The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Asalkan Bersamamu



Saat ini Darren sudah menepikan mobilnya tepat di depan apartemen Veronica. Bertepatan dengan seorang wanita cantik bergegas masuk ke dalam mobil dengan senyum yang mengembang.


"Kupikir kau tidak jadi mengantarku," cicitnya usai penutup pintu mobil. Ia sudah menunggu selama lima belas menit dan berprasangka jika Darren batal menjemput dan mengantar dirinya.


"Aku bukan pria yang suka ingkar. Jika aku sudah mengatakan akan mengantarmu, maka aku benar-benar akan melakukannya." Memang ia sedikit terlambat dari janji temu mereka, dikarenakan kepergiannya terhambat lantaran kedatangan Kenzo dan Keiko. Karena tidak ingin membuang banyak waktu lagi, Darren segera melajukan mobilnya menuju lokasi pemotretan.


Memang sejauh mengenal Darren, pria itu selalu berkata apa adanya dan tidak pernah mengingkari apa yang sudah dikatakan. Jujur saja Veronica semakin terpesona dengan Darren. Selama berkencan dengan beberapa pria, ia tidak menemukan pria seperti Darren. Katakanlah usia mereka berbeda beberapa tahun dan pria itu tiga tahun lebih muda darinya, akan tetapi sisi dewasanya justru seolah pria itu yang berusia di atasnya.


Tidak ada percakapan selama berada di perjalanan. Namun Veronica sesekali melirik ke arah Darren yang tengah fokus mengemudi hingga akhirnya mereka mencapai tempat tujuan.


"Kau benar-benar akan mengantarku sampai ke dalam?" Veronica mengulangi kembali pertanyaannya. Ia memastikan apa yang dikatakan oleh Darren sebelumnya jika pria itu akan mengantarkan dirinya hingga masuk ke dalam studio.


"Ya. Apa tidak boleh?" Kedua alis Darren menukik tajam. Ia merasa jika Veronica keberatan jika ia mengantarkan hingga masuk ke dalam tempat wanita itu bekerja.


"Tidak. Bukan begitu." Tentu Veronica menjadi gelagapan. Ia bukan tidak mengizinkan, hanya saja terasa aneh. Ya, sungguh aneh. Pasalnya Darren adalah pria yang kaku dan cenderung acuh. Selama mereka memutuskan menjalin hubungan, dirinyalah yang selalu memulai lebih dulu, mulai dari menelepon atau mengirim pesan.


"Kalau begitu masuklah. Aku juga akan menemanimu sampai selesai."


Hah?


Veronica tidak bisa untuk tidak tercengang. Mulutnya terbuka sedikit hingga kemudian jemari Darren mengapit dagunya.


"Jangan membuka mulutmu seperti itu di depan pria lain." Sontak saja perkataan Darren membuat Veronica mengatupkan rapat bibirnya.


Huaaa, posesif? Ternyata dia bisa menjadi posesif seperti ini. Tetapi aku menyukainya. Wanita itu membatin dengan mengulum senyum tipis. Senang sekali jika Darren bersikap seperti itu padanya.


"Kalau begitu, ayo masuk. Aku akan mengenalkanmu dengan beberapa staf dan teman-temanku." Karena sudah mendapatkan lampu hijau dari Darren, Veronica tidak segan lagi menautkan jemari mereka.


Darren membiarkan Veronica menggandeng tangannya dan mengimbangi langkah wanitanya itu. Ia hanya bersikap layaknya sebagai seorang kekasih pada umumnya. Sehingga tidak ada salahnya jika ia bersikap demikian.


"Wah, kau datang bersama siapa, Vero? Tampan sekali."


"Apa dia kekasihmu yang sering kau ceritakan itu, Vero?"


"Benar-benar tampan."


Kasak-kusuk dari beberapa staf mulai terdengar ketika keduanya memasuki studio. Beberapa staf dan teman-teman sesama model berbisik-bisik mengenai hubungan mereka. Tidak menduga jika Veronica memiliki kekasih setampan itu setelah putus dengan kekasih lamanya beberapa bulan yang lalu. Bahkan beberapa dari mereka mengetahui jika kandasnya hubungan Veronica dengan mantan kekasihnya dikarenakan Barbara.


"Hm benar. Dia adalah kekasihku. Tampan bukan?" Veronica benar-benar merasa bangga bisa memperkenalkan Darren pada teman-teman dan para staf.


"Ya, benar-benar tampan," sahut salah satu staf wanita.


