The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Membayangkan Wajah Tampannya



Karena merasa penat setelah liburan di kapal pesiar dan Pulau Mustique, wanita itu memutuskan pergi ke Club bersama teman satu agensi yang sudah cukup dekat dengannya. Keduanya meliuk-liukkan tubuh sintal mereka yang berbalut pakaian seksi dan bermerek sehingga menjadi pusat perhatian para pria disana.


Mereka tidak pedulikan tatapan liar para pria disana. Terlebih Veronica baru saja memutuskan kekasihnya Cade tadi siang dan ia puas setelah memberikan bogem mentah di wajah pria itu. Veronica bukan tipe wanita yang hanya diam pasrah ketika diselingkuhi. Lebih baik ia menjadi lajang dan mencari pria lainnya untuk menemani rasa kesepiannya. Semenjak ia mengetahui identitas Elie yang sebenarnya, Veronica tidak berani mengajak temannya itu untuk pergi ke Club malam seperti sebelum-sebelumnya. Bisa habis dihajar oleh Tuan Arthur dan bahkan kini bertambah Tuan Mikel yang mungkin akan menghajarnya jika dirinya nekad mengajak Elie ke Club malam.


Setelah puas menari dan mengabaikan beberapa pria yang menempeli mereka, kedua wanita cantik itu berjalan menuju meja bar dan memesan minuman.


"Berikan cocktail yang bisa menghilangkan patah hati," ujar Joana kepada seorang bartender tampan yang terlihat menunggu pesanan mereka.


Bartender tersebut tersenyum mendengarnya. "Apa Nona sedang patah hati?" tanyanya.


Joana menggeleng cepat. "Bukan aku tapi temanku ini," jawabnya sembari menepuk-nepuk bahu Veronica.


Veronica berdecih. "Aku tidak sedang patah hati, tapi aku sedang merayakan perpisahanku dengan seorang pria berengsek!" Mood wanita itu kembali terjun ketika mengingat pengkhianatan Cade.


Bartender itu terkekeh. Wanita di hadapannya begitu lucu. "Apa Nona sudah memberikan pelajaran kepada kekasih Nona?"


"Sudah. Aku sudah memukul wajahnya dua kali," sahutnya berseru kesal. "Ah, seharusnya aku menendang belalainyaa juga agar tidak bisa berdiri lagi." Dan Veronika menyayangkan hal itu. Seharunya ia menendang belalai mantan kekasihnya itu agar memberikan efek jera.


Bartender tampan itu tidak bisa untuk tidak tertawa. Entah kenapa ia membayangkan wanita di hadapannya ini menendang sumber kenikmatan surgawi. Tidak hanya bartender saja yang tertawa, Joana pun tidak bisa menahan tawanya hingga nyaris beradu dengan dentuman musik.


"Astaga, perutku sangat sakit." Joana menyentuh perutnya ketika tidak bisa berhenti tertawa. Berbeda dengan Veronica yang semakin kesal karena meruntuki kebodohannya karena tidak langsung menendang belalai mantan kekasihnya itu.


"Kau pria yang sangat menyenangkan. Jika boleh berkenalan, siapa namamu?" tanya Joana kemudian kepada bartender tampan di hadapannya.


"Levin," jawabnya tidak keberatan. "Lalu bagaimana dengan Nona, siapa nama nona-nona cantik ini?"


"Aku Joana dan temanku ini Vero." Joana memperkenalkan dirinya serta Veronica.


"Baiklah Nona Joana dan Nona Vero, aku akan meracik cocktail spesial untuk kalian."


"Ah terima kasih, aku sungguh merasa tersanjung." Joana berpura-pura tersentuh. Dan Levin segera meracik minuman untuk kedua wanita cantik itu.


"Ck, apa kau menyukainya?" Melihat gelagat Joana, Veronica berbisik di telinga temannya itu.


Joana tertawa mendengarnya. "Hahaha aku menyukai semua pria tampan."


"Dasar, kau ini." Veronica mencibir sikap Joana.


"Tadaaa, ini cocktail spesial untuk kalian." Levin kembali ke meja bar dengan membawa dua buah gelas segitiga kaca.


"Ini jenis cocktail apa?" Sebelum meminumnya tentu Veronica harus tahu.


"Ah, ini adalah French Martini. Rasanya sangat menyengarkan, karena aku mencampurkannya juga dengan jus nanas. Rasanya manis, pahit dan asam. Seperti cinta bukan? Kita bisa merasakan ketiganya." Levin menjelaskan dengan senyumannya.


"Waah, kau ini puitis sekali." Joana menangkup kedua pipinya dan menumpu kedua sikunya di atas meja bar. Ia terkagum-kagum pada sosok Levin.


Levin terkekeh. "Baiklah Nona, selamat menikmati." Pria itu menjauhi meja bar dan melayani pelanggan yang lain


Veronica dan Joana segera menyesap French Martini. "Rasanya benar-benar menyegarkan, ada pahit dan asamnya juga. Benar apa yang dikatakan oleh Levin, sangat cocok dengan gambaran cinta," ujar Joana membenarkan.


"Ck, sejak kapan kau memahami masalah cinta?" seru Veronica mengejek. Lalu mencicipi French Martini. "Not bad," katanya kemudian dan seketika merasa lebih baik setelah meminumnya.


"Meskipun aku berada di antara keluarga broken home, aku sedikit tau masalah cinta." Mengingat perceraian kedua orangtuanya membuat Joana tersenyum kecut. "Ah sudahlah, lupakan saja tentangku. Sekarang lebih baik kau ceritakan pria menyebalkan yang kau ceritakan padaku tadi pagi."


"No, aku sedang malas membahasnya." Veronica menolak bercerita.


"Ck, ayolah Vero. Aku sungguh penasaran dengan ceritamu." Joana membujuk temannya itu dengan mengguncang lengan Veronica.


"Ck, dia itu pria yang paling dingin, bahkan lebih dingin dari lemari es. Aku belum pernah melihatnya tersenyum sekalipun," cebiknya. Mengingat wajah kaku pria itu, entah kenapa ia sangat kesal.


"Benarkah? Seperti apa wajahnya? Apa dia sangat tampan?" Dan Joana semakin penasaran dengan pria yang diceritakan oleh Veronica.


"Siapa yang tidak pernah tersenyum?" Tiba-tiba saja Levin menyambar percakapan keduanya. Pria itu kembali mendekati meja bar ketika tidak ada pelanggan.


"Seorang pria yang berhasil menghilangkan sakit hati Vero." Joana tertawa ringan. Ah, kini ia mengerti kenapa mendapati kekasihnya berselingkuh, tetapi Veronica tidak merasakan sakit hati, sebab sepertinya temannya itu sudah menyukai pria lain.


"Benarkah? Ah, cepat sekali Nona Vero sudah mendapatkan pengganti."


Mendengarkan perkataan Levin, Joana kembali tergelak. "Kau memujinya atau menyindirnya, Levin?"


"Ah, maafkan aku Nona Vero. Aku tidak bermaksud seperti itu." Levin menjadi tidak enak hati.


"Ck...." Namun Veronica terlanjur memasang wajah masam. "Aku tidak akan bayar minumanku ini!" Dan ia mendelik tajam kepada temannya yang masih tergelak itu.


"Aku tidak peduli. Aku tetap tidak akan membayar minumanku." Wajah Veronica yang bersungut kesal justru membuat Levin ingin tertawa.


"Iya, baiklah. Jika Nona Vero tidak membayar, aku akan menagihnya pada kartu kredit Nona."


"Ck, itu sama saja!" seru Veronica hingga membuat Levin dan Joana saling melemparkan kekehan. Sebelum kemudian Levin kembali melayani pelanggan lain.


Dan tiba-tiba saja Veronica mengusap tengkuk lehernya, ia mendadak merinding. Sepertinya ada seseorang yang menghunuskan tatapan tajam kepadanya. Kepala wanita itu kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sumber yang membuatnya menjadi merinding.


"Ada apa?" tanya Joana heran ketika melihat Veronica seperti tengah mencari keberadaan seseorang.


"Tubuhku tiba-tiba saja merinding, seperti ada seseorang yang sedang memperhatikanku." Dan Veronica masih saja mengusap tengkuk lehernya.


"Benarkah?" Lalu Joana pun turut mencari sumber yang dikatakan oleh Veronica. "Tapi sepertinya tidak ada. Lihatlah, mereka semua sibuk sendiri." Dan mereka memperhatikan semua orang yang tengah sibuk dengan diri mereka sendiri. Menari, bercengkrama, bersulang dan bahkan sebagian dari mereka terdapat yang sedang berciuman.


"Entahlah, sepertinya hanya perasaanku saja." Tidak ingin terlalu memikirkan, Veronica kembali menyesap French Martini yang tersisa setengah itu.


"Levin, aku ingin lagi. Kali ini aku ingin Martini yang original, karena aku lebih suka rasa pahit, meskipun kehidupanku sudah pahit." teriak Veronica.


"Baik Nona, tunggu sebentar." Levin segera membuatkan minuman pesanan Veronica.


"Hahaha, kau ada-ada saja. Justru seharusnya kau membutuhkan alkohol yang manis."


"Aku tidak terlalu suka. Lagi pula pria itu sudah manis menurutku." Veronica berbicara melantur.


"Ck, apa kau sudah mabuk? Tapi rasanya tidak mungkin karena kau baru saja minum satu gelas French Martini." Tetapi tetap saja Joana memeriksa kening temannya itu.


Veronica menepis tangan Joana. "Ck, kau diam saja. Aku sedang membayangkan wajah tampannya."


"Astaga....." Joana menggeleng saja.


Sepertinya Veronica benar-benar membayangkan wajah pria itu. Dan saat ia mendongak ke belakang pada lantai tiga, pandangannya menangkap sorot mata pria yang sedari tadi mereka bicarakan.


"Astaga, Tuan Darren?" Ia terkejut tidak percaya.


To be continue


Veronica



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...