
Mikel menghempaskan barang-barang yang berada di ruangannya. Kini ia sudah berada di bangunan tua yang masih berdiri kokoh, tempat yang menampung Pablo dan melancarkan siksaannya disana. Tidak cukup puas hanya menyiksa saja, Mikel ternyata tidak kalah psycho, ia menyayat-nyayat beberapa bagian tubuh Pablo.
Dan hari ini sudah terhitung satu hari sejak ia dilanda kecemburuan, meskipun berbagai halaman portal yang memberitakan mengenai Elie yang berkencan dengan pria muda tampan sudah hilang tanpa jejak atas perintahnya kepada Nathan untuk memboikot semua media yang berani-beraninya menyebar berita menjijikan tersebut. Namun meski beritanya sudah lenyap, tetap tidak menyurutkan kemarahan yang bergemuruh di dada Mikel.
"Arrghhh....!!!" Teriakan melengking itu kembali memenuhi ruangan. Mikel tengah melancarkan siksaannya kepada Pablo, dengan memberikan timah panas di telapak tangan Pablo. Siapa yang tidak akan berteriak histeris jika timah panas itu mampu melepuhkan kulit hingga ke dasar daging.
"Katakan dimana Todd?! Dimana dia bersembunyi?!" Mikel semakin menekan timah panas di telapak tangan Pablo. Mengeluarkan aura panas hingga terendus aroma sangit yang menyengat.
"Aku tidak tau!" Pablo menahan napas untuk mengurangi rasa sakit pada telapak tangannya. "Sudah kukatakan aku tidak tau apapun, aku tidak tau tempat persembunyiannya. Selama ini kami selalu bertemu di Den Haag, selebihnya aku tidak tau apapun tentangnya....." ucapnya parau dan mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa. Mikel mendelik penuh selidik, mencari kebohongan pada raut wajah Pablo dan sepertinya Pablo benar-benar jujur. Dan Den Haag merupakan salah satu kota di Amsterdam. Benarkah mereka hanya sering bertemu disana?
Mikel kemudian menghempaskan tangan Pablo dengan kasar, membuat si empunya kembali menjerit. Bagaimana tidak, ia merasakan telapak tangannya hanya tersisa daging tanpa kulit. Dan sangat menyakitkan, rasanya benar-benar berada di ujung kematian.
Langkah Sid menyelinap masuk, menyita perhatian Mikel sejenak. "Aku sudah menemukan persembunyian Todd. Saat ini dia berada di Sevastopol," katanya melaporkan dan Kota Sevastopol merupakan kota kecil yang berada di sekitar Rusia Selatan.
"Kalau begitu tunggu apalagi, kita pergi sekarang juga!" Mikel melengos pergi, melewati Sid dan berjalan lebih dulu. Tidak pedulikan kondisi Pablo yang begitu naas. Tewas ataupun tidak, Mikel tidak peduli.
Mikel, Sid serta Josh dan beberapa anak buah yang dikerahkan sudah bersiap untuk menyerang. Menemukan keberadaan Kakek Mateo dan mencari tahu kebenaran akan kedua orang tuanya yang masih hidup dan kuncinya berada di Kakek Mateo, ia berharap kakek tua itu masih dalam keadaan hidup.
Kini ketiganya beserta para anak buah sudah berada di Kota Sevastopol. Bergegas turun dan melangkah menyusuri lahan kosong dengan berbagai semak-semak di sekitar bangunan yang terlihat tidak jauh dari jangkauan mata.
Mereka berjalan mengendap-endap, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun. Mikel mengayunkan tangan, sebagai tanda jika mereka harus berpencar. Sid dan anak buah lainnya mengangguk paham. Mikel dan Sid berpisah, Mikel mengendap masuk ke dalam jendela yang terbuka, sementara Sid dan anak buah lainnya mencari jalan masuk yang lainnya.
"Arrghhh......!" Mikel tertegun selama beberapa saat ketika mendengar teriakan bergetar yang begitu lirih. Dadanya bergemuruh hebat, ia sangat cemas jika pemilik suara teriakan itu adalah Mateo. Tidak bisa dibiarkan! Mikel meradang, ia mempercepat langkahnya menyusuri sebuah bangunan tua. Dengan diikuti oleh Josh di belakangnya, Mikel mengikuti jejak suara yang menuntunnya, hingga langkahnya terhenti ketika suara itu semakin terdengar jelas dan memenuhi pendengarannya.
"Aku tidak akan memberitahumu! Bahkan jika harus matipun, aku akan tetap menjaga peninggalan Matt!" Terharu. Itulah yang dirasakan oleh Mikel, kedua matanya bahkan terlihat mengembun. Meski sudah lama sekali tidak bertemu, tetapi Mikel sangat yakin jika kakek tua yang tengah diberikan siksaan itu tidak lain adalah Mateo. Namun keharuannya itu berubah penuh kebencian kepada sosok pria tua yang berdiri di hadapan Mateo.
"Hahaha jadi kau lebih memilih mati?! Baiklah akan dikabulkan keinginanmu!" Ya, Todd sudah menggenggam senjata. Rasanya percuma saja menyiksa Mateo, pada akhirnya kakek tua itu lebih memilih kayu dibandingkan memberitahukan dirinya keberadaan peninggalan harta milik Matthew.
