
Gavin, Dean, Devano, Albern dan Beryl mengawasi Markas Bloods Dead dari jarak yang tidak begitu jauh. Terdapat beberapa anak buah Bloods Dead yang berlalu lalang berjaga sekitar. Cukup sulit mencari celah penjagaan mereka.
Namun tentunya mereka memiliki rencana lain. Dean dan Beryl bertugas untuk mengalihkan perhatian beberapa anak buah yang berjaga. Sedangkan Gavin, Devano dan Albern akan masuk melalui pintu belakang. Dari kamera CCTV yang sudah mereka telaah, ruangan bawah tanah tidak begitu jauh jika dilalui dari pintu belakang. Sehingga meminimalisir kemungkinan mereka akan lebih dulu ketahuan sebelum membebaskan para tawanan di dalam sana. Bukan tanpa alasan mereka ingin membebaskan para tawanan Bloods Dead, sebab hal itu sudah benar-benar sangat meresahkan. Dan akan berdampak pada nama Red Dragon seperti sebelas tahun yang lalu.
Untuk mengalihkan perhatian, Dean serta Beryl melemparkan batu ke arah lain sehingga berhasil mengusik perhatian beberapa anak buah Bloods Dead.
"Siapa disana?!" teriak salah satunya. Namun hening, tidak ada sahutan apapun beberapa detik lamanya. "Sebaiknya kita periksa. Siapa tau saja ada hewan buas lagi yang berkeliaran di sekitar sini," imbuhnya menepuk bahu salah satu rekannya agar mengikuti dirinya. Mereka memang kadang kala memeriksa sekitar, sebab tak jarang terdapat hewan buas seperti harimau liar dan ular yang berkeliaran di sekitar Markas.
Selama mereka memeriksa setiap semak-semak, Gavin, Devano serta Albern mengendap-endap perlahan menuju pintu belakang. Sebelum mencapai pintu, ketiganya menoleh ke arah anak buah Black Lion dan Red Dragon yang berjaga di sekitar. Mereka tidak mungkin menerobos masuk secara bersama-sama, karena hanya akan mengundang kegaduhan.
Baru beberapa langkah memasuki area belakang markas, langkah mereka terpaksa terhenti karena dua anak buah Bloods Dead melangkah mendekat. Mereka spontan bersembunyi di balik dinding.
"Sepertinya malam ini tugas kita tidak terlalu berat, kita bisa beristirahat lebih awal. Bos pasti akan bersenang-senang dengan wanita barunya dan Max juga tidak mungkin mengganggu kita, karena dia sudah pasti akan lebih memilih menemani gadis itu."
"Kau benar. Setelah memeriksa ruangan bawah tanah, Max sudah pasti akan kembali ke Paviliun Babilone. Jadi dia tidak akan menegur kita jika malam ini kita minum sampai puas dan tidur lebih awal."
"Haha kau benar." Sembari menepuk kedua bahu rekannya. Mereka berharap demikian, tanpa tahu jika musuh mereka sudah berhasil menyusup ke dalam Markas dan akan membuat mereka tidak akan tidur semalaman penuh.
Gavin, Devano dan Albern bernapas lega setelah dua anak buah Bloods Dead itu hanya melintasi mereka saja. Ketiganya kembali melanjutkan langkah hingga mencapai tepat di hadapan ruangan bawah tanah yang di lapisi pintu besi.
"Coba kau buka pintunya," bisik Devano pada Gavin sepelan mungkin. Ia khawatir jika suaranya itu akan menggema.
Gavin mengangguk, ia kemudian mencoba membuka pintu besi itu, sedikit mendorong dan hasilnya sulit. Sepertinya terkunci, sebab sudah dicoba berulang kali pintu besi itu tidak ingin terbuka.
Lalu apa usaha mereka akan sia-sia? Tidak mungkin mereka keluar kembali dengan tangan kosong, atau membuat kegaduhan dengan menembak knop pintu agar terbuka.
Tidak menyerah, Gavin dan Albern masih berusaha mendorong pintu besi itu, mengerahkan tenang dan beberapa menit kemudian pintu besi itu berhasil terbuka. Mereka segera mendorong pintunya. Akan tetapi tiba-tiba saja dikejutkan dengan kehadiran seseorang di hadapan mereka.
Mereka ketahuan? Terlebih seseorang yang tidak lain dan tidak mungkin adalah anak buah Bloods Dead memergoki mereka yang menyusup ke ruangan bawah tanah.
Namun alih-alih menyergap Gavin, Albern serta Devano, anak buah Bloods Dead itu justru menyingkir dari pintu usai membuka lebar pintunya.
"Mereka sudah diamankan dan kami sudah membuka kunci pintu satu-persatu."
"Baguslah." Gavin menjawab. Ia melenggang lebih dulu, melintasi anak buah Bloods Dead yang justru menyambut baik kedatangan mereka. Diikuti oleh Devano yang sigap membantu para tawanan itu untuk keluar dari kerangkeng besi.
"Kerja bagus, Bro. Setelah ini kau dan temanmu bisa memilih, ingin bergabung dengan Red Dragon atau Black Lion." Albern menepuk-nepuk bahu anak buah Bloods Dead yang tanpa identitas tersebut.
Pria itu hanya mengangguk. "Kami akan memikirkannya dengan baik." Ia dan rekannya memang mengkhianati Bloods Dead. Mereka lebih memilih membantu Black Lion dan Red Dragon karena sejak awal mereka merasa tidak tega dengan para korban. Setidaknya mereka masih memiliki hati nurani ingin menyelamatkan para tawanan meskipun harus mengkhianati kelompok mereka sendiri.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Gavin, Albern serta Devano membantu puluhan korban keluar dari ruangan bawah tanah. Dua anak buah Bloods Dead yang berkhianat itu tidak ragu memberitahukan pintu rahasia yang akan menembus lebih cepat keluar dari markas.
Berjalan dengan mudah, sebab sebelumnya beberapa anak buah yang berjaga di dalam ruangan bawah tanah sudah dibubuhkan obat tidur pada minuman mereka.
"Tidak akan lama lagi mereka akan sadar jika para korban tidak berada di ruangan bawah tanah," ujar Gavin setelah memberikan instruksi kepada anak buah Black Lion untuk segera pergi dari sana. Pun dengan Albern yang memberikan instruksi kepada para anak buah Red Dragon.
Setelah rombongan mobil satu persatu-satu meninggalkan area Markas Bloods Dead, ketiganya duduk di atas tanah, menunggu kedatangan Austin dan Jacob serta yang lainnya. Selang tiga puluh menit terdengar kegaduhan di dalam markas. Masing-masing anak buah Bloods Dead panik dan gusar, lantaran tidak menemukan para tawanan mereka di dalam ruangan bawah tanah.
"Kemana perginya mereka, hah?!" Dan Maxime sudah lebih dulu menghajar beberapa anak buah yang berjaga di dalam ruang bawah tanah. Sebelumnya ia terkejut dan murka melihat beberapa anak buah justru tertidur pulas dan tidak sadar jika puluhan tawanan mereka tidak berada di tempat. Setelah ini ia pasti akan mendapatkan amukan dari Demon, karena dirinya yang bertanggung jawab untuk memeriksa dan menjaga para tawanan.
Keempatnya hanya bisa pasrah menerima pukulan dari Maxime lantaran mereka memang telah lalai. "Maafkan kami, Max. Kami benar-benar tidak tahu kemana perginya mereka," ujar salah satunya yang cukup mewakili. Mereka tentu takut akan amukan bos mereka.
"Ck, dasar bodoh!" Maxime menendang salah satu dari mereka. "Kalian berpencar. Cari mereka sampai ketemu!" titahnya kemudian. Sebelum Demon menerima laporan, tentunya ia harus segera menemukan keberadaan para tawanan. Namun sudah dicari disekitar markas pun tidak menemukan para tawanan.
Pasti ada yang tidak beres, batinnya. Mau tidak mau Maxime harus memberitahu Demon apa yang terjadi. Sehingga ia menyuruh salah satu anak buah untuk menghubungi Demon. Benar saja ia mendapatkan caci maki dan amarah penuh dari Demon. Meski sudah terbiasa, tetap saja ia merasa tersinggung. Terlebih ketika Demon mengatakan akan menggantikan para tawanan itu dengan gadisnya.
***
Setelah mendapatkan serangan bom, para anak buah Bloods Dead lari berhamburan untuk saling menyelamatkan diri. Mereka yang masih baik-baik saja bersiap untuk membalas serangan, namun yang terjadi justru bom susulan yang mereka dapatkan.
Maxime yang berada di Markas tergesa-gesa berlari melalui lorong yang terhubung dengan paviliun. Secepatnya ia akan membawa pergi Licia dari sana. Sudah ia duga jika semua yang terjadi, mulai dari hilangnya para tawanan dan serangan bom adalah ulah dari Black Lion maupun Red Dragon. Di antara kedua kelompok itu, ia tidak bisa memastikan siapa yang menyerang, namun melihat jika kedua kelompok itu bersekutu sudah dapat dipastikan jika Red Dragon dan Black Lion yang menyerang bersama. Tentu saja Bloods Dead akan mudah dikalahkan, mengingat anak buah mereka hanya berjumlah puluhan saja.
"Arrgh, sialan!" Di sela-sela berjalan, Maxime meninju dinding. Entah bagaimana keadaan Demon yang sedang berada di Markas, Maxime tidak peduli. Ia justru senang jika Demon tewas akan serangan bom di Markas. Setibanya di ruangan miliknya, Maxime segera mencari keberadaan Licia yang berdiri di hadapan jendela. Mungkin gadis itu mendengar ledakan di sekitar, sehingga berusaha untuk mencari sumber suara.
"Licia." Maxime merengkuh pinggang Licia. "Kita segera pergi dari sini. Aku akan membawamu ke suatu tempat yang lebih aman dan bahkan lebih indah." Diusapnya rambut Licia dengan lembut. Sampai mati pun ia tidak akan pernah membiarkan Licia pergi dari sisinya. Gadis itu hanya miliknya.
Licia hanya bergeming di tempat. Namun detik berikutnya mengangguk dan menyeret langkahnya mengikuti Maxime.
Satu mobil sudah disiapkan oleh Maxime untuk pergi dari sana. Buru-buru pria itu berjalan menuju mobil, namun langkahnya terpaksa mundur dan segera menyembunyikan Licia di belakang tubuhnya ketika mendapati seseorang sudah menerobos Paviliun Babilone.
"Shiittt!!!" Maxime mengumpat. Rupanya ia sudah dikepung.
To be continue
Mohon maaf lahir batin ya semua.. Maaf Yoona baru sempet up karena kemarin dirumah lg riweh dan ramai banyak saudara hihi ðŸ¤
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...