"Bahkan tidak kalah tampan dari Larry." Tanpa sadar salah satu dari mereka membicarakan Larry. Mereka tentu mengetahui kedekatan Veronica dengan model tampan bernama Larry itu.


"Hush, jangan membicarakan Larry. Mereka hanya berteman saja." Staf yang memiliki fashion tomboi itu menegur temannya.


"Benar. Aku dan Larry sudah berteman sejak berada di agensi sebelumnya." Veronica menanggapi dengan senyuman. "Lagi pula Larry sudah memiliki kekasih," tambahnya kemudian. Ia tidak ingin perkataan salah satu staf membuat Darren salah paham. Walaupun ia ingin sekali disalah pahami oleh Darren. Ia ingin melihat apakah pria itu cemburu atau tidak dengan Larry.


Namun ketika ia mendongak untuk melihat wajah Darren, kekasihnya itu hanya memasang wajah datar.


Ck, dia benar-benar tidak cemburu?


Bibir Veronica mencebik maju, bahkan satu kakinya menghentak kecil pada lantai yang ia pijak itu.


"Kalau begitu aku akan mulai bekerja. Kau tunggu disini." Veronica menarik lengan Darren dan menuntun pria itu menuju sofa yang menganggur.


Darren mengangguk. "Bekerjalah dengan baik. Aku akan mengawasimu dari sini."


"Aish, kau ini. Untuk apa mengawasiku? Aku akan baik-baik saja disini." Berbeda dengan jawabannya yang biasa saja, tidak dengan wajah wanita itu yang memerah.


Darren mengulum senyum tipis. Ternyata wanita itu malu mendengar perkataannya. Ia tidak menjawab dan justru menyuruh Veronica untuk segera bekerja.


Veronica mengangguk. Setelah memastikan Darren duduk, wanita itu segera pergi ke ruang ganti. Ia akan melakukan pemotretan dengan produk kecantikan yang menjadikan dirinya sebagai brand ambassador.


"Maaf, aku sedikit terlambat." Seorang wanita cantik dan sexy baru saja memasuki studio.


"Kau terlambat lima belas menit, Barbara." Wanita yang merupakan manager Barbara menegur wanita itu. "Sebaiknya kau segera berganti pakaian. Jika tidak, Jose akan marah karena kau sudah membuatnya menunggu," katanya kembali. Jose adalah fotografer handal yang memiliki wajah tampan tetapi sedikit sinis dengan segala ucapannya.


"Baiklah. Aku benar-benar minta maaf. Kau tahu bukan jika harus menemani kekasihku." Barbara mulai memasuki ruang ganti, bertepatan dengan Veronica yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah dirias secantik mungkin dengan rambut blonde yang lurus terurai.


"Kekasihmu lagi?" Terdengar jelas jika managernya itu jengah.


"Perusahaan Cade sedang bermasalah. Sudah beberapa hari ini beberapa investor meninggalkan perusahaannya." Dan Barbara mengeluhkan apa yang terjadi dengan perusahaan Cade. Ia tidak sadar jika disana terdapat Veronica yang tentu mendengar percakapan mereka.


Sedangkan Veronica berjengit ketika mendengar perusahaan Cade sedang bermasalah. Tetapi ia bersikap tidak peduli dan kembali mematut dirinya di depan cermin.


"Ya. Bukankah sebagai kekasih yang baik aku harus bisa menghiburnya?" tutur Barbara bangga.


"Menghiburnya di atas ranjang maksudmu?" sindir manager Barbara dengan sinis.


Barbara hanya terkekeh. Yang dikatakan managernya itu memang benar. Ia menghibur Cade di atas ranjang dan berbagi keringat. Tentunya saat ini Cade membutuhkan dukungan serta tubuhnya.


"Apa kau tau Terry, perusahaan Cade diretas oleh seseorang. Aku tidak tahu penyebabnya tetapi karena sistem keamanan diretas sehingga proyek yang sedang berjalan mengalami kebocoran dan pada akhirnya Cade rugi besar."


"Benarkah? Sampai seperti itu?" Manager bernama Terry itu sontak terkejut. Ia turut prihatin.


"Ya, kasihan sekali bukan? Karena itu aku harus selalu berada disisinya," jawab Barbara dengan lesu. Ia begitu mengkhawatirkan keadaan Cade serta perusahaan pria itu.


"Cih, menggelikan." Veronica berdecih tidak senang. Kenapa ia harus mendengarkan percakapan mereka? pikirnya.


