
Sudah terhitung tiga hari, Arthur tidak ingin membuka matanya. Masih setia dengan mata yang terpejam dengan jiwa yang mungkin berkelana mencari raganya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Elleana dan Xavier tidak letih menunggu putra mereka, bergantian berjaga dengan Elie dan Darren. Bahkan kini di depan ruangan Arthur nampak padat karena kedatangan Lion Boys dan Dragon Boys dan para orang tua mereka. Ruangan Arthur nampak luas, memiliki kamar dan ruang tamu yang terpisah sehingga dapat menampung semua orang.
"Jangan bersedih Elle, aku yakin Ar pria yang kuat. Dia pasti akan segera sadar." Angela merangkul pundak Elleana dan memberikan kekuatan melalui usapan telapak tangannya itu.
Elleana mengangguk sendu. "Iya, aku juga sudah merindukan suaranya." Dirinya berharap demikian dan tidak ingin Ar terbaring selamanya disana. "Terima kasih kalian sudah menyempatkan datang, padahal aku tau kalian sedang berada di Los Angeles."
Ya, sudah satu bulan Zayn serta Angela berada di Los Angeles, mengunjungi kedua mertua Angela yang masih menetap disana.
Mommy Angela tersenyum tipis. "Tidak masalah, mana mungkin kami membiarkan kalian bersedih disini karena memikirkan keadaan Ar." Menanggapi ucapan Angela, Elleana tersenyum haru, sudah lama mereka tidak bercengkrama bersama, karena Angela dan Zayn selalu menghabiskan waktu di Los Angeles.
Meninggalkan kedua wanita setengah baya yang masih nampak cantik itu. Kini para pria matang berusia setengah abad itu nampak berkumpul, duduk saling melingkar. Meski sudah memasuki usia tua, tubuh mereka masih terlihat kekar berotot.
"Der, apa kau masih belum dapat menemukan keberadaan Alan Born?" Jack bertanya usai membicarakan tentang bisnis mereka. Dilihatnya Darren yang tertunduk, pria itu menyalahkan dirinya karena gagal melindungi Arthur.
"Belum Dad. Aku tidak menemukan dia dimanapun," sahutnya lirih disertai gelengan kepala. Saat itu ia gagal mendapatkan Alan Born, pria tua itu pergi melalui jalur lain dengan sebuah mobil yang menampungnya. Saat anak buah mereka mengejar, tak ada satupun yang berhasil menemukan keberadaan pria tua itu.
Xavier menelinga pembicaraan mereka, ada emosi yang terselip dari raut wajahnya ketika mendengar nama Alan Born, karena pria tua itu putranya terbaring koma.
"Pastikan kau menemukannya Der." Suara Xavier yang tegas dan terdengar dingin itu menyentakkan Darren serta Jack, ayah dan anak itu kompak menolehkan kepala ke arah sumber suara. "Aku tidak ingin dia hidup bebas, sementara dia dan anak buahnya sudah membuat Ar menjadi seperti ini," sambungnya kemudian.
Darren mengangguk penuh tekad. "Aku pasti akan menemukannya, Paman. Dan akan menyerahkan pria tua itu kepada Ar." Jika Alan Born sudah berada di tangannya, ia ingin Arthur yang mengeksekusi pria tua itu. Sebab jika ada seseorang yang telah melukai Arthur, temannya itu selalu ingin ia sendiri yang turun tangan.
"Dan katakan jika kalian membutuhkan bantuanku." Sedari tadi Zayn turut mendengarkan percakapan mereka, sehingga menyambar dan melibatkan dirinya dalam percakapan tersebut.
Mendengar perkataan Zayn, ekor mata Xavier melirik sinis. "Kau saja sudah sakit pinggang melawan musuh-musuhmu sendiri dan dengan sombongnya menawarkan bantuan!"
Tidak terima dengan ucapan Xavier, Zayn melemparkan bantal sofa ke arah Xavier, namun gagal mendarat dan melesat mengenai bahu Xavier. "Sialan! Aku tidak setua itu, apa kau lupa jika aku masih kuat bertarung di atas ranjang bersama istriku!" serunya tidak terima.
"Ck, kau pikir aku peduli!" sahut Xavier mendengkus kesal, ia tengah membicarakan kemampuan Zayn dalam menghadapi musuh-musuhnya, akan tetapi pria itu justru membahas masalah pertarungan di atas ranjang.
"Aku hanya memberikan edukasi bercinta yang benar supaya kau semakin ahli di ranjang." Zayn tidak ingin kalah.
