The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Kecurigaan Arthur



Arthur tengah mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang. Tepat di ujung jalan sana, ia menginjak pedal rem karena sudah tiba di tempat tujuannya. Namun ia tidak bergegas keluar dari mobil dan hanya bertopang dagu pada stir kemudi. Matanya bergulir keluar jendela, mencari keberadaan seseorang yang tidak kunjung terlihat.


Tok


Tok


Ketukan dua kali pada kaca mobil membuatnya menoleh seketika. Lantas buru-buru Arthur keluar dari mobil dan mengikuti langkah pria itu yang sudah lebih dulu mengayunkan langkah menjauh dari mobil.


Langkah mereka kemudian terhenti tepat di depan sebuah bangunan Eropa kuno bertingkat dengan model jendela yang seragam. Terdapat beberapa bangunan yang dihuni disana dengan atap meruncing dan lantai-lantai yang bersusun sejajar. Nampak sunyi karena hanya kalangan biasa saja yang menempati bangunan tersebut.


"Bagaimana? Apa kau menemukan bukti yang lain disana?" Arthur melayangkan pertanyaan kepada pria di hadapannya dengan jas yang membalut tubuh tingginya. Pria tersebut memang nampak lebih tinggi 2 sentimeter dari Arthur yang hanya memiliki tinggi 186 sentimeter.


"Hem, kecurigaanmu benar. Perusahaan itu menerima suntikan dana yang besar dari biasanya. Tidak hanya perusahaan itu saja, Glory Ent juga menerima dana dengan jumlah yang besar."


"Kalau begitu kau tetap awasi pergerakan mereka selama mereka belum mencurigaimu Chris," ucap Arthur.


Pria yang di panggil Chris mengangguk. "Kau tenang saja, aku bermain sangat baik. Mereka tidak akan pernah menyangka jika ada penyusup yang masuk di perusahaan mereka," ujarnya.


"Dan satu hal lagi, aku mendengar jika beberapa model menghilang saat pemotretan diluar kota. Keluarga korban tidak bisa melaporkan karena mereka tidak memiliki bukti dan hanya menerima kompensasi sebesar 5 Milyar. Kasus hilangnya beberapa model hanya para petinggi di sana saja yang mengetahuinya. Mereka sangat pandai menyembunyikan bangkai," sambungnya kemudian menyampaikan apa yang ia dapatkan. Ya, Chris adalah mata-mata bayangan yang dijuluki seribu wajah. Karena selalu berpenampilan berbeda setiap kali mendapatkan tugas, salah satunya menjadi karyawan di Perusahaan Born Group. Terkadang Chris juga menyamar menjadi mahasiswa, penjaga kebun, bahkan gelandangan sekalipun.


Arthur nampak menyeringai. "Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium juga."


"Kau benar Ar." Chris mengangguk setuju. "Tapi kau setidaknya bisa merasa lega karena adikmu sudah keluar dari agensi kecil itu."


"Tapi aku sangat yakin jika selama ini mereka juga mengincar Elie." Sebenarnya Arthur belum mengumpulkan bukti keterlibatan Tuan Alan Born Yanga bekerjasama dengan salah satu organisasi mafia. Tetapi sejak ia mengetahui jika ada seseorang yang selalu memantau adik kembarnya itu, ia menyimpulkan demikian.


Chris terdiam, nampak jelas jika pria itu tengah berpikir. "Aku akan menggali lebih dalam lagi. Tidak mungkin mereka tidak meninggalkan sedikit jejak sedikitpun." Selama bekerja sebagai mata-mata bayangan, Chris selalu menemukan jejak sekecil apapun. Sehingga ia sangat yakin jika kali ini dirinya juga akan menemukan titik terang mengenai konspirasi salah satu perusahaan Keluarga Born yang selama ini berkedok sebagai agensi.


"Lakukan jika ada kesempatan Chris, jangan ceroboh!" Arthur memperingati dengan tegas.


"Tentu..." sahutnya. "Lalu apa yang kau benar-benar ingin menarik kerja sama perusahaan kalian?"


"Tidak. Aku memiliki permainan yang bagus," katanya. "Melanjutkan kerja sama dan membiarkan pria tua itu berada di atas angin dan boom aku akan menjatuhkan perusahannya." Nampak seringai senyum tersemat di wajah Arthur.


Kepala Crish mengangguk, ia sudah tidak heran lagi dengan cara berpikir Arthur yang menjatuhkan lawannya dengan cara bermain otak, membuat lawannya berada di atas angin terlebih dahulu. Sebelum kemudian menghempaskannya secara tiba-tiba.


Keduanya saling diam selama beberapa saat. Namun ketajaman insting Arthur menangkap jika ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


Ekor matanya bergulir ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan seseorang yang rupanya telah mengintainya serta Chris.


Chris paham dengan apa yang dirasakan oleh Arthur, membiarkan Arthur mengurusi tikus bodoh itu. Benar saja sebuah pisau lipat dikeluarkan oleh Arthur dari saku jasnya. Pisau itu terlihat mengkilat menampakkan seberapa tajam benda tersebut. Hingga Arthur memutar tubuhnya tepat di arah jam 9, sebelum kemudian melemparkan pisau tersebut dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Jleb


Pisau miliknya melayang tepat sasaran, seseorang yang bersembunyi di balik pohon dan memekik kesakitan itu tidak berhasil melarikan diri karena lebih dulu dihantam oleh pisau tersebut.


