
Hoek
Hoek
Helena memuntahkan isi perutnya yang baru saja terisi pagi ini. Wanita yang sedang hamil itu sudah menampakkan perutnya yang sedikit membuncit dan hal itu membuatnya terlihat sangat seksi. Sebagai suami siaga tentunya Arthur mengusap tengkuk leher Helena dengan penuh kelembutan.
"Apa sudah merasa lebih baik, hm?" tanyanya kemudian setelah Helena selesai memuntahkan cairan yang keluar dari dalam mulutnya.
"Sudah. Maaf, pasti sangat menjijikkan setiap kali melihatku muntah seperti ini." Helena memutar tubuhnya menghadap Arthur dengan menyematkan senyum tipis pada wajahnya yang sedikit pucat.
"Sudah kukatakan itu tidak menjijikan. Lagi pula di dalam sini ada putra dan putriku," sahutnya sembari mengusap perut Helena.
Helena mencebik kecil. "Ck, memangnya kau sudah tau jenis kelamin mereka?" Tentu saja bingung, sebab suaminya itu selalu mengatakan jika janin yang ia kandungan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
"Entahlah, hanya insting seorang Daddy saja." Arthur menjawab acuh. Entah dugaannya benar atau tidak, ia tidak mempermasalahkannya jika melesat.
"Lalu bagaimana jika mereka tidak sesuai dengan instingmu?" tanya Helena memastikan.
"Tidak masalah. Apapun jenis kelamin mereka, yang terpenting keduanya sehat dan tumbuh dengan baik." Arthur sedikit membungkuk, lalu kembali memberikan usapan lembut pada perut Helena. "Jangan menyusahkan Mommy kalian seperti ini. Lihatlah, Mommy kalian tidak bisa makan dengan baik," ucapnya memberikan pengertian kepada kedua janin hasil buah cinta mereka. Berharap keduanya akan mengerti, sebab mereka adalah keturunannya dan sudah pasti harus patuh terhadapnya.
Helena tersenyum haru. Ia bisa merasakan cinta Arthur yang begitu besar padanya serta kepada kedua janinnya. Hanya dengan usapan lembut ia pun merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Perutnya tidak lagi bergejolak, kedua janinnya benar-benar menuruti ucapan Daddy mereka.
"Mereka mengerti perkataanmu, aku sudah tidak merasa mual lagi," cicit Helena memberitahu apa yang dirasa.
"Benarkah?" Rasanya sulit dipercaya. Tetapi jika memang istrinya tidak lagi merasa mual, artinya kedua bayinya benar-benar menuruti perintahnya. "Mereka sangat pintar," pujinya untuk kedua calon bayinya.
Helena mengangguk setuju. Tentu saja kedua janinnya pintar, sudah pasti menuruni Daddy serta Granpa mereka.
"Mereka harus pintar sepertimu."
Arthur menyematkan garis tipis pada sudut bibirnya. Entah tersenyum atau tidak, bagi Helena yang sudah semakin mengenal baik Arthur mewajarkan ekspresi suaminya itu.
"Kemarilah." Arthur menarik Helena ke dalam pelukannya. Hal itu tentu menjadi kebiasaan mereka setiap saat untuk menyalurkan rasa cinta keduanya melalui pelukan.
Helena membenamkan wajahnya di dada bidang Arthur, menghirup aroma tubuh maskulin Arthur yang selalu menenangkan.
"Apa ada makanan yang ingin kau makan? Jangan sampai tidak ada satu makanan pun yang masuk." Tentu Arthur tidak ingin membiarkan istrinya itu kelaparan, terlebih ada dua janin yang harus dipenuhi gizi serta nutrisinya.
Helena nampak diam, menimbang-nimbang makanan yang ingin ia makan. Ia tidak boleh egois hanya karena rasa mual. Kedua janinnya harus sehat dan berkembang dengan baik. Detik itu juga wanita itu mendongakkan wajahnya untuk bersitatap dengan Arthur.
"Aku ingin spicy tuna sandwich tanpa bawang bombay dan aku juga ingin minum strawberry juice," cicitnya berbinar. Tiba-tiba saja ia ingin roti gandum dengan tuna, selada dan tomat sebagai pelengkapnya, tidak lupa mayonaise, saus sambal dan keju. Membayangkannya saja sudah membuat air liurnya ingin menetes.
