The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Penyerangan




Senja mulai menyapa di langit, seolah menyambut kedatangan Mikel yang sudah sekian tahun lamanya tidak pernah menunjukkan dirinya disana. Bangunan tua luas yang nampak kokoh itu menjadi Markas Loz Zetas, kelompok Mafia yang sudah berdiri sejak puluhan tahun. Mereka mempunyai peran dalam memperjual belikan obat-obatan terlarang yang disebarkan di Amerika Serikat dan Meksiko. Selain obat-obatan terlarang Los Zetas juga melakukan perjudian ilegal, pemerasan, perampokan serta pembunuhan.


Pekerjaan pertama yang dilakukan Mikel saat baru bergabung di Loz Zetas adalah melakukan aksi pembunuhan. Tanpa belas kasih Mikel berhasil membunuh seseorang yang berpengaruh di berbagai kota, sehingga ia diizinkan menjadi bagian dari Loz Zetas.


Dan saat ini hanya beberapa anak buah yang menyambut kedatangan Mikel. Karena hampir sebagian dari mereka lebih patuh kepada Pablo, karena ketua mereka yang sebenarnya adalah Pablo. Namun beberapa dari mereka lebih senang jika Mikel yang menjadi bos mereka, sehingga diam-diam mendukung Mikel untuk menyingkirkan Pablo.


"Akhirnya kau datang juga." Sid menyambut menghampiri Mikel, kedua tangannya direntangkan untuk memeluk temannya itu.


"Ya, akhirnya aku kembali ke tempat ini." Mikel membalas pelukan Sid hingga sesaat kemudian keduanya saling mengurai pelukan.


Sid terkekeh-kekeh. "Sudah sejak awal ku katakan jika kau tidak akan bisa jauh dariku."


"Cih, kau terlalu percaya diri." Mikel berdecih. Namun tidak mengelak jika memang selama ini Sid selalu ada untuknya.


"Ya, itulah kelebihanku." Sid masih terkekeh. Kemudian pandangannya tertuju pada pakaian Mikel yang nampak basah dan lembab, ia baru menyadari jika pakaiannya pun basah karena sentuhan dari pelukan mereka. "Tapi apa kau baru saja berenang untuk mencapai ke Markas? Lihatlah, pakaianku basah karena ulahmu!" serunya mengejek, karena sebenarnya ia sudah mengetahui dari anak buah mereka jika Mikel tengah berusaha menyelamatkan wanitanya.


"Kau yang lebih dulu memelukku bodoh!" sahut Mikel.


Sid terlihat mengangguk-angguk. Memang dirinya-lah yang lebih dulu memeluk. Itu karena sudah lama mereka tidak bertemu secara langsung. "Sebaiknya kau segera berganti pakaian. Kita harus pergi dari Markas malam ini juga sebelum Pablo kembali."


Mikel mengangguk, ia pun tidak mungkin datang jika Pablo berada di Markas dan lebih memilih bertemu di tempat lain. Sejak dahulu, hubungannya dengan Pablo memang tidak baik, namun Mikel terpaksa menuruti perintah pria itu demi melancarkan tujuannya.


"Tapi tunggu dulu...." Sid menahan langkah Mikel yang baru saja ingin berlalu. "Siapa pria yang di belakangmu? Apa dia pria yang sering kau ceritakan?" tanyanya. Karena Sid nampak asing dengan sosok Nathan yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi mereka. Bahkan sebenarnya Sid sudah mengamati Nathan yang sempat kebingungan dan mencuri pandang pada setiap sudut bangunan Markas.


Mikel menoleh ke belakang. Ia sempat melupakan asistennya itu. "Ya, dia Nathan, asisten pribadiku."


Kembali Sid menganggukkan kepalanya. "Sekarang kau sudah menjadi pria yang sukses dan tujuanmu perlahan akan tercapai, Mik!"


"Hem...." Mikel bergumam, menanggapi dengan seulas senyum. Lalu pandangannya beralih kepada Nathan. "Nath, kau ikut denganku." Tanpa menunggu jawaban dari Nathan, Mikel sudah lebih dulu berlalu meninggalkannya.


Nathan memberikan senyum ramah kepada Sid diiringi kepala yang mengangguk sopan, lalu mengejar langkah Mikel yang semakin menjauh. Dan Sid menggelengkan kepalanya, karena merasa heran melihat sosok pria yang masih memiliki atitude yang baik seperti asisten dari temannya itu.


Mikel sedang membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi di ruangan yang sudah lama tidak ia singgahi. Selama menunggu tuannya yang sedang membersihkan diri, Nathan berkeliling melihat setiap ukiran di dalam ruangan tuannya. Bahkan ia tidak ragu menyentuh beberapa senjata api dan senjata tajam yang berjajar di dinding.


"Ehem....." Deheman Mikel mampu membuat Nathan terlonjak kaget, padahal Mikel tidak bermaksud mengejutkan asistennya itu. Akan tetapi ia selalu menikmati wajah gugup sekaligus guratan ketakutan yang terselip di wajah Nathan. "Aku ingin bertanya padamu Nath," ujarnya sembari mengusap kepalanya yang basah dengan handuk kecil. Sedangkan dirinya sudah mengenakan celana panjang, meskipun masih bertelanjang dada.


"Apa yang ingin Tuan tanyakan?" jawab Nathan sedikit penasaran.