"Vero, kau sudah selesai?" Leyla, sang manager sekaligus asisten Veronica masuk ke dalam ruangan diiringi suaranya yang keras, sehingga membuat Barbara dan managernya menoleh ke arah mereka.


"Aku sudah selesai." Ia beranjak berdiri. Meskipun mengenakan pakaian sederhana tetapi Veronica tetapi terlihat sangat cantik.


"Sejak kapan dia berada disini?" Barbara melirik sinis. Tentu ia sangat membenci mantan dari kekasihnya. Lebih tepatnya ia yang merebut pria itu dari Veronica.


Veronica nampak acuh pada Barbara. Seolah ia tidak melihat keberadaan yang lainnya selain dirinya dan Leyla. Kaki jenjangnya mulai memasuki studio kembali. Ia melihat Darren yang duduk dengan memainkan ponselnya.


Selama proses pemotretan berlangsung, Darren memperhatikan kekasihnya itu. Ada rasa kagum pada Veronica yang tampil begitu cantik. Ia tidak menyangka jika akan jatuh pada pesona wanita yang merepotkan. Mengingat pertemuan mereka selalu diawali dengan kesialan wanita itu.


Mata Darren menatap awas pada sosok wanita yang baru saja keluar dari ruang ganti. Tidak asing menurutnya, hingga ia memicingkan pandangan dan mengenali wanita itu adalah wanita selingkuhan Cade.


"Rupanya dia masih bisa bersantai seperti ini disaat perusahaan kekasihnya sedang bermasalah." Darren tersenyum miring. Mereka adalah pasangan bodoh yang terlihat sangat serasi.


Veronica sudah selesai melakukan prosesi pemotretan. Ternyata lebih cepat satu jam dari perkiraannya. Wanita itu melangkah untuk mendekati Darren, tetapi seseorang menjegal kakinya.


"Aakhh." Veronica memekik kaget. Nyaris saja ia kehilangan keseimbangan jika saja Leyla tidak menahan tubuhnya. "Kau.... Apa kau sengaja melakukannya, heh?!" Tentu ia menjadi geram. Pasalnya ia tidak menyinggung wanita itu.


"Aku muak melihat wajahmu! Kenapa hari ini sangat sial berada satu studio denganmu!" Barbara mengeluarkan kekesalannya pada Veronica. Entah kenapa, ia tidak menyukai wanita di hadapannya itu.


"Kau pikir aku senang berada dalam satu studio denganmu!" Balasan Veronica tak kalah sinis. "Sejak tadi aku berpura-pura tidak melihatmu, karena sebenarnya aku juga malas melihat wajahmu!" Karena terlalu malas, Veronica memilih abai. Ia kembali melanjutkan langkah, akan tetapi Barbara menahan langkahnya.


"Aku belum selesai bicara, sialan!" umpatnya kesal.


"Lalu kau mau apa?" Dan Veronica menantang. Ia melipat kedua tangan di depan dada. Ia tidak akan takut menghadapi Barbara. "Kenapa kau selalu ingin menggangguku? Bukankah sebaiknya pikirkan saja kekasihmu yang sedang dalam masalah itu daripada menggangguku seperti ini!"


"Kau mendengar percakapanku, hah?!" Suara Barbara yang meninggi itu menyita perhatian sekitar. Termasuk Darren yang sejak tadi tengah fokus pada ponselnya.


"Bagaimana aku tidak mendengar jika kau berbicara sekeras itu. Aku tidak tuli, jadi wajar saja aku mendengar percakapan kalian!"


"Sialan! Pasti kau sangat senang mendengar perusahaan Cade sedang bermasalah!" seru Barbara kian tersulut emosi.


Beberapa staf dan model lainnya hanya menggelengkan kepala. Melihat pertengkaran Veronica dengan Barbara yang sudah biasa bagi mereka. Sehingga tidak ada yang ingin melerai, baik itu manager dari Veronica dan Barbara sendiri.


Veronica tertawa ringan. "Ya, aku sangat senang. Aku berterima kasih kepada siapapun itu yang membuat perusahaannya hampir bangkrut. Percuma tampan tetapi otaknya hanya dipenuhi selangkangann saja!" Rasanya Veronica belum puas hanya memaki saja. Ia benar-benar kesal dan jijik dengan Cade yang ingin menjebaknya malam itu. Jika saja Darren tidak datang, maka pria berengsek itu yang berhasil mendapatkan keperawanannya.


