
Arthur yang sejak tadi menahan dirinya begitu murka, ia membaringkan Helena di lantai, lalu mendekati Vasco dan memberikan pukulan secara bertubi-tubi. Berulang kali ia menekan dada Vasco yang terluka, membuat pria itu menjerit kesakitan. Aura Arthur begitu gelap, ia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menghabisi Vasco. Selama pria itu masih bergerak, Arthur tidak membiarkannya lepas begitu saja. Darah bercucuran di lantai dan tersapu saat Arthur menarik kaki Vasco yang tergelatak di lantai.
Darren mengiris menyaksikan kekejaman Arthur, bahkan jika ia berada di posisi Vasco akan tewas detik itu juga. Sungguh Vasco memiliki nyawa lebih dari satu sehingga tidak kunjung tewas, mengakibatkan Arthur semakin brutal.
"Kau pasti bukan, Ar." Darren dapat menebaknya. Aura Arthur semakin gelap dan ia tidak dapat mengenali temannya itu, sehingga menyimpulkan jika sosok Killer-lah yang sedang menguasai.
"Kau gila, hah?!" Entah kapan datangnya, Mike sudah berada disana bersama dengan Austin. "Kenapa kau membiarkan Helen seperti ini. Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit." Ya, Mike bersungut kesal lantaran melihat Darren yang tak kunjung membawa Helena.
"Aku minta tolong padamu, bawa Nona Helena ke rumah sakit. Aku akan menunggu Ar." Yang dilakukan Darren justru meminta tolong pada Mike untuk segera membawa Helena ke rumah sakit.
Mike semakin tidak mengerti, apa baik Darren dan Arthur tidak memperdulikan Helena yang tidak berdaya. Mike kemudian mengikuti arah pandang Darren. Terkejut saat menyaksikan bagaimana Arthur menyiksa Vasco. "Kita harus menghentikan Ar, pria itu sudah akan tewas." Mike hendak melangkah, bermaksud untuk menegur Arthur agar tidak perlu mengurusi pria itu.
"Jangan!" Darren buru-buru mencegah Mike dengan menahan bahu Mike.
"Kak Mike, sebaiknya kau membawa Kak Helen ke rumah sakit. Untuk saat ini Kak Ar tidak bisa mengenali siapapun." Austin turut bersuara, memberikan penjelasan yang tidak dimengerti oleh Mike. Memang selama ini Mike tidak mengetahui jika Arthur memiliki alter ego.
"Tapi, bagaimana dengan Ar?" Mike tahu jika Arthur sangat posesif. Ia tidak yakin jika Arthur akan membiarkan pria lain menggendong istrinya. "Dia akan mengamuk padaku jika membawa Helena pergi darinya."
Darren menggeleng. "Dalam situasi genting seperti ini, Ar pasti akan mengerti. Cepat pergi dari sini!" Dan ia mengusir Mike untuk segera membawa Helena.
Mike melihat ke arah Austin, meminta persetujuan dari adik iparnya. Begitu Austin mengangguk, Mike berlutut untuk menggendong Helena. "Setelah ini kalian harus jelaskan padaku apa yang terjadi dengan Ar." Dan setelah mengatakan demikian, Mike segera berlalu dari sana dengan menggendong Helena. Jujur saja Mike begitu penasaran dengan keadaan Arthur yang nampak berbeda, tentu ia harus mengetahui apapun yang terjadi dengan kakak ipar itu.
"Aku harus menghentikan Kak Ar." Austin bermaksud mendekati tetapi Darren mencegahnya.
"Jangan sekarang. Kau bisa melihat sendiri bagaimana Ar saat ini."
Austin menghela napas, mereka harus menyaksikan Arthur menghabisi Vasco dan beberapa anak buah Kartel Sinaloa yang masih hidup dan bermaksud ingin menyelamatkan Vasco, akan tetapi yang terjadi justru Arthur menghabisi mereka semua.
Dan pada akhirnya Arthur mengakhiri perbuatannya dan tiba-tiba meninggalkan mangsanya, berlari menuju keluar. Darren segera mendekati Vasco untuk memeriksa keadaan Vasco. Saat tidak merasakan denyut nadinya, Darren meyakini jika Vasco sudah tewas. Sementara Austin mengejar Arthur. Kakaknya itu tidak boleh bertindak gegabah, meski tengah dikuasai oleh Killer.
"Kak Ar...!!" Austin tidak peduli. Bagaimanapun caranya ia harus menghentikan kakaknya. Terlebih kakaknya itu harus mengetahui keadaan istrinya yang dilarikan ke rumah sakit.
Arthur menghentikan langkahnya, ia berbalik dan mendapati Austin berdiri dengan pongah. Padahal tangan pria itu di gips, tetapi tetap nekad untuk menghentikan Arthur yang sedang tidak bisa mengendalikan diri.
"Jangan seperti ini. Kak Helen sedang di bawa ke rumah sakit. Apa kau tidak memikirkannya, heh?!"
Arthur masih diam, tetapi api amarahnya masih belum menyurut. "Pergi kau! Sebelum aku menghabisimu juga!"
Ah, Austin nyaris saja terjingkat. Tatapan Arthur begitu mengerikan dan ia menjadi tidak yakin untuk menghentikan Arthur.
"Kita harus ke rumah sakit. Kak Helen pasti membutuhkanmu," ujarnya mengutarakan niatnya. "Dan kau juga terluka," imbuhnya kemudian. Bahkan Austin dapat melihat dengan jelas punggung kakaknya yang meneteskan darah kental.
"DIAAM!!" Arthur atau Killer benar-benar tidak ingin mendengar apapun. Ia berbalik badan dan hendak melangkah pergi.
"Kak Ar....." Dan Austin kembali menahan langkah kakaknya itu.
"DAMN! Kau benar-benar keras kepala!" Karena kesal, Arthur menodongkan senjata tepat di hadapan Austin.
Astaga. Austin terpaku selama beberapa saat. Tidak mungkin akan ada pertikaian antar saudara.
"Shitttt!" Darren tiba-tiba saja datang dan segera menarik Austin. "Kau gila, hah? Bagaimana jika Ar benar-benar akan menembakmu?!" hardiknya tidak habis pikir dengan tindakan Austin yang begitu nekad.
Tidak. Kak Ar tidak akan seperti itu. Dia-" Perkataan Austin terputus lantaran saat menoleh tidak menemukan Arthur disana. "Dimana Kak Ar, Der?"
Darren mengitari pandangannya mencari keberadaan Arthur yang menghilang tiba-tiba. "Kita akan berpencar mencari Ar. Yang terpenting saat ini kita harus ke rumah sakit."
Austin mengangguk dan kemudian keduanya segera membentuk dua kelompok untuk berpencar mencari Arthur. Sedangkan mereka akan pergi ke rumah sakit dan akan kembali ke London. Lalu bagaimana dengan Arthur? Apa mereka akan meninggalkan Arthur begitu saja di West Yorkshire?
***
Sementara di rumah sakit terbesar di Kota London, Helena masih ditangani oleh dokter kandungan terbaik. Keluarga Romanov sudah berkumpul dan menunggu dengan harap-harap cemas. Beberapa jam yang lalu Mike melarikan Helena ke rumah sakit di London lantaran memiliki fasilitas yang memadai ketimbang rumah sakit yang berada di Kota Yorkshire.
Mommy Elleana hanya menanggapi dengan senyuman tipis, sehingga membuat Daddy Xavier berpikir jika istrinya itu masih marah padanya, lantaran menutupi semua yang terjadi pada perusahaan dan kecelakaan yang menimpa Arthur serta Austin saat di Dubai. Terlebih lagi dirinya juga menutupi penculikan Helena dan Elie dari istrinya itu.
Daddy Xavier merengkuh tubuh Mommy Elleana. Ia sungguh tidak sanggup jika sang istri mendiamkan dirinya. "Maafkan aku, Sweety. Aku tidak bermaksud menyembunyikan semua yang terjadi. Aku hanya tidak ingin membuatmu memikirkan semua masalah yang terjadi dan pada akhirnya akan mengganggu kesehatanmu."