Kening Xavier berkerut dalam mendengar perkataan Zayn. Tanpa di beritahu edukasi seperti itu, ia sudah sangat berpengalaman lebih dulu. "Sebelum kau merasakan kenikmatan bercinta, aku lebih dulu merasakannya, bodoh! Apa kau lupa jika kau selalu mengintipku berciuman dengan Elle!"
"Heh, jaga bicaramu. Memangnya aku kurang kerjaan mengintipmu berciuman!" Suara Zayn sedikit meninggi, ia tidak terima dituding demikian. "Aku tidak sengaja melihatnya, salah kau sendiri tidak tau malu berciuman di tempat umum."
"Yang kucium istriku sendiri. Kenapa aku harus tidak tau malu?!" Xavier spontan berdiri, membusungkan dadanya diikuti mata yang menajam.
"Heh, kau menantangku!" Zayn turut beranjak, dadanya pun membusung dengan sorot mata yang tidak kalah tajam.
"Astaga....." Dan kini mereka yang berada di dalam ruangan menggelengkan kepala heran. Entah kenapa, kapanpun dan dimanapun Xavier dan Zayn selalu bertengkar seperti itu. Beruntung para wanita berada di dalam kamar dengan pintu yang tertutup rapat. Jika tidak, mungkin kedua pria tua itu sudah mendapatkan teguran dari istri-istri mereka.
Edward memijat pangkal hidungnya, inilah yang terjadi jika tikus dan kucing saling bertemu. "As, lebih baik bawa Daddy-mu keluar," bisiknya kepada Austin.
"Jac, kau juga bawalah Daddy-mu keluar. Emosi Vier sedang tidak stabil, aku khawatir mereka akan bertengkar disini." Dan Roy turut berbisik tepat di samping Jacob.
Baik Austin dan juga Jacob segera bangkit berdiri, lalu memegang bahu Daddy mereka masing-masing.
"Dad, kita keluar saja. Apa Dad ingin tidur diluar jika Mommy mendengar pertengkaran kalian?" ujar Austin. Awalnya Xavier menolak dan menepis kasar tangan Austin, namun mendengar kata 'tidur diluar', ia mulai mempertimbangkan.
"Ayolah Dad, kita keluar saja. Mommy pasti akan memarahimu jika membuat keributan dengan Paman Vier." Meskipun Jacob berbisik, tetapi masih dapat di dengar yang lainnya.
Xavier serta Zayn saling menimbang, sebelum kemudian mereka mengangguk. Xavier melangkah keluar terlebih dahulu disusul oleh Zayn setelahnya. Melihat kedua pria arogan itu sudah keluar, Lion Boys dan Dragon Boys nampak mengelus dada penuh kelegaan. Sementara Austin dan Jacob turut melangkah keluar menemani Daddy mereka.
"Singkirkan tanganmu Jac!" Zayn menarik tangannya, sedikit menghempas tangan Jacob dari lengannya.
"Dad...." Jacob gemas, padahal ia hanya tidak ingin jika Daddy-nya itu sampai terlibat baku hantam dengan Paman Xavier.
Xavier dan Zayn saling mengadu ketajaman mata, memposisikan mereka saling berhadapan. Fokusnya saling tertuju ke depan, bahkan tidak menghiraukan derap langkah kaki lebih dari satu yang datang menghampiri.
"Bos, ada kabar baik." Suara Daniel yang baru menghentikan langkah tepat di sisi Xavier cukup mengganggu telinga Xavier, mau tidak mau membuat kepalanya menoleh.
"Ada apa?!" sahutnya kesal.
"Kami berhasil menang judi bos dan Caesars Palace menjadi milik Black Lion." Mendengar penuturan Daniel, kedua alis Xavier nampak bertaut dalam.
"Berapa usia kalian, hm?" Terdengar tenang suara Xavier yang menyahut itu, tetapi terselip amarah yang tertahan. Matanya bergulir bergantian menatap Daniel, Nico serta Keil.
Ketiganya kompak menutup mulut ketika merasakan aura kemarahan big bos.
Nico spontan menutupi senjatanya di sela pahanya tersebut. "Bos, aku tidak seperti itu. Kami berjudi hanya ingin mendapatkan wilayah Caesars bukan untuk bermain wanita."
