
Dua bulan, tiga bulan, hingga enam bulan berlalu, Austin masih belum juga kembali. Semua teman-teman yang bersama Licia sepakat untuk tidak membicarakan Austin di depan gadis itu. Terlebih sejak satu bulan yang lalu, mereka mendapatkan sebuah potret kebersamaan Austin dengan seorang gadis cantik yang memiliki darah campuran timur tengah.
Fakta tersebut tentunya membuat Licia kecewa. Belum sempat gadis itu berjuang, akan tetapi Austin sudah lebih dulu menghadirkan orang ketiga di antara mereka. Apakah itu artinya perasaan mereka tumbuh hanya karena sudah terbiasa bersama. Sehingga ketika berjauhan rasa itu pudar sepenuhnya.
"Licia, bisakah kita berangkat ke rumah sakit sekarang juga?" Suara Freya memecahkan lamunan Licia yang baru melangkah menuju mobil yang terparkir, akan tetapi Licia menghentikan langkah secara tiba-tiba ketika tidak sengaja melihat sosok pria yang menyerupai Austin. Bukan, pria itu bukan Austin. Hanya postur tubuh mereka saja yang terlihat begitu mirip.
"Ah ya. Kita berangkat sekarang." Licia yang terkesiap tergesa-gesa berjalan menghampiri mobil miliknya.
"Berikan kunci mobil padaku, biar aku yang menyetir." Freya menyambar kunci mobil dari tangan Licia. "Kuperhatikan sejak tadi kau terlihat tidak fokus, jadi aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kita saat diperjalanan," sambungnya sembari masuk ke dalam mobil.
Licia tidak menolak, ia membiarkan Freya yang mengemudikan mobil. Sebab yang dikatakan teman baiknya itu benar, jika hari ini ia sangat tidak fokus melakukan hal apapun. Bahkan pekerjaannya saja sedikit berantakan.
Begitu Licia masuk ke dalam mobil, Freya segera melajukan mobil meninggalkan gedung Perusahaan Miller. Ya, Freya serta Licia sudah bekerja sejak beberapa bulan lalu dan Licia memilih bergabung di Perusahaan Miller, sedangkan Perusahaan Wilson yang berada di Los Angeles dipimpin oleh Jacob. Jika ada waktu luang, maka Jacob akan kembali ke London. Terlebih sudah satu bulan ini pria itu selalu melakukan rapat secara virtual, sebab sampai saat ini sedang berada di London.
Hanya tiga puluh menit saja kedua gadis itu sudah berada di halaman parkir St. Mary's Hospital London, rumah sakit private suite yang jika menginap satu malamnya harus merogoh kocek dua ratus juta.
"Apa Kak Dev sudah memberitahumu dimana ruangan Kak Elie?" Licia bertanya lantaran ia tidak mengetahui dimana ruangan Elie. Bahkan ia saja baru mengetahui dari Freya jika Kak Elie akan melahirkan.
"Di lantai enam." Freya menjawab sembari menggandeng tangan Licia menuju lift yang akan membawa mereka pada lantai enam, dimana ruangan tersebut hanya terdapat privat suite. Rumah sakit St. Mary's tidak memiliki banyak pengunjung, lantaran rumah sakit bersalin tersebut hanya untuk bangsawan dan keluarga tertentu saja, salah satunya Keluarga Romanov.
Setelah memasuki lift dan tiba di lantai enam, keduanya segera berjalan tergesa-gesa menuju ruangan nomor 601. Di depan ruangan nampak seluruh keluarga yang sudah menunggu. Kedua gadis itu segera menghampiri.
"Bagaimana dengan Kak Elie? Apa sudah melahirkan?" tanya Freya kepada siapapun yang berada disana.
"Lima menit yang lalu Elie baru saja melahirkan baby twins. Sebentar lagi suster akan memindahkannya kesini." Mommy Olivia menjawab pertanyaan putrinya itu.
"Ah, syukurlah jika Kak Elie sudah melahirkan." Freya menghembuskan napas lega. Pun dengan Licia yang berada disisinya.
"Sayang, kenapa baru datang?" Tiba-tiba Mommy Angela mendekati Licia. Saat ia baru saja dari toilet, ia menyadari keberadaan sang putri.
"Maaf Mom, tadi aku sedang rapat dan ponselku tertinggal di ruangan. Jadi aku baru mengetahuinya dari Frey," jawab Licia penuh sesal. Sebab ada banyak panggilan tidak terjawab dari Mommy Angela dan ia tidak menjawabnya.
