
Mobil yang dikendarai oleh Arthur sudah tiba di perbatasan Desa Guiseley. Meskipun jalanan sedikit lebih terjal dan tertutup pegunungan, tidak menyurutkan tekad Arthur untuk menyelamatkan istrinya. Begitu bangunan tua berlantai dua itu terpampang di hadapannya, Arthur segera turun dari mobil. Ia membiarkan lampu mobil tetap menyala sekedar untuk menambah penerangan. Karena jujur saja, minimnya pencahayaan cukup sulit membuatnya membaca pergerakan musuh.
Bak seorang hero yang begitu gagah, Arthur berjalan menuju Markas Kartel Sinaloa dengan mata yang berapi-api. Kedatangannya ternyata disambut dengan sebuah kepungan untuknya. Dari jarak beberapa meter, beberapa anak buah Kartel Sinaloa sudah membaca pergerakan musuh yang terpantau dari CCTV.
Menyunggingkan senyum remeh pada beberapa anak buah Kartel Sinaloa, tidak nampak guratan ketakutan pada di wajah Arthur. Baginya mereka adalah lawan yang mudah. Sebelum anak buah melesatkan peluru, Arthur segera mengambil dua senjata yang ia selipkan di balik celana bagian belakangnya. Lalu menodongkan dua senjata yang berada di tangan kanan kirinya dan mulai menembaki beberapa anak buah Kartel Sinaloa. Beberapa di antara mereka tumbang lantaran terkena timah panas. Sedangkan sisanya lagi menghalau Arthur dengan cara menyerangnya secara bertubi-tubi.
Arthur merunduk untuk menghindari beberapa peluru yang menghantam ke arahnya. Lalu berlari dan menjatuhkan diri, sehingga tubuhnya terseret di tanah dan memudahkannya menembaki beberapa anak buah yang berada di atap bangunan.
Baku tembak semakin sengit. Arthur seorang diri saja mampu menumbangkan beberapa anak buah. Tidak nampak kelelahan sedikitpun, justru terlihat sangat menikmati. Saat ini beberapa anak buah Kartel Sinaloa bergerak mundur, bisa mereka lihat jika sosok Arthur seolah memiliki bayangan singa yang mengikutinya di belakang.
"Bodoh! Cepat tembak lagi!" seru satu anak buah Kartel Sinaloa yang berada di belakang. Entah kenapa tiga rekannya justru terpaku di tempat dan mengurungkan niat untuk kembali menembak.
"Aku baru saja melihat singa berjalan di belakangnya!" salah satu dari mereka menjawab apa yang baru saja lihatnya.
"Ck, jangan berhalusinasi. Cepat tembak!" Tentu saja tidak percaya, bagaimana mungkin di jaman modern seperti ini ada hal yang seperti itu.
Ketiganya segera tersadar. Mungkin mereka hanya salah melihat saja. Mana mungkin melihat sosok singa pada sosok seseorang. Kemudian mereka segera melakukan serangan yang sempat tertunda, yaitu menembaki Arthur dari atap. Bahkan beberapa diantaranya melemparkan granat tepat ke arah Arthur. Namun Arthur yang menyadari jika terdapat granat yang mendekat, segera melompat dan akhirnya terguling di tanah, bersamaan dengan suara ledakan yang menghancurkan mobilnya.
"Damn it!" Arthur meninju tanah. Ia segera bangkit berdiri. Akan tetapi serangan granat susulan kembali menyerangnya hingga membuat Arthur terlempar.
Melihat Arthur yang lengah, satu anak buah Kartel Sinaloa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia menodongkan senjata laras panjang tepat ke arah Arthur, lalu menarik pelatuknya.
Bbrrmmmmmmm
Namun sialnya peluru itu melesat dan anak buah Kartel Sinaloa yang kembali menembaki Arthur dihantam oleh motor yang menerjang bebas di udara hingga membuatnya tersungkur di tanah. Tak lama muncullah satu helikopter disusul beberapa mobil berdatangan. Ya, Black Lion tiba tepat waktu, mereka menembaki para anak buah Kartel Sinaloa dari atas helikopter, sedangkan yang lainnya sudah terlibat baku tembak dengan anak buah Kartel Sinaloa yang saling menghamburkan diri.
"Kau baik-baik saja, Ar?" Darren mengulurkan satu tangannya pada Arthur. Yang segera disambut oleh Arthur.