Baru saja Chris hendak mengejar, pria itu sudah lebih dulu lenyap dari pandangan mereka.


"Kenapa kau ceroboh Crish?! Apa kau tidak sadar jika sedang diikuti?!" seru Arthur menghardik. Baru saja diingatkan dan kini seseorang sudah diam-diam mengintai dirinya serta Chris


Chris mengedikkan kedua bahu, sedikit menarik sudut bibirnya. Sangat berbahaya menurutnya jika Arthur dalam keadaan mood marah.


"Kali ini aku ceroboh. Sorry...." Ya, memang ia salah karena tidak menyadari jika ada seseorang yang mengikuti mobilnya.


Arthur mendesahkan napas kasar. "Jika kau sudah diikuti seperti ini, sudah pasti mereka mengetahui identitasmu. Itu sangat berbahaya untukmu Chris."


"Tenang saja, aku masih bisa mengatasinya. Yang terpenting pria itu tidak melihat wajahmu Ar." Karena posisi Arthur sedikit membelakangi pria tesebut sehingga hanya Chris yang terlihat cukup jelas.


"Katakan kepadaku jika kau dalam bahaya!" tukasnya. Apa yang Arthur tugaskan sangat berbahaya, karena ia langsung menempatkan Chris di dalam sarang musuh. Oleh sebab itu ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada Chris.


"Kalau begitu aku pergi dulu."


"Kau akan ke perusahaan?" tanya Chris.


"Hem...." Dan Arthur menyahut datar sambil berlalu. Chris menggelengkan kepala, pria itu selalu saja datar dan dingin. Mungkin akan berubah jika ada yang berhasil menjinakkannya, pikirnya.


Chris terkekeh, lalu mengekori langkah Arthur. Hingga mereka berdua berjalan bersejajar. Sebelum kemudian saling berjalan berlawanan arah. Arthur berbelok ke kanan sedangkan Chris ke kiri. Pria itu perlu menyusun strategi jika memang para manusia-manusia serakah itu sudah mencurigai dirinya.


***


Begitu tiba di perusahaan, Arthur meluncur menuju ruangannya. Namun baru saja memasuki ruangan, keningnya nampak berkerut dalam tatkala mendapati Darren yang duduk tercenung, seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkan. Bahkan kedatangannya pun tidak dihiraukan oleh asisten sekaligus temannya itu.


"Apa kau ada masalah Der?" Suara Arthur menyentakkan lamunan Darren yang entah sudah berapa lama itu.


"Tidak ada." Darren segera membenarkan letak duduknya. Memusatkan pandangan pada setumpukan yang sejak tadi ia abaikan.


Mata Arthur menyipit tajam, nampak sedikit terheran karena tidak biasanya Darren terlihat tidak semangat seperti itu. "Istirahatlah jika kau memang lelah Der." Hingga Arthur menyimpulkan jika temannya itu sedang merasa kelelahan.


Arthur kemudian membenamkan tubuhnya di kursi kebesaraannya. Ia mengalihkan perhatian dari Darren kepada beberapa dokumen yang di atas mejanya.


"Ar...." Baru saja memulai pekerjaan, suara Darren terdengar memanggil Arthur dengan mendesak tidak sabar.


"Hm...?" Arthur menyahuti dengan deheman.


"Aku merasa ada yang ditutup oleh mereka."


"Siapa?" tanyanya sembari fokus pada dokumennya.


"El, Gav, Lim dan tentu saja adikmu As," sahut Darren.


Mendengar nama-nama para adik-adiknya disebut, Arthur sontak mendongak. "Kenapa dengan mereka?"


Kemudian Darren mulai menjelaskan, tidak dilebih-lebihkan dan tidak kurang. Ia memberitahu apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Setelah jam pulang kantor, kita akan menemui mereka." Tentu Arthur tidak akan tinggal diam jika mereka memang benar-benar mereka telah menyembunyikan sesuatu darinya maupun Darren. Dan sejujurnya ia juga penasaran dengan pria yang bersama Aurelie di supermarket.


Darren mengangguk, hingga kemudian keduanya kembali fokus pada pekerjaan masing-masing. Karena terlalu sibuk, sehingga waktu terasa berjalan begitu cepat. Dan tepat pukul 6 sore, Arthur dan Darren bergegas meluncur menuju penthouse Lion Boys di kota yang tidak jauh dari Oxford University.


Kurang dari satu jam mereka tiba disana, keduanya bersama-sama ingin masuk ke dalam. Namun langkah mereka terpaksa terhenti karena mendengar suara keramaian di dalam sana. Suara beberapa wanita dan beberapa pria terdengar saling beradu tawa.


Arthur dan Darren saling menatap satu sama lain. Sebelum kemudian Arthur membuka pintu yang tidak terkunci hingga pemandangan di dalam membuatnya memasang wajah datar namun sorot matanya begitu mematikan.


"Bos Ar???" Liam yang sudah lebih dulu melihat kedatangan bos mereka, sontak berdiri dan bahkan melempar kaleng soda ke sembarang arah.


"Oh shittt!!" Austin yang berada di lantai atas, berlari menuruni tangga begitu sorot matanya melihat kedatangan Arthur yang tentunya melayangkan tatapan horor.


To be continue


Arthur



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...