The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Seutuhnya Dan Sepenuhnya



Helena merilekskan tubuhnya seolah ia memberikan izin kepada Arthur untuk melakukan apapun kepada tubuhnya. Sebab tak di pungkiri jika dirinya pun menginginkan lebih. Menginginkan pria yang sudah menjadi suaminya itu untuk menyentuhnya, berada di bawah kungkungan pria yang sudah berhasil mencuri hatinya serta mampu membuatnya berpaling dari Mikel. Dan Helena hanya bisa pasrah ketika ciuman Arthur berpindah pada leher jenjangnya. Menyesap dan membubuhkan beberapa tanda merah disana.


Memabukkan, itulah yang dirasakan oleh Arthur, pria itu sungguh mabuk dengan aroma vanilla yang menguar di penciumannya. Sehingga Arthur tidak mampu mengendalikan diri lagi, tangannya bergerak menyusuri setiap inci tubuh Helena dan berakhir di dada istrinya itu. Sontak saja membuat Helena melenguh nikmat, tubuhnya mengejang seketika saat remasan pada satu dadanya dilakukan berulang kali.


Ciuman mereka harus berakhir ketika bibir Arthur turun semakin kebawah dan mencapai pada dua gundukan yang menyembul dan terlihat menantang. Arthur menyingkap tali dress pada bahu Helena, menuruninya dengan cekatan, hingga terpampang nyata pucuk dada Helena yang merah muda dan putih bersih. Tidak tahan dengan pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya, Arthur segera melahap satu dada Helena dan wanita itu mengeluhkan suara desahaannya dengan tangan yang meremass rambut Arthur dengan kuat. Sungguh Arthur membuatnya melayang hanya dengan hisapan pada dadanya secara bergantian. Terlebih lagi, merasakan sesuatu yang keras mengapit pangkal pahanya dan seperti menggesek pada bibir bagian bawahnya.


"Ar...." lenguh Helena. Rasanya sungguh sulit sekali menjabarkan apa yang tengah ia rasakan. Pusing dan rasa panas berbaur menjadi satu, ia pun membusungkan dadanya agar Arthur semakin kuat menghisap.


Arthur menyudahi aktivitasnya saat dirasa cukup, ia mengamati wajah Helena yang tampak merona merah dibaluri gairah seperti dirinya. Arthur kemudian merebahkan Helena di atas ranjang, ia melucuti satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya, ia pun membantu Helena menanggalkan dress tidur, hingga keduanya sudah sama-sama dalam posisi naked tanpa sehelai benang pun.


Helena dibuat tercengang ketika melihat senjata pamungkas Arthur yang sudah berdiri dengan pongahnya, mengacung seolah siap untuk menuntaskan apa yang selama ini tertahankan. Tidak berbeda jauh dengan Arthur yang juga memandangi tubuh polos sang istri yang begitu indah. Dada bulat besar dan pinggul lebar serta bagian tubuh lainnya yang tidak bisa mengalihkan pandangan Arthur dari tubuh istrinya itu.


Keduanya tidak dapat memikirkan apapun, hanya ada rasa cinta yang menggebu-gebu dirasakan keduanya, terlebih rasa gairah ingin saling memiliki dan menjadi satu seutuhnya lebih mendominasi. Lantas Arthur kembali menerjang tubuh Helena dan wanita itu tentu saja pasrah ketika Arthur kembali membenamkan ciuman di bibirnya dengan tubuh mereka yang saling menempel dan menciptakan rasa hangat pada bagian kulit yang menyatu.


Ciuman Arthur kembali turun ke leher dan dada, lalu berakhir di perut Helena, mengecup singkat perut Helena yang ramping, membuat wanita itu berdesir geli dan kembali mendesahkan suaranya.


Arthur segera membuka kedua paha Helena, tatapannya benar-benar penuh damba pada setiap jengkal tubuh Helena, termasuk milik istrinya yang tersembunyi di bawah sana. Seketika tubuh Helena menggelinjang hebat saat Arthur tiba-tiba saja membenamkan kepalanya pada miliknya, Helena kembali mendesaah, melampiaskan gelenyar nikmat dengan mencengkram kuat seprai berbahan sutra tersebut.


Kepala Helena reflek mendongak disertai mata yang terpejam, menikmati dan merasakan betapa rakusnya Arthur menghisap miliknya, hingga ia merasakan sesuatu seperti hendak tumpah dari dalam tubuhnya.


"Ar, hentikan. Aku...."


Namun Arthur tidak memberikan respons apapun ketika kedua pangkal paha Helena dirapatkan dan Arthur semakin menyesap dalam miliknya dan perlahan merasakan pelepasan untuk pertama kalinya. Arthur tersenyum karena berhasil membuat Helena mencapai pelepasan. Wanita itu merona malu diperhatikan Arthur begitu intens usai pelepasan dan kini pria itu sudah berada di atas tubuhnya.


