The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Menjauhlah Dariku!



Di dalam kabin yang lain, sepasang suami istri tengah bercinta di hari sepagi ini. Sudah sejak tadi malam pria itu menggempur istri tercintanya hingga tiga babak. Dan di pagi hari, mereka mengulangi percintaan panas kembali.


"Mike, kau benar-benar tidak pernah puas." Suara Elie bergetar, ia meremmas sprei dengan kuat ketika Mike terus aja menggoyangkan pinggul dengan kecepatan penuh. Tubuhnya yang menukik ke belakang memudahkan pria itu memompa istrinya dengan semangat.


"Aku tidak akan pernah puas denganmu Sweetheart." Tubuh istrinya terlalu menggairahkan sehingga Mike tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. "Ah, Sweetheart, kau benar-benar membuatku gila." Meskipun peluh keringat sudah membasahi kening hingga wajahnya yang tampan, tetapi tidak membuatnya kelelahan. Justru stamina pria itu akan semakin bertambah usai bercinta.


"Ahhh... Mike, kau mendorong milikmu dengan kuat." Tubuh Elie menggelinjang hebat, milik Mike yang besar benar-benar penuh dan sesak di dalam intinya. Tetapi sungguh ia menyukainya dan selalu mendapatkan pelepasan dengan puas.


Mike tidak mengindahkan seruan Elie. Ia semakin bergairah hanya karena mendengar rintihan kenikmatan sang istri di bawah tubuhnya. Gerakan pinggulnya semakin dipercepat ketika ia merasa ingin memuntahkan laharnya, hingga detik kemudian laharnya memenuhi rahim Elie bersamaan dengan pelepasan ketiga kalinya yang dirasakan oleh wanita itu.


Tubuh Elie terkulai lemah. Sungguh tubuhnya remuk padam dengan tanda merah yang nyaris memenuhi tubuhnya.


"Apa kau lelah Sweetheart?" tanya Mike mencabut miliknya, ia mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Aku mungkin tidak akan bisa berjalan setelah ini," keluhnya dengan deru napas yang masih naik turun.


Mike terkekeh mendengarnya sehingga membuat Elie mendengkus. "Kenapa tertawa? Kau harus bertanggung jawab karena membuatku tidak bisa berjalan."


"Baiklah, aku tidak masalah jika harus menggendongmu." Mike menyahut santai, ia beranjak dari ranjang dan menyambar handuk yang terlampir di sandaran kursi.


"Tidak. Tidak perlu, orang lain akan menggunjing kita." Elie berusaha beranjak duduk dengan pangkal paha yang masih terasa begitu nyeri.


Mike membantunya, bahkan menggendong istrinya ala bridal style. "Kita suami istri. Dan jangan lupa jika mereka masih berada di kapal pesiar. Aku akan menendang siapapun yang berani menggunjing istriku."


Kali ini Elie yang terkekeh. Ia tidak bisa membayangkan jika mereka akan ditendang di tengah laut. "Mereka akan menjadi santapan ikan hiu jika kau menendang dari kapal." Elie turun dari gendongan Mike, lalu dengan sigap pria itu menghidupkan shower dan meletakkan handuknya dengan asal hanya untuk bergabung dengan sang istri di bawah guyuran shower.


"Aku tidak peduli," sahut Mike sembari mengusap wajah sang istri yang dihujani air shower. "Siapapun yang berusaha mengusik istriku yang cantik ini, mereka akan menjemput ajalnya."


"Ck, kau sangat menyeramkan seperti Kak Ar."


"Meskipun menyeramkan, aku bisa membuatmu mendesaah di bawahku Sweetheart." Mike tersenyum nakal, menggoda istrinya itu.


"Mike sayang, kau sangat mesum." Elie memukul dada Mike.


Pria itu terkekeh, ia meraih sabun dan membalurkan ke seluruh tubuh Elie. Tidak ada yang dilakukannya selain memijat lembut bagian dada Elie yang menjadi favoritnya. Dan akibat ulah jahil suaminya, Elie harus menahan desahannyaa. Hingga beberapa menit mereka saling memijat tanpa melakukan ritual panas kembali.


***


Semua orang sudah berkumpul di masing-masing Restauran yang berada di berbagai lantai. Para tamu undangan berlomba-lomba mencari perhatian keluarga terpengaruh lainnya. Seperti saat ini, Elleana harus meladeni istri-istri sosialita yang menanyakan Austin. Ada pula Angela yang harus dibuat pusing karena mereka menanyakan Jacob dan secara terang-terangan ingin berbesan dengan Keluarga Scott.


"Nyonya Elle, apa Tuan Muda Austin sudah memiliki kekasih? Aku memiliki putri yang sebentar lagi akan lulus kuliah, sepertinya akan cocok dengan putra Nyonya. Tapi sayang sekali putriku tidak bisa ikut karena harus menyusun skripsi." Wanita paruh baya berambut ikal sebahu berencana ingin menjodohkan putrinya dengan putra bungsu Keluarga Romanov. Melihat betapa megah dan mewahnya acara pernikahan di kapal pesiar membuatnya bertekad untuk menjadi bagian dari keluarga nomor satu itu.


