The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bawa Aku Pergi Bersamamu



Beberapa minggu kemudian, perilaku Licia benar-benar berbeda hingga 180 derajat. Gadis yang sebelumnya sangat penurut dan menghormati kedua orang tuanya kini menjadi begitu membangkang, sehingga membangkitkan kemarahan Daddy Zayn yang tertahan belakangan ini akibat perilaku putrinya.


"Licia, masuk ke dalam kamar sekarang juga!" Sungguh Daddy Zayn murka, urat-urat yang menonjol di sekitar wajah menandakan ia begitu marah besar.


"Tidak! Daddy jahat. Kenapa Daddy ingin mengurungku?!" Kedua mata Licia memerah, ia menahan tangis karena perlakuan Daddy-nya.


"Jangan bicara omong kosong lagi. Kembalilah ke kamarmu!" Apapun yang dikatakan oleh putrinya, Daddy Zayn tidak mau tahu lagi, sudah cukup ia mentolelir sikap putrinya itu. Jika saja bukan putrinya sudah pasti gadis itu akan menerima hukuman cambuk atau mungkin lebih dari itu.


"Tidak! Daddy tidak sayang padaku. Kalian tidak sayang lagi padaku!" Licia meraung dan mengusap lelehan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


Mommy Angela sungguh tidak tega melihat putrinya meraung seperti itu. Sejak tadi ia ingin memisahkan, akan tetapi ia tidak ingin membuat kemarahan Zayn kian menjadi.


"Licia, Mommy dan Daddy selalu sayang padamu." Sebisa mungkin Mommy Angela memberikan pengertian. Selama mengasuh putrinya hingga sang putri berusia 22 tahun tidak pernah sekalipun putrinya itu bersikap kekanak-kanakan. Licia termasuk putri yang mandiri meskipun dilimpahkan banyak uang. Tetapi lihatlah, belakangan ini Mommy Angela seperti kehilangan sosok putrinya yang sebelumnya berperilaku dewasa.


"TIDAK! KALIAN TIDAK SAYANG PADAKU! LEBIH BAIK AKU PERGI DARI SINI!" Licia yang benar-benar sudah kehilangan jati dirinya, berteriak mengutarakan niatnya. Ia sudah merasa sangat asing berada di kediaman mewah, tetapi membuatnya begitu sesak.


"LICIA!!!" Zayn geram. Tangannya terangkat, nyaris memukul wajah putrinya. Tetapi beruntung ia bisa menahan sekuat tenaga dan hanya menatap nyalang putrinya. "MASUK KE DALAM KAMAR ATAU AKU SENDIRI YANG AKAN MENYERETMU!"


Licia sesenggukan. Tidak hanya kepalanya saja yang sakit, ia merasa sekujur tubuhnya terasa sakit dan semakin lama semakin sulit untuk ia kendalikan. Karena ia merasakan aura kemarahan yang begitu besar dari Daddy-nya, sehingga ia memutuskan berlari menaiki tangga menuju lantai kamarnya.


Mommy Angela tak hentinya menangis. Bukan seperti ini keluarga yang ia inginkan. Kemana perginya kehangatan keluarganya yang sebelumnya menyelimuti Mansion mewah mereka.


Baru saja Mommy Angela hendak mendekati Zayn, seketika ia terperanjat kala menyaksikan Zayn meninju dinding.


"ZAYN, HENTIKAN!" Mommy Angela berteriak histeris. Ia segera mendekati suaminya yang mengamuk. Sudah cukup putrinya yang berubah, ia tidak ingin suaminya kembali seperti dulu.


Sekuat apapun ia menarik bahu Zayn, ia tetap tidak bisa menghentikan perbuatan suaminya itu. Darah sudah merembas hingga ke lengan dan bahkan dilantai. Tubuh Mommy Angela benar-benar merinding sekaligus ketakutan secara bersamaan.


"Zayn, kumohon hentikan." Namun percuma saja, suara lirih sang istri, tetap tidak membuat Zayn sadar apa yang tengah dilakukannya.


"MOM, APA YANG TERJADI?!" Mendengar teriakan dan suara kegaduhan dari dalam, Jacob berteriak padahal batang hidungnya belum kelihatan, hanya suara yang menggelegar itu yang memenuhi telinga.


Hingga kemudian sosok Jacob terlihat memasuki Mansion dengan langkah tergesa-gesa dan cemas. Disusul langkah Austin dan Roy yang juga berjalan dengan langkah cepat.


Sosok Zayn yang tengah mengamuk menjadi pusat perhatian ketiganya yang benar-benar dibuat terkejut. Ada apa? Apa yang terjadi?


"Mom...." Jacob meminta penjelasan kepada Mommy-nya itu.


"Jac... tolong hentikan Daddy-mu," ucap Mommy Angela lirih. Kemudian ia melihat keberadaan Roy di belakang sang putra. "Roy, hentikan Zayn. Kumohon."


Tanpa menjawab, Roy segera mendekati Zayn dan berusaha untuk menghentikannya. "Zayn, hentikan! Kau membuat istrimu ketakutan!" Ia menarik bahu kekar Zayn, tidak peduli dirinya yang mendapatkan hantaman sekalipun.


"AARRGHH SIALAN. Biarkan aku membunuh pria sialan itu!" Sepertinya Zayn baru sadar siapa yang tengah ia hajar, akan tetapi ia justru semakin mengamuk dan menyahut kerah pakaian Roy. "Apa kau tau Roy, aku baru saja ingin menampar putriku, aku baru saja berpikir ingin membunuh putriku sendiri!"