"Aku akan melakukannya. Katakan saja jika sakit, tapi aku tidak akan menghentikannya begitu saja." Arthur lebih dulu memberitahukan keinginannya. Jika ia sudah melakukannya maka Helena dilarang untuk memprotes atau bahkan ingin menyudahi permainan mereka.


Helena mengangguk kecil tanpa menyurutkan rona merah pada wajahnya. "Lakukan dengan pelan, ini pertama kalinya untukku."


"Aku tau, aku akan melakukannya dengan lembut karena ini juga pertama kalinya untukku." Helena mengulum senyum mendengar pengakuan Arthur, ia percaya jika selama ini Arthur tidak pernah bermain-main dengan wanita sekali pun.


Arthur memposisikan dirinya. Untuk membuat tubuh Helena kembali rileks, Arthur menerkam bibir Helena, menyesap dengan rakus dan memainkan lidahnya disana.


Helena menahan cairan bening yang sudah menggenangi sudut matanya ketika bagian bawahnya seolah di hantam benda tumpul yang begitu besar dan keras, menerobos masuk hingga mampu merobek selaput darahnya.


Usaha yang tidak sia-sia setelah berulang kali Arthur berusaha memasukkan miliknya meski kesulitan, namun perlahan sudah masuk sepenuhnya.


"Apa kau baik-baik saja? Apa sangat sakit, hm?" Pertanyaan beruntun dilayangkan oleh Arthur saat melihat wajah Helena yang kesakitan, bahkan terlihat air mata yang menetes di ujung mata istrinya.


Senyum tipis menghiasi sudut bibir Arthur. Ternyata rumor mengenai Helena yang bersikap layaknya seorang wanita jalaang terpatahkan. Jelas-jelas ia yang sudah mengambil keperawanan Helena, meski dahulu terbesit pikiran jika wanita itu mudah menjajakan tubuhnya kepada pria mana pun.


Arthur menyeka air mata Helena dan mengecup singkat bibir istrinya. "Kau bisa menggigit tanganku jika masih merasakan sakit." Ya, Arthur mengorbankan tubuhnya, tentu ia tidak ingin Helena sakit seorang diri.


"Tidak, aku.... akkhh...." Helena tidak kuasa menahan desahaannya ketika Arthur menghujam dengan perlahan namun temponya kian dipercepat.


Rasa sakit yang dirasakan oleh Helena berangsur lenyap dan berubah menjadi rasa kenikmatan. Rasa yang sungguh mampu membuat Helena melayang dan dibuat mendesah di bawah kungkungan Arthur.


"Kau hanya milikku, Love," ucap Arthur mengerang di sela-sela gerakan pinggul yang bergerak maju mundur dengan cepat.


Helena terperangah, sudah lama sekali ia tidak mendengar Arthur memanggilnya seperti itu. "Ya, aku hanya milikmu. Aku hanya akan menjadi milikmu Honey. Akkhhh, kau benar-benar tampan dan aku mencintaimu." Sungguh Helena terkesima dengan wajah Arthur. Dilihat dari bawah, pria itu benar-benar sangat tampan dan begitu gagah. Terlebih lagi, dada bidang serta perut berotot membuat Arthur berkali-kali lipat lebih seksi.


Arthur gemas, ia meremass dada Helena bergantian, sesekali menyesapnya tanpa mengurangi gerakan pinggulnya. Keduanya mengeluhkan desahaan, menjabarkan kenikmatan yang tiada tara itu. Sebelum kemudian suara erangan panjang diakhiri pelepasan keduanya menyusul dan Arthur mengeluarkan cairan kental miliknya yang memenuhi Rahim Helena. Arthur pun melabuhkan ciuman di bibir Helena, kembali menyesap satu sama lain.


Napas keduanya terengah-engah, Arthur menumbangkan tubuh di sisi Helena, kemudian menarik wanita itu ke dalam kedepannya. "Terima kasih," ucapnya. Dengan lembut Arthur melabuhkan kecupan di kepala Helena.


"Tidurlah, setelah ini kita harus mengulanginya lagi." Sembari mengusap kepala Helena usai melabuhkan kecupan disana.


Saat mendengarnya, Helena spontan membulatkan mata. Ia tidak percaya jika Arthur akan mengulangi kegiatan mereka yang panas dak menggairahkan itu.


Dan benar saja, Helena hanya bisa pasrah ketika Arthur kembali menerjangnya. Rasa nyeri pada pangkal pahanya belum menghilang, tetapi saat milik Arthur kembali memasukinya, rasa nikmat yang menghampiri sulit sekali untuk ditolak. Pengalaman mereka untuk pertama kalinya, bercinta dan saling meluapkan rasa cinta satu sama salin.


"Aku mencintaimu." Arthur mengungkapnya disaat ia sudah kembali mencapai puncak.


"Aku juga mencintaimu." Helena membalasnya dengan seulas senyum. Ia begitu bahagia sudah benar-benar menjadi istri Arthur seutuhnya dan sepenuhnya.


To be continue


Semoga cepat lolos review ya 😁


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...