"Benar bos, kepalaku bisa dipenggal oleh Gavin jika berani bermain wanita di belakang Mommy-nya." Keil turut menimpali. Yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran, sebab Gavin, Elden, Liam selalu memantau apapun yang mereka lakukan. Sepak terjang mereka yang selalu bermain wanita di masa lalu, membuat ketiga putra mereka menjadi begitu waspada.
Xavier nyaris tertawa mendengarnya, bahkan Zayn terlihat menahan sudut bibirnya yang menyunggingkan senyuman.
"Bisnis di wilayah Caesars bisa dijalankan oleh El, Lim dan Gavin. Jadi kau tenang saja bos, hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan wanita." Nico kembali menjelaskan, agar bosnya tidak semakin salah paham.
"Bagus jika kalian sudah sadar." Memang sudah seharusnya Xavier bangga dengan para anak buahnya yang semakin hari berubah menjadi lebih baik.
"Kami sudah sadar semenjak menikah bos." Daniel mengoreksi ucapan big bos yang maha benar.
Tidak ada tanggapan kembali dari Xavier, mereka sontak terdiam, bertepatan dengan Jeff yang datang menghampiri. Baru saja Jeff ingin berbicara, Zayn sudah menatap horor ke arahnya.
"Kau dari mana saja Jeff? Bukankah seharusnya kau berada di dalam?!" semburnya kemudian.
Jeff menampakkan ekspresi bingung. Sepertinya Masternya itu lupa jika satu jam yang lalu memberinya sebuah perintah. "Aku mengambil pakaianmu di Mansion. Apa Master lupa?"
Jeff benar. Kenapa ia bisa melupakannya, pikir Zayn sembari menggaruk tengkuk lehernya.
Xavier terkekeh-kekeh. "Mastermu sudah tua, wajar saja jika dia lupa." Dan mencibir penuh ejekan.
"Kau....." Zayn hendak melangkah maju, namun di urungkannya karena sorot matanya menangkap keberadaan Jolicia yang baru saja datang membeli makanan.
"Aku sudah membelikan makanan kesukaan Daddy," ucap Jolicia tersenyum manis, namun senyumnya tidak bertahan lama ketika melihat raut wajah Daddy-nya yang penuh kekesalan. Apa ia telah berbuat salah?
Zayn tidak menyahut, ia terlalu kesal dengan Xavier, sehingga hanya menatap wajah putrinya itu. Posisi Jolicia yang berada di sisi Austin membuat matanya mendelik, terlebih bahu putrinya itu bersentuhan dengan lengan Austin yang kekar berotot. Zayn kemudian menarik Jolicia dan membawa ke sisinya.
"Licia, kau jangan dekat-dekat dengan bocah tengil itu. Dia menyebalkan sama seperti Daddy-nya," seru Zayn.
Hah?
Ya, semua nampak tercengang, tak terkecuali Austin. Padahal sejak tadi ia hanya diam saja, kenapa namanya turut terseret?
"Dad, kenapa bicara seperti itu?" Jolicia bertanya penuh keheranan. Berbeda dengan Jacob yang menghela napas malas.
Sampai kapan aku berada di antara pria tua menyebalkan ini, batinnya.
"As, kau juga jangan dekat-dekat dengannya." Xavier yang kesal tidak terima turut menjauhkan Austin dari Zayn dan Jolicia.
"Dad...." Austin mendelik tajam. Daddy-nya selalu saja terpancing ucapan Paman Zayn, pikirnya.
Mereka yang berdebat tidak penting, tidak menyadari jika sejak tadi di perhatikan oleh seorang pria yang berdiri di balik dinding. Tujuan pria itu ingin menemui wanitanya, namun ia tidak menduga jika terdapat banyak orang disana. Tidak mungkin ia menghampiri mereka, terlebih suasana disana dalam keadaan saling bersitegang.
Untuk saat ini ia harus mengurungkan niatnya menemui wanitanya. Saat memutar tubuhnya, ia terjingkat kaget, sebab wanita yang ia rindukan sudah berdiri di belakangnya.
"Untuk apa kau datang kemari, Tuan Mikel?!"
Ya, Mikel. Pria itu sudah berdiri disana sejak tiga puluh menit yang lalu. Ia sudah melihat wajah wanita yang belakangan ini selalu ia rindukan, akan tetapi wanita itu nampak tidak senang bertemu dengannya.
"Sweetheart....." ucapnya lembut. Tangannya berusaha menjangkau lengan wanitanya.
"Jangan menyentuhku!"
To be continue
Babang Mikel
Sebenernya Yoona mau lampirkan visual mereka, tapi lama lolos review-nya 😔
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...