Tangan Todd mengarahkan senjata api itu pada kening Mateo, wajah penuh guratan kasar sudah dipenuhi oleh luka lebam serta darah yang mengering dan penampakan yang begitu miris itu membuat Mikel semakin geram. Tepat pada saat Todd menarik pelatuknya dan siap memuntahkan pelurunya pada kening Todd, Mikel lebih dulu meluncurkan pelurunya tepat mengenai lengan Todd, sontak saja senjata tangan Todd terlepas dari tangannya dan Mateo terhindar dari peluru milik Todd yang nyaris menembus kepalanya.
"Arrghhh!!" Todd memekik kesakitan. Dan beberapa anak buah melihat sekeliling untuk mencari sumber peluru yang berhasil menembus lengan bos mereka.
"Kurang ajar! Ternyata ada penyusup!" Dan segerombolan anak buah Mocro bersiap menyerang.
Todd menolehkan kepala menghadap suara satu anak buahnya yang berseru itu. Seketika matanya membeliak tatkala mendapati Mikel dan beberapa anak buah pria itu sudah memposisikan diri, bersiap untuk melakukan serangkaian serangan.
"Sialan! Dia menemukanku!" pekiknya di sela-sela kesakitannya. "Habisi dia! Habisi mereka! Jangan sisakan tanpa ampun!" perintahnya menggelegarkan seisi ruangan.
Mikel tentu saja sudah bersiap, menghadang beberapa peluru yang dihantamkan padanya. "Paman, berhati-hatilah," ucapnya kepada Josh yang berdiri di belakang dirinya, menembaki beberapa anak buah Mocro. Josh mengangguk, meski ia sudah tidak cekatan seperti dulu, tetapi ia masih mampu jika hanya menembaki musuh-musuhnya. Disaat yang bersamaan, Sid beserta anak buah yang lainnya mencapai ruangan tersebut, mereka pun mulai melakukan serangan secara bertubi-tubi.
Dan mata sayu milik Kakek Mateo tidak hentinya berpindah dari sosok Mikel yang bergerak kesana-kemari menghadapi musuh-musuh. Kelopak mata yang dipenuhi guratan kasar itu berdenyut dengan linangan air mata yang siap ditumpahkan. Apa benar pria muda itu adalah Mike putra dari Matt dan Aprille? batinnya bertanya-tanya. Sungguh terharu sekaligus sedih, selama hampir sebelas tahun mereka hidup secara terpisah dan saling berpikir jika mereka sudah tiada. Mei, bagaimana kabar gadis kecilku itu? lanjutnya dalam hati memejamkan mata dengan lelehan air mata yang sudah membanjiri wajah. Sepertinya saat ini ia benar-benar merasa hidup, setelah sekian tahun lamanya harus menyaksikan bagaimana Matthew dan Aprille berjuang melawan kesedihan mereka karena mengira jika putra dan putri mereka telah tewas di tangan Todd.
"Aahh Matt, sepertinya hari ini adalah hari yang tidak bisa kulupakan hingga akhir hayatku. Putramu tumbuh menjadi sosok yang sangat pemberani." Kelopak Kakek Mateo kembali terpisah, ia mencuri pandang dengan sosok Mikel. Pria muda yang sudah ia anggap sebagai cucunya itu benar-benar nyata dan masih hidup. Kini membalaskan dendam di masa lalu dimana sebuah keluarga harmonis seketika lenyap di tangan sosok manusia seperti Todd yang tamak dan memiliki hati yang keji.
Todd mendadak panik, ia bergerak mundur ketika melihat sosok Mikel yang mendekat. Terlebih dengan mudahnya Mikel beserta pasukannya itu mampu melumpuhkan beberapa anak buah.
Namun ketika bergerak mundur, punggungnya berbenturan dengan sesuatu yang berdiri tegak. Ia menoleh ke belakang dan memutar arah tubuhnya, seketika matanya membeliak sempurna. Sosok pria yang menatapnya dengan begitu tajam adalah Mikel. Bagaimana mungkin Mikel sudah berdiri di belakangnya, padahal ia baru saja melihat Mikel ingin berjalan ke arahnya. Sepertinya Todd berhalusinasi karena diserang rasa ketakutan.
"Apa kabar Paman? Sepertinya Paman senang sekali bermain petak umpat denganku?" Mikel tersenyum, namun senyum yang begitu mengerikan. "Apa Paman takut aku akan segera membunuh Paman?"
"Kau tidak akan bisa membunuhku! Tidak akan bisa!" seru Todd angkuh. Menutupi kegelisahan yang menyergap ketika berhadapan secara langsung dengan Mikel. Ia akui dirinya yang sekarang berbeda dengan beberapa tahun silam. Tubuhnya sangat tidak sehat, sebab ia mengidap suatu penyakit. Itu sebabnya selama ini ia selalu menyerang musuh-musuh di balik layar dan hanya mengerahkan seluruh anak buah yang belasan ribu itu.
