
Symphony Cruise Ship yang berlayar selama satu hari satu malam telah tiba di tempat tujuan. Pulau Mustique menjadi destinasi Keluarga Kaya Raya untuk berlibur. Meski pulau pribadi tersebut milik Keluarga Romanov, tetapi pulau tersebut diperbolehkan untuk para wisatawan yang ingin berlibur di Pulau Mustique dengan puluhan Villa mewah, yang dinamakan Sun Village Island.
Para tamu undangan berdecak kagum dengan keindahan pulau dan sekitarnya. Mereka terperangah selama beberapa saat di masing-masing beranda. Mereka menikmati keindahan alam bebas sembari menikmati seluruh Keluarga Romanov, Jhonson dan Miller serta sahabat keluarga mereka lainnya berbondong-bondong turun dari kapal.
Memang pulau tersebut dikhususkan untuk Keluarga Saja dan para tamu yang lainnya tidak dapat berbuat apapun, selain menatap penuh keirian. Pulau Mustique memang tidak mungkin mampu menampung ribuan orang dan para tamu undangan dibiarkan selama dua jam ke depan untuk menikmati keindahan Pulau Mustique, sebelum mereka kembali ke Kapal Pesiar dan kembali berlayar pulang menuju Kota London. Tetapi mereka sudah cukup beruntung karena dapat berlibur selama empat hari di kapal pesiar dan menyusuri lautan.
Pulau Mustique memiliki landasan helikopter. Bagi tamu undangan yang memang memiliki urusan mendesak, mereka bisa kembali menggunakan helikopter. Seperti Can, Sean, Vin beserta putrinya, mereka memutuskan untuk kembali ke negara masing-masing. Can harus kembali ke Turki, karena mendapatkan berita mengenai kesehatan ibunya yang menurun. Sementara hubungan Sean serta Vin yang tidak baik dengan Keluarga Scott dan Keluarga Romanov memutuskan kembali lebih dulu dengan helikopter pasukan khusus. Sean berpamitan kepada Arthur dan Mommy Elleana, meski Arthur bersikap dingin, tidak dengan wanita paruh baya itu yang memperlakukan Sean dengan begitu hangat.
"Kau benar-benar akan kembali, Sean?" Samuel, Paman dari Sean memastikan pertanyaannya kembali.
"Benar Paman. Aku tidak bisa berlama-lama disini karena hanya akan membuat mereka menjadi tidak nyaman."
Samuel mengangguk paham. Memang hubungan Sean dengan Keluarga Romanov jauh lebih buruk. Seandainya dirinya bukan suami dari Samantha yang merupakan bagian dari Keluarga Romanov, mungkin ia pun tidak akan diterima dengan mudah.
"Sering-seringlah menghubungi Paman. Jika kau bertugas di LA, berkunjunglah." Samuel menepuk bahu tegap Samuel. Ia kembali harus berpisah dengan Sean yang akan kembali ke Rusia.
"Baik Paman," sahut Sean disertai anggukan kepala. Kemudian tatapannya bergulir menemui Aunty Angela. Wanita paruh baya itu sempat menatap singkat ke arahnya, sebelum Zayn memutuskan kontak mata mereka.
Sean berusaha memaklumi. Terkadang memang sulit untuk menjalin hubungan yang baik jika hubungan itu telah lama tidak bisa diperbaiki. Deru helikopter melengking di udara, baling-baling benda terbang itu menyapu sekitar. Sean, Vin serta putrinya Bianca menaiki helikopter dan meninggalkan Pulau Mustique.
Can pun tengah berpamitan kepada Mike yang merupakan teman baiknya.
"Aku akan mengabarimu." Can menepuk-nepuk punggung Mike di sela-sela mereka berpelukan.
"Ya, kau harus sering datang mengunjungiku." Pelukan mereka terurai. "Dan jika kau datang ke London bawalah wanitamu," kata Mike memberi saran.
Can terkekeh mendengarnya. Ia lebih tertarik dengan pekerjaan ketimbang wanita yang merepotkan menurutnya. "Baiklah, akan kuusahakan." Akan tetapi ia mencoba menyanggupi. Entahlah, ia tidak terlalu berharap akan ada wanita yang akan mengisi kekosongan hatinya.
Mike mengangguk. Ia mengenal baik Can yang tidak mudah jatuh cinta setelah pengkhianat yang dilakukan wanita di masa lalu Can dan meninggalkan bekas luka yang mendalam.
"Baiklah, jaga kesehatanmu." Mike mengingatkan temannya itu.
"Ehm, kau juga. Sampaikan salamku untuk istrimu. Sebelumnya aku sudah berpamitan dengannya dan sayang sekali istrimu tidak mengantarkan kepergianku," seloroh Can menggoda. Ia menunggu reaksi Mike yang sudah pasti akan meledak tiba-tiba.
"Ck, jangan pernah kau mengharapkan istriku jika kau masih ingin hidup!" Kedua mata Mike memicing tajam, tidak ada keramahan seperti sebelumnya.
Can tergelak. Benar bukan jika Mike akan meledak jika menyangkut istrinya itu. "Just kidding, Dude," sahutnya masih tergelak.
Mike hanya berdehem, ia pun tahu jika Can hanya bercanda saja. Tetapi tetap saja ia tidak terima jika ada pria lain yang mengharapkan istrinya.