Elleana hanya menanggapi dengan senyuman. Ia tidak tersinggung dengan keinginan Nyonya Rowman.


"Aku tidak tau As memiliki kekasih atau tidak. Tetapi aku tidak melarangnya dekat dengan siapapun. Putraku bebas memilih pasangannya nanti." Tidak bermaksud menyinggung, Elleana menjawab apa adanya. Selama ini baik dirinya serta sang suami tidak memandang siapapun yang dicintai putra dan putri mereka. Ya, meskipun selalu dimulai drama yang selalu dilakukan oleh suaminya untuk mengetes seberapa besar cinta mereka terhadap pasangan masing-masing.


Nyonya Rowman tersenyum kecut. Elleana tidak memberikan jawaban yang ingin ia dengar. "Apa Nyonya tidak khawatir jika Tuan Muda Austin akan mendapatkan wanita yang tidak sepadan dan hanya berasal dari kalangan biasa? Apa Nyonya tidak takut jika ada wanita yang hanya ingin memanfaatkan keluarga kalian saja?"


"Tidak. Siapapun yang dipilih oleh As, aku dan suamiku akan menyetujuinya, asalkan wanita itu benar-benar baik dan bisa menerima As." Lagi-lagi Elleana menjawab dengan bijak.


"Ck, Nyonya Elle terlalu baik. Jangan menerima wanita dari kalangan biasa. Karena wanita seperti itu hanya akan mempermalukan keluarga saja." Nyonya Rowman masih tidak terima, ia ingin Elleana sependapat dengannya. "Dan bukankah putra pertama Nyonya dan putri Nyonya mendapatkan pasangan yang sepadan."


Elleana menanggapi dengan tawa ringan. "Aku tidak berhak menilai orang lain seperti itu. Tapi jika jodohnya As nanti berasal dari keluarga yang kaya raya, tentunya aku akan sangat senang."


"Benar, harus seperti itu. Misalnya seperti keluarga kami yang berasal dari keluarga terpandang. Putra pertamaku menjadi CEO di perusahaan keluarga kami dan putra keduaku menjadi pengacara di firma hukum yang terkenal." Seperti biasa Nyonya Rowman membanggakan kedua putranya untuk memikat keluarga yang akan menjadi besan Keluarga Rowman.


"Kedua putra Nyonya sangat hebat." Elleana benar-benar memuji.


"Benar, aku bangga dengan mereka." Nyonya Rowman tersenyum bangga. Ia harus menarik minat keluarga terpandang yang lain, selain Keluarga Romanov.


Tidak berbeda jauh dengan Angela. Wanita itu hanya tersenyum menanggapi rentetan pertanyaan mengenai putranya.


"Putraku Jacob baru akan berusia 22 tahun Nyonya. Masih sangat jauh jika harus membicarakan pernikahan." Angela terkekeh, ia bahkan tidak terpikirkan hingga kesana. Ia membiarkan putra dan putrinya itu menikmati masa muda mereka, mengejar cita-cita yang mereka inginkan.


"Bukankah keluarga kaya raya terbiasa melakukan perjodohan? Tidak masalah jika putra Nyonya Scott dijodohkan lebih dulu. Beberapa tahun kemudian pernikahan bisa dilangsungkan."


"Benar Nyonya. Aku juga berniat menjodohkan putraku dengan putri dari temanku. Meskipun usianya masih 24 tahun tetapi usianya sudah cukup untuk memikirkan pernikahan." Nyonya sosialita lainnya turut menimpali.


Angela menyimpan rasa kesal di dalam hatinya. Sebab kebahagiaan putra dan putrinya tidak diukur dari segi usia ataupun dari harta yang dimiliki. Biarlah Jacob dan Jolicia memilih pasangan mereka sendiri. Ia serta Zayn akan mendukung asalkan berasal dari keluarga baik-baik.


"Aku memberikan kebebasan pada putra dan putriku. Biarkan mereka menikmati masa muda, masalah pernikahan bisa dipikirkan nanti saat mereka sudah menemukan pasangan yang cocok." Angela selalu elegan memberikan pendapatnya. Tidak peduli jika Nyonya-Nyonya sosialita itu akan mencibirnya.


Benar saja, mendengar perkataan Angela, mereka semua nampak diam dan melirik satu sama lain. Merasa tidak sependapat dan pada akhirnya hanya mencibir di dalam hati mereka. Tidak mungkin menggunjing di hadapan langsung.


"Tapi Nyonya, sepertinya putrimu sangat dekat dengan Tuan Muda Austin. Lihatlah, kedekatan mereka." Salah satu Nyonya sosialita yang nampak lebih muda dari lainnya menyoroti Jolicia yang tengah bersama dengan Austin.


Angela mengikuti arah pandang mereka. Ia hanya mengulas senyum. "Licia dan As sudah berteman sejak kecil, wajar saja jika mereka sedekat itu."


"Tapi karena kedekatan mereka, putri-putri kami tidak berani mendekati Tuan Muda Austin," cerca Nyonya Petro dengan sinis. Ia melihat putrinya begitu tertarik dengan putra bungsu Keluarga Romanov dan kebetulan sekali mereka satu universitas.