"Benarkah?" Bibir sudut Mikel tertarik ke atas, menatap penuh remeh kepada sosok pria paruh baya di hadapannya. Terlihat santai ketika menyahut, namun tidak dengan matanya yang menggelap, memancarkan kilatan api penuh amarah dan kebencian.
"Ya, kau hanya anak kemarin sore. Tidak mungkin bisa melawanku, hahahaha!" Todd tergelak. Entah apa yang lucu, hanya ia yang tertawa. Menurutnya sepak terjangnya sudah melampaui Mikel, tidak mungkin dapat dikalahkan dengan mudah. Bahkan selama ini ia mampu menghindari kejaran Pasukan Spetsnaz yang terkenal sangat kuat diantara pasukan tentara lainnya.
Dalam seketika tawa Todd lenyap saat Mikel melesatkan tendangan di perutnya hingga terpental cukup jauh. "Sialaaaann!" umpatnya berdecih dan berusaha untuk bangkit. "Berani sekali kau menendangku!"
"Itu belum seberapa dengan yang kau lakukan pada kedua orang tuaku. Kau bahkan pantas mendapatkan lebih dari tendangan!" Darah Mikel tiba-tiba mendidih ketika mengingat masa lalu yang mengerikan itu. Emosinya menyatu dan terkumpul pada otot-otot tangan serta wajah yang sudah menegang.
"Matthew pantas mendapatkannya. Dia pantas mati, hahaha! Tapi sungguh aku tidak berniat untuk melenyapkan Aprille. Aku bahkan rela menukar istriku dengan Aprille, tetapi wanita bodoh itu lebih memilih mati bersama dengan Matthew!" Pilu rasanya Todd mengingat penolakan Aprille kepadanya. Padahal ia bisa memberikan cinta lebih dari Matthew.
"Bajingaaan sialaaan! Berani sekali kau membicarakan ibuku seperti itu!!!" Mikel menyahut kerah pakaian Todd dan memukul wajah tua yang begitu menyebalkan dengan kepalan tangan yang penuh dengan emosi, hingga membuat darah menyembur keluar karena pukulan yang begitu kuat.
Todd mengusap sisa cairan yang keluar dari mulutnya, ia tertawa alih-alih menampakkan wajah ketakutan. "Kau akan segera menyusul mereka dan kupastikan kali ini kau benar-benar pergi ke neraka! Aku akan membalaskan kematian Franco kepadamu!" Tangan Todd merogoh kantung pakaiannya dan nampaklah sejuta api yang sembunyi di dalam tubuhnya. "Kau harus mati! Kau harus mati bersama kedua orang tuamu!" Todd sudah gelap mata, terlebih mengingat kematian putranya Franco di tangan Mikel. Tanpa aba-aba ia melepaskan peluru kepada Mikel dan Kakek Mateo secara bersamaan.
Mikel berhasil menghindari peluru tersebut, namun ia kesulitan menjangkau tubuh Kakek Mateo dan berusaha berlari lebih cepat dari peluru yang melesat dengan cepat itu.
Dan peluru itu gagal menghantam tubuh Kakek Mateo yang renta dan justru melesat di lengan Mikel yang berusaha melindungi Kakek Mateo.
Melihat Mikel tertembak Sid meradang, ia melumpuhkan beberapa anak buah Todd hanya dengan tendangan.
"Pria tua sialaann!" pekiknya menghampiri Todd dan menerjang dengan pukulan.
Mikel memejamkan singkat matanya. Peluru itu hanya menggores lengannya saja, tetapi kekhawatiran nampak jelas di wajah Kakek Mateo.
"Mike, kau baik-baik saja?" tanya Kakek Mateo dengan suara parau yang nyaris teredam dengan isakan tangis yang tertahan.
"Aku baik-baik saja." Mikel memberikan senyum tipis, menandakan jika dirinya baik-baik saja.
Kakek Mateo menghela napas lega. Ia mengusap wajah Mikel yang berbeda dengan yang dulu. "Meskipun wajahmu berubah, tetapi tidak sulit untukku mengenalimu, Mike. Kedua matamu tidak bisa membohongi semua orang yang dekat denganmu."
"Benar kakek, ini aku Mike."
Tes
Setitik lelehan air mata kembali membasahi wajah Kakek Mateo. "Mike... Matt dan Aprille.... mereka masih hidup."
Deg
Meskipun ia sudah mengetahuinya, tetapi entah kenapa mendengarnya dari bibir Kakek Mateo sendiri, detak jantungnya seolah berhenti.
"Selama ini aku menyembunyikan mereka.... aku...." Kakek Mateo menyentuh dadanya yang tiba-tiba menjadi sesak. Namun Kakek Mateo berusaha menyelesaikan kalimatnya, kemudian ia mendekatkan bibirnya di telinga Mikel. Hingga pergerakan Kakek Mateo melemah dan napas yang beraturan itu perlahan terhenti. Kakek Mateo menghembuskan napas terakhirnya dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Kakek?" Tubuh Mikel mendadak melemas. Ia menopang tubuh Kakek Mateo yang ringan dengan tangan yang bergetar.
To be continue
Babang Mikel
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...