The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Apa Yang Kau Sentuh?



Helena sudah tiba di apartemen yang selama ini ia singgahi. Wanita itu tidak lagi menginap di hotel, karena ia merasa jika lebih nyaman berada di apartemen. Helena kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas sofa disusul matanya yang terpejam singkat.


"Apa yang tadi aku lihat? Apa aku lagi-lagi berhalusinasi?" gumamnya. Karena selama ini ia selalu berhalusinasi akan sesuatu yang mengerikan, itu sebabnya ia selalu ketergantungan dengan obat penenang. Dirinya selalu kesulitan saat tidur bahkan bayangan yang mengeringkan seolah menghantuinya setiap memejamkan mata tetapi ia tidak tau bayangan tersebut.


Lama tercenung Helena kemudian merogoh ponsel di dalam tasnya. Ia membuka beberapa pesan dari salah satu asistennya yang berada di Paris bahwa rancangannya banyak diminati. Helena berpuas hati karena memang itulah usaha kerasnya selama ini. Membangun bisnis dari nol dari uang hasil warisan yang di wasiatkan oleh mendiang ibunya meskipun ia hanya mendapatkan 20% saja, tetapi itu cukup untuk dirinya menetap di Paris dan membangun bisnis selama tiga tahun terakhir. Helena kemudian membaca pesan terakhir dari dokter yang selama ini menanganinya, lagi-lagi isi pesan yang sama yaitu mengingatkan dirinya untuk selalu rutin minum obat.


"Aaahh, aku sudah sangat lelah meminum obat." Helena membanting ponselnya di atas sofa sembari mendesahkan napasnya ke udara. Sungguh sangat melelahkan jika setiap harinya harus mengkonsumsi obat, akan tetapi jika ia lupa meminumnya hanya akan memperparah keadaannya saja.


Meksipun mengeluh, Helena tetap berjalan menuju kamar untuk mengambil obatnya yang tersimpan di laci nakas lalu kembali ke meja makan, menuangkan air putih di dalam pitcher ke dalam gelas, hingga kemudian meminum obatnya di dorong oleh air putih tersebut.


Langkahnya mengayun menuju sofa, sebelum mencapai sofa tubuhnya sudah merosot lebih dulu, tatapannya kembali kosong dan berusaha meraba apa yang selama ini telah ia lupakan dan selalu menghantuinya.


"Mom, apa yang harus Helen lakukan? Helen benar-benar merasa sendiri di dunia ini. Tidak ada siapapun, meski memiliki banyak uang Helen selalu sendirian Mom." Helena meringkuk memeluk kedua lututnya, air matanya sudah menggenangi kelopak matanya hingga kemudian meluruh dengan deras. Wanita itu selalu menangis seorang diri, meski ia masih memiliki ayah kandung, tetapi pria tua itu tidak pernah peduli padanya.


"Apa Helen harus menyusul Mommy di atas sana? Katakan Mom, apa Helen harus mencoba mengiris pergelangan tangan Helen lagi?" lirihnya terisak. Sungguh ia tidak sanggup, karena selama ini yang membuatnya bertahan adalah Mikel. Namun lihatlah pria itu sudah tidak peduli padanya, bahkan dengan hati memberinya harapan yang membuat melayangkan lalu perlahan menghempaskannya begitu kuat.


"Hiks.... hiks... aku yang selama ini terlalu berharap, aku yang menutup mataku, membohongi diriku sendiri jika selama ini kami saling mencintai." Helena meracau, mengingat setiap perkataan yang selalu diucapkan pria itu. Memang ia tidak pernah mendengar jika Mikel mencintai dan menginginkannya. Helena menggigit bibir bawahnya agar tangisan tidak semakin menjadi meskipun segenap emosinya ingin sekali berteriak dan menyalahkan takdir yang membuatnya harus kehilangan satu persatu seseorang yang dicintainya.


***


Keesokan harinya.


Pagi ini Elie sudah di perbolehkan pulang dan Arthur terlihat sudah tiba di rumah sakit setelah menyuruh satu anak buah yang mengikutinya untuk mengurus biaya administrasi. Darren masih berada di Manchester sehingga ia di dampingi satu anak buah. Terlebih tugas Darren dan Chris bertambah lantaran harus mencari keberadaan Veronica, teman dari Elie yang terdeteksi berada di Manchester.


"Kak Ar, maaf merepotkanmu." Dengan wajah yang masih nampak pucat, Elie menyematkan senyumnya. Ia mencari posisi ternyaman begitu masuk ke dalam mobil.


"Tidak masalah. Kau adikku, sudah sewajarnya Kak Ar direpotkan olehmu," sahut Arthur menoleh sekilas sembari menghidupkan mesin mobilnya, lalu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit.


Bibir Elie mencebik kesal, seperti itulah kakaknya jika berbicara. "Jadi selama ini aku merepotkan Kak Ar, hm?"