Angela menghela napas. "Nyonya, putriku-"


"Jika kau berniat menjodohkan putrimu dengan As, kau bisa mengatakan langsung pada Keluarga Romanov, jangan menyalahkan istriku atas kedekatan mereka!" Perkataan Angela terputus karena Zayn menyela lebih dulu. Dan kehadirannya membuat mereka membeku seketika.


"Zayn sudahlah." Angela beranjak berdiri, mengusap lengan Zayn dan menghalangi suaminya itu.


"Tidak sayang, siapapun yang berani berbicara macam-macam tentang keluargaku, mereka harus berhadapan denganku!"


"Tuan Scott, maafkan kami. Kami tidak bermaksud bicara seperti itu."


Tangan Zayn mengayun di udara, mengintrupsi mereka. "Jika kalian bicara lagi, aku akan menendang kalian dari atas kapal."


Mendengar ancaman Zayn yang begitu mengerikan, Nyonya Petro dan Nyonya-Nyonya lainnya diam seketika. Meskipun belum genap satu tahun Keluarga Scot tinggal di London, tetapi mereka sudah banyak mendengar kekejaman pria itu.


Zayn tersenyum sinis. Ia merengkuh pinggang Angela. "Kita pergi dari sini sayang. Kau tidak perlu bergaul dengan mereka yang hanya memiliki otak udang."


Semua ingin protes mendengar perkataan Zayn, akan tetapi mereka hanya mampu menelannya hingga pria itu beserta istrinya berlalu dari sana dan bergabung dengan Keluarga Romanov.


"Ck, dasar sombong. Awas saja jika aku mengadukan kalian kepada suamiku." Nyonya Petro menggerutu kesal. Ia tentu tidak terima di perlakukan demikian.


"Sudahlah Nyonya Petro. Suamimu tidak akan bisa menghadapi Tuan Scott, dia tidak berbeda jauh dengan Tuan Romanov." Salah satu dari mereka menengahi. Sebab kedua keluarga itu tidak akan membiarkan keluarga mereka diusik.


"Benar. Bisa saja perusahaan Petro kehilangan saham hanya dalam sekejap mata saja," timpal Nyonya lainnya mengingatkan.


Nyonya Petro mendengkus. Meski kesal, tetapi yang dikatakan teman-temannya ada benarnya.


***


Jolica memutuskan untuk ke toilet. Ia meninggalkan meja dan Austin hanya melirik singkat untuk memastikan jika temannya itu benar-benar ke toilet. Usai merasakan lega karena baru saja buang air kecil, Jolicia buru-buru keluar dari toilet. Namun dua gadis cantik seperti dirinya menghalangi jalannya.


"Licia, bukankah kau mengatakan jika tidak memiliki hubungan apapun dengan Tuan Muda Austin? Tapi kenapa sejak tadi kau terus menempel padanya?"


Jolicia memutar bola matanya jengah. Tidak di kampus dan tidak disini, Monica Petro selalu saja mengganggu dirinya. "Dengarkan aku baik-baik Monica, jika kau benar-benar menyukai As, kau bisa langsung mendekatinya. Tidak perlu bicara padaku seperti ini. Aku memang tidak memiliki hubungan apapun dengannya tapi sejak kecil aku dekat dengannya. Lalu apa masalahnya jika aku terus menempel padanya, bahkan kami selalu makan satu piring berdua." Karena kesal, Jolicia memanasi Monica hingga gadis cantik itu berang.


"Dasar murahan! Kau selalu saja menggoda pria seperti Tuan Muda Austin dan teman-temannya!" seru Monica menunjuk Jolica.


"Kau mengataiku murahan?!" Jolicia tidak terima, ia melangkah maju. "Aku tidak perlu menggoda mereka karena mereka sudah lebih dulu tergoda padaku." Jolicia membanggakan dirinya. "Di bandingkan dengan kalian, sudah bersikap murahan masih saja tidak dilirik." Kemudian Jolicia mendorong bahu Monica lalu melangkah pergi, nyaris saja gadis itu terhuyung jika temannya tidak menahannya.


"Kau.... sialan!" Monica kesal setengah mati. Jika saja mereka bukan berada di kapal pesiar, ia sudah pasti menjambak rambut Jolica.


Austin memperhatikan Jolicia yang kembali dari toilet lalu mendudukkan diri dengan kesal. "Ada apa?" tanyanya memastikan.


"Aku benar-benar kesal dengan fans-mu, kenapa mereka tidak langsung saja mengganggumu!" kata Jolicia mengadukan apa yang baru saja terjadi padanya.


Austin mengangkat kedua bahunya acuh. "Tidak perlu meladeni mereka. Kau bisa tertular seperti mereka nantinya."


"Ck, sialan!" umpat Jolicia tidak terima. "Sana menjauhlah dariku!" Lalu mendorong bahu Austin yang mentertawakan dirinya. Sungguh ia masih kesal dengan Monica dan kini Austin menambah kekesalannya.


To be continue


Austin



Jolicia



Austin dan Jolicia



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...