The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Apa Seperti Ini Kalimat Melamar Putriku?)



"Baiklah, sekarang aku ingin bertanya, apa alasanmu pergi meninggalkan London karena percakapanku dengan Roy?"


Seketika suasana menjadi lebih mencekam dari sebelumnya. Terlebih aura Xavier tiba-tiba menggelap lantaran merasa tidak terima putranya diremehkan. Bahkan Bastian yang berada di antara ketiganya merasakan kegugupan hingga harus menyeka keringatnya berulang kali dengan sapu tangan miliknya.


"Kenapa aku harus berada di situasi seperti ini? Lebih baik aku bekerja lembur semalaman dari pada berada di antara mereka." Bastian hanya dapat membatin dan berharap ketegangan di hadapannya akan segera berakhir.


Austin menarik napas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Alih-alih menjawab, Austin meminta Bastian untuk mengeluarkan sesuatu kembali. Dan tanpa diminta dua kali, Bastian mengambil tas yang ia letakkan di sisi kedua kakinya, lalu mulai merogoh sesuatu yang diminta oleh tuannya.


Beberapa map sudah bertumpuk di atas meja berbahan dasar kaca itu. Dan Bastian meletakkannya begitu hati-hati seolah kaca itu akan mudah retak.


Meraih salah satu map, lalu Austin mengeluarkan isi dari dalam map tersebut. Hanya sebuah secarik kertas saja jika diperhatikan, namun sangat bernilai jika sudah mengetahui isinya.


Diletakkannya secarik kertas itu di hadapan Paman Zayn. Seketika pria setengah baya itu mengerutkan keningnya lantaran bingung.


"Paman bisa membacanya," ujar Austin ketika memperhatikan Paman Zayn yang enggan menyentuh benda tipis itu.


Karena sudah diperbolehkan, lantas Zayn segera mengambil secarik kertas itu dan membacanya dengan seksama.


Ketika membacanya, Zayn dibuat tidak percaya. Ia memperhatikan Austin dan isi di dalam kertas itu bersamaan.


"Ka-kau mengakuisisi perusahaan dan memberikannya untuk putriku?" Sungguh, Zayn tidak dapat berkata, bibirnya seolah keluh mendadak.


Xavier tertegun mendengarnya. Karena tidak percaya begitu saja, ia segera menyambar secarik kertas itu dari tangan Zayn. Reaksi Xavier serupa dengan Zayn, terkejut. Mana mungkin putranya itu mengakuisisi perusahaan yang cukup besar di Asia hanya dalam satu tahun saja? Ah, sungguh luar biasa.


"Son, meskipun aku tidak heran karena kau putraku, tapi aku mengakui kehebatanmu." Ya, Xavier begitu takjub dengan putra bungsunya. Dalam waktu singkat mampu menguasai dunia bisnis, padahal belum genap dua tahun bergabung di Perusahaan.


"Kau lihat sendiri, putraku tidak bisa diremehkan oleh siapapun. Dia mengakusisi perusahaan yang cukup besar di Asia dan memberikannya untuk putrimu." Xavier menyunggingkan senyum diselingi sindiran pedas. Kegeraman yang sempat tertahan itu lenyap sepenuhnya karena Austin mampu membuktikan jika dirinya tidak kalah kompeten dan layak untuk mendapatkan wanita pilihannya tanpa membawa nama Keluarga Romanov.


Apa yang dikatakan oleh Xavier benar adanya dan sialnya Zayn harus mengakui hal itu. Bahkan dirinya saja yang sudah bergabung dengan perusahaan, belum tentu dapat mengakusisi perusahaan lain dalam waktu singkat.


"Bukan hanya itu saja, Tuan." Tiba-tiba saja Bastian turut bergabung dalam percakapan mereka. Ia tidak pedulikan akan tatapan Tuan mudanya yang melarangnya untuk membongkar rahasia. "Tuan Muda bahkan akan menjadi CEO di Perusahaan Amazon setelah mengakuisisi Wings Group sebelumnya."


"Bas...!" Austin kesal karena asistennya itu tidak mengindahkan peringatannya.


"Maaf Tuan Muda, tapi ayah anda harus tau tentang akuisisi perusahaan itu agar jabatan anda sebagai Direktur di Perusahaan Romanov Group tidak diragukan. Jika anda tidak bisa datang ke Perusahaan Romanov Group, anda bisa memberikan asalan yang kuat. Karena cepat atau lambat pemimpin Amazon akan menampakkan diri di hadapan publik."


Austin hanya dapat menghempaskan napas dengan dalam. Tetapi secara tidak langsung ia membenarkan perkataan Bastian.


Xavier masih dalam keterkejutannya. Ia sangat tahu perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce itu merupakan perusahaan cukup besar di Eropa.


"Apa yang kau bicarakan adalah Perusahaan Amazon yang sebelumnya berganti kepempimpinan enam bulan lalu?" Xavier mencoba memastikan kepada Bastian. Sebab dari berita yang ia dengar jika ada seseorang yang menggantikan kepemimpinan perusahaan tersebut.


"Benar Tuan." Bastian mengangguk. "Dan Tuan muda akan menerima serah jabatan sebagai CEO dalam waktu satu Minggu ke depan."


Hah. Xavier tidak mampu berkata. Bahkan Zayn sendiri nyaris ternganga. Benarkah pria muda dihadapannya adalah Austin? Pemuda yang tidak terlalu suka menonjolkan kelebihannya dan membiarkan kakaknya Arthur yang berada dipuncak kejayaan.


