The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Aku Baik-Baik Saja



Satu jam sebelumnya


Pandangan Arthur tertuju pada layar ponselnya yang memutar rekaman video berdurasi 30 menit. Sesekali ia menyunggingkan senyum sinis saat objek yang dilihatnya begitu tersiksa. Meski sejak penyerangan itu, ia tidak pernah bertemu dengan mereka, akan tetapi Arthur selalu memantau dan menyuruh anak buahnya untuk merekam dan mengirimkan padanya.


Di dalam video tersebut, terlihat Jorge yang merangkak hanya sekedar untuk mengambil minum. Itu adalah hukuman yang pantas untuk manusia tamak seperti mereka. Memang ia menugaskan anak buah untuk memberikan hadiah kecil dengan mematahkan kaki mereka. Beruntung Arthur masih berbaik hati dengan tidak langsung melenyapkan mereka.


"Pastikan mereka tetap hidup, terutama Jorge. Dia harus membayar setiap penderitaan yang sudah dialami istriku!"


Begitulah balasan dari Arthur kepada anak buah yang baru saja mengirim rekaman video padanya. Tentu ia merasa puas akan penderitaan mereka, sebab kematian adalah hukuman yang ringan untuk ketiganya. Dan Jorge, ayah mertuanya harus merasakan penderitaan yang istrinya rasakan selama mereka berada di atap yang sama. Mereka tidak memperlakukan istrinya dengan baik dan justru menjadikan orang asing di Mansion yang seharusnya menjadi hak istrinya itu. Terlebih Daddy Jonathan yang merupakan ayah mertuanya yang sebenarnya telah melimpahkan seluruh aset kekayaan kepada putrinya, Helena.


Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, buru-buru Arthur meletakkan ponselnya di sofa yang ia duduki. Ia tidak ingin sang istri mengetahui apa yang sudah ia lakukan terhadap Jorge.


"Sudah selesai, hm?" tanya Arthur melihat sang istri yang sedang bercermin sembari mengeringkan rambutnya yang terurai indah itu.


"Hem, karena siapa aku harus mandi lagi?" cebik Helena sedikit kesal, sebab tadi pagi ia sudah mandi. Akan tetapi saat membangunkan suaminya, justru ia juga membangunkan yang dibawah sana. Dan sebagai istri yang baik, tentunya ia harus melayani hasrat suaminya.


Arthur hanya terkekeh, kemudian ia beranjak berdiri dan memeluk istrinya itu dari belakang. "Maaf membuatmu kelelahan."


Helena menjadi merasa bersalah. Sebenarnya ia tidak marah, hanya berpura-pura kesal saja. "Tidak apa. Aku adalah istrimu, kau bisa minta kapan saja."


Arthur menarik sudut bibirnya ke atas. Dikecupnya wajah sang istri yang begitu cantik meski tanpa make up sekalipun.


"Honey, hentikan. Aku merasa geli." Helena menggeliat berulang kali lantaran rahang Arthur yang dipenuhi bulu-bulu halus itu bergesekan dengan kulit wajahnya.


Alih-alih berhenti, Arthur semakin mempercepat gerakan mengecupi wajah Helena, hingga sukses membuat wanita itu tergelak.


"Sudah, hentikan." Kemudian Helena menepuk pelan lengan Arthur yang melingkar di perut. Sudah cukup suaminya itu membuatnya kegelian. "Cepat pakai bajumu, kita harus turun ke bawah, Ace dan Lyo pasti mencariku."


Mendengar nama kedua baby twins disebut, Arthur baru menghentikan kegiatannya. Ia lupa jika kedua baby twins sedang bersama dengan Mommy Elleana dan Bibi Angela.


"Kalau begitu pakaikan bajuku." Lalu Arthur menggerakkan ekor matanya kearah kemeja yang sudah disiapkan oleh istrinya itu.


"Uuuu.... suamiku menjadi sangat manja." Helena mengapit rahang Arthur disertai kekehan kecil, ia tentu senang jika Arthur bersikap manja padanya. Gegas ia mengambil kemeja hitam yang berada di atas ranjang.


Arthur menanggapi dengan kekehan. Ia hanya bersikap manja pada istrinya saja. Bahkan belum pernah sekalipun ia bermanja pada Mommy Elleana semenjak sudah beranjak dewasa.


Saat Helena ingin membantu Arthur mengenakan kemejanya, terdengar dering ponsel yang menggema di dalam kamar mandi. Ah, itu adalah ponsel pribadi milik dirinya yang tertinggal di dalam kamar mandi. Sedangkan ponsel yang berada di atas sofa adalah ponsel yang biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan rekan bisnis.


