
Amsterdam, 11 tahun yang lalu
Mansion megah yang suasananya selalu terlihat hangat karena seluruh penghuni tersebut saling mencintai dan menyayangi. Pagi ini Keluarga Jhonson sedang menikmati sarapan bersama. Canda gurau mengisi acara sarapan mereka setiap paginya. Sudah tidak heran lagi bagi Matthew serta Aprille ketika melihat putra dan putri mereka yang selalu berdebat.
"Mom lihatlah, Kak Mike mengambil roti panggang selai kacang cokelat kesukaan Mei lagi." Bibir Meisha berkerucut maju dengan tangan yang menyilang di depan dada.
"Memangnya kau saja yang menyukai roti panggang selai kacang cokelat. Lagi pula Mom membuatnya dua, satu untukmu dan satu untukku." Mikel dengan santai memasukan roti tersebut ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya.
"Ck, Mom membuat dua hanya untuk Mei," seru Meisha berdecak tidak terima.
"Tidak, Mom juga membuatkan untukku," sahut Michael.
"Kak Mike!" pekik Meisha dengan suara yang nyaris berteriak. Sungguh Meisha tidak suka jika makanan kesukaan dirinya diambil oleh orang lain, sekalipun kakak kandungnya sendiri.
"Apa?" Mikel menyahut acuh. Walaupun hanya ingin menggoda adiknya, tetap saja membuat gadis itu kesal. Keduanya sudah saling memelototi dan tidak ingin ada yang mengalah.
Matthew serta Aprille saling pandang lalu melemparkan senyuman. Suasana seperti ini akan selalu mereka rindukan jika keduanya sudah menikah dan memiliki keluarga masing-masing.
"Sudahlah jangan bertengkar, Mom akan buatkan lagi untuk kalian." Akhirnya Aprille menjadi penengah perdebatan yang tiada akhir itu. Ia lalu beranjak berdiri untuk membuatkan roti panggang selai kacang cokelat kesukaan Meisha. Meskipun berpikir heran karena biasanya putranya tidak begitu menyukai apapun yang berhubungan dengan kacang, namun pagi ini justru suasana di meja makan ricuh hanya karena memperebutkan roti selai kacang cokelat buatannya.
"Bukankah biasanya kau tidak menyukai kacang, Mike?" Akhirnya apa yang dipikirkan oleh Aprille sudah di wakilkan oleh Matthew.
Michael mengangkat kedua bahunya. Ia tetap memakan roti berisi selai kacang yang tidak disukainya itu dan mengunyahnya dengan damai. "Mulai hari ini aku menyukainya Dad," sahutnya sembari mengunyah. Dan Matthew hanya mengangguk saja, baginya tidak ada yang aneh jika putranya itu mulai menyukai kacang. Karena istrinya selalu memiliki banyak stok selai kacang.
Meisha berdecih sinis, ia mengumpati kakaknya di dalam hati. "Aku akan mengadukan Kak Mike kepada Elie. Aku yakin jika Elie tidak akan menjawab panggilan dari Kak Mike lagi, dia pasti akan merasa kesal padamu," katanya mengancam. Meskipun dirinya berada di Amsterdam dan Elie berada di London, selama ini mereka selalu saling mengirim pesan atau sesekali menelepon untuk saling bertukar cerita. Karena selain usia mereka sama, Meisha dan Elie menyukai selera makanan yang sama. Bahkan keduanya sama-sama ingin menggeluti dunia modeling.
Tuk
Mikel melemparkan sisa roti dan tepat mengenai kening Meisha. "Sebelum kau melakukannya, Kak Mike akan menyembunyikan ponselmu!"
Perkataan Michael membuat Meisha membelalak kesal. "Jangan pernah menyentuh ponselku!" Dan Menyahut dengan penuh peringatan.
Michael tidak peduli, ia tetap ingin melakukan jika adiknya berani mencoba menghasut Elie, gadis pujaan hatinya.
"Sudah selesai Mommy buