The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bibit Premium



Keesokan harinya


Ruangan bernuansa berwarna putih dengan alat-alat yang memadai terpampang disana lengkap dengan layar monitornya. Siang ini Arthur dan Helena berada di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan USG. Tadi pagi Helena diperiksa oleh Dokter Frans, dokter pribadi Keluarga Romanov yang merupakan teman dari Xavier dan juga merupakan ayah dari Dokter Oscar.


Arthur berada di sisi brankar, menuruti permintaan sang istri yang tidak ingin berjauhan dengannya. Helena seperti tengah tegang, terlihat tangannya yang menggenggam erat tangan Arthur.


Dokter Yohana hanya mengulum senyum. Ia sudah terbiasa mendapati ibu hamil yang gugup sekaligus tegang di masa kehamilan pertama.


"Maaf Nyonya, saya akan mulai pemeriksaannya." Dokter Yohana menyingkap blouse yang dikenakan oleh Helena, lalu mulai mengaplikasikan ultrasound gel pada perut Helena. Gel yang berfungsi sebagai pelumas dan dapat memperjelas segala objek di dalam perut yang kemudian ditangkap oleh alat USG.


Sensasi dingin dan geli di rasakan oleh Helena, terlebih ketika Dokter Yohana menggerakkan alat tersebut di atas permukaan perutnya seperti membentuk lingkaran-lingkaran kecil.


Rasa tidak sabar dirasakan oleh Arthur, ia menatap layar monitor itu dan sesekali bergantian menatap sang istri.


"Bagaimana? Apa sudah terlihat?" Arthur benar-benar tidak sabar dan mendesak Dokter Yohana untuk segera memberitahu mereka. Sejak Paman Frans menjelaskan jika kemungkinan istrinya sedang hamil, ia tidak berhenti berdebar hingga detik ini.


"Wah, selamat untuk Tuan dan Nyonya." Suara Dokter Yohana memecah suasana mendebarkan.


"Jadi istriku benar-benar hamil?" Arthur menyela sebelum Dokter Yohana kembali melanjutkan ucapannya. Ia ingin memastikan lebih cepat.


"Benar Tuan, usia kandungan Nyonya Helena memasuki usia minggu ke-5." Pertanyaan Arthur dibenarkan oleh Dokter Yohana yang mengulas senyum sebagai bentuk turut bahagia.


"Benarkah?" Kedua mata Arthur mengerjap, ia dan Helena saling pandang dan merasa bahagia mendengar penuturan Dokter Yohana.


"Lihatlah ke monitor. Ini bayi-bayi Nyonya." Dan kemudian menunjukkan layar monitornya yang menampakkan dua kantung janin. "Nyonya mengandung bayi kembar."


"Ya Tuhan. benarkah itu Dokter?" Helena berseru tidak percaya. Pandangannya terfokus pada layar monitor, rasa bahagia membuncah di hati Helena. Mengetahui jika dirinya hamil saja sudah membuatnya begitu bahagia dan ditambah dirinya mengandung bayi kembar, ia merasakan kebahagiaan yang berlipat-lipat.


Tidak hanya Helena, Arthur begitu bahagia mendengarnya dan matanya berbinar penuh pada layar monitor. Meskipun ia tidak mengerti dimana letak bayinya yang berada di dalam monitor.


"Honey, kau lihat itu. Kita akan memiliki bayi kembar," seru Helena antusias menatap Arthur.


"Iya Love, aku benar-benar tidak menduganya." Arthur mengecup punggung tangan Helena. "Apa mereka baik-baik saja?" tanyanya kemudian kepada dokter kandungan tersebut. Ia ingin tahu keadaan kedua bayinya yang berada di perut sang istri.


"Bayi-bayi Nyonya dan Tuan baik-baik saja dan masih akan terus berkembang. Saat ini mereka sudah membentuk bagian wajah."


Baik Helena dan Arthur mendengarkan secara seksama penuturan mengenai bayi-bayi mereka. Hingga kemudian Dokter Yohana membersihkan sisa-sisa gel dari permukaan perut Helena.


Dengan di bantu oleh Arthur, Helena membenamkan tubuhnya di kursi. Ia dan sang istri duduk berhadapan dengan Dokter Yohana, dengan meja sebagai pembatas di antara mereka.


"Selama masa kehamilan, tubuh Nyonya Helena akan mengalami perubahan hormon dan akan menyesuaikan diri dengan perkembangan janin. Sehingga Nyonya Helena tidak perlu cemas. Yang terpenting Nyonya tidak boleh stress." Sebenarnya Dokter Yohana ingin menyampaikan perihal nutrisi untuk tumbuh kembang janin Helena, akan tetapi ia telan kembali. Sebab tidak ingin membuat Arthur tersinggung, tanpa diberitahu Arthur sudah pasti akan memastikan nutrisi untuk istri serta bayi kembarnya, itulah yang ada di dalam pikiran Dokter Yohana.


"Baik Dokter, terima kasih." Helena menyahuti.


"Lalu bagaimana jika kami melakukan hubungan suami istri? Apa akan berbahaya untuk kedua bayiku?" Diluar dugaan Arthur bertanya hal yang sensitif seperti itu sehingga membuat Helena menyembulkan rona merah di wajahnya.


Berbeda dengan Dokter Yohana yang tidak merasa risih, sebab kebanyakan pasien memang bertanya demikian agar dapat mengantisipasi hal yang buruk terjadi saat berhubungan intim.


"Tidak masalah jika melakukannya dengan berhati-hati."


Jawaban Dokter Yohana membuat Arthur mengangguk pelan tanpa ekspresi. Ia hanya tidak ingin kedua bayinya dalam bahaya jika dirinya menerjang sang istri. Karena jujur saja dirinya selalu menerjang Helena di setiap kesempatan.


Setelah memberikan edukasi kepada kedua calon Daddy dan Mommy itu, Dokter Yohana tersenyum bangga. Ia tidak menyangka jika kedua pasangan itu terlihat menerima semua nasihat darinya. Berbeda dengan pikirannya sebelumnya yang cemas jika akan membuat Arthur tersinggung.


***


Tautan tangan Arthur tidak lepas dari tangan sang istri sejak mengendari mobil dari rumah sakit hingga kini sudah tiba di Mansion Keluarga Romanov. Keduanya masih berada di dalam mobil dan memandang begitu dalam. Dan entah siapa yang memulai lebih dulu, bibir mereka sudah saling bertautan, menyesap penuh cinta. Hingga kemudian mengakhiri ciuman bibir mereka.


Arthur menempelkan keningnya pada kening Helena dan berbisik, "Terima kasih kau sudah memberiku kebahagiaan yang berlimpah."


Helena adalah wanita yang teramat beruntung, sebab ia adalah satu-satunya wanita yang dapat melihat secara langsung ekspresi Arthur dan ungkapan-ungkapan manis dari bibir suaminya itu.


Sebagai jawabannya, Helena mengangguk haru. "Aku juga sangat berterima kasih padamu, karena kau sudah menjadi cahaya dalam kehidupanku yang sebelumnya gelap. Kau mengubah hidupku menjadi lebih berwarna, kau dan keluargamu menerimaku disaat aku tidak memiliki siapapun." Hal yang sensitif yang selalu membuat Helena menitikkan air matanya. Jika mengingat masa lalunya yang kelam di tengah kesuksesannya menjadi designer tanpa seseorang yang menjadi sandarannya.


"Sshhtt, jangan menangis." Ibu jari Arthur menyeka air mata yang menetes di wajah Helena. "Aku sudah berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis."


Helena tersenyum tipis. "Ini adalah air mata bahagia. Karena aku sangat bahagia. Terima kasih." Wanita itu menghambur ke dalam pelukan Arthur yang tentu saja dibalas oleh Arthur. Tangan besarnya mengusap punggung Helena dan menyelipkan kecupan di puncak kepala sang istri.


Helena mengangguk malu. Sebelum kemudian teringat jika mereka masih berada di dalam mobil. "Sebaiknya kita segera masuk, Mommy dan Daddy pasti menunggu kita."


"Kau benar." Mengusap lembut pipi Helena, sebelum keduanya turun dari mobil dan melangkah panjang memasuki Mansion.


"Helen... Ar.... Bagaimana keadaan putri Mommy?" Mommy Elleana yang menyadari kepulangan putra serta putri menantunya segera berlari kecil dari arah dapur menuju ruang tamu.


"Aku baik-baik saja, Mom." Helena menjawab dengan seulas senyum yang cukup menggambarkan perkataannya.


"Ah, syukurlah." Terdengar napas kelegaan dari bibir Mommy Elleana. "Lalu bagaimana hasilnya? Apa Helen benar-benar hamil?" tanyanya tersirat rasa tidak sabar.


Helena dan Arthur berpandangan sejenak, sebelum akhirnya keduanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Benar. Aku benar-benar hamil dan Mommy akan segera menjadi granny," tutur Helena memperjelas.


"Astaga, Ya Tuhan. Benarkah? Aku benar-benar akan menjadi Granny? Kyaaa.... Mommy benar-benar bahagia mendengarnya." Mommy Elleana memeluk sang menantu penuh kasih sayang. "Terima kasih sayang, terima kasih kau sudah melengkapi keluarga kita." Lalu segera mengurai pelukannya. Dan beralih pada putra sulungnya.