Kedua alis Arthur saling bertautan. "Apa hanya itu saja makanan yang kau inginkan?" tanyanya. Padahal ia bisa meminta koki andalannya untuk menyiapkan apapun yang diinginkan oleh istrinya itu.
"Hem, aku hanya ingin makan itu."
"Baiklah, aku akan mengatakan pada Bertha untuk menyiapkan spicy tuna sandwich." Arthur merenggangkan pelukan mereka.
Helena mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. "Tanpa bawang bombay," serunya mengingatkan sang suami.
"Aku ingat, Love." Arthur mengusap kepala Helena dengan gemas, istrinya itu mungkin berpikir jika dirinya melupakan sesuatu yang tidak disukai.
Helena terkekeh, ia membiarkan Arthur melangkah keluar dari kamar. Selama menunggu, Helena memutuskan untuk duduk di sofa lalu memainkan ponselnya.
***
Selepas memerintahkan Bertha untuk membuatkan apa yang diinginkan sang istri, Arthur melangkah menuju ruang tamu, sebab ia mendapatkan laporan dari salah satu anak buah atas kedatangan Darren. Sebelumnya Darren memang sudah menghubungi dirinya jika akan datang untuk mengantarkan beberapa dokumen.
Dan kini Arthur sudah duduk saling berhadapan dengan Darren. Menandatangani beberapa dokumen yang tengah urgent.
"Ar, lusa kau ada pertemuan Enterpreneur Association di Bristol Harbour Hotel." Darren membuka percakapan dengan mengingatkan jadwal pertemuan dengan para pengusaha sukses. Dan asosiasi tersebut dinamakan British Chamber of Commerce yang merupakan satu-satunya asosiasi bisnis dari berbagai pengusaha di Inggris Raya dan beberapa pengusaha dari berbagai negara lainnya di seluruh dunia.
"Hm, sudah aku pikirkan. Aku akan datang bersama Helen." Tentunya untuk pertemuan penting itu Arthur tidak mungkin melupakannya. Asosiasi yang dibentuk sudah ratusan tahun lalu itu menjadi ajang para pengusaha muda untuk mengibarkan sepak terjang mereka lebih tinggi lagi.
"Ya, kau memang harus membawanya. Tahun lalu kau datang bersamaku dan kali ini kau ditemani oleh Nona Helena."
"Kau harus datang, Der. Jangan lupa kau adalah asistenku." Arthur melayangkan tatapan tajam, ia harus membawa serta Darren. Selain untuk membicarakan bisnis, tentunya Darren yang selalu sigap mengusir siapapun lalat penjilat yang ingin mengajukan kerjasama. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berani melemparkan wanita padanya. Padahal ia tidak tertarik dengan wanita manapun sekalipun wanita itu dalam keadaan naked di hadapannya.
Arthur tidak menanggapi karena mendengar langkah kaki mendekat.
"Tuan Ar, spicy tuna sandwich dan strawberry juice untuk Nyonya Helena sudah siap." Lupita, salah satu maid yang menghampiri dan memberitahukan jika makanan yang diinginkan oleh Nyonya-nya sudah selesai dibuat.
"Hm, aku akan memanggil istriku." Arthur beranjak berdiri dan berjalan menaiki lantai dua.
Lupita mengangguk. Lalu pandangannya beralih pada sosok Darren. "Apa Tuan Darren ingin saya buatkan teh chamomile?"
"Hm, boleh. Seperti yang biasanya saja, Lupita," sahut Darren. Ia sudah sering berkunjung ke penthouse Arthur. Sudah pasti, Lupita mengetahui minuman yang ia inginkan setiap kali datang menemui Arthur. Ia memang lebih menyukai teh ketimbang jenis kopi lainnya.
Lupita mengangguk mengerti. "Baik Tuan." Lalu ia segera pamit undur diri.
"Ah Honey, sebaiknya kau duduk saja temani Darren." Suara Helena disusul sosok wanita itu terlihat tengah mendorong bahu tegap Arthur.
"Tapi aku ingin menemanimu."
"Kalau begitu aku akan makan disini saja. Kau bisa menemaniku makan dan berbicara dengan Darren." Helena memberikan solusi yang mudah. Ia hanya tidak enak dengan Darren jika Arthur meninggalkannya begitu saja. Kedatangan Darren sudah pasti penting karena membicarakan pekerjaan yang ditinggalkan suaminya itu. Setelah Arthur mengangguki perkataannya, pandangan Helena pun berpindah pada sosok Darren, wanita itu menyematkan senyum pada teman sekaligus tangan kanan kepercayaan Arthur, yang segera dibalas senyum sapaan oleh Darren.