"Ck...." Arthur mendecakan lidah. Kali ini drama apa lagi yang akan Elie lakukan. "Jangan mulai lagi Elie," keluhnya karena sikap adiknya itu hanya akan membuatnya sakit kepala.


"Iya baiklah...." Elie menghembuskan napas kecewa. Ia memang tidak akan pernah berhasil membuat Arthur membujuk dirinya jika sedang merajuk. Karena sampai kapanpun ia tidak akan bisa membuat sang kakak berada di dalam kendalinya.


Mobil yang dikendarai Arthur sudah tiba di pelataran Mansion setelah menempuh perjalanan selama 30 menit. Semenjak tidak menjadi model di Glory Ent, atas permintaan Mommy Elleana, wanita itu selalu berada di Mansion.



"Apa Kak Ar tidak akan masuk?" tanya Elie begitu menutup pintu dan menyembulkan kepalanya di jendela mobil yang terbuka lebar. Ia tidak melirik anak buah yang sudah mengeluarkan tas besar dari dalam bagasi mobil sang kakak.


Arthur menggeleng. "Tidak," jawabnya. "Aku akan pergi gym," sambungnya.


"Ah benar, hari ini memang jadwal Kak Ar pergi gym." Elie nyaris melupakan jadwal sang kak rutin gym, padahal di Mansion mereka terdapat ruangan olahraga lengkap dengan fasilitas gym yang tentu lebih mewah. Entah mengapa kakaknya itu lebih menyukai gym di tempat lain yang terdapat arena boxing disana.


"Elie... Ar... kalian sudah sampai?" Mommy Elleana melangkah menuju pelataran. Sedari tadi ia sudah menunggu putra dan putrinya itu.


Suara Mommy Elleana menyita perhatian Elie dan segera menoleh kearah asal suara. Ia tersenyum dan menyambut pelukan hangat sang Mommy kepadanya. "Kami baru saja sampai Mom," jawabnya sembari mengurai pelukan mereka.


"Iya Mom..." Elie mengangguk patuh. Karena sejujurnya ia masih sedikit merasakan pusing.


Melihat putranya yang tidak turun dari mobil, wanita setengah baya itu menoleh, sedikit membungkuk agar lebih mudah bersitatap dengan putranya itu. "Kau tidak turun Ar?"


"Tidak Mom, aku akan pergi gym."


"Baiklah, hati-hati." Mommy Elleana mengulas senyum, tentu ia pun paham kebiasaan Arthur menghabiskan waktu di saat weekend, yaitu memanfaatkan dengan pergi berolahraga atau pergi gym.


Arthur mengangguk, usai berpamitan ia pun bergegas pergi meninggalkan Mansion.


"Ayo masuk." Mommy Elie menuntun putrinya. Tidak lupa ia menyuruh anak buah suaminya untuk membawakan tas milik Elie ke dalam. "Granpa dan Granny akan datang kemari, mereka sangat mencemaskanmu." Begitu mengetahui keadaan cucu mereka, Grandpa Jhony dan Granny Marry memaksa ingin menjenguk cucu mereka, sehingga baik dirinya serta suaminya tidak mampu untuk melarang.


***


Mobil Arthur terparkir berjajar di antara mobil lainnya, mobil-mobil yang tidak semewah mobil miliknya. Ringtone Boxing Gym adalah salah satu tempat gym berkelas yang berada di jalan Drummond St, London, Inggris Raya. Selain menyediakan lengkap alat-alat gym, disana juga terdapat samsak dan arena tinju sehingga Arthur menyukai tempat tersebut.


Begitu masuk ke dalam sana, beberapa instruktur menyapa Arthur dan dibalas anggukan kepala olehnya. Arthur meletakkan tas begitu berada di ruangan yang dikhususkan untuknya dan mulai membuka jaket serta t-shirt yang melekat di tubuhnya. Membiarkan perutnya yang membentuk kotak-kotak itu terekspose, hanya menyisakan celana pendek training yang membalut bagian bawahnya dan mulai dengan mengangkat dua barbel, hingga menonjolkan otot-otot besar di lengannya.


Keringat mulai bercucuran, menjalar ke leher dan dada pria itu, hingga meninggalkan kesan seksi. Siapapun yang melihatnya maka akan terpesona pada tubuh kekar berotot miliknya.


Lama Arthur mengangkat barbel, meletakkan benda berat itu ke tempat semula. Langkahnya mengayun menuju alat treadmill, namun tiba-tiba saja bertabrakan dengan seorang wanita yang juga nampak seksi dengan pakaian gym-nya.


Kedua tangan Arthur spontan menahan pinggul wanita itu, sehingga membuat jarak pandang mereka begitu dekat dan... intim.


"Apa yang kau sentuh, heh?!"


Wanita itu tersentak kaget mendengar seruan Arthur. Ia memang tanpa sadar telah menyentuh dada bidang Arthur yang tentunya sangat... menggoda.


To be continue


Babang Arthur



Helena



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...