
Helena turun dari taksi yang di tumpanginya. Butuh perjalanan selama dua jam dari Kota London menuju Kota Bristol, dimana Perusahaan Bonham berdiri dengan kokoh dan menjulang tinggi di salah satu kota terpadat di Inggris dan Britania Raya tersebut.
Langkah Helena terurungkan sejenak begitu mendengar suara Mikel memanggil dirinya. Pria itu tergesa-gesa menghampiri dan terlihat Nathan mengekori. Karena Nathan sudah mengetahui permasalahan keluarga Helena, Mikel tidak melarang asistennya itu untuk ikut bersamanya. Sekaligus menjadi saksi jika dirinya dengan Helena murni hanya membantu agar suatu saat nanti Elie tidak salah paham kepadanya. Besar kemungkinan berita mengenai dirinya dengan Helena yang datang ke Perusahaan Bonham akan mencuat ke publik.
Semua mata karyawan memandang mereka, sudah lama sekali dua sejoli itu tidak menampakkan wajah bersama. Terlebih Helena yang mereka ketahui selalu sibuk mengurus usahanya di Paris dan hari ini mereka terlihat bersama, sehingga menimbulkan kehebohan. Bahkan terdapat beberapa wartawan yang ternyata sudah menunggu di depan gedung perusahaan. Mereka tidak menduga jika akan bertemu dengan sepasang mantan kekasih yang masih nampak akur.
Tidak mudah bagi Helena dan Mikel untuk melewati barisan para wartawan tersebut. Tetapi pada akhirnya keduanya berhasil melewati para wartawan berkat bantuan dari orang-orang kepercayaan Mikel dan keduanya segera menaiki lift menuju ruang rapat.
BRAK
Pintu dibuka dengan kasar oleh Helena disusul oleh Mikel dan Nathan di belakang wanita itu. Kini ketiganya menjadi pusat perhatian para pemegang saham di ruangan rapat tersebut.
"Nona Helena?" Sebagian dari peserta rapat terkejut, tak terkecuali Jorge dan Margareth yang duduk dengan congak di salah satu kursi disana.
"Kenapa aku tidak dilibatkan dalam rapat hari ini? Apa kalian lupa jika aku salah satu pemegang saham di Perusahaan Bonham?" Tangan Helena terlipat di depan dada, memperlihatkan sisi angkuhnya. "Oh, aku mengerti, ada yang sengaja ingin menjual saham milikku tanpa sepengetahuanku?" Perkataan sarkas Helena sengaja di tekankan untuk Jorge dan juga Margareth. Penuh sindiran dan memukul telak kedua pasangan paruh baya itu.
"Untuk apa kau datang kemari?!" Namun alih-alih panik, Jorge melayangkan ketidaksukaan akan kehadiran putrinya itu. Padahal berbagai cara sudah ia lakukan untuk menutupi rapat penting kali ini. Lirikan tajam Jorge kemudian terjatuh pada Mikel, sudah pasti pria itu yang memberitahu Helena. Seharusnya ia tidak meremehkan Mikel, terbukti pria itu semakin berada di atasnya.
Helena berdecak mendengar seruan Jorge. "Apa Daddy lupa jika aku juga pemilik saham di Perusahaan ini. Apa Daddy sudah cukup tua, jadi melupakan hal sepenting ini."
"Kurang ajar!" Jorge menggebrak meja, merasa putrinya itu tidak menghormatinya dan sudah mempermalukan dirinya. "Jaga bicaramu di depan yang lainnya!" katanya kemudian menegur.
Helena berdecak sinis, baginya sudah biasa Jorge memperlakukan dirinya dengan keras. "Aku tidak akan bicara seperti ini jika Daddy sedikit saja menganggapku. Aku memiliki saham di Perusahaan Bonham dan tidak akan pernah menjual saham milikku kepada siapapun!" Tegas dan penuh penekanan, itulah sosok Helena yang saat ini terlihat di mata Jorge dan Margareth. Keduanya tidak menduga jika Helena sudah tumbuh menjadi wanita dewasa dan begitu berani. Padahal beberapa waktu lalu, Helena masih menjadi wanita yang naif dan di butakan oleh cinta.
Margareth dan Jorge saling melirik melalui sudut mata. Tentunya tidak ingin Helena mengacaukan rapat kali ini, cukup sulit mengumpulkan dan meyakinkan para pemegang saham untuk rapat penting kali ini.
