
Bukankah sebelumnya ia baik-baik saja. Tetapi kenapa tiba-tiba saja kepalanya terasa berat dan tubuhnya terasa aneh. Ada apa dengannya? Apa ia sudah mabuk? Tapi tidak mungkin, champagne yang ia pesan hanya memiliki kadar alkohol 10% saja.
Ya, Veronica berjalan gontai melintasi kerumunan orang-orang di dalam Bar. Wanita itu berulang kali meringis dan menyentuh kepalanya yang terasa pusing seketika. Hingga pada akhirnya ia berhasil keluar Bar dan bersandar pada dinding di luar Bar.
"Sshhhh......" Veronica kembali meringis. Ia merasakan pusing dan panas pada sekujur tubuhnya. "Ada apa denganku? Aneh sekali, tidak biasanya aku seperti ini hanya karena minum satu botol champagne." Diam selama beberapa saat, ia mencoba untuk merogoh ponsel dan mencoba menghubungi Larry. Ia berharap Larry akan menjawab panggilannya dan segera menjemput dirinya.
Namun sialnya berulang kali menghubungi, Larry tidak menjawab panggilannya. "Larry, awas saja jika kau mencariku, aku tidak akan peduli."
Kesal tentu saja. Saat ini ia sangat membutuhkan pertolongan, tetapi mengingat dirinya berada di Bristol sehingga kesulitan menghubungi teman-temannya yang lain. Di saat seperti ini, ia pun menyesal menyuruh Leyla kembali ke London terlebih dulu bersama staf-staf yang lain.
Veronica tidak menyerah begitu saja, ia mencoba untuk menghubungi Larry kembali, tetapi karena tidak kuasa menahan bobot tubuhnya sendiri sehingga ia menjatuhkan ponselnya tepat di bawah kakinya. Jika dalam keadaan normal, wanita itu sudah pasti akan mengumpat. Tetapi saat ini ia lebih memilih diam dan menunduk untuk mengambil ponselnya dan berhasil, ponselnya sudah kembali dalam genggamannya. Akan tetapi tubuhnya kehilangan keseimbangan dan limbung ke samping.
BRUG
Seseorang dengan sigap menangkap tubuh Veronica. "Ada apa denganmu, Vero?" Pria itu sudah menarik Veronica ke dalam dekapannya.
"Cade, lepaskan aku." Sadar jika pria yang membantu dirinya adalah Cade dan saat ini ia berada di dalam dekapan pria itu, Veronica mencoba memberontak dengan mendorong Cade agar menjauh darinya.
"Dalam keadaan seperti ini kau masih menolakku." Cade tersenyum masam. Bukankah akan lebih baik jika wanita itu menurut saja padanya?
"Apa maksudmu?" Veronica berhasil melangkah mundur. Ia menyentuh kepalanya kembali. Oh tidak, ia merasa tubuhnya berdesir hanya karena melihat wajah tampan Cade.
Sial. Kenapa aku merasa Cade menjadi lebih tampan dan seksi?
Ya, Cade memang mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga mencapai sikut dan membiarkan kancing kemejanya terbuka. Memperlihatkan dada bidangnya yang pernah ia jamah saat mereka masih bersama.
"Vero...." Cade melangkah mendekati wanita itu. Diam-diam ia menyelipkan senyum penuh arti ketika ia melihat Veronica dalam keadaan bergairah. "Jangan keras kepala. Lihatlah kondisimu sudah seperti ini." Dan ia berhasil menjangkau tangan Veronica. Menarik wanita itu masuk ke dalam dekapannya dan tanpa disadari jika ponsel wanita itu terlempar entah kemana.
Karena tubuhnya semakin terasa panas. Veronica tidak kuasa hanya sekedar mendorong Cade. Wanita itu merasakan pusing dan panas bersamaan. Terlebih ketika aroma parfum Cade yang menyeruak di indera penciumannya membuat Veronica seakan hilang kesadaran saat itu juga.