Roy terhenyak mendengarnya. Ia benar-benar tidak menduga jika Zayn akan kembali ke sisi yang mengerikan, bahkan berpikir untuk membunuh putrinya sendiri.


Sedikit meringis akibat pukulan Zayn, akan tetapi ia mengabaikan luka lebamnya itu. "Kau harus tenang, Zayn. Kau sudah benar karena bisa mengendalikan dirimu." Roy kemudian mengenyahkan tangan Zayn dari kerah pakaiannya. Lalu menepuk-nepuk wajah Zayn agar segera tersadar. "Jangan seperti ini, apa kau tidak kasihan melihat istrimu, heh?! Dia sangat ketakutan melihatmu seperti ini."


Mata Zayn yang semula memancarkan amarah yang mendalam. Kini melihat ke arah istrinya yang menangis di dalam dekapan Jacob. Tatapannya mulai melunak, sungguh ia tidak bermaksud membuat sang istri menangis dan ketakutan seperti itu.


Namun tangis Mommy Angela justru semakin menjadi, alih-alih merenda. Hingga kemudian Zayn menarik istrinya itu dari dekapan Jacob dan membawanya ke dalam pelukannya.


Mommy Angela terisak. Sebagai seorang ibu, tentunya ia merasa sakit hati ketika suaminya sendiri memiliki pikiran untuk membunuh putri mereka, buah cinta mereka.


"To-tolong, jangan membunuh putriku. Jangan pernah berpikir jika kau akan membunuh putri kita. Dia hanya sedang tersesat, kita hanya perlu mengingatkannya dan bersamanya, hikss hiks...." Tangis Mommy Angela semakin mengisak. Ia mengeratkan pelukannya disertai permohonan yang benar-benar tulus.


"Tidak sayang. Maafkan aku, aku tidak akan pernah membunuh putriku, aku tidak akan sanggup. Maafkan aku." Tak terasa Zayn menjatuhkan air matanya. Ia mengecupi puncak kepala istrinya itu, berharap yang dikatakannya akan membuat istrinya berhenti menangis.


Jacob merasa miris melihat keadaan keluarganya yang semakin hari, semakin kehilangan kehangatan dan hal itu dikarenakan perubahan sikap Licia belakangan ini. Sudah hampir satu bulan Licia menjadi pembangkang, sehingga itulah yang membuat Daddy-nya kehilangan kendali. Tatapan Jacob kemudian bersirobok dengan Austin, temannya itu juga memancarkan kegetiran. Tetapi ia bisa melihat kegeraman di wajah Austin serta kedua tangan yang mengepal di kedua sisi pahanya.


Jacob segera mendekati Austin, ia pun menatap sang paman yang mendapatkan luka lebam di wajah. "Aku bersumpah akan mencari si berengsek itu sampai ke dasar neraka sekalipun!" Meski tidak yakin apa yang diperbuat oleh Maxime, tetapi ia dan Austin sangat yakin jika perubahan Licia dikarenakan bajingan itu.


"Paman akan membantu kalian. Tapi sebaiknya kau bantu Mommy-mu untuk mengobati luka Daddy-mu. Paman akan menghubungi dokter untuk datang kemari," kata Roy menepuk bahu Jacob. Yang lebih penting saat ini adalah mengobati luka Zayn dan luka lebam di wajahnya. Setelahnya mereka akan berdiskusi bersama.


Jacob mengangguk, hingga kemudian melesat mendekati Mommy serta Daddy-nya.


"Mom, sebaiknya kita obati luka Daddy lebih dulu."


Mommy Angela segera tersadar. Ia baru teringat jika punggung tangan Zayn terluka dan mengeluarkan banyak darah. Dengan napas tersengal-sengal, Mommy Angela mengangguk. Dengan bantuan Zayn serta Jacob, ia di papah oleh kedua pria yang dicintainya itu. Tubuhnya begitu lemas karena belakangan ini ia memikirkan putrinya hingga tidak bernapsu untuk mengisi perutnya dengan makanan apapun.


Sementara Austin yang ditinggal seorang diri disana, ia memutuskan untuk melihat keadaan Licia. Ia yakin jika semua yang terjadi bukanlah keinginan gadis itu. Hanya saja entah apa yang membuat Licia begitu berubah dan tidak mempercayai dirinya dan bahkan kedua orang tuanya sendiri. Larut dalam lamunannya, hingga langkahnya tertahan ketika ia sudah berdiri tepat di depan pintu kamar Licia. Ia ingin mengetuk pintu, akan tetapi ia urungkan sejenak.


"Hikss, aku akan pergi dari sini. Aku akan pergi dari sini. Tolong bawa kemanapun aku pergi."


Keningnya berkerut samar ketika mendengar suara Licia di dalam kamarnya, yang seperti tengah berbicara dengan seseorang.


"Aku takut, aku tidak ingin berada disini lagi. Bawa aku pergi bersamamu."


Karena tidak tahan lagi mendengar Licia memohon yang entah kepada siapa, Austin segera membuka pintu dengan kasar. Dan apa yang dilihat oleh matanya membuatnya terkejut setengah mati.


"LICIA!!!!" Ia melesat cepat menuju balkon dan menarik Licia dari sana.


Keduanya terjerembab di lantai, tetapi setidaknya Austin berhasil menggagalkan aksi Licia yang baru saja ingin melompat. Jika saja ia terlambat satu detik, sudah dipastikan tubuh Licia akan berada di bawah sana dengan bersimbah darah.


To be continue


Memang rada-rada gemes sih, tapi begitulah konfliknya. Nanti akan indah pada waktunya kok hihihi 🤭


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...