"Kau!" Barbara tidak terima, ia melayangkan tangannya untuk menampar Veronica. Tetapi alih-alih mendarat di wajah mulus Veronica, lengannya justru di tahan oleh seseorang.


"Sayang sekali jika tangan putih mulus ini patah hanya karena menampar kekasihku!"


Barbara terpekik kaget. Ia mendapati seorang pria tampan menahan tangannya. "Lepaskan!" Lalu menghempaskan dengan kasar. "Siapa kau, heh?!"


"Wah, sayang. Untung ada dirimu. Jika tidak, wajah cantikku akan memar dan kau tidak bisa menikmati kecantikanku lagi." Veronica menggelayut manja di lengan Darren. Kekasihnya itu menyelamatkan dirinya dengan tepat waktu, bagaikan super hero.


Barbara berdecih sinis. Ia mendadak panas dan geram bersamaan.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau belum puas memaki?" Veronica berpura-pura polos. Padahal ia tahu jika wanita itu benar-benar marah besar.


Ingin sekali Barbara kembali memaki, akan tetapi melihat tatapan Darren yang mengintimidasi dirinya membuatnya bergidik ngeri. Ia ingat betul pria itu adalah pria yang pernah menghajar Cade.


Mendapati Barbara yang menciut membuat Veronica tersenyum puas di dalam hati. "Ayo sayang, kita pergi dari sini. Aku sudah selesai."


"Hm..." Darren menjawab dengan deheman. Ia mengikuti langkah Veronica dengan Leyla yang mengekor di belakang mereka.


Barbara menghela napas kasar. "Sialan! Dia bisa mendapatkan pria yang lebih dari Cade." Barbara yang kesal dan malu menghentak kaki, lalu segera berlalu dari sana diikuti oleh Terry. Yang lainnya hanya menggelengkan kepala. Syukurlah tidak ada pertengkaran hebat yang tentunya akan membuat mereka sakit kepala.


Sedangkan di parkiran mobil, Veronica masih kesal dengan sikap Barbara. "Dasar wanita ular. Bisa-bisanya dia selalu menggangguku!" umpatnya. "Dia dan Cade memang pantas bersama!" Napasnya memburu dengan cepat karena ledakan emosi yang tertahan sejak tadi.


"Sudah selesai?" Darren memperhatikan Veronica yang kembali diam. Sejak tadi ia membiarkan kekasihnya itu mengeluarkan umpatannya.


Mendengar perkataan Darren, Veronica mendekati Darren. "Belum. Seharusnya tadi kau patahkan saja tangannya."


"Di depan banyak orang?" sahut Darren menaikkan satu alisnya.


"Hm, jangan. Nanti kau dianggap kriminal."


Darren tersenyum mendengarnya. Kekasihnya itu tidak tahu saja jika ia sudah sering melakukan tindakan kriminal.


"Tapi aku senang sekali mendengar perusahaan Cade sedang bermasalah. Dia pantas mendapatkannya. Aku masih sangat kesal karena dia ingin menjebakku malam itu."


"Dia memang pantas mendapatkannya," sahut Darren setuju. "Bahkan aku bisa membuatnya lebih dari itu. Hanya tinggal menunggu saja," gumamnya kemudian.


"Apa? Kau bicara apa?" Sepertinya ia mendengar Darren bergumam tetapi tidak jelas apa yang digumamkan pria itu.


"Tidak ada." Darren mengelak. Mana mungkin ia mengaku jika permasalahan perusahaan Cade adalah campur tangan dirinya. Setelah apa yang dilakukan pria itu pada Veronica, ia tidak melepaskan pria bajingan itu begitu saja.


Veronica menarik napas. "Baiklah, kita harus makan siang. Aku sudah sangat lapar."


"Ingin makan dimana?" tanya Darren memastikan.


"Dimana saja, asalkan bersamamu."


Darren membuang wajahnya mendengar gombalan Veronica, tetapi telinga pria itu memerah. Membuat Veronica terkekeh gemas dibuatnya.


Wanita itu menangkup wajah Darren agar menghadap padanya. Berjinjit lalu mencium bibir kekasihnya itu.


Mata Darren sontak membola. Veronica mencium dirinya di depan Leyla yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari posisi mereka. Tetapi detik kemudian Darren membalas ciuman Veronica.


"Sepertinya aku harus segera menyingkir dari sini." Dan Leyla benar-benar menyingkir dari sana, dari pada ia harus menyaksikan pasangan yang tengah berciuman.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...