"Ah, begitu." Mommy Angela mencoba mengerti. Belakangan ini putrinya memang sangat sibuk.
"Apa jenis kelamin baby twins, Mom?" Bukan tanpa alasan Licia berkata demikian, sebab Mike dan Elie merahasiakan jenis kelamin baby twins dari seluruh anggota keluarga.
Mommy Angela menggeleng. "Mom tidak tau, karena Mike masih merahasiakan baby twins dari kita. Dia akan memberitahu jika sudah berada di ruang perawatan dan baby twins akan diperkenalkan pada kita semua."
Mendengar penuturan Mommy Angela, Licia hanya mengangguk saja. Memang yang ia ketahui jika Mike dan Elie ingin memberikan surprise. Dan seketika semua menoleh begitu mendengar roda brankar yang di dorong menuju ruangan nomor 601.
Terlihat Mike yang siaga berada disisi brankar istrinya. Hingga kemudian satu perawat membuka pintu ruangan dan nampaklah ruangan yang begitu luas dengan beberapa sekat, sebagai pemisah antara dua kamar, ruang tamu dengan fasilitas televisi, lemari pendingin dan dua kamar mandi.
Di atas pembaringannya, Elie menyempatkan untuk mengulas senyum tipis setelah berjuang di meja operasi. Ya, Elie melahirkan secara Caesar karena panggul yang kecil, membuat wanita itu terpaksa harus melahirkan secara Caesar.
Setelah semua berkumpul di dalam ruangan, tidak lama nampaklah dua suster yang membawa box bayi dua sekaligus. Tentu seluruh keluarga menyambut dengan antusias. Terlebih mereka sudah begitu penasaran dengan jenis kelamin baby twins.
"Wah, cantik sekali."
"Dia juga tampan sekali."
Dan itu artinya? Mereka kemudian saling berpandangan.
"Kembar pengantin," seru seluruh anggota keluarga serentak.
"Benar, mereka baby boy dan baby girl." Mike tiba-tiba saja bergabung setelah keluar dari kamar Elie.
Mommy Elleana mencoba mengambil baby girl, sedangkan Mommy Aprille mengambil baby boy. Kedua wanita paruh baya itu sudah menjadi grandma. Ah, tidak. Mommy Elleana sudah menjadi grandma untuk yang kedua kalinya.
Xavier dan Matthew tak kalah antusias. Bahkan mengambil alih baby twins dari gendongan kedua istri mereka. Puas menggendong baby twins. Tentunya mereka harus memberikan dua malaikat kecil itu kepada Elie untuk segera diberikan ASI.
Mike yang sedang menggendong putrinya itu menoleh pada Elie yang sudah selesai memberikan ASI pada baby boy. Menyadari jika Elie merasakan sakit pada bagian bawah perut, Mommy Elleana segera mengambil alih cucu laki-lakinya.
Kemudian Elie dan Mike saling pandang, lalu mereka tersenyum sembari menatap seluruh anggota keluarga satu-persatu.
"Axton dan Lucy," sahut Mike. "Axton Channing Jhonson, artinya laki-laki berharga yang tampan dan bijaksana. Dan Lucy Abbey Jhonson, wanita yang memiliki kecantikan dan kecerdasan yang berkilauan."
Tentu saja mereka begitu terpukau mendengar nama baby twins yang memiliki arti luar biasa dan berharap mereka tumbuh dengan baik sesuai nama.
Licia, Mommy Angela dan Daddy Zayn turut bergantian menggendong baby twins. Dan momen berkumpul seperti itu terasa kurang jika tidak diselingi pertengkaran kecil yang terjadi antara Daddy Xavier dan Daddy Zayn. Mereka sudah sangat terbiasa, sehingga mengabaikan kedua pria setengah abad yang sering kali lupa akan usia mereka.
Sedangkan Licia melangkah mundur ketika panggilan video terhubung pada Austin. Samar-samar gadis itu mendengar jika Austin memberikan ucapan selamat kepada kakaknya itu, sekaligus mengucapkan permintaan maaf lantaran tidak bisa kembali ke London sesuai perkiraan.