Mendapati Veronica yang sudah tidak lagi memberontak dan diam di dalam kungkungan dekapannya, Cade dengan seringai senyumnya memberikan sentuhan pada rambut panjang wanita itu yang terurai indah.
Dihirupnya aroma tubuh Veronica yang membuatnya semakin tidak tahan. Ia merasa begitu bodoh lantaran dahulu menyia-nyiakan wanita secantik Veronica.
"Malam ini kita akan bersenang-senang, sayang. Kau akan menjadi milikku."
Tubuh Veronica meremang ketika hembusan napas Cade menyapu lehernya. Bisikan pria itu seolah membangkitkan gairah yang selama ini terpendam.
"Tidak, aku...." Veronica tidak mampu berkata. Aliran darahnya berdesir hebat. Sungguh, ia ingin sekali disentuh. Tetapi ia masih menahan diri agar tidak terbawa dengan gairah yang entah kenapa menguasai. "Me-menjauhlah dariku....." Dengan napas yang tersengal-sengal, Veronica yang masih dalam keadaan sadar mencoba untuk meloloskan diri.
"Tidak akan sayang. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Kau hanya akan menjadi milikku." Suara Cade terdengar serak. Ia semakin merapatkan tubuh wanita itu di dadanya. Sudah sejak tadi ia menahan gairahnya setengah mati. Tubuh Veronica benar-benar sangat seksi dan ia ingin menerkam sekarang juga jika saja ia tidak ingat dimana mereka berada saat ini.
"Aku sudah menyiapkan tempat spesial untuk kita melewati malam yang panjang."
Veronica yang sudah tidak terkendali lagi, hanya menggelinjang. Wanita itu merasa gusar karena tubuhnya panas tak tertahankan. Berhubung mobil Cade berada tidak jauh dari posisi mereka, pria itu menggiring Veronica untuk masuk ke dalam mobil.
"Tenanglah sayang. Sebentar lagi kau akan aku puaskan." Cade berusaha menenangkan Veronica yang menolak untuk masuk ke dalam mobil. Ia tidak menyangka jika wanita itu begitu kuat menahan gairahnya.
"Ti-tidak Cade. Biarkan aku pergi." Meskipun gairahnya semakin meningkat, ia berusaha untuk tidak membiarkan Cade menyentuhnya.
Cade terkekeh. Sekuat apapun Veronica memberontak, tetapi tetap ia yang menang. Terbukti ia berhasil memasukkan Veronica ke dalam mobilnya meskipun dengan paksaan.
Dengan cepat Cade masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Bar. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ia tidak sabar untuk segera sampai di tempat tujuannya.
"Jangan banyak bergerak sayang." Cade memprotes ketika Veronica terus saja bergerak gelisah.
"Berengsek. Cepat turunkan aku, Cade!" Dan sepertinya Veronica sedikit bisa mengatasi panas di dalam tubuhnya. "Katakan padaku, apa yang kau masukan ke dalam minumanku?!" Ya, ia masih mengingat saat mereka bersulang dan tanpa curiga ia meneguk minuman itu.
Tawa Cade meledak. Ia mengakui pertahanan diri Veronica yang masih bisa menahan siksaan obat yang ia berikan. Benar, ia memang memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Veronica. And see, wanita itu sudah bergairah. Obat itu akan menyiksa jika wanita itu tidak mendapatkan pelepasannya.
"Tenang sayang, aku hanya memberikan obat agar kita bisa bercinta sepuasnya," ujar Cade memberitahu dengan santai. Seolah apa yang ia lakukan adalah tindakan wajar, agar mereka bisa bercinta sepuasnya.
Veronica menggeleng. Meskipun tubuhnya tersiksa, tetapi ia tidak ingin disentuh oleh Cade. Terlebih bercinta dengan pria itu. Kemudian Veronica mencoba untuk membuka pintu mobil, tetapi percuma saja pintu terkunci dan Cade-lah pemegang kendalinya.