"Helen, kau tidak diperlukan disini. Apalagi kau tidak mengerti masalah perusahaan. Lagipula mana mungkin kami akan menjual saham milikmu." Margareth yang sejak tadi bungkam, kini mengeluarkan suaranya. Berkelit agar tidak semakin menimbulkan kecurigaan putri sambungnya itu.
Saat mendengar perkataan Margareth, Helena tersenyum miring. "Orang luar dilarang bicara. Bukankah kau juga tidak diperlukan disini, jadi untuk apa kau berada di ruang rapat seperti ini?" Bukankah aneh jika Margareth dilibatkan dalam rapat kali ini. Wanita itu hanya mengerti cara menghabiskan uang saja, pikirnya.
"Kau...." Margareth terserang emosi, perkataan putri sambungnya tersebut menaikan amarahnya yang sudah tertahan sejak tadi.
"Cukup Helen!" bentak Jorge tidak mampu mentolelir sikap Helena. "Sebaiknya kau segera keluar dari ruangan rapat. Kami hanya membicarakan rapat rutin bulan ini, jadi kau tidak perlu bertindak berlebihan seperti ini!" Mencoba menahan emosi, sebab semua mata memandang ke arahnya. Ia tidak ingin citra baiknya yang sudah dibangun susah payah hancur dalam sekejap saja.
"Benarkah?" Satu alis Helena terangkat dengan garis bibir yang turut terangkat. Hanya wanita bodoh saja yang langsung percaya dengan perkataan pria tua itu dan sayangnya ia bukan wanita bodoh seperti beberapa waktu silam. Sorot mata Helena melirik map di atas meja, map yang sedari tadi di genggam oleh Margareth. Entah sadar atau tidak, wanita tua itu menunjukkan betapa penting map tersebut. Helena mendongak menatap Mikel yang hanya menjadi penonton disana. Memang bukan ranah pria itu untuk mencampuri urusan Helena. Melihat Mikel yang mengangguk, Helena mengerti. Ia kemudian berjalan mendekati Margareth, sehingga membuat ibu sambungnya itu terkesiap.
Mempertahankan milik sendiri memang harus, tetapi Margareth lupa jika map yang di genggamnya adalah soft copy surat kuasa yang sudah dibubuhi tanda tangan palsu. Sebab Helena merasa tidak sekalipun menandatangani surat kuasa mengenai sahamnya yang akan dijual.
"Berikan padaku Helen. Ini milikku!" Margareth ingin merebut kembali map miliknya itu, namun Helena terlanjur sudah membaca apa isinya dan tidak membiarkan Margareth merebutnya kembali.
Satu garis bibir Helena terangkat ke atas. Sungguh luar biasa kedua manusia itu telah menyusun rencana yang matang serta memanipulasi tanda tangannya. Helena kembali pada posisi semula, meninggalkan Margareth dengan wajah yang merah padam. Ingin menarik rambut putri sambungnya tetapi Jorge terlebih dahulu menahan istrinya itu.
"Baiklah, sepertinya ada kesalahpahaman disini." Helena melemparkan senyuman kepada peserta rapat yang menatap ke arahnya. "Aku Helena Bonham menegaskan kepada kalian bahwa tidak akan pernah menjual saham ini kepada siapapun. Itu artinya saham 25% akan tetap menjadi milikku. Rapat apapun harus melibatkanku atau perwakilan diriku ketika aku berhalangan hadir." Sorot mata Helena kemudian tertuju pada sosok pria berusia lebih muda dari Jorge. "Tuan Alarick akan menjadi wakilku ketika aku berhalangan hadir." Semua mata sontak tersita pada sosok Alarick. Salah satu pemegang saham di Perusahaan Bonham, meski hanya memiliki saham 3% saja tetapi ialah pria yang satu-satunya dipercayai oleh Helena dan Mikel.
Alarick beranjak berdiri, ia memberikan tundukkan hormat kepada semua yang berada di dalam sana. "Baik Nona, saya akan dengan senang hati menjaga amanah Nona." Tersenyum puas Helena melihat bagaimana Jorge dan Margareth terperangah tidak percaya. Ternyata di antara mereka masih ada yang mendukung penuh putrinya itu. Dan mereka tidak mencurigai pria itu, pria yang ternyata bekerjasama dengan Mikel dan Helena, mendukung mereka berdua.