Namun yang membuat hatinya seolah patah menjadi dua adalah ketika ia mendengar suara seorang wanita di seberang sana. Dan wanita itu nampak akrab sekali berbicara dengan Bibi Elleana dan juga Elie. Ada apa ini? Apa yang tidak diketahui olehnya? Apa Austin sudah mengenalkan wanita itu kepada keluarganya?
Karena tidak tahan lagi berada disana, Licia pamit undur diri dengan alasan memiliki urusan mendadak. Setelah diiyakan oleh Mommy Angela, gadis itu berlari menuju lantai bawah, hingga sekejap saja sudah berada di parkiran. Buru-buru Licia masuk ke dalam mobil dan menancapkan gas meninggalkan rumah sakit.
Tak tentu arah, Licia hanya mengikuti rute jalan yang akan membawanya. Dan saat ini gadis itu tidak tahu sedang berada dimana, ia tidak memperhatikan sekitar. Hingga pada akhirnya menepikan mobil tepat di pesisir pantai.
Begitu turun dari mobil, gadis itu menghirup udara pantai, karena sedari tadi merasakan sesak pada rongga dadanya. Mengambil sling bag miliknya, sebelum kemudian melangkah menapaki pasir dan menjatuhkan diri di atas pasir begitu merasakan lelah pada kakinya. Selain dirinya, tidak ada orang lain lagi disana. Sehingga pantai tersebut seperti hanya miliknya saja.
Licia menatap tas miliknya yang terbuka hingga menghamburkan ponsel serta dompet. Kemudian meraih ponsel dan membuka galeri seperti yang akhir-akhir ini ia lakukan jika merindukan pria itu.
Beberapa video kebersamaan mereka diputarnya berulang kali. Dan terakhir ia memutar video berdurasi beberapa detik bersama Austin dan Gavin. Di dalam video tersebut mereka saling melemparkan tawa. Dan sungguh, Licia merindukan momen seperti itu. Bahkan sejak kepergian Austin, hubungannya dengan Gavin menjadi merenggang. Entah apa alasannya, Gavin seolah menghindari dirinya seperti Austin.
Setitik air mata merembas hingga ke tulang pipinya. Buru-buru gadis itupun mengusap air mata yang turun tanpa diminta.
"Aaahhh...." Licia membuang napas yang dirasakan penuh rasa sakit lalu meletakkan ponselnya di atas sling bag. Ia beranjak berdiri dan berlari menuju bibir pantai. Namun semakin berlari semakin banyak air matanya yang berjatuhan. Gadis itu kemudian berteriak hanya untuk melegakan hatinya. Berharap setelah berteriak, ia bisa merasa lebih baik.
Keberadaan seseorang tidak disadari gadis itu, sehingga seseorang itu berjalan mendekat dan menyentuh bahu Licia. Gadis itu menoleh dan tertegun mendapati Jacob berada di pantai.
"Apa sudah merasa lebih baik, hm?" tanya Jacob yang mengerti apa yang dirasakan oleh adiknya itu.
Tidak langsung menjawab, Licia terdiam selama beberapa saat. Dan pada akhirnya air matanya kembali meluruh.
Melihat adiknya kembali menangis, Jacob membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Tidak ada kalimat yang Jacob keluarkan. Pria itu hanya mengelus punggung Licia dengan sorot mata yang dalam tetapi menyimpan kesedihan lantaran tidak dapat berbuat apapun saat melihat kesedihan adiknya.
"A-apa aku sudah terlambat, Kak?" tanya Licia disela isak tangisnya. "Aku benar-benar sudah tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku."
"Sssttt... tidak ada kata terlambat." Jacob mencoba menenangkan. "Jika perlu, aku yang akan menyeretnya pulang."
Licia menggeleng cepat. Lalu mendongak menatap kakaknya. "Jangan membuat hubungan Kak Jac dan As menjadi memburuk. Aku akan menyelesaikan sendiri perasaanku sampai dia kembali ke London."
Jacob seolah meragu, tetapi detik kemudian mengangguk. "Baiklah. Tapi aku tidak bisa menjamin jika dia akan bebas dari pukulanku!" ujar Jacob sedikit bergurau. Benar saja hal itu sukses membuat Licia terkekeh kecil.
Hari ini benar-benar menjadi hari yang bahagia sekaligus hari terburuk bagi gadis itu.
See you next bonus chapter
Eh kok sedih ya? Apalagi sambil liat video cuplikannya, duhh Yoona jadi galau π₯Ίπ
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian π Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian π...
...Always be happy π·...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA π₯°...