"Apa pendapatmu tentangku berubah saat kau sudah mengetahui semuanya Nath?" tanyanya penuh keseriusan. "Kau sudah melihat aku membunuh seseorang. Bahkan sebenarnya di masa lalu aku sering melakukannya untuk bertahan hidup. Enam tahun lalu, sebelum aku mengembangkan MJ Corp, aku bergabung dengan mereka. Itulah caraku untuk bertahan hidup, tapi aku bersumpah tidak akan mati sebelum membalaskan dendam masa lalu keluargaku." Dan kemudian Mikel duduk di tepi ranjang, sementara Nathan mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berhadapan dengan ranjang. Mikel mulai menceritakan kisah masa lalunya yang sangat menyedihkan. Bagaimana pria itu bisa bergabung dengan Loz Zetas, hingga bisa membeli perusahaan yang nyaris guling tikar dan mengembangkannya seperti perusahannya yang dahulu.


Hati Nathan bergetar pilu mendengarnya. Sungguh sangat menyedihkan masa lalu yang dialami oleh Tuan dan keluarganya. Ia pun semakin bangga bisa mengabdi selama ini kepada pria di hadapannya itu.


"Bagaimanapun masa lalu tuan, saya akan tetap berada di sisi anda." Tidak ada keraguan saat Nathan mengatakannya. Ia yang tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, begitu berterima kasih karena Mikel sudah percaya kepadanya dan menjadikan dirinya sebagai asisten kepercayaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Sudut bibir Mikel tertarik tipis. Hatinya sedikit menghangat mendengar ucapan Nathan. Ia pikir jika pria itu akan takut padanya atau meminta berhenti bekerja padanya. Dan untuk sesaat bebannya sedikit menguap karena sudah berbagi cerita dengan Nathan, meskipun tidak sepenuhnya diceritakan.


Kemudian Mikel bangkit berdiri. Ia menyambar pakaian yang tergeletak di atas ranjang. "Baiklah, kau tidak bisa mundur lagi Nath. Setelah ini kau akan selalu menghadapi bahaya, tapi setidaknya kau tidak akan terkejut lagi," ujarnya usai mengenakan pakaian. Ia kemudian melihat jam yang menempel di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. "Baiklah, kita harus pergi sekarang Nath, aku tidak ingin pria bajingan itu kembali bersembunyi." Karena akan sulit baginya untuk menemukan keberadaan Franco jika pria itu kembali menyembunyikan diri di tempat yang tidak bisa dijangkau olehnya.


Nathan mengangguk paham, lalu mengekori langkah Mikel yang lebih dulu keluar dari ruangan. Hingga mereka sudah berada di halaman depan, dimana Sid serta beberapa anak buah yang selalu mendukung Mikel sudah berkumpul disana. Meskipun tidak banyak, tetapi cukup untuk membantunya mengeksekusi Franco beserta orang-orangnya.


***



Mikel menatap bangunan megah di hadapannya dengan senyuman getir. Pria yang sudah membuat hidup adiknya menderita selama puluhan tahun dapat hidup dengan tenang dan dipenuhi kemewahan dari harta Keluarga Jhonson yang berhasil dirampas oleh mereka.


Masing-masing dari mereka sudah menggenggam senjata, siap meluncurkan peluru kepada penghuni Mansion tersebut.


"Kali ini kau tidak akan bisa lari lagi, Franco." Dendam Mikel kembali membara, hingga tanpa sadar satu tangannya terkepal begitu erat.


"Jangan gegabah, Mik. Bisa saja Franco sudah mengetahui kedatangan kita," bisik Sid. Ia paham akan emosi Mikel yang sulit dikendalikan saat akan berhadapan dengan seseorang yang sudah membuat adik pria itu menderita.


Mikel mengangguk perkataan Sid. Sebelum kemudian mereka melangkah masuk ke dalam dengan mendobrak pintu hingga menimbulkan suara kegaduhan. Dan hal tersebut membuat penghuni Mansion berhamburan keluar dari ruangan mereka masing-masing.


"Hei, siapa kalian?!" teriak salah satu dari anak buah Franco.


Bugh


Mikel yang bersembunyi di balik sofa menghantamkan tendangan di perut anak buah Franco hingga terjungkal ke belakang.


Dor


Dor


Dan beberapa anak buah Franco lainnya memuntahkan senjata mereka tepat ke arah Mikel, Sid dan juga Nathan. Ketiganya berhasil menghindar, hingga hantaman peluru kembali dimuntahkan. Dan Mikel, Sid serta Nathan membalas serangan mereka, hingga dua anak buah Franco berhasil ditumbangkan.


"Berani-beraninya kalian mengganggu istirahatku. KALIAN INGIN MATI, HAH?!!" Seseorang dengan perawakan tinggi sudah berdiri tangga. Tatapannya nyalang terhadap Mikel dan yang lainnya.


Sorot mata Mikel menajam, darahnya mendadak mendidih hingga ke ubun-ubun kepalanya. Sosok pria bajingan itu kini berada tepat di hadapannya.


Franco dapat merasakan api yang membara pada sorot mata pria asing itu.


"Kau? Bukankah kau Mikel Jhonson?!" Tentu Franco mengetahui pembisnis muda yang ramai di perbincangkan di dunia bisnis. Namun selama ini ia belum pernah bertemu, sebab perusahaan mereka tidak saling bersangkutan. Namun apa masalah pria itu dengannya sehingga harus menyerang kediamannya?


To be continue


Babang Mikel



Nathan



Sid



...Jangan lupa dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...