
Jet pribadi milik Keluarga Romanov sudah mendarat sempurna di Schiphol Airport, Amsterdam Belanda. Bandara utama di Belanda yang terletak di selatan Amsterdam, persisnya di Gemeente Haarlemmermeer. Petugas bandara sudah menunggu kedatangan pria berpengaruh di beberapa negara itu. Mereka semua menyambut dan memberikan rasa hormat. Pasalnya sosok pewaris Xavier Alexander Romanov sudah sampai ke telinga mereka. Terlebih putranya Arthur yang pintar berbisnis menjadi buah bibir di setiap kalangan muda maupun tua dan wanita maupun pria.
Arthur menanggapi mereka hanya dengan anggukan kepala. Melewati barisan para petugas bandara dan dengan setia Darren mengekori di belakangnya. Keduanya kini berada di pintu keluar, menunggu supir yang sudah ditugaskan oleh Darren untuk mengantar mereka selama berada di Amsterdam.
"Der, kau sudah memesan hotel untuk kita menginap?" Bibirnya melayangkan pertanyaan, tetapi pandangannya tertuju pada pemandangan diluar bandara.
"Sudah, tidak jauh dari pusat kota Het Shui," jawab Darren. Ia sengaja memesan hotel yang jaraknya tidak begitu jauh dari lokasi agar mereka bisa kesana-kemari memantau toko buku itu jika memang sulit mendapatkan informasi.
Tidak berselang lama, nampak sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka. Seorang supir turun dari mobil dan bergegas menghampiri Arthur serta Darren.
"Welkom Heren (Selamat datang tuan-tuan)," sapa supir yang jauh lebih tua dari mereka. Lalu mengambil alih dua koper yang di genggam tangan kanan dan kiri Darren. Supir tersebut segera memasukkan dua koper itu ke dalam bagasi mobil, sebelum kemudian mempersilahkan kedua pria muda itu untuk masuk ke dalam mobil setelah membantu membukakan pintu untuk Arthur terlebih dahulu.
Baik Arthur dan Darren tidak terlibat percakapan selama di perjalanan. Keduanya hanya diam menikmati pemandangan di luar sana. Setelah menempuh selama 30 menit, akhirnya mobil yang yang ditumpangi Arthur serta Darren tiba di Pusat Kota Het Shui. Arthur turun dari mobil, disusul oleh Darren setelahnya.
Terpampang gedung berlantai empat itu. Lokasinya sangat strategis. Banyaknya orang-orang yang berkumpul di depan bangunan itu membuat dahi Arthur mengernyit dalam, antara percaya tidak percaya bahwa di hadapan mereka adalah Bookstore yang mereka ingin datangi.
"Der, apa kau yakin ini toko bukunya?" Arthur bertanya sembari menyapukan pandangan pada sekitar.
Tidak hanya Arthur, Darren pun merasa heran, akan tetapi ia juga sangat yakin jika alamat yang ia dapatkan tidak mungkin salah.
"Tidak salah lagi, ini memang tempatnya," ujar Darren. Lalu sorot matanya menangkap sesuatu yang serupa dengan foto yang ia bawa. Darren menyamakan foto yang sudah terlihat kusam itu, menjajarkan dengan bangunan-bangunan yang masih berdiri kokoh, hanya warna dindingnya saja yang berbeda.
"Kau benar." Arthur mengangguk setuju. Tapi sedari tadi ada yang mengganggu pemandangannya yaitu toko tersebut bertuliskan Athenaeum Boekhandel yang tidak lain adalah Toko Buku Athenaeum. Bukan ABC Bookstore seperti beberapa tahun silam. "Apa mungkin kau salah mencari informasi Der?" tanyanya memastikan karena dari namanya saja sudah berbeda.
Darren nampak berpikir kemudian menggeleng yakin. "Tidak, aku tidak mungkin salah. Ini memang tempatnya," serunya. Meskipun di sepanjang Het Spui banyaknya toko-toko buku kecil dan toko benda-benda antik. Tapi ia tidak mungkin salah, karena ingat betul akan titik tertentu di lokasi foto yang ia dapatkan. "Atau mungkin ABC sudah berganti nama menjadi Athenaeum, Ar?" imbuhnya kemudian menduga-duga.
Arthur tidak langsung menjawab, ia juga sempat menduga demikian. "Mungkin saja, tapi sebaiknya kita tanyakan saja kepada mereka Der." Arthur menepuk bahu Darren, lalu melangkah lebih dulu menyebrangi jalan khusus pesepeda dan pejalan kaki.
Ada baiknya mereka langsung bertanya pada orang-orang yang berkumpul di depan sana, ketimbang menduga-duga yang tidak jelas.
"Permisi, sorry mengganggu kalian," ujar Darren kepada mereka tengah duduk melingkar dan asik bercengkrama.
Melihat dua pria tampan menghampiri, membuat sebagian wanita di sana terkesiap sekaligus menatap takjub. Karena untuk pertama kalinya mereka seperti melihat Dewa Yunani.
"Hallo, permisi." Darren kembali membuka suara karena mereka nampak tidak menjawab. "Kami sedang mencari toko buku di sekitar sini, dan kami mendapatkan alamat disini. Apa sebelumnya Athenaeum Boekhandel ini bernama ABC Bookstore?" tanyanya kemudian melihat satu persatu ke arah mereka.
Mendengar pertanyaan Darren, tentu saja membuat mereka yang ditanya tertegun sejenak. Namun sesaat kemudian wajah mereka kembali seperti semula. Pada saat bersamaan salah satu pria yang juga bergabung dengan mereka bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Darren.
"Maaf Tuan, sebaiknya tuan masuk saja ke dalam. Kami disini tidak bisa memberitahu apa-apa." Pria bertubuh pendek dari Darren itu berbisik, seolah menghindari seseorang yang bisa mendengar perkataannya.
Meskipun bingung, Darren mengangguk mengerti. Entah, sebenarnya ada apa dengan Bookstore yang sedang mereka cari itu. Darren bersitatap dengan Arthur, mereka saling mengangguk melalui isyarat mata. Melangkah masuk setelah mengucapkan terima kasih kepada pria asing yang sudah mau menjawab pertanyaan Darren.
Darren mengekori Arthur yang melesat masuk lebih dulu, tidak nampak orang lain selain mereka di dalam toko. Hingga kemudian Arthur mendekat ke arah kasir yang berjaga.
"Permisi Paman." Seorang pria setengah baya yang dipanggil Paman oleh Arthur, mengangkat wajahnya.
Paman itu menatap wajah serta penampilan Arthur yang tidak biasa. Sebelum kemudian bertanya, "Apa ada yang bisa saya bantu anak muda?"
Arthur menolehkan kepala sejenak ke arah Darren, lalu kembali memusatkan pandangan kepada Paman di hadapannya yang sudah berdiri, hanya saja ada meja kasir yang menjadi pembatas mereka.
"Ehm, begini Paman. Apa sebelumnya toko buku ini bernama ABC Bookstore?" tanya Arthur menuntut akan jawaban dari paman itu. Karena sejujurnya Arthur ingin segera mendapatkan jawaban teka-teki ini.
Dan reaksi Paman itu serupa dengan segerombol orang-orang yang berada di depan toko buku, tertegun dengan wajah yang sedikit lebih menegang.
"Nak, sebaiknya kau tidak perlu banyak bertanya mengenai toko buku yang sudah lama tutup," katanya menegaskan. Dan Arthur serta Darren kembali saling bersitatap.
"Kenapa Paman? Apa jika kami mencari tau tentang ABC Bookstore akan ada sesuatu yang terjadi?" Arthur semakin mendesak, ia berusaha mengorek informasi yang mungkin saja akan menjawab pertanyaan-pertanyaan dirinya serta Darren.
"Sepertinya kau tidak takut jika bahaya akan menyerang kalian, anak muda." Dan lagi-lagi ucapan Paman yang tidak diketahui namanya itu kian menambah rasa penasaran Arthur serta Darren yang sejak tadi diam memperhatikan.
Paman itu cukup terkesan. Ia menarik napas dalam, lalu mulai memperhatikan sekitar. "Aku tidak akan mengatakan kepada kalian dua kali, jadi dengarkan baik-baik," ucapnya sedikit mengecilkan volume suaranya.
"Toko buku yang kalian cari sudah tidak ada lagi sejak 11 tahun yang lalu. Seseorang menghancurkannya, desas desus sudah menyebar di masyarakat sekitar Het Spui jika membicarakan tentang ABC Bookstore, maka akan berakhir mengenaskan. Karena itu kalian tidak mungkin mendapatkan jawaban jika bertanya diluar sana, mungkin setelah ini kalian pasti akan menjadi incaran. Jadi berhati-hatilah meskipun aku bisa menebak jika kalian bukan orang sembarangan." Paman itu menjelaskan tanpa ada yang terlewat, meski tidak sepenuhnya memberitahu. Karena ABC Bookstore memiliki banyak rahasia antara pemilik dengan para klien terdahulu.
Arthur nampak diam, kini ia sudah mendapatkan jawaban. Dan mereka tidak salah tempat, melainkan jejak toko buku itu sengaja di hilangkan.
"Baiklah, terima kasih atas informasi yang paman berikan. Tapi..." Arthur sengaja menggantungkan kalimatnya, ia kembali melihat ke arah Darren. Dan Darren yang paham pun segera melihat sekitar di luar sana. Mata elangnya mampu mendeteksi jika memang apa yang dikatakan paman itu benar, bahwa mungkin saat ini mereka akan menjadi incaran. "Paman, bolehkah aku minta segelas bir dan sup hangat?!" Arthur menatap tegas, tidak ada keraguan saat mengatakannya.
Deg
Paman itu terkejut bukan main, matanya yang membelalak itu menandakan ketidakpercayaannya karena mendengar kata sandi setelah hampir 11 tahun lamanya yang seperti angin lalu begitu saja bersamaan dengan lenyapnya ABC.
Kriittt
Entah suara itu berasal dari mana, Arthur hanya memusatkan pandangan kepada pria setengah baya yang nampak mematung, jiwanya seolah lepas dari raganya. Namun Arthur benar-benar memasang telinga karena samar-samar suara decitan pintu menyelinap di pendengarannya.
"Will, biarkan mereka berdua masuk."
Dan suara berat disertai napas tersengal membuat Arthur menoleh, bahkan Darren pun memutar tubuhnya menghadap ke asal suara. Ternyata selain mereka bertiga, ada sosok pria setengah baya yang entah keluar dari mana, karena tidak nampak ruangan lain disana. Arthur terheran karena pria baya itu lebih tua dari sang Daddy, bahkan mungkin seusia Granpa Jhony.
"Baik." Will menyahuti ucapan pria tua itu. "Sudah kuduga kalian bukan orang-orang sembarangan. Jadi masuklah, Tuanku sudah mempersilahkan kalian masuk," katanya menjadi lebih sopan.
Arthur mengangguk, lalu mengikuti arah dimana pria setengah baya yang sebelumnya berdiri di ujung rak, hilang begitu saja. Darren setia mengikuti kemanapun Arthur pergi, karena pria itu adalah perisai Arthur. Ternyata disana terdapat ruangan rahasia yang hanya bisa dilewati oleh sang pemilik.
Ruangan itu tidak begitu luas, hanya ada beberapa lampu yang menerangi sepanjang lorong menuju sebuah ruangan yang mungkin ruangan bawah tanah.
Benar saja, saat lampu menyalah, Arthur dan Darren dapat melihat dengan jelas ruangan yang meskipun tidak besar tetapi terawat. Barang-barang di sanapun nampak kuno dan seperti sudah lama tidak digunakan.
Pria setengah baya itu memunggungi Arthur juga Darren. Tangannya menangkup di belakang pinggang. "Selamat datang di pusat informasi ABC." Suara berat itu menyambut kedatangan dua pria yang ia yakini berasal sama seperti dirinya. "Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian?" tanyanya kemudian lalu memutar arah tubuhnya. Kini pria setengah abad itu dapat melihat jelas wajah Arthur serta Darren.
Arthur masih dalam mood tenang, meskipun ia sedikit bingung mengenai pusat informasi seperti apa yang dikatakan oleh pria yang sepertinya lebih pantas di panggil Granpa.
"Matthew Jhonson. Aku ingin tau banyak tentangnya." Tanpa ragu, Arthur melayangkan pertanyaan demikian.
Kerutan di wajah tuannya lebih nampak ketika mendengar pernyataan Arthur. Namun ia tidak menunjukkan keterkejutannya, masih dengan tenang menatap Arthur dan Darren secara bergantian.
"Apa kau Michael?" Justru pria tua itu menduga jika Arthur adalah Michael. "Tapi tidak mungkin karena Michael dan keluarganya sudah mati," imbuhnya dengan suara bergetar. Sebenarnya ia berharap jika Michael masih hidup, tetapi kenyataannya anak kecil yang suka bermain di pangkuannya sudah tawas lebih dulu dari dirinya.
Deg
Jantung Arthur seolah mencelos mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh pria tua di hadapannya.
"Mati?"
To be continue
Babang Arthur
Babang Darren
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...