"Sebentar, aku akan mengambil ponselku." Arthur mengurungkan niatnya untuk mengenakan kemejanya, ia segera berjalan ke dalam kamar mandi dan melihat siapa yang telah menghubungi dirinya. Dan ternyata seseorang itu menghubungi dirinya melalui panggilan video.


"Ada apa?" tanyanya begitu memposisikan ponsel menghadap dirinya setelah menyandarkan punggung ponsel pada dinding. "Apa orang yang sudah tewas dalam kecelakaan pesawat bisa melakukan video call, heh?" sambungnya menyindir.


Seseorang itu terkekeh. Masih saja Arthur marah padanya, padahal ia tidak tahu apa yang terjadi. Dan beruntung ia tidak berada di pesawat European Airlines (EA). Jika hari itu, dirinya dan Bastian benar-benar menaiki pesawat tersebut, sudah dapat dipastikan jika mereka tidak akan selamat.


"Come on, itu bukan salahku. Dan seharusnya Kak Ar bersyukur, karena aku tidak jadi menaiki pesawat itu," serunya diakhiri kekehan kecil.


"Ya, seharusnya aku mengirimkan sesuatu pada Dam karena sudah memaksamu menumpangi jet pribadi miliknya," ujar Arthur yang masih mengingat alasan sang adik tidak berada di dalam pesawat yang mengalami kecelakaan tiga minggu yang lalu.


"Aku sudah berterima kasih padanya. Jadi kak Ar tidak perlu memberinya hadiah apapun. Lagi pula Dam sudah memiliki segalanya yang dia dapatkan dari Paman Adam."


"Hm..." sahutnya berdehem tidak memperpanjang. "Lalu dimana kau sekarang? Kenapa satu minggu ini sulit sekali dihubungi?" Nada Arthur sedikit kesal lantaran sudah satu minggu ia tidak dapat dihubungi adiknya dan karena itu, Mommy Elleana selalu mendesak dirinya untuk mencari keberadaan adiknya. Mommy mereka cemas jika terjadi sesuatu pada adiknya itu, karena rasa trauma saat berita mengenai kecelakaan pesawat.


Ya, yang sedang melakukan video call dengannya adalah Austin yang beberapa minggu lalu membuat mereka syok hingga membuat kegaduhan di maskapai penerbangan. Karena yang mereka ketahui jika Austin menumpangi pesawat European Airlines (EA). Dirinya dan Daddy Xavier bahkan menuntut maskapai tersebut, meskipun pihak maskapai sudah menjelaskan jika tidak ada penumpang yang bernama Austin Kendrick Romanov dan Bastian Milner yang tertera pada laporan boarding pass di komputer mereka. Namun baik dirinya dan Daddy Xavier tidak mengindahkan. Hingga sampai satu hari berlalu mengenai kecelakaan pesawat tersebut, Austin baru menghubungi mereka dan mengatakan jika dirinya telah sampai di tempat tujuan yaitu Indonesia.


Semua anggota keluarga yang sempat histeris dan begitu terpukul mengenai kecelakaan tersebut, mendadak saling diam dan hanya berpandangan. Lalu untuk memastikan jika yang menghubungi mereka adalah Austin, Daddy Xavier segera melakukan panggilan video call. Dan benar saja di layar ponsel, terpampang nyata sosok Austin yang tampan dengan pemandangan pantai di belakang resort. Austin mendapatkan berita di internet mengenai maskapai penerbangan European Airlines (EA) yang ternyata mengalami kecelakaan dan ia segera menghubungi keluarganya.


"Aku bertemu dengan Dam saat akan check in dan dia memaksaku untuk menaiki jet pribadi miliknya, karena kebetulan dia juga akan kembali ke Indonesia."


Seperti itulah yang dikatakan Austin saat menjelaskan kepada seluruh keluarganya, dan alasan dirinya gagal menumpangi pesawat European Airlines (EA). Sebab itu, Austin serta Bastian merasa beruntung karena Tuhan mengirimkan Dameer sebagai penyelamat mereka. Dameer adalah putra pertama dari Paman Adam yang kebetulan sedang transit di Bandara London Heathrow.


***


"Bagaimana kabar Mom dan Dad, Kak?" tanya Austin kemudian.


"Mereka baik. Kenapa kau tidak menghubungi Mom?"