"Bajingan kau, Cade!" Sebelum obat itu benar-benar menghilangkan kesadarannya dan ia bisa saja menyerang Cade, Veronica menarik kemudi ke kiri agar mobil yang dikemudikan oleh Cade segera menepi.
"Sialan! Apa yang kau lakukan, hah?!" Cade mendorong tangan Veronica agar menjauh dari kemudinya. Nyaris saja mobilnya kehilangan keseimbangan.
"Turunkan aku...." Sungguh Veronica benar-benar tidak kuat lagi. Ia ingin menyentuh dan disentuh.
"Cade!" Namun Veronica yang sudah tidak tahan menarik kembali tangan Cade.
"Vero, kau benar-benar memaksaku untuk bertindak kasar padamu!" Cade yang sudah geram sekaligus berselimut gairah, menghentikan laju mobilnya.
"Ini yang kau inginkan, bukan?" Dan Cade mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Veronica yang berangsur mundur. Tetapi sialnya punggungnya terpojok oleh pintu mobil.
Veronica menjauhkan wajahnya ketika wajah Cade berada dalam jarak dekat. Ia tidak ingin Cade menciumnya. Tidak akan.
"Ayolah Vero sayang, biarkan aku mencicipi bibirmu lagi seperti dulu."
Veronica tetap bertahan, ia menyembunyikan wajahnya. Ah, sial. Tubuhnya semakin merasa panas. Sehingga pada saat dirinya lengah, Cade berhasil menangkup wajah Veronica.
"Kau milikku sayang. Kau milikku." Cade langsung menyerang bibir Veronica. Sia-sia saja wanita itu memberontak, karena tenaga Cade sangat kuat.
Bibir Cade sudah berhasil menyentuh bibir Veronica, lalu mulai melummat bibir wanita itu dengan perlahan dan kemudian sedikit liar. Namun seketika.....
BRAK
Sebuah mobil menghantam mobil Cade. Hingga membuat mobilnya terguncang dan bergeser dari posisi sebelumnya.
"Argh, sialan!" Cade mengusap wajahnya dengan kasar. Baru saja ia menikmati bibir Veronica, gangguan sudah datang lebih dulu.
PRANG
Baik Cade dan Veronica terkejut ketika seseorang memecahkan kaca mobil yang seolah setipis tissue itu. Dengan mudahnya kaca mobilnya di pecahkan. Dan seseorang itu membuka pintu mobil, lalu menarik paksa Cade keluar dari mobil.
"Berengsek!!!" Tentu Cade tidak terima tubuhnya di tarik paksa begitu saja.
BUGH
BUGH
BUGH
Namun pria yang menariknya itu tidak membiarkan Cade untuk memberontak dan berulang kali melayangkan tinjunya di wajah Cade, hingga membuat Cade jatuh tersungkur ke aspal dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar.
Cade mendongak dan melihat siapa pria yang sudah menghajarnya. "Kau???" Ia sungguh tidak menyangka jika pria itu berada disini. Pria yang merupakan kekasih Veronica.
Pria itu melayangkan tajam selama beberapa saat, sebelum kemudian berkata, "Bereskan dia!"
Perintahnya itu tentu saja ditujukan untuk beberapa anak buahnya disana. Yang segera diangguki oleh mereka. Membuat Cade bergidik ngeri lantaran beberapa pria berjalan mendekat ke arahnya.
Sedangkan pria itu meninggalkan Cade yang tengah dihajar oleh beberapa anak buah. Ia melangkah mendekati mobil, membuka pintu mobil dan menarik wanita itu keluar dari sana.
"Da-Darren.... Benarkah ini kau? Aaahh..." Terdengar desahaan di akhir kalimat Veronica.
Namun Darren tidak memberikan respons apapun. Hanya menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebelum kemudian ia membopong wanita itu di pundaknya dan memasukkannya ke dalam mobil. Darren segera meninggalkan Cade yang masih diberikan pelajaran oleh beberapa anak buah.
To be continue
Bang Darren
Cade Voghan
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...