Can kemudian melangkah mendekati rekan bisnis Arthur untuk berpamitan. "Mr. Romanov, saya akan sering menghubungi anda. Terima kasih tumpangan kapal pesiarnya." Pria itu tertawa ringan. Meski bukan pertama kali ia menaiki kapal pesiar, tetapi ia sangat puas dengan keseluruhannya. Benar-benar keluarga yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Terima kasih juga karena anda sudah menyempatkan waktu untuk menumpangi kapal pesiar keluargaku." Arthur balas dengan candaan, seperti yang Can lakukan.
Terkekeh dan Can mengangguk. Ia pun segera berlalu dari sana setelah berjabatan tangan dengan Arthur. Sebelum kemudian berlalu. Baru saja melangkah, seorang wanita yang membawa koper menubruknya.
"Ya, tidak masalah. Lain kali berhati-hatilah."
"Baik Tuan." Veronica mengangguk, ia memang kesulitan menderek kopernya di atas kerikil-kerikil. Di tatapnya pria di hadapannya. Berwajah tampan dengan bulu-bulu di sekitar rahang pria itu. Ia merasa tidak asing. "Bukankah kau pria yang tadi malam di Bar?" Ya, ia ingat karena belum begitu mabuk.
Can mengangguk. Ia pun mengenali wanita di hadapannya. "Benar." Dengan memasang wajah datar, Can menyahut. Meski tidak mudah jatuh cinta, sebenarnya Can pria yang ramah. "Saya seperti mengenalimu. Apa Nona seorang model?" tanyanya kemudian dengan menopang dagu, meneliti wajah serta penampilan wanita itu yang tidak asing.
"Benar. Aku Veronica, salah satu model di Romanov Ent," jawabnya.
"Ah...." Can mengangguk mengerti. Pantas saja ia merasa tidak asing. Karena ia sempat melihat majalah yang menampakkan wajah Veronica. "Saya Can Emir Roderick. Senang berkenalan dengan Nona." Ia hanya bersikap ramah seperti biasa yang ia lakukan.
"Senang juga berkenalan dengan Tuan." Veronica seperti tertimpa door prize, ia berkenalan dengan pria tampan yang sepertinya berasal dari keluarga terpandang dan tentunya lebih tampan dari Cade. "Apa Tuan ingin pergi?" Wanita itu memperhatikan jalur Can yang menuju luar gateway.
"Benar. Saya akan kembali ke Istanbul."
"Oh..." Bibir Veronica membentuk bulatan. Ternyata pria di hadapannya berasal dari Timur Tengah. Sayang sekali ia tidak bisa bertemu dengan pria di hadapannya setelah pria itu kembali ke negaranya.
"Tuan, helikopternya sudah datang." Seorang pria berjas rapih menghampiri Can. Sepertinya adalah asisten dari Can.
Can mengangguk, lalu kembali menatap Veronica. "Kalau begitu saya permisi dulu Nona." Setelah berpamitan, Can beserta asistennya segera pergi dari sana.
Sementara Veronica masih menatap jejak bayangan Can yang perlahan menghilang. Perlahan ia tersadar, lalu kembali menderek kopernya dan melangkah lebar. Veronica membiarkan ponselnya berdering, sudah dapat ia tebak jika yang menghubungi dirinya adalah pria bajingan Cade. Karena ia memang sengaja meninggalkan pria itu, kartu akses dengan cap Keluarga Romanov ada padanya, sehingga Cade sudah pasti tidak diizinkan berada di Pulau Mustique tanpa kartu akses.
"Habiskan saja malammu dengan Barbara. Aku tidak membutuhkan pria sepertimu," gerutunya di sepanjang melangkah. Ia berulang kali kesulitan menderek kopernya yang tentu tidak ringan dan sialnya ia masih harus melangkah jauh menuju Villa.
Namun tiba-tiba saja seseorang yang berada di belakangnya menyambar koper miliknya. "Hei, kembalikan koperku!" teriaknya mengayunkan tangan di udara dengan langkah yang mengikuti pria itu.
Napas Veronica terengah-engah, mengejar langkah pria itu tidaklah mudah. "Kau seperti ingin merampok koper milikku. Karena itu aku tidak akan berterima kasih padamu!" Dengan deru napas naik turun, Veronica memelototi pria yang menjulang di hadapannya. Ya, siapa lagi jika bukan Darren.
"Nona menghalangi jalan dan kira-kira berapa lama akan sampai Villa jika membawa koper saja perlu menghalangi jalan seperti itu." Benar. Bahkan Darren sudah bersabar menunggu di belakang wanita itu, tetapi karena terlalu lama sehingga ia memutuskan untuk membantu membawakan koper milik wanita itu.
"Ck, kopernya terlalu besar. Biasanya asistenku yang membawanya, sedangkan Mandy...." Perkataan wanita itu menggantung seketika, ia baru teringat akan Mandy yang sepertinya tertinggal di kapal. "Astaga Mandy, aku melupakan Mandy. Kartu akses ada padaku, kau harus membantuku menemukannya." Veronica heboh dan panik seketika. Bahkan ia mendorong bahu Darren untuk membantu mencari Mandy tanpa menunggu jawaban dari pria itu.
Darren menghela napas kasar. Meski enggan membantu, tetapi entah kenapa ia tetap menyeret langkahnya mengikuti wanita itu? Ada yang salah dengan dirinya.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...