"Ar...." Mommy Elleana tidak dapat mendeskripsikan kebahagiaan saat menatap sang putra. Ia begitu bahagia, putra kecilnya yang selalu ia timang dulu sudah akan menjadi seorang ayah. Ia memeluk Arthur disusul dengan air mata yang menetes tanpa permisi. "Kau akan menjadi seorang Daddy. Mommy Benar-benar bahagia."


Arthur tersenyum, ia mengusap lembut punggung Mommy Elleana dan melabuhkan kecupan singkat di puncak kepala Mommy-nya. Mommy Elleana segera mengurai pelukan mereka sembari menyeka air matanya.


Mendengar suara kehebohan di ruang tamu, Daddy Xavier yang baru saja menuruni tangga bergegas menghampiri mereka. "Ada apa? Apa yang terjadi? Apa menantu kita baik-baik saja, Sweety?" tanyanya saat sudah berada di sisi sang istri.


"Ternyata kau benar-benar sudah menjadi sangat tua, Hubby."


"Apa maksudmu Sweety? Kenapa tiba-tiba mengataiku tua?" Daddy Xavier yang tidak terima merengkuh tubuh istrinya dan memberikan cubit kecil di hidung Mommy Elleana.


Mommy Elleana terkekeh. Dan mereka tidak canggung mengumbar kemesraan di hadapan Arthur serta Helena. Karena siapapun yang berada di Mansion sudah terbiasa melihat kemesraan mereka.


"Dengar baik-baik Hubby." Mommy Elleana melepaskan rengkuhan sang suami, membuat Daddy Xavier bersiap untuk mendengarkan perkataan istri tercintanya. "Kau akan menjadi Granpa dan aku akan menjadi Granny."


"Maksudmu?" Xavier belum paham sepenuhnya. Namun detik kemudian kedua matanya membesar sempurna. "Helen benar-benar hamil? Putraku yang dingin berhasil mencetak gol?" serunya tidak percaya. Ternyata Arthur tidak mengecewakan. Ia melirik ke arah sang putra yang menatapnya penuh protes.


Mendengar perkataan Daddy Xavier, Mommy Elleana memukul dada bidang suaminya itu. "Ck, kau ini."


Daddy Xavier terkekeh. Ia sangat senang mendengar berita kehamilan menantunya, sehingga pandangannya beralih pada Helena. "Selamat putriku," ucapnya memberikan selamat dengan ciri khasnya. "Dan Ar, Daddy benar-benar bangga padamu." Lalu mendekati Arthur untuk memeluk putranya itu, lalu bergantian memeluk Helena. Hanya pelukan singkat saja, sebab ia berpikir tidak ingin membuat istrinya cemburu.


"Terima kasih Dad..." sahut Arthur dan Helena bersamaan.


"Ah, kalau begitu aku akan menyampaikan berita bahagia ini pada keluarga besar kita. Mommy juga akan menghubungi Elie dan Mike untuk datang ke Mansion. Kita akan makan malam bersama untuk merayakan kehamilan Helen." Mommy Elleana nampak heboh dan begitu tidak sabar. Ia berlari kecil untuk mengambil ponselnya di dalam kamar, lalu kembali lagi ke ruang tamu.


Helena tidak menduga jika kehamilan pertamanya ini akan disambut antusias oleh kedua mertuanya. Ia benar-benar beruntung menjadi bagian dari Keluarga Romanov.


"Mom... Dad... dengarkan aku baik-baik." Suara Arthur membuat kedua orang tuanya menoleh bersamaan. "Kalian tidak hanya akan memiliki cucu satu tetapi dua sekaligus."


"Maksudmu?" Mommy Elleana mengernyit bingung.


"Helen hamil kembar, itu artinya kalian akan memiliki dua cucu." Arthur memperjelas dengan singkat.


"Benarkah? Benarkah? Ya Tuhan, Mommy benar-benar bahagia." Mommy Elleana berjingkrak kecil. Andai saja ia masih muda, mungkin akan salto untuk menjabarkan kebahagiaannya.


"Hahaha keturunanku benar-benar bibit premium," seloroh Daddy Xavier disertai gelak tawanya. Bibit yang ia tinggalkan di dalam rahim sang istri membentuk bayi kembar dan kini menantunya pun mengandung bayi kembar. Luar biasa.


To be continue


Haii... ya ampun, Yoona benar-benar minta maaf baru bisa up lagi.... tolong dimaafkan ya hoho 🤭 Yoona itu lagi minum obat terus, efeknya bikin ngantuk, semoga bisa up terus ya ❤️



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...