The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Jauhi Elie!



Sedari tadi Arthur tidak mengalihkan pandangannya dari Aurelie dan Helena. Hingga suara dering ponsel menggugahnya dan mengalihkan perhatiannya pada ponselnya tersebut.


"Bagaimana?" tanyanya. Sudah jelas yang mengubungi Arthur tidak lain adalah Darren.


"Helena Bonham ingin menjebak Nona Elie dengan menyembunyikan gelangnya di dalam tas Nona Elie," sahutnya menjelaskan rencana dengan satu pelayan yang masih bersamanya di salah satu ruangan. "Pelayan itu akan membuat seolah-olah tidak sengaja menumpahkan minuman. Lalu memasukkan gelang milik wanita itu ke dalam tas Nona Elie," lanjutnya.


Arthur mengangguk, itu adalah trik mempermalukan seseorang dengan cara yang murahan. "Kau sudah tau apa yang seharusnya kau lakukan Der."


"Aku sudah mengurusnya, Ar."


"Bagus." Dan setelahnya Arthur memutuskan sambungan telepon lebih dulu, karena Darren terbiasa menunggu Arthur yang menutup sambungan telepon mereka dan itu seperti sebuah kebiasaan untuknya.


Usai meletakkan ponselnya di atas meja, Arthur kembali memusatkan perhatiannya kepada Helena serta Aurelie. Sudut bibirnya tertarik tatkala apa yang direncakan oleh wanita itu gagal. Satu kata yang disematkan Arthur untuk Helena, bodoh. Ya, bodoh karena mencoba membuat masalah dengan keturunan Keluarga Romanov.


Wajah kekesalan Helena menjadi hiburan tersendiri untuk Arthur. Begitu wanita itu pergi dari sana, ia lantas segera beranjak menyusul jejak Helena yang seperti mencari keberadaan pelayan yang ditugaskan untuk memasukkan perhiasan itu ke dalam atas adiknya.


Langkah Arthur terhenti, punggungnya disandarkan pada dinding dengan tangan yang menyilang di depan dada, Arthur mencuri dengar percakapan Helena dengan pelayan yang lain.


"Kau benar-benar tidak melihat temanmu?" Helena masih mendesak, ia sungguh kesal karena pelayan bodoh itu tidak berhasil menjalankan rencana mereka.


"Maaf Nona, saya benar-benar tidak paham pelayan mana yang dicari oleh Nona."


"Dia memiliki rambut sebahu sepertimu. Jika tidak salah, aku melihat tanda di bawah matanya," ujar Helena menjelaskan secara detail ciri-ciri pelayan yang ia tugaskan untuk melancarkan aksinya.


Pelayan tersebut nampak berpikir, seingat dirinya yang memiliki ciri-ciri seperti itu, hanya satu temannya yang bernama Sarah.


"Apa yang Nona cari adalah Sarah?" Dan pelayan tersebut berbalik bertanya.


"Aku tidak tau, aku hanya ingat wajahnya saja." Ya, ia bodoh karena tidak bertanya nama pelayan itu. Jika sejak awal dirinya mengetahui nama pelayan tersebut, mungkin akan lebih mudah mencari pelayan itu.


"Sepertinya memang benar jika Sarah yang Nona cari. Tapi sepertinya tadi Sarah meminta izin karena ada sesuatu yang harus diurus olehnya," sahutnya. Karena pada saat Sarah meminta izin pada bos mereka, ia tidak sengaja mendengarnya.


Helena menahan rasa kesal sekaligus amarahnya. "Dasar pelayan tidak tau diri," gumamnya. Kemudian Helena kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan tanda tanya kepada pelayan yang baru saja berbicara dengannya.


Di balik dinding, Arthur merasa puas karena sudah berhasil menggagalkan rencana Helena. Arthur tersenyum smirk, rencana untuk memberikan wanita itu pelajaran terlintas di otaknya. Kemudian Arthur kembali ke mejanya, dimana coffee latte miliknya masih di atas sana dan tidak tersentuh sedikitpun. Diraihnya minuman yang menghembuskan uap dingin itu, lalu melangkah menuju tempat sebelumnya.


"Ck, dasar tidak berguna." Helena bergumam dan berdecak kesal. "Rupanya dia melarikan diri," imbuhnya.


Masih saja terdengar umpatan wanita itu di balik dinding dimana Arthur kini berada. Dan pada saat wanita itu hendak berbelok, Arthur mengayunkan langkahnya hingga kemudian seolah mereka saling bertabrakan. Arthur yang sedang membawa minuman coffee latte dingin, dengan sengaja menumpahkan minumannya sehingga mengenai pakaian wanita itu.


"Hei kau. Apa kau tidak memiliki mata?!"


Dan Arthur bisa melihat kekesalan berkali-kali lipat di wajah wanita di hadapannya yang tengah membersihkan noda di pakaiannya.


"Tanganku licin, tidak ada hubungannya dengan mataku," sahutnya santai. "Lagi pula minuman yang tumpah ini sangat baik untuk mendinginkan kepalamu yang kecil tetapi kotor!" sambungnya menohok. Bahkan jika perlu Arthur ingin sekali menyumpal batu es yang membeku ke dalam mulut wanita itu.


Mendengar ucapan pria di hadapannya yang menusuk dan memiliki maksud, sontak saja membuat Helena mengangkat wajahnya.


"Kau...??" pekiknya. Ia baru ingat wajah yang tidak asing itu. "Bukankah kau pria malaikat maut yang di Four Season Hotel saat itu?" tambahnya.


Kening Arthur mengernyit. Malaikat maut? Berani sekali wanita itu mengatai dirinya malaikat maut. "Apa ini caramu berpura-pura kenal agar kau bisa meminta ganti rugi padaku?" Dan justru dibalas tatapan meremehkan oleh Arthur. Meskipun sebenarnya ia memang mengingat pertemuan pertama mereka di Four Season Hotel.


"Kau....?" Amarah Helena tertahan. "Aku tidak sepicik itu. Aku tidak akan meminta ganti rugi padamu, jadi kau tenang saja." Sudah cukup ia menahan amarah hari ini. Sepertinya ia harus benar-benar pergi dari sana sebelum amarahnya meledak-ledak. Dan tanpa sepatah katapun, Helena segera berlalu dari sana.


Arthur dibuat terheran, bukankah wanita itu senang membuat masalah. Seharusnya wanita itu meminta ganti rugi karena ia dengan sengaja menumpahkan minumannya ke pakaian wanita itu.


Lama berasumsi, telinga Arthur tersentak ketika ponselnya berdering, ia segera merogoh ponsel yang berada di dalam saku jasnya.


"Nona Elie ingin meninggalkan Restauran." Darren memang ditugaskan untuk memantau Aurelie dari jauh.


"Kau ikuti dia dan bawa dia kembali ke apartemennya."


"Tapi bukankah aku harus menemanimu untuk bertemu dengan-"


"Aku bisa mengurusnya sendiri Der." Sebelum Darren menyelesaikan kalimatnya, Arthur lebih dulu menyela. "Kau pastikan Elie kembali ke apartemennya, aku akan menyusul setelah menemui pria itu."


"Baiklah...."


Sambungan telepon terputus. Arthur mengayunkan langkah menuju privat room sembari memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jas. Langkahnya terhenti di depan pintu ruangan, memegang handle pintu, sebelum kemudian mendorongnya.


Pemandangan yang pertama kali menjadi pusat perhatian Arthur saat memasuki ruangan privat room adalah sosok pria yang duduk membelakangi dirinya. Hingga pria itu menyadari kedatangan Arthur, segera beranjak dan memutar tubuhnya.


Wajah Arthur menunjukkan keterkejutan ketika pertama kali berhadapan secara langsung dengan Presdir MJ Corp. Pun dengan Mikel yang sebenarnya sudah mengetahui jika pertemuan mereka akan terjadi. Sebagaimana pun ia berusaha untuk menghindari Arthur, tetapi kali ini tidak bisa lagi menghindar. Sebab itu ia membiarkan Nathan menyetujui pertemuan mereka, meski tetap saja jauh di dasar hatinya, ia belum siap bertemu secara langsung. Terlebih ia tidak ingin Arthur menyadari sesuatu yang dahulu melekat di dalam diri Michale.


"Kau... Mikel Jhonson?" Bahkan bibir Arthur mendadak keluh mengucapkan nama pria di hadapannya. Marga yang serupa dengan Michael, mengingatkannya kembali dengan Keluarga Paman Matthew yang menghilang 11 tahun lalu.


"Benar, aku Mikel Jhonson." Seolah tidak mengenal, Mikel memasang wajah datar tanpa senyuman.


Dalam sekali lihat saja, Arthur bisa membaca karakter pria itu. Tidak berbeda dengannya, penuh tekad jika sudah menginginkan sesuatu. "Aku meminta bertemu denganmu bukan untuk membahas mengenai pekerjaan." Namun Arthur bisa memudarkan rasa keterkejutannya, wajahnya kembali dingin seperti semula.


"Lalu?" Mikel menanggapi dengan tenang, meskipun ia sudah menebak tujuan Arthur ingin bertemu dengannya.


"Aku tau kau bukan pria bodoh. Seorang Presdir sepertimu tidak mungkin tidak mencari tau informasi mengenai seorang wanita yang sedang kau dekati." Arthur sangat yakin jika Mikel sudah mengetahui identitas Elie yang sebenarnya. Pria yang memiliki uang dan kekuasaan seperti Mikel, sudah pasti dengan mudah mendapatkan informasi apapun, termasuk identitas sang adik. "Karena itu tujuanku menemuimu hanya ingin memperingatimu untuk menjauhi Elie!" sambung menekankan.


"Elie?" sahut Mikel. Benar dugaannya, tujuan Arthur bertemu dengannya hanya karena Elie.


"Selesaikan masalahmu dengan wanitamu yang lain. Jangan melibatkan Elie di dalamnya. Jika tidak, kau akan berhadapan lagi denganku!"


"Kau tidak bisa mengaturku." Dan Mikel tidak terima jika Arthur melarang dirinya untuk menemui wanitanya.


"Apapun yang berurusan dengan Elie akan menjadi urusanku. Jauhi Elie, jangan pernah mengganggunya dan menemuinya lagi!" Dan setelah mengultimatum peringatan, Arthur segera melenggang pergi dari sana.


Selama mengenal Arthur, ini adalah pertama kalinya Mikel melihat Arthur menatapnya penuh dengan permusuhan. Meskipun sejak dulu Arthur bersikap dingin kepada siapapun, tetapi jika kepadanya, Arthur sedikit melunak. Masih hangat di ingatannya bagaimana saat itu Arthur selalu mendukung dirinya yang berusaha ingin mendekati Elie. Namun saat ini nampak berbanding terbalik, Arthur dengan lantang menentangnya yang ingin mendekati wanitanya kembali.


Mikel memejamkan singkat kedua matanya. Ia belum bisa mengatakan siapa dirinya sebelum tujuan balas dendamnya tercapai.


To be continue


Babang Arthur



Babang Mikel



Yoona baru sempet up,, kecapean mudik, maaf ya man-teman 🤭🤗


...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...