
Suasana hangat menyelimuti ruang makan yang dipenuhi canda dan tawa. Tak hanya Xavier dan Elleana saja yang datang, tetapi Edward berserta sang istri Olivia turut datang bersama putri cantik mereka, Freya. Semakin ramai, maka semakin menyenangkan. Diusia mereka yang senja tidak memudarkan persahabatan yang terjalin dengan hangat, meskipun para pria selalu terlibat perdebatan tidak penting. Selama satu jam acara makan pun berakhir dengan penuh kenikmatan, tetapi tidak selesai sampai disana saja. Mereka memutuskan untuk berkumpul di halaman.
"Ternyata kau masih ingat dimana tempatmu yang sebenarnya Ed," ujar Zayn dengan bernada menyindir. "Kalian pergi berbulan madu diusia seperti ini."
Edward terkekeh. "Memangnya kenapa? Tidak ada larangan usia seperti kita untuk berbulan madu."
"Dia iri padamu karena tidak bisa membawa Angel untuk berbulan madu." Xavier tiba-tiba menyambar, meneguk minuman bersoda dan melirik sinis ke arah Zayn.
"Sialan! Untuk apa aku iri dengannya?!" Zayn mengumpat tidak terima. "Aku tidak perlu berbulan madu. Jika perlu negara yang baru saja menjadi tempatmu berbulan madu akan kubeli."
"Huufffttt...." Tiba-tiba Edward menyemburkan minumannya ketika mendengar perkataan absurd Zayn. "Kau bilang apa?" tanyanya memastikan.
"Membeli negara yang kau kunjungi saat bulan madu." Zayn menjawab santai seolah ia ingin membeli sebuah mobil sport.
Xavier menggeleng jengah, lalu bersitatap dengan Edward yang juga tengah menatapnya. Sebelum kemudian tawa keduanya meledak, yang tentunya membuat Zayn kesal bukan main.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataanku, heh?!!" seru Zayn mendesis kesal.
"Kau pikir membeli negara seperti membeli mobil baru?" Masih dengan kekehannya, Edward menyahut.
"Lebih baik kau membeli sebuah pulau, lalu menamainya dengan namamu disana. Zayn Island." Xavier memberi saran. Alih-alih pria itu akan gila karena gagal membeli sebuah negara, lebih baik membeli sebuah pulau.
"Pulau?" Kedua alis Zayn nampak menyatu, ia tengah menimbang apa yang diucapkan oleh Xavier. "Ah, kau benar. Lebih baik aku membeli pulau dan menamainya Z.and.A Island, Zayn dan Angela Island." Nama itu tercetus begitu saja, sebab kapan pun dan dimana pun, Angela akan selalu ada di dalam hatinya.
Hah?
"Apa kau benar-benar serius?" seru Edward memastikan, meskipun ia sendiri sudah dapat menebaknya jika Zayn adalah pria yang meskipun bicara sembarangan, akan tetapi selalu membuktikan perkataannya itu.
Zayn menumpu satu kaki di atas lutut. "Ya, sejak kapan aku hanya bergurau."
Meskipun sudah tau karakter Zayn memang seperti itu, tetapi Edward tetap saja heran. "Kau lihat Vier, dia benar-benar sudah gila."
"Justru akan merasa heran jika dia bersikap normal." Xavier mencibir dengan menyunggingkan senyum miring.
"Apa maksudmu, heh?!" seru Zayn mulai tersulut. "Kau pikir selama ini aku tidak normal, begitu?!" sungutnya mendesis tidak terima. Meskipun emosi sudah tersulut, tetapi tidak berniat melakukan sesuatu, sebab saling mengejek adalah hal yang biasa.
"Menurutmu?" Alih-alih meladeni, perkataan Xavier lebih membuat Zayn kesal dua kali lipat.
"Sial!" Zayn mengacak rambutnya, ia benar-benar kesal saat ini. "Kau.... jika saja orang lain, sudah kupatahkan lehermu!" geramnya dengan tatapan menghunus tajam.
Melihat kemarahan Zayn, Xavier mengedikkan bahu acuh. Tangannya terayun mengambil kaleng minuman bersoda lalu meneguknya dengan santai, mengabaikan tatapan kilat membunuh Zayn padanya.
Edward yang menyaksikan kembali terkekeh. "Seandainya kalian berbeda jenis kelamin mungkin kalian akan terlihat sangat serasi."
"What the fuuckk!!" seru Zayn dan Xavier bersamaan. Perkataan Edward membuat mereka merinding seketika.
"Hahaha aku hanya mengatakan 'seandainya'. Come on, jangan menatapku seperti itu!" Mendapati tatapan membunuh Xavier serta Zayn, tentu saja membuat Edward menciut. Mana mungkin ia bisa menang melawan mereka, pikirnya.
Menyaksikan perdebatan para suami, Angela, Elleana dan Olivia hanya menggelengkan kepala. Mereka sudah terbiasa menyaksikan perdebatan, tetapi tetap saja dibuat gemas oleh suami-suami mereka.
"Lihatlah, kali ini apalagi yang mereka perdebatkan?" ucap Angela menghela napas panjang.
"Seperti biasa, memperdebatkan hal yang tidak penting," sahut Elleana terkekeh kecil.
"Hal yang kecil akan menjadi hal yang besar jika mereka yang berdebat."
Angela dan Elleana saling pandang mendengar perkataan Olivia, mereka mengangguk setuju. Sebelum kemudian tergelak bersama-sama.
"Frey, aku senang sekali kau ikut kemari. Jika tidak, maka aku hanya akan menjadi nyamuk sepanjang malam," tutur Jolicia mengeluh. Ia senang karena Bibi Olivia serta Paman Edward membawa Freya. Jika tidak, ia akan kesepian karena para orang tua hanya sibuk dengan percakapan mereka masing-masing.
"Maxime maksudmu?" Tanpa disebutkan pun Jolicia sudah paham.
Freya mengangguk. "Benar. Kenapa dia selalu menemuimu belakangan ini?"
"Entahlah...." Jolicia mengangkat kedua bahunya, ia sendiri tidak tahu. Ia dan Maxime memang dekat sejak di senior high school. Tetapi belakangan ini ia merasa jika dirinya dan Maxime lebih dekat dari sebelumnya.
Tidak menanggapi lagi, Freya melihat layar ponselnya yang memunculkan notifikasi. Terpampang storygram salah satu temannya. Bukan nama akun itu yang membuatnya heran, melainkan objek yang berada di dalam storygram milik temannya. Dimana sang kakak terlihat sedang bersama dengan Austin di sebuah club malam.
"Apa yang aku lihat, Frey?" Jolicia penasaran, sebab Freya mengabaikan dirinya dan fokus pada ponselnya.
"Ah, temanku sedang berada di bar, dia memposting storygram."
Kening Jolicia berkerut samar. "Lalu kenapa?"
Karena malas menjelaskan, Freya pun memberikan ponselnya kepada Jolicia. Meskipun bingung, Jolicia mengambil ponsel milik Freya dan melihat storygram milik teman Freya itu. Semula nampak biasa, tetapi detik kemudian kedua mata Jolicia membola sempurna.
"Kenapa As ada di bar?" pekiknya. Meskipun dilayar ponsel terdapat wajah Devano, tetapi pusat perhatian Jolicia hanya pada Austin.
"Kenapa? Bukankah sudah biasa Kak As pergi ke bar." Freya merasa heran dengan reaksi Jolicia. Ia kemudian mengambil ponselnya kembali. Yang ia heran adalah caption yang ditulis oleh temannya itu, bertemu dengan dua pria tampan, siapa yang akan menjadi jodohku.
"Dia percaya diri sekali." Meskipun Freya bergumam, Jolicia tetap dapat mendengarnya.
Dan ia pun berpikir demikian. Teman dari Freya itu nampak percaya diri, seolah Austin ataupun Devano bersedia menjadi kekasihnya. Sejujurnya Jolicia sangat kesal sekaligus kecewa, pasalnya mendengar keterangan dari Bibi Elleana, Austin tidak bisa datang untuk makan malam karena memiliki pekerjaan, tetapi lihatlah pria itu justru sedang bersenang-senang di club malam.
Cih, menyebalkan.
Seandainya hubungannya dengan Austin tidak sedang merenggang, mungkin saat ini ia sudah menghubungi pria itu. Mengecewakan, ia berharap dapat bertemu dengan Austin, akan tetapi pria itu tidak datang.
"Licia, aku ingin ke toilet." Telinga Jolicia seolah tuli, sehingga tidak mendengar perkataan Freya yang segera berlari kecil begitu saja. Freya tidak peduli, ia ingin segera buang air kecil.
Selepas dari toilet, Freya kembali menuju ruang tamu, akan tetapi langkahnya terpaksa terhenti karena ia nyaris bertabrakan dengan Jacob yang sedang menerima telepon.
"Nanti kuhubungi lagi." Lantas Jacob segera memutuskan sambungan telepon yang entah dari siapa itu.
"Apa kau dari toilet?" Perkataan aneh, jelas-jelas sisi lorong itu hanya terhubung dengan toilet. Tetapi Freya menjawab dengan anggukan kepala.
"Dimana Licia?" Yang Jacob lihat Freya hanya seorang diri saja.
"Di ruang tamu." Freya menyahut singkat.
"Kau mau kesana lagi?" tanyanya kembali.
"Iya..." sahutnya sembari mengangguk.
"Apa Licia sudah membawakan makanan ringan? Biasanya dia suka sekali mengemil." Jacob terkekeh kecil. Adiknya adalah pemakan segalanya.
"Sudah," jawabnya. "Apa sudah selesai?" Freya balik bertanya. "Kenapa tiba-tiba kau menjadi cerewet?" Ya, Freya heran, sebab biasanya Jacob tidak banyak bicara ketika berhadapan dengannya.
"Ah, aku juga baru tau jika aku cerewet seperti ini." Tiba-tiba menjadi salah tingkah, Jacob mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Freya tersenyum menanggapi. Ia pikir selama ini Jacob bersikap dingin padanya karena tidak menyukainya, sebab Jacob bersikap biasa saja dengan yang lain. Tidak dengannya, saat berpapasan dengannya saat di kampus saja, pria itu seolah tidak mengenali dirinya.
"Kalau begitu aku kembali dulu. Licia sudah pasti menungguku."
"Ah ya, silahkan!" Jacob segera menyingkir. Ia menyempatkan melihat punggung Freya yang semakin menjauh, lalu ia pun kembali melangkah sembari menghubungi seseorang yang sebelumnya sempat terputus.
To be continue