"Kalau begitu terima kasih banyak untuk hari ini. Maaf sudah menyita waktu kalian," kata Helena lantang.
Mereka saling berbisik, tidak menduga jika rapat kali ini hanya kesalahanpahaman semata. Padahal beberapa dari mereka berniat untuk membeli saham 25% tersebut. Merasa tidak sesuai dengan hasil, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari sana dengan perasaan kesal tentunya sebab sudah membuang waktu berharga mereka.
Kini di dalam ruang rapat tersebut tersisa Helena, Mikel, Jorge dan Margareth serta Nathan yang lebih memilih berdiri di depan pintu. Nathan akan maju tentunya jika Mikel membutuhkan bantuan dirinya.
BRAK
"Kurang ajar! Wanita jalaang!" Margareth menumpahkan kekesalannya dengan menggebrak meja.
"Kau??!" Margareth bergerak maju, hendak melayangkan sebuah tamparan, tetapi....
Plak
Tangan Jorge terlebih dulu mendarat bebas di pipi kiri Helena.
BUGH
Mikel meninju wajah Jorge sebagai balasan karena telah lancang menampar Helena. Sedari tadi ia diam, tetapi jika sudah bermain kekerasan tentu ia harus bergerak.
"Berani-beraninya kau memukulku!" Jorge berteriak tidak terima, rahangnya yang penuh dengan bulu-bulu hitam putih itu terkena pukulan keras dari Mikel dan tentu meninggalkan rasa sakit yang teramat.
"Dan kau juga berani-beraninya menampar putrimu sendiri!" Mikel balas berteriak. Jika saja Jorge tidak bermain tangan, ia pun tidak akan menghadiahkan bogeman di wajah Jorge.
"Dia sudah mempermalukanku!" hardik Jorge.
"Dan kau juga sudah gila dengan ingin menjual saham miliknya!"
Jorge terkekeh-kekeh. "Dia tidak pantas menerima saham itu. Dia bahkan lebih memilih bisnisnya yang tidak seberapa itu dan meninggalkan perusahaan. Bagaimana bisa mengembangkan Perusahaan Bonham menjadi lebih berkembang jika tindakannya itu sangat tidak mencerminkan putri dari Keluarga Bonham."
"Kau dan istrimu sudah mengusirnya. Apa perlu aku mengingatkan kejadian tiga tahun lalu, bahwa kau dan juga selingkuhanmu itu bahagia akan kematian Anna Carl! Dimana belas kasihanmu kepada putrimu di saat dia berjuang melawan ketakutannya dan justru kau asik bercinta dengan wanita selingkuhanmu itu!" Dengan menggebu-gebu Mikel mengingatkan akan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Dari mana ia mendapatkan informasi tersebut, tentu dari seorang informan yang selama ini bekerja di kediaman Keluarga Bonham tanpa sepengetahuan mereka.
"Aku bukan selingkuhan. Aku adalah istrinya!" Margareth murka, tidak terima jika dirinya selalu disudutkan.
"Margareth cukup!" Jorge menahan bahu Margareth agar istrinya itu tidak semakin lepas kendali.
Mikel tidak peduli, ia semakin menatap remeh wanita tua itu. Sudut matanya melirik ke arah Helena yang nampak terguncang akibat penamparan yang dilakukan oleh Jorge.
"Kau seorang wanita, seharusnya tidak merebut milik wanita lainnya!" Perkataan Mikel semakin sarkastik membuat Margareth benar-benar dipandang begitu rendah.
"Anna yang sudah merebut suamiku. Aku dan Jorge sudah menikah sebelum Jorge menikah dengan Anna!"
Duar!
Apa yang baru saja dikatakan oleh Margareth membuat semuanya terkejut. Terutama Helena, wanita itu menatap Margareth dengan penuh kemarahan. Kenyataan apalagi ini?
Jorge membungkam bibir Margareth dengan sebuah tamparan lantaran telah membongkar mengenai pernikahan mereka. Tidak menutup kemungkinan jika Margareth akan membongkar segalanya di depan Helena dan Mikel jika tidak segera menghalanginya.
To be continue
Babang Mikel
Helena
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...