Lupita kembali menghampiri dengan membawa teh chamomile dan maccaron sebagai pendamping minuman. Maid itu segera meletakkannya di atas meja.
"Lupita, tolong bawakan sandwich dan juice-nya kemari. Aku akan makan disini saja," ucap Helena yang baru saja membenamkan tubuhnya di sofa, tepat disisi Arthur.
"Baik Nyonya." Setelah mengiyakan, Lupita segera berlalu menuju meja makan. Tidak berselang lama, ia kembali dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat spicy tuna sandwich dan strawberry juice.
Setelah Lupita berlalu pergi, Helena mulai memakan sandwich yang ia inginkan. Rasanya masih tetap sama, ia sangat menyukainya.
Arthur tersenyum tipis melihat Helena yang sedang makan dengan lahap, setelah itu ia kembali menimpali perkataan Darren. Keduanya kembali memperbincangkan mengenai asosiasi yang dinamakan British Chamber of Commerce. Helena berhenti mengunyah ketika mendengar percakapan keduanya, lalu menoleh menatap Arthur.
"Apa tidak apa jika aku ikut menemanimu?" Helena bertanya memastikan. Pasalnya ia tidak pernah datang ke acara asosiasi seperti itu. Mengingat selama ini ia tidak pernah menjalankan perusahaan.
"Tidak apa. Kau memang harus ikut mendampingiku. Semua yang datang akan membawa pasangan masing-masing. Lagi pula kau juga pemilik Bonham Company sekaligus istri dari Arthur Kennard Romanov." Helena mengangguk saja mendengar penuturan Arthur. Padahal ia sendiri bahkan lupa jika saat ini sudah menjadi pemimpin perusahaan. Semenjak menikah dengan Arthur, Bonham Company memang di jalankan oleh orang-orang kepercayaan Arthur dan orang-orang yang selalu mendukung penuh pada sosok Jonathan, Daddy kandungnya. Mengingat hal itu membuat wajahnya berubah sendu. Selama ini ia tidak pernah tahu bagaimana wajah Daddy biologisnya itu.
"Kenapa, hm?" Arthur menyadari perubahan raut wajah istrinya. Tentu ia harus tau apa yang tengah dipikirkan sang istri.
Helena menggeleng cepat. "Tidak ada, hanya saja aku teringat Mommy."
"Apa kau merindukannya?" Arthur bertanya memastikan.
Helena mengangguk. "Sangat...."
"Kalau begitu siang nanti kita akan mengunjungi makam Mom Anna."
Mendengar perkataan Arthur tentu saja membuat Helena mengangguk senang. Sudah lama sekali ia tidak berkunjung ke makam Mommy Anna dan jujur saja ia sangat rindu.
"Hm Honey, tadi kau mengatakan jika semua yang datang ke asosiasi akan membawa pasangan. Apa Darren juga akan membawa pasangannya?"
"Uhuukk... uhuukk....." Perkataan Helena sukses membuat Darren terbatuk-batuk lantaran pria itu gagal menelan teh chamomile yang terlanjur ia seruput.
"Pelan-pelan saja, Der." Helena mendadak panik melihat Darren yang tiba-tiba saja terbatuk-batuk. "Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanyanya heran. Sebab ia hanya asal bertanya saja tapi sukses membuat Darren terlihat terkejut seperti itu.
Berbeda dengan Helena yang terus mencerca Darren dengan pertanyaannya, Arthur justru tersenyum smirk. Ia menikmati wajah Darren yang tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya.
Dasar, pasangan suami istri menyebalkan.
Darren hanya bisa memaki kedua pasangan suami istri itu di dalam hati. Bagaimana mungkin ia membawa pasangan, memiliki kekasih saja tidak. Dan ia tidak akan pernah menyewa seorang wanita hanya untuk mendampinginya. Untuk datang ke asosiasi tersebut ia tidak perlu membawa pasangan, selama ini baik dirinya dan Arthur tidak membawa pasangan dan tidak masalah dengan hal itu.
To be continue
Eh ya ampun, pasti kalian kangen banget ya sama babang Ar dan semuanya. Maap ya Yoona baru bisa up lagi 🙏
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...