Di dalam dekapan suaminya, Mommy Elleana mengangguk. Sungguh ia memang merasa kecewa, sebab sebagai seorang ibu, ia tidak mengetahui apa yang terjadi kepada semua putra dan putrinya. Bagaimana jika ia tidak bisa bertemu dengan mereka lagi?
"Sekali lagi maafkan aku...." Suara Daddy Xavier begitu lirih. Nampak jelas jika pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu begitu merasa bersalah.
Mommy Elleana mengurai pelukan mereka. "Tidak apa-apa, Hubby. Aku mengerti. Semua yang kau lakukan demi kebaikanku, tapi aku mohon jika lain kali terjadi hal seperti ini, tolong beritahu aku. Sebagai seorang Mommy, aku merasa gagal karena tidak merasakan firasat apapun."
"Sssttt...." Daddy Xavier menempelkan jari telunjuknya pada bibir Mommy Elleana. "Tidak akan ada lain kali. Kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi."
Mommy Elleana mengangguk, lalu kembali masuk ke dalam dekapan suaminya. Sudah puluhan tahun bersama, membuat hubungan mereka semakin mesra. Dan semua anggota keluarga yang menyaksikan hanya tersenyum saja karena sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu.
"Der...." Suara Mommy Millie membuat mereka semua menoleh ke arah lorong rumah sakit. Dimana Darren dan Austin berjalan menghampiri mereka. "Kalian baik-baik saja, hm?" lanjutnya memeriksa anggota tubuh keduanya, memastikan tidak terdapat luka apapun. Kecuali Austin yang memang sejak awal lengan kirinya sudah di gips.
"As, sayang... kau benar-benar membuat Mommy mencemaskanmu." Mommy Elleana mendekat dan memeluk singkat putranya itu. Tatapannya begitu sendu saat melihat lengan putra bungsunya di gips.
"Aku baik-baik saja, Mom." Austin tersenyum, memberi tanda jika dirinya memang baik-baik saja.
Namun meskipun begitu, Mommy Elleana tetap merasa sedih melihat keadaan Austin yang harus terluka akibat kecelakaan di Dubai.
"Dimana kakakmu, Son?" Jelas Daddy Xavier bertanya, sebab ia tidak menemukan keberadaan putra sulungnya. Padahal istrinya sedang berada di rumah sakit dan saat ini sedang diperiksa kondisinya.
Austin dan Darren saling melemparkan pandangan. Menutupi pun percuma, sebab semua mata kini tengah menuntut jawaban darinya.
"Hm, Kak Ar-"
Pintu ruangan UGD tiba-tiba saja terbuka, terlihat dokter wanita keluar dari ruangan, sehingga Mommy Elleana mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan putriku, Dokter?" tanya Mommy Elleana dengan raut wajah yang begitu cemas.
"Saat ini kami sedang menyiapkan ruang operasi. Karena Nyonya Helena mengalami pendarahan, sehingga kami akan melakukan tindakan operasi caesar." Penuturan dokter yang bernama Liza itu jelas membuat mereka terkesiap lantaran terkejut.
"Ya Tuhan, putriku." Mommy Elleana menutup mulutnya tidak percaya. Setahu dirinya usia kandungan Helena baru memasuki usia ke-37 minggu.
"Lakukan yang terbaik untuk putri kami," ujar Daddy Xavier pada dokter itu, tangannya sudah lebih dulu merangkul pundak istrinya.
Dokter wanita tersebut mengangguk. "Saya akan melakukan yang terbaik dan suaminya boleh untuk menemani untuk memberikan semangat pada Nyonya Helena karena saat ini kondisi Nyonya Helena sangat lemah."
Mendengar perkataan Dokter Liza, semua sontak saling pandang. Terutama Daddy Xavier yang langsung menatap Austin dan Darren secara bergantian. Ia menuntut jawaban atas hilangnya Arthur saat ini.
To be continue
Btw man-teman, Yoona mau promosi karya teman-teman Yoona ya. Yang berkenan bisa langsung cuss.
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...