Arthur mengangguk saja. "Kami semua sedang berada di Hawai."


"What the fucckk! Kalian tidak mengajakku!" serunya berpura-pura marah.


"Ck, kau sendiri yang mengasingkan diri," cetus Arthur menyindir.


"Nope." Austin menyanggah. "Aku tidak mengasingkan diri, tapi mengasah kemampuanku di sini."


"Terserah kau saja." Arthur merasa malas menanggapinya.


"Hm, bagaimana dengan dia? Apa dia mencariku? Apa dia menangis saat tau jika pesawat yang kutumpangi mengalami kecelakaan?" Jujur saja Austin merasa tidak tega saat melihat gadis tu menangis di akhir pertemuan mereka. Dan hingga sampai saat ini, ia selalu memikirkan gadis itu.


"Menurutmu? Kau ingin gadis itu menangisimu atau tidak, heh?"


Terdengar decakan kesal di seberang sana. Ya, Austin kesal. Kakak itu diberikan pertanyaan, akan tetapi justru balik bertanya.


"Katakan saja YA atau TIDAK." Dan Austin hanya ingin mendengar jawaban itu saja.


"Entahlah," sahutnya acuh. "Tapi kau bisa melihatnya sendiri." Kemudian Arthur mengambil ponselnya, lalu melangkah keluar dari kamar mandi.


Helena hanya melihat suaminya yang berjalan menuju balkon, tadi ia sempat mengintip dan mendengar percakapan kakak beradik itu. Karena tidak ingin mengganggu, sehingga ia memutuskan untuk menunggu dengan bermain ponsel.


Suasana yang begitu menyenangkan, sehingga tawa yang menggemparkan itu tertangkap jelas di panggilan video yang sedang terhubung.


"Kau lihat sendiri bagaimana suasana disini. Apa kau masih tidak ingin kembali, hm?" ucap Arthur pada adiknya. Sejak tadi ia mengarahkan kamera belakang hanya untuk menunjukkan suasana yang terjadi selama mereka liburan di Hawai.


Austin tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju pada sosok Licia yang nampak tidak bersemangat. Lalu ia menggeleng. "Tidak. Belum saatnya aku kembali. Katakan pada Mom dan Dad jika aku baik-baik saja."


Ya, belum saatnya untuk dirinya kembali. Saat ini ia ingin melebarkan sayapnya agar seseorang tidak memandang jika dirinya hanya mengandalkan nama keluarga. Terlebih semua pebisnis mengetahui sepak terjang kakaknya yang menyerupai Daddy Xavier. "Ah, sudah dulu. Klienku sudah datang."


"Apa kabar, Tuan? Bagaimana suasana di Bali menurut anda?"


Arthur mengernyit tidak mengerti ketika suara asing yang merupakan klien perusahaan mereka berbicara dalam bahasa Indonesia. Kemudian Arthur menggeleng karena panggilan video mereka belum terputus, sehingga dirinya yang memutuskan sambungan video call.


Dan tiba-tiba Helena memeluknya dari belakang. "Sudah selesai, hm?"


"Sudah." Lalu Arthur berbalik badan dan memeluk sang istri.


"As masih belum ingin kembali?" Helena bertanya karena sejak tadi sempat mencuri dengar.


"Dia sedang mengejar impiannya. Biarkan saja. Lagi pula hanya enam bulan atau mungkin satu tahun." Arthur tidak akan menghalangi impian adiknya itu. Apapun keputusan Austin, ia serta Daddy Xavier akan selalu mendukung.


Helena mengangguk saja, sebelum kemudian mendongak menatap sang suami yang lebih tinggi darinya. "Bagaimana jika As tidak ingin kembali?" Jujur saja ia merasa cemas. Sedikit lebihnya ia mengetahui bagaimana kedekatan adik iparnya itu yang diam-diam menyimpan perasaan untuk Licia.


"Itu tidak akan terjadi. As akan kembali dan dia sendiri yang akan mengejar gadis itu. Aku percaya pada adikku itu." Arthur yakin jika cepat atau lambat, Austin akan kembali setelah merasa puas akan impiannya yang sudah tercapai.


"Hem...." Helena berdehem sebagai jawabannya. "Sebaiknya kita segera turun. Tidak enak dengan yang lain."


"Kalau begitu aku akan memakai bajuku. Tunggulah disini." Arthur mengecup kening sang istri, sebelum kemudian masuk ke dalam untuk mengambil kemeja miliknya.


To be continue


Babang Arthur



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...