"Kau lihat Zayn, dia putraku. Dan siapapun tidak ada yang bisa meremehkannya, hahahaha." Jika sebelumnya tepuk tangan yang menggelegar, kali ini suara tawa Xavier yang lebih menggelegar.


"Dad, hentikan." Austin segera menegur Daddy-nya itu. Ia tidak ingin membuat Paman Zayn tersinggung, karena tujuannya hanya ingin membuktikan jika dirinya mampu dan layak tanpa perlu menyandang nama Keluarga Romanov.


Seketika tawa Xavier menyurut. Ia tidak ingin merusak rencana putra bungsunya itu. Lagi pula ia sudah puas mentertawakan Zayn yang hanya bisa menekuk wajahnya.


Pandangan Austin kembali berpusat pada Paman Zayn. "Aku tidak bermaksud menyinggung Paman dengan keberhasilanku. Hanya saja aku berterima kasih pada Paman karena percakapan Paman Zayn dengan Paman Roy satu tahun yang lalu menjadi motivasi untukku agar lebih maju lagi." Baik Zayn dan Xavier mendengarkan dengan serius. "Dan Paman tidak perlu mencemaskan masa depan Licia karena aku sendiri yang akan memastikan jika dia tidak akan kekurangan apapun. Tanpa Romanov sekalipun aku bisa membiayai pasanganku nanti hingga tujuh turunan."


Ah, skakmat. Zayn dibuat mati kutu dan tidak dapat menimpali perkataan Austin yang ia rasa justru seperti sindiran untuknya. Dengan kata lain dalam percakapannya dengan Roy, dirinya meremehkan Austin lantaran hanya karena berasal dari Keturunan Romanov dan tidak dapat melakukan apapun tanpa menyandang Romanov di belakang namanya.


"Dad, sekarang waktunya untuk Daddy bicara. Katakan pada Paman Zayn jika aku ingin melamar putrinya untuk menjadi pendampingku di masa depan."


"Uuhukk.... uhukk...." Xavier terbatuk-batuk karena tersedak akan salivanya sendiri. Jadi ini tujuan putranya yang sebenarnya. Selain ingin membuktikan diri, putra bungsunya juga ingin melamar gadis itu. Ah, ia benar-benar sudah dikalahkan oleh kedua putranya. Kala itu Arthur juga secara terang-terangan ingin menikahi seorang wanita, hingga dirinya nyaris terkena serangan jantung. Dan kali ini terulang kembali kepada putra bungsunya.


Dihembuskannya napas dengan berat, Xavier yang duduk berdampingan dengan Zayn segera menolehkan kepala, bahkan sedikit berangsur mundur agar lebih mudah bicara dengan Zayn.


"Dengar, sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal ini. Tapi demi putraku, sehingga aku akan melakukan apapun yang diinginkannya. Karena itu...." Xavier menjeda kalimatnya dan menyempatkan untuk melirik sang putra. Terlihat jika putranya itu berharap penuh padanya. Dan untuk yang kedua kali, ia kembali menghembus napas panjang seolah berat untuk mengatakannya.


"Ck, apa kau perlu kembali belajar mengeja atau bahkan belajar bagaimana caranya bicara dengan lancar, heh?!" seru Zayn menyela. Sungguh ia tidak sabar ingin mendengar kalimat Xavier yang harus terjeda entah kenapa. Meskipun ia sudah mengetahui apa kalimat selanjutnya, tetap saja ia merasa tidak sabar dan ingin percakapan seperti ini segera berakhir.


"Diam! Karena kau bicara, aku menjadi lupa apa yang seharusnya kukatakan!" sengit Xavier kesal. Baru saja ia ingin melanjutkan kalimatnya, akan tetapi Zayn lebih dulu bersuara, sehingga kata yang berhasil disusun olehnya lenyap seketika.


"Hahahaha..." Zayn tergelak. Sedangkan Austin sudah cemas jika keduanya akan kembali bersitegang. "Baiklah, karena aku pria yang baik hati, aku akan memaklumimu. Jadi lanjutkanlah, aku akan mendengarnya," sambung Zayn pongah.


Xavier menghunuskan tatapan membunuh. Jika saja tidak berada dalam situasi seperti ini, sudah sejak tadi dirinya melayangkan pukulan di wajah Zayn yang menyebalkan itu.


Kemudian Xavier berdehem sebagai pembuka dirinya untuk bersuara. "Tuan Zayn J. Scott yang terhormat, tanpa mengurangi rasa kesalku padamu dan tanpa mengurangi ketampananku, aku yang bernama Xavier Alexander Romanov ingin melamar putrimu untuk putraku yang bernama Austin Kendrick Romanov. Dan aku harap kau bisa menerima putraku untuk menjadi menantumu, karena aku tidak menerima penolakan!"


Austin menepuk keningnya lantaran tidak percaya apa yang dikatakan oleh Daddy-nya itu. Dan Bastian dibuat tercengang karena baru pertama kali mendengar seorang ayah yang melamar seorang gadis untuk putranya dengan kalimat seperti itu. Reaksi yang tidak jauh berbeda dengan Zayn, pria setengah baya itu hanya dapat menggelengkan kepala.


"Apa seperti ini kalimatnya untuk melamar putriku?" batinnya terperangah.


See you next bonus chapter


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...