapa kakak iparnya. Ternyata Austin tidak datang seorang diri. Elie berjalan melintasi Austin dan mendekati Helena yang sudah siap menyambut kedatangannya.
"Hai... kenapa datang tidak memberitahuku lebih dulu. Bagaimana jika aku dan Ar sedang berada diluar." Helena memeluk Elie penuh kerinduan. Sudah hampir satu minggu ia tidak bertemu dengan adik iparnya itu.
Elie melepaskan pelukannya. "Aku sudah tau jika kau selalu berada di penthouse. Karena itu aku dan Mike segera datang kemari."
"Lalu dimana Mikel?" Kedua mata Helena mengitar, mencari sosok Mike yang tidak berada dimanapun.
"Ah, dia sedang menerima telepon diluar," jawabnya. Lalu pandangannya beralih pada Arthur, ia bergerak maju dan memeluk kakaknya itu.
"Bagaimana kabarmu, hm?" tanya Arthur usai melerai pelukan mereka.
"Kabarku sangat baik kak," jawabnya. "Bagaimana dengan Kak Ar? Sepertinya penampilan Kak Ar sedikit berubah, lihatlah rambutmu sedikit lebih panjang dari sebelumnya." Elie meneliti Arthur dari ujung kepala hingga ujung kaki, nampak perubahan yang ia lihat pada diri kakaknya itu. Arthur biasanya tidak begitu menyukai rambut panjang.
"Aku sengaja memanjangkan rambutku." Arthur menjawab seadanya.
"Hm, kenapa?" Tentu saja ia penasaran. Selama ini kakaknya itu selalu berpenampilan rapih dan memangkas rambutnya dengan style pendek. Tetapi yang ia lihat kini sang kakak hanya mengenakan celana pendek dan T-shirt tanpa lengan sehingga menampilkan otot-otot pada lengannya.
"Hm, itu... aku yang memintanya untuk tidak memotong rambutnya." Helena tiba-tiba menyela.
Kedua mata Elie mengerjap, bahkan Austin yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka pun tidak mengalihkan perhatiannya dari sang kakak. Baru satu minggu tidak bertemu tetapi penampilan Arthur sangat berbeda, menambah kesan garang dan jujur saja ia menyukai penampilan kakaknya saat ini.
"Wah, pasti kau sedang mengidam ya. Aku pernah mendengarnya dari Mommy jika keinginan istri yang sedang mengidam harus di turuti. Jika tidak, maka bayinya akan meneteskan air liur," seru Elie. Ia teringat akan perkataan Sang Mommy yang sering bercerita mengenai kehamilan saat mengandung Arthur, dirinya serta Austin.
Helena tersenyum hingga menampilkan deretan gigi putihnya. Elie tepat sekali, sebab ia memang tidak ingin melihat Arthur memangkas rambutnya.
Arthur mengusap tengkuk leher. Untung saja ia menuruti keinginan sang istri pada saat satu minggu yang lalu berkata agar rambutnya tetap dibiarkan panjang seperti ini. Dan ia baru menyadari jika Helena sedang mengidam saat itu. Jika tidak di turuti, maka ia tidak bisa membayangkan kedua anaknya akan meneteskan air liur secara terus menerus.
"Bos Ar, aku letakan dimana semua ini?" Dua anak buah melangkah masuk dengan membawa banyak barang dan entah apa isinya.
Bersamaan dengan kedatangan dua anak buah, Mike masuk ke dalam dan ia segera berdiri di sisi Elie.
"Apa yang kalian bawa?" tanya Arthur. Kedua matanya menelisik tas besar yang di panggul oleh dua anak buah.
"Ah, semua ini dari Paman Adam. Ada makanan dan barang-barang yang dibawa dari Indonesia." Bukan anak buah yang menjawabnya, melainkan Austin. Kedatangannya memang untuk mengantarkan titipan dari Paman Adam yang datang berkunjung pagi tadi.
"Paman Adam?" Kedua alis Arthur mengernyit. "Apa Paman Adam berada di London?"
Arthur mengangguk mengerti. "Kalian letakan saja di dalam. Untuk makanan letakkan di dapur dan barang-barang lainnya letakan saja disini," titahnya kemudian.
"Baik bos Ar."
Keduanya bergegas melangkah ke dapur dan setelahnya membawakan beberapa barang-barang ke ruang tamu.
"Ar, siapa Paman Adam?" Suara Helena membuat mereka serempak menoleh ke arahnya.
"Oh astaga, kami lupa memberitahumu. Paman Adam adalah teman baik Daddy. Sayang sekali saat pernikahan kita, Paman Adam dan keluarganya tidak bisa datang karena saat itu Bibi dan Dam mengalami kecelakaan." Elie menyambar lebih dulu, menjelaskan perihal Paman Adam.
Helena menganggukkan kepala. Pantas saja ia merasa asing dengan nama itu.
"Apa kau dan Mike bertemu dengan Paman Adam?" tanya Arthur kepada Elie.
"Iya, aku dan Mike bertemu dengan Paman Adam, karena tadi malam kami menginap di Mansion Daddy." Elie kembali menyahut dan Arthur menanggapi dengan anggukan kepala.
"Dan Paman Adam mengatakan agar kau menghubunginya," timpal Mike menyampaikan pesan yang Adam katakan padanya. "Dan dia juga ingin mengenal istrimu," sambungnya.
"Hm, aku akan menghubunginya nanti," sahut Arthur. "Tapi sebaiknya kau tidak perlu melihat istriku seperti itu!" Tatapan Arthur menajam. Entah kenapa saat Mike melirikan ekor matanya pada Helena, ia menjadi tidak suka dan segera menarik sang istri agar lebih dekat dengannya.
"Come on Ar. Kau tidak mungkin masih cemburu padaku, bukan?!" Mike terperangah tidak percaya dengan diiringi decakan lidahnya.
"Mike sayang, jangan di ambil hati perkataan Kak Ar, dia menjadi lebih posesif semenjak Helen hamil." Elie mengusap lengan Mike, menenangkan suaminya itu.
"Ck...." Arthur berdecak kesal. Cemburu Entahlah, ia hanya merasa tidak menyukai jika ada yang menatap istrinya. Sementara Helena tersenyum kikuk kala suasana berubah membekukan. Ada apa dengan kedua pria itu? pikirnya.
Meninggalkan keempat pasangan suami istri yang sedikit terlibat percekcokan, Austin menarik Darren agar ikut dengannya menuju dapur. Disana ia melihat beberapa maid telah menatap makanan-makanan yang menurut pandangan mereka begitu nampak asing.
"Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa Paman Adam membawa banyak sekali makanan?" Darren mengitari bola matanya untuk meneliti makanan-makanan yang sepertinya serupa dengan makanan ringan.
Austin terkekeh. "Setiap berkunjung Paman Adam selalu membawakan banyak makanan dari Indonesia." Ya, selalu seperti itu. Dan baik dirinya serta kedua orang tuanya sudah terbiasa akan kedatangan Paman Adam yang pasti akan dihebohkan dengan buah tangan berupa makanan maupun barang-barang khas negara Asia itu.
"Kau benar As." Darren mengangguk setuju. Ia pun dan kedua orang tuanya mendapatkan bagian buah tangan dari Paman Adam.
To be continue
Pastinya kalian masih ingat sama Adam dong, saingannya babang Nico di Novel Bastard Mafia ðŸ¤
Babang Arthur
Helena
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...