
Setelah mengudara selama empat jam, jet pribadi yang membawa Arthur serta Helena sudah mendarat sempurna di landasan pribadi Keluarga Romanov. Arthur merangkul pinggang Helena sejak menuruni jet pribadi hingga memasuki mobil. Dan selama di perjalanan menuju kediaman Romanov, Helena hanya terdiam. Meremat jemarinya dengan sangat kuat, ia tengah dilanda kegelisahan serta kebingungan. Bagaimana dirinya harus bersikap di hadapan keluarga besar itu? Sementara mereka pasti sudah mendengar kondisinya yang mengalami depresi, tak ubahnya seperti pasien gangguan kejiwaan.
"Sudah kukatakan jangan berpikir macam-macam. Mereka akan menerimamu dengan sangat baik." Arthur menggenggam tangan Helena yang bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
"Sungguh?" Helena memastikan perkataan Arthur jika pria itu tidak tengah membual hanya karena ingin menenangkan dirinya.
"Hmm..." Arthur berdehem dan menganggukkan kepala. "Jadi tenanglah. Mulai hari ini kau bisa menganggap keluargaku sebagai keluargamu juga."
Mendengar perkataan Arthur, kedua iris perak kebiruan itu dilapisi cairan bening yang siap tumpah. Arthur sedikit terkekeh, lagi-lagi Helena akan menangis. Dan jujur saja, ia tidak suka melihat wanita menangis.
"Jangan menangis," katanya menggoda.
"Tidak, aku tidak menangis." Helena membantah, ia pun tidak ingin mengeluarkan air matanya. Namun perkataan Arthur benar-benar menyentuh relung hatinya yang patah karena sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang yang dinamakan keluarga, selain ibunya serta kakek neneknya. Namun semua itu berlangsung sementara, sebab ketiganya benar-benar meninggalkan dirinya sendiri di dunia yang begitu kejam.
Arthur tidak menjawab, ia hanya menyematkan senyum tipis, hingga kesenyapan kembali melingkupi kabin mobil. Mesin mobil terdengar begitu halus melambat melaju ketika memasuki kediaman dengan pagar dinding yang menjulang tinggi dan terdapat kolam air mancur yang berada di tengah-tengah pintu gerbang.
Untuk beberapa saat, Helena terperangah melihat mansion megah Keluarga Romanov. Meski yang ia ketahui Keluarga Romanov benar-benar kaya raya, tetapi ketika dilihatnya dengan mata kepala sendiri, Keluarga Bonham seolah seonggok batu krikil yang tidak bernilai tinggi.
Helena segera turun dari mobil begitu pintu di bukankan oleh satu penjaga berpakaian setelan jas serba hitam. Dan Arthur segera menghampiri, merangkul pinggang Helena.
"Mereka sudah menunggu kedatanganmu," bisiknya di telinga Helena.
Wanita itu mengangguk, ia menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Sebelum kemudian mengayunkan langkah mengikuti langkah Arthur yang menuntunnya.
Pusat pertama yang menarik perhatian Helena adalah interior di dalam Mansion, begitu mewah dan bernuansa modern. Dan perhatian mulai teralihkan pada sosok pasangan suami istri yang menghampiri dirinya.
"Akhirnya kalian sampai." Mommy Elleana merentangkan tangan, memeluk Arthur dengan penuh kasih sayang. Mengurai pelukan dan memandangi Helena, menantunya.
"Hai sayang. Welcome to your new family," sambungnya. Tanpa menunggu jawaban dari Helena, Mommy Elleana segera memeluk menantu cantiknya. Memang sejak awal dirinya sangat antusias menunggu kedatangan putra serta menantunya itu.
"Terima kasih atas sambutannya, Nyonya" sahut Helena mengurai pelukan mereka.
"Bukan Nyonya. Panggil aku Mommy." Mommy Elleana mengoreksi panggilan Helena kepada dirinya. Ia lebih nyaman jika wanita itu bisa menganggap dirinya sebagai Mommy.
Kedua wanita cantik berbeda generasi itu saling melemparkan senyum. Hingga kemudian pandangan Helena beralih pada sosok pria paruh baya yang tampan seperti Arthur. Ia hanya mengulas senyumnya sebagai bentuk sapaan, sebab sosok suami dari ibu mertuanya begitu dingin kepadanya.
"Hubby, katakan sesuatu pada menantu kita." Mommy Elleana mengikut perut suaminya ketika sedari tadi hanya diam saja.
"Hmm, selamat datang di Keluarga Romanov. Mulai hari ini anggaplah kami sebagai keluargamu." Terkesan dingin memang, tetapi Xavier mengatakannya dengan penuh ketulusan.
"Terima kasih Tuan." Helena tersenyum canggung. Kini ia mengetahui jika sikap Arthur menuruni ayahnya.
"Jangan panggil Tuan, panggil Daddy seperti kau memanggilku Mommy." Mommy Elleana menyela, nampak begitu antusias dan menggebu-gebu.
"Baik Mom dan... Daddy." Sungguh Helena begitu canggung saat memanggil pasangan suami istri paruh baya itu dengan sebutan Mommy dan Daddy. Ia seolah memiliki kedua orang tua kembali.
"Helen?" Suara Elie yang berada di belakang punggung Elleana serta Xavier menyita perhatian mereka semua. Mereka serentak menolehkan kepala, terlihat Elie yang berjalan menghampiri. "Helen, selamat untukmu. Aku sangat senang kau menjadi iparku," serunya dan Elie menghambur ke pelukan Helena. Ia sangat senang jika wanita itu sudah baik-baik saja saat ini. Kabar mengenai Helena membuatnya turut merasakan sedih. Seandainya Arthur tidak melarang dirinya serta Mommy Elleana menyusul ke Paris, sudah pasti ia bisa menemani Helena dalam masa-masa tersulit wanita itu.
"Terima kasih, kau bersedia menerimaku." Pelukan mereka terlepas, Helena menggenggam kedua tangan Elie.
Bibir Elie mencebik, merasa tidak terima dengan perkataan Helena. "Kau ini bicara apa. Aku sudah pasti menerimamu, karena hanya kau yang bisa meluluhkan gunung es sepertinya." Sindiran Elie tepat mengenai Arthur, ekor matanya melirik ke arah Arthur yang melayangkan tatapan tajam.
"Kemarilah Helen, aku akan mengenalkanmu kepada adikku As, granpa, granny, dan masih banyak lagi." Elie menarik tangan Helena agar mengikuti dirinya menuju ruang tamu, dimana keluarganya berkumpul disana.
Sebelum melangkahkan kaki, Helena menoleh ke arah Arthur sebagai meminta persetujuan dan segera dibalas anggukan kepala oleh Arthur. Melihat sikap Elie, Mommy Elleana hanya terkekeh kecil.
"Hubby, aku akan menemani Helena." Mommy Elleana segera berlalu dari sana menyusul langkah Elie serta Helena yang sudah menjauh setelah Xavier mengiyakannya.
Kini tinggal-lah Arthur dan Xavier yang saling melemparkan pandangan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Ikut denganku. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Xavier melengos pergi begitu saja, padahal Arthur baru saja ingin menjawab.
Arthur mendesahkan napas ke udara, sejujurnya ia mencemaskan Helena. Bisa saja halusinasi istrinya itu kembali muncul, tetapi tidak mungkin mengabaikan Daddy-nya. Nampak jelas sekali jika Daddy Xavier memendam kemarahan. Akhirnya Arthur memilih mengikuti langkah Daddy Xavier menuju ruangan kerja.
Di dalam ruangan kerja, Arthur dan Xavier duduk saling berhadapan di sofa single. Meja kaca menjadi pembatas antara mereka. Tatapan keduanya begitu mendinginkan, tidak ada yang ingin mengalah untuk mengakhiri kontak mata mereka.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kasus Anna kembali dibuka?" tanya Xavier membuka percakapan awal mereka.
Arthur menghela napas. Benar saja, Daddy-nya membahas hal yang tidak ingin ia bahas untuk saat ini.
"Aku bisa mengatasinya Dad," sahut Arthur meyakinkan. "Dan aku tidak menyukai caramu menatap istriku. Kau menakutinya, Dad!" Ya, sedari tadi Arthur memperhatikan cara Daddy Xavier menatap istrinya, seolah terselip rasa ketidaksukaan.
"Son, apa kau tidak akan menyesali keputusanmu? Apa kau yakin wanita itu benar-benar bisa pulih dari penyakitnya?" Xavier mengabaikan perkataan Arthur, ia justru ingin memastikan jawaban putranya.
"Wanita itu adalah istriku Dad. Panggil dia dengan benar!"
"Ahh, baiklah." Xavier mendengkus kesal. Arthur memang sama seperti dirinya yang tidak akan terima jika wanitanya diperlakukan dengan tidak baik. "Apa kau yakin Helena bisa pulih? Kau tau Ar, kasusnya menyeret namanya dan bahkan hal itu merusak nama baik Keluarga Bonham."
"Kenapa harus mencemaskan masalah nama baik Dad? Selama ini kau tidak pernah mempermasalahkan hal kecil seperti itu!" Arthur tidak terima. Biar bagaimana pun kondisi Helena, saat ini sudah menjadi tanggung jawabnya dan ia akan menerimanya.
"Tapi bagaimana jika Helena terbukti bersalah? Dia bisa dijebloskan ke dalam penjara. Kau tau itu, Ar!" seru Xavier mengetuk-ngetuk meja dengan ibu jarinya. Ia begitu gemas dengan permasalahan menantunya, namun tidak bisa melibatkan diri untuk mencampuri urusan Helena yang sudah pasti menjadi urusan putranya.
"Dad!" Arthur berseru dengan nada membentak. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menjebloskan Helena ke dalam penjara. Dia tidak bersalah dan jika dia bersalah karena membunuh ibunya, aku yang akan mengubah bukti rekaman itu!" Tegas dan penuh keyakinan. Siapapun yang berani mengusik bahkan ingin menjatuhkan wanita yang ia cintai hingga ke dasar jurang kehancuran, maka ia yang akan lebih dulu menghancurkan orang itu.
"Baiklah, aku percaya padamu jika kau bisa mengatasinya. Satu yang ku pinta darimu Son. Selidiki dengan benar siapa istrimu yang sebenarnya."
"Kau meragukannya, Dad!" Arthur kembali berseru tidak terima dan bahkan dirinya beranjak berdiri dengan emosi yang sudah tersulut. "Kau meragukannya yang berarti kau juga meragukanku!"
"Okay, aku salah Son. I'm sorry. Jika aku berada di posisimu. Aku juga akan membela istriku. Karena itu kau harus bisa membuktikannya. Di luar sana banyak yang ingin menjatuhkanmu dan keluarga kita. Siapapun bisa memanfaatkan masalah ini jika mengetahui pernikahan kalian." Xavier mengalah, ia tidak ingin ada pertikaian antara dirinya dengan Arthur.
"Hmm, sudah kukatakan aku bisa mengatasinya Dad!" sahut Arthur mendesahh kesal. "Meskipun sampai saat ini aku belum mendapatkan bukti terbaru. Karena itu kumohon, jangan menatapnya seperti itu. Jangan menghakiminya seperti itu, Dad!" keluhanya memprotes cara pandangan Daddy Xavier terhadap istrinya.
"Aku tidak menghakiminya!" Dengan cepat Xavier membantah tuduhan Arthur. "Kedua mataku memang seperti ini, hanya bisa menatap lembut kepada istriku saja. Kau seharusnya sudah tau itu!" Dan kali ini Xavier yang memprotes tidak terima.
"Haahh..." Arthur kembali mendesaah, ia mulai malas menanggapi perkataan Daddy Xavier yang selalu seperti itu akhirnya. "Aku akan melihat istriku." Dan kemudian segera berlalu dari ruangan kerja, meninggalkan Daddy Xavier yang masih ingin berada di dalam sana.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...