"Ya, aku baik-baik saja." Arthur menepuk-nepuk bahunya. "Kau urus disini Der. Aku akan masuk dan menemukan istriku!" sambungnya sambil berlalu.
Darren tidak mungkin membiarkan Arthur seorang diri saja. Sehingga ia mengikuti langkah Arthur dan para anak buah Kartel Sinaloa yang menyadari jika Arthur serta Darren ingin masuk ke dalam Markas mereka, mencoba untuk menghalangi. Mereka menembaki Arthur dan Darren. Namun usaha mereka gagal, sebab dari arah berlawanan Lion Boys melepaskan beberapa granat ke sembarang arah.
"Biarkan disini menjadi urusan kami!" teriak segerombol pria yang baru saja datang.
Sejenak Arthur mengurungkan langkah ketika mendapati Austin turun dari mobil. Kemudian ia berdecak kesal karena Austin tidak menuruti perintahnya. Seharusnya adiknya itu beristirahat, karena akibat kecelakaan di Dubai, Austin mengalami patah tulang pada lengan kirinya
Austin menyadari jika Arthur kesal, terlihat jelas pada raut wajah kakaknya itu. Tetapi ia tidak bisa hanya berdiam diri saja, sementara Arthur berjuang untuk menyelamatkan kakak iparnya. Untuk menenangkan Arthur, Austin mengulas senyum, sebagai tanda bahwa dirinya baik-baik saja.
Menghembuskan napas panjang, pada akhirnya Arthur membiarkan adiknya itu. Ia segera melesat masuk ke dalam dan menyusuri lorong. Darren sigap mengekori sembari mengamati sekitar, senjatanya siap membidik jika terdapat sesuatu yang mencurigakan.
Arthur mencoba mencari Helena ke ruangan yang ia jangkau lebih dulu. Tetapi nihil, tidak ada siapapun disana. Di dalam Markas bahkan nampak begitu sepi? Lalu, dimana kiranya bajingan itu menyembunyikan istrinya.
Suara tepukan tangan terdengar menggema di dalam Markas. Satu persatu tiga paruh baya menampakkan diri melalui sebuah ruangan.
"Apa kabar menantuku?" Suara Jorge memecah perhatian Arthur dari Alan Born beralih pada Jorge. "Aku tidak mengira jika menantuku memiliki banyak nyawa," ucapnya diakhiri dengan kekehan.
Alih-alih memberikan respons, Arthur justru melayangkan tatapan membunuh. "Dimana istriku?!" serunya dingin. Saat ini yang ia hanya ingin menemukan keberadaan istrinya.
Jorge tergelak mendengar pertanyaan Arthur. "Haruskah aku memberitahumu?" sahutnya saat tawanya sudah menyurut.
Arthur tidak terpancing. Ia justru menolehkan kepalanya ke arah Darren yang berdiri sisinya. Darren paham apa yang ingin ia lakukan. Ia mengangguk lalu segera meluncur untuk mencari keberadaan Helena.
"Hei, kau mau kemana?!" Benjamin tentu tidak terima, ia hendak menyusul Darren. Akan tetapi lebih dulu dihalangi oleh Arthur.
"Urusanmu denganku!" seru Arthur sengit.
Benjamin tidak dapat berkutik, tatapan Arthur begitu mendominasi hingga membuatnya bergidik dan berangsur mundur.
"Hei, kau-"
Dor
Arthur melesatkan pelurunya tepat di bawah kaki Alan Born yang baru saja berteriak. Pria paruh baya itu sontak bergerak mundur.
"Tutup mulutmu sebelum kubuat tidak bisa bicara lagi selamanya!" hardik Arthur menghunus tajam, seolah mampu mengoyak tubuh siapapun yang ditatap olehnya.
Glek
Alan Born menelan saliva dengan berat. Kerongkongannya begitu terasa kering. Kemana keberaniannya beberapa menit yang lalu? Hanya ditatap seperti itu oleh Arthur membuatnya tidak berani bergerak.
Selang beberapa menit kemudian, Darren kembali dan menghampiri Arthur. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa penyesalan. Ia tahu jika Arthur tidak akan terima mendengar perkataan.
"Dimana Helen, Der? Apa kau menemukannya?" tanya Arthur mendesak.
Darren diam seribu bahasa, tatapannya justru mengitari ketiga pria paruh baya yang juga menunggu jawaban darinya.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...