The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Arthur Yang Mengerikan




Seruan canda tawa memenuhi penthouse milik Lion Boys. Siang ini pemuda-pemuda tampan mengundang teman-teman wanita serta Dragon Boys. Mereka berpesta minuman, pesta makanan dan bermain game, tanpa free sekss. Berkumpul, bercanda gurau sudah cukup bagi mereka menikmati masa muda.


"Hahaha kau tau bro, aku baru saja berkenalan dengan wanita cantik." Entah efek mabuk atau karena terlalu senang, Liam begitu antusias ketika menceritakan tentang wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Kau selalu saja berkenalan dengan wanita. Kapan kau akan berkenalan dengan seorang nenek-nenek, Lim?" seloroh Elden. Mereka cukup jengah karena apapun yang disampaikan oleh Liam tidak luput dari yang namanya wanita.


"Hahahahaha....." Semua di dalam sana menyambut dengan gelak tawa ketika mendengar ledekan Elden.


"Sial!!!!!" desis Liam mendengkus kesal.


"Kita juga cantik, apa kau tidak ingin berkencan dengan salah satu diantara kita, Lim?" tanya salah satu wanita yang duduk berseberangan dengan Liam.


"No Anitta, untuk apa aku berkencan denganmu. Kau sudah memiliki kekasih dan hampir setiap hari kau bercinta dengannya," seru Liam apa adanya. Bahkan berkata begitu jujur, tidak pedulikan Anitta yang mungkin saja akan tersinggung.


"Oh, shittt. Kau membuka kartuku, Lim." Anitta berdecak, ia berpura-pura marah.


"Yang dikatakan Lim benar Baby, kau tidak seharusnya marah." Teman wanita Anitta mencolek dagu Anitta sembari terkekeh.


"Ck, kau juga sama saja, selalu menggoda Lim tapi sebenarnya kau mengincar salah satu dari mereka bukan?" sembur Anitta.


"Ssshhtt... diamlah!" Julia menempelkan jari telunjuknya pada bibir Anitta.


"What??? Apa aku tidak salah dengar. Siapa yang kau incar di antara kami, Julia?" Elden tidak sengaja mendengar percakapan kedua wanita di hadapannya itu. Karena jarak mereka hanya dibatasi oleh meja kaca.


"Ti-tidak ada...." Julia tergagap, ia membuang pandangannya ke arah lain agar tidak bertemu pandang dengan Elden yang meledek dirinya.


Elden terkekeh melihat Julia yang mendadak tergugup. Ia hanya melirik ke arah Anitta yang mengangkat kedua bahunya, ia sudah berjanji untuk tidak memberitahukan kepada siapapun.


"Baiklah.... baiklah, aku tidak akan memaksa." Elden mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Memiliki adik perempuan membuatnya sedikit paham. Jika dipaksa maka akan melihat sisi mengerikan seorang wanita, yaitu berteriak atau bahkan melempar barang seperti yang dilakukan Kimberly.


"Hei, kenapa kalian hanya duduk saja disini. C'mon bergabung dengan kita." Satu wanita yang berpakaian cukup minim menghampiri Anitta serta Julia untuk bergoyang seperti temannya.


"Astaga Vanessa, kau terlihat menjijikan," cetus Anitta menggeleng melihat goyangan yang tidak karuan dari Vanessa.


Vanessa terkekeh lalu menarik Theresia agar mengikuti goyangannya. Theresia pun tidak kalah menggila seperti temannya Vanessa, dengan rambut pendek bergelombang berwarna pink, Theresia mengikuti gerakan pinggul memutar. Anitta serta Julia terkekeh geli namun kemudian dibuat mengikuti gerakan gila tersebut.


Austin menggelengkan kepalanya melihat kelakuan teman-temannya yang mengundang beberapa teman kampus wanita. Menyaksikan bagaimana keempat wanita itu asik menggoyangkan pinggulnya, membuat Jacob, Albern, Maxwell dan Devano tercengang. Terlebih saat Beryl dan Dean yang notabennya lebih pendiam dari mereka turut menari dengan gila.


Minuman kaleng bersoda diraih oleh Austin, baru satu tegukan saja Austin dibuat terkesiap ketika Vanessa mendekati dirinya dan bahkan dengan berani bergoyang sensual dari atas hingga ke bawah.


Austin tersenyum disertai kepala yang menggeleng dan apa yang dilakukan oleh Vanessa disaksikan oleh yang lain, termasuk Jacob.


"Jangan sampai Licia melihatnya," ucap Jacob. Entah sejak kapan pemuda tampan itu sudah berdiri di samping Austin.


"Apa?" Austin menoleh. "Aku tidak melakukan apapun bodoh. Kau marahi saja Vanessa!" serunya sembari meletakkan kaleng soda yang masih terisi penuh itu ke atas meja.


"Tapi kau menikmatinya, bodoh!"


"Bajingan! Apa kau tidak bisa bedakan antara menikmati dan tidak? Jika aku menikmatinya aku sudah menyentuhnya, bodoh!" Austin mendengkus kesal tidak terima. Padahal ia hanya berusaha menahan diri untuk tidak menendang Vanessa.


"Menyentuh apa?" Mata Jacob memicing, merasa perkataan Austin begitu ambigu.


"Menurutmu apa yang bisa aku sentuh?" Dan membalas pertanyaan Jacob dengan pertanyaan lagi, hingga membuat Jacob kian meradang.


"As....?!!" Dan suaranya tertahan. Austin hanya terkekeh sambil berlalu pergi. Melihat Austin yang melarikan diri, Jacob mengejarnya dan terjadilah aksi kejar mengejar.


"Aku tidak akan sudi jika kau menjadi iparku!!" Teriakan Jacob menggema disana, meskipun suara musik lebih mendominasi.


"Heh, memangnya kau pikir aku sudi menjadi iparmu!" Austin balas berteriak. "Aku akan menjodohkan Frey dengan pria yang lebih segalanya darimu, haha!" sambungnya kemudian. Sejak beberapa hari yang lalu, ia selalu memperhatikan tatapan Jacob saat bertemu pandang dengan Freya di kampus. Ternyata pria bodoh itu diam-diam menaruh hati kepada sepupunya.


"Kemari kau, dasar berengsek!" Jacob masih saja mengejar Austin yang sudah menapaki tangga. Namun mendadak langkahnya terhenti lantaran nyaris bertabrakan dengan Gavin.


"Wow, santai bro." Gavin menghalangi langkah Jacob.


"Santai kau bilang?!" serunya kesal. "Aku ingin menyumpal mulutnya!" Dan kekesalan Jacob justru disambut kekehan oleh Gavin.


"Kau mengincar Frey-ku, heh?!" Ternyata apa yang diperdebatkan oleh Jacob dan Austin di dengar oleh Devano. Bagaimana tidak, kedua pria itu berbicara dengan begitu keras sehingga tidak hanya Devano saja yang mendengar. Albern, Maxwell serta Elden mendengarnya dengan jelas.


"Tidak!" Namun dibantah tegas oleh Jacob. "Kau salah mendengar!" kilahnya mendesis.


"Ck, aku tidak tuli bodoh!" seru Devano. "Dengar, kau tidak akan bisa mendapatkan Frey dengan mudah. Kau harus melangkahiku lebih dulu." Kemudian Devano menepuk-nepuk bahu Jacob. Memberikan tekanan terlebih dahulu kepada pria yang menaruh hati kepada adiknya.


Gavin yang berada di antara mereka tidak bisa menahan gelak tawanya. "Hahaha kau sudah ditolak sebelum berjuang Jac." Sungguh reaksi Jacob benar-benar membuatnya geli.


"Sialan. Keparat!" umpat Jacob kepada Gavin. "Dengar Dev, meski kau menolakku tapi jika Frey menyukaiku kau bisa apa?!" Kali ini perkataan Jacob mampu membuat Devano membungkam.


"Ck, kau bukan tipenya," sahut Devano asal. Ia sendiri juga tidak mengetahui tipe idaman Freya.


"Tidak masalah. Aku akan menjadi apa yang dia inginkan," ujar Jacob terkekeh.


"Gila!" Malas menanggapi Jacob yang semakin lama semakin tidak waras jika ditanggapi, Devano mengayunkan langkah menjauh.


Jacob masih saja terkekeh walaupun Devano sudah menjauh. Berbeda dengan Gavin yang masih berdiam pada posisinya.


"Sepertinya kau benar-benar sudah gila," cetusnya turut berlalu meninggalkan Jacob yang perlahan kekehannya menyurut.


***


Petang sudah menyambut dan semburat jingga keemasan sudah mencegah di langit. Namun di antara mereka tidak ada yang ingin beranjak dan membubarkan diri. Mereka ingin menghabiskan waktu hingga larut malam, terlebih beberapa pizza hangat masih berjajar di atas meja, baru tersentuh beberapa box saja.


Canda gurau yang saling menyahut itu menggema di dalam sana, sehingga mereka tidak menyadari jika ada dua sosok dingin yang berdiri memperhatikan mereka. Ya, Arthur memasang wajah datar namun sorot matanya begitu mematikan.


"Bos Ar???" Liam yang sudah lebih dulu melihat kedatangan bos mereka, sontak berdiri dan bahkan melempar kaleng soda ke sembarang arah.


"Oh shittt!!" Austin yang berada di lantai atas, berlari menuruni tangga begitu sorot matanya melihat kedatangan Arthur yang tentunya melayangkan tatapan horor.


Tawa yang semula memenuhi seisi penthouse perlahan meredup. Mereka menoleh ke asal sumber yang membuat mereka bergidik selama beberapa saat.


Glek


Masing-masing menelan saliva dengan susah payah, sebelum kemudian saling pandang.


"Oke, pesta dibubarkan!" seru Austin saat sudah berada di lantai bawah. Dengan napas yang naik turun ia membubarkan semua teman-temannya.


"Baiklah..... kami pergi dulu." Jacob beranjak, ia tahu bahwa akan ada bom yang meledak jika mereka lebih lama lagi berada disana. Disusul Albern, Beryl dan Maxwell, mereka mengikuti langkah Jacob menuju pintu.


Dan alih-alih pergi, para wanita justru tergugup lantaran terpesona dengan ketampanan Arthur serta Darren.


"Oh my gosh, aku baru saja melihat Dewa Yunani." Anitta menangkup kedua pipinya, tercengang dengan ciptaan Tuhan yang satu itu, dingin tidak tersentuh tetapi menggemaskan.


Liam gelagapan, ia segera menarik lengan Anitta agar beranjak dan segera pergi dari sana. Sementara Gavin serta Elden sudah menarik Vanessa dan Theresia. Berbeda dengan Julia, tanpa ditarik, wanita itu beranjak dengan sendirinya.


"Pergilah dan jangan kembali lagi jika ingin nyawa kalian tetap aman." Liam mendorong keempat wanita itu di depan pintu dan mengusir mereka.


"Hei, Lim-"


"Shhttt, shut up!" Gavin menyela Anitta yang hendak melayangkan protes.


"Pergi... husshh.... husshh..." Elden mengayunkan kedua tangannya, mengusir keempat wanita itu seolah mengusir anak itik. Sebelum kemudian ketiganya menutup pintu secara bersamaan. Buru-buru mereka menghampiri Arthur.


"Hoaamm...." Devano mengangkat kedua tangannya, merenggangkan otot-ototnya yang tiba-tiba terasa kaku. "Aku mengantuk, jadi aku akan ke atas." Lalu mengayunkan langkah menuju tangga. Tentu ia tidak ingin terkena amarah Arthur yang menurutnya mengerikan.


"A-aku juga..." Dean buru-buru mengejar langkah Devano. Ia juga tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Arthur.


Kini hanya tersisa mereka bertiga yang memasang wajah memelas. Menundukkan pandangan karena tidak berani menatap Arthur yang sejak tadi menyoroti mereka dengan tatapan menajam.


"DUDUK!!" ujar Arthur tegas.


Bagaikan anak itik yang patuh kepada induknya, ketiganya menurut dan membenamkan tubuh mereka di sofa. Darren mengulum senyum, menyaksikan ketiganya benar-benar tunduk dengan Arthur.


"Katakan apa yang kalian sembunyikan?!" Tanpa berbasa-basi, Arthur menanyakan apa yang menjadi tujuan kedatangannya.


"Hah??" Ketiganya spontan terkejut bersamaan.


"Apa yang terjadi di The Landmark London Hotel pada malam itu?!!" tanyanya kemudian. Tidak memberikan mereka jeda untuk menghindar.


Glek


Oke, kini mereka paham kedatangan Arthur serta Darren tiba-tiba menyambangi penthouse mereka.


"Seorang pria mengaku menjadi kekasih Nona Elie di hadapan Keluarga Born dan Keluarga Sandler. Pria itu sangat tampan dan cocok sekali dengan Nona Elie." Mendadak ketiganya menyahut serentak dengan nada serupa seperti seorang rapper, berucap cepat dan tanpa jeda. Bahkan hembusan napas mereka tidak terdengar sekalipun.


Arthur terperangah, bukan karena terkejut. Melainkan cara penyampaian mereka justru seperti manusia robot. Berbeda dengan Darren yang nampak terganggu dengan ucapan mereka. Lebih tepatnya merasa terganggu dengan kalimat 'seorang pria mengaku menjadi kekasih Nona Elie'.


To be continue


Elden : Babang Nico


Gavin : Babang Keil


Liam : Babang Daniel


Jacob : Babang Zayn


Albern : Babang Roy


Beryl : Babang Jeff


Maxwell : Babang Anthony


Devano : Babang Edward


Dean : Babang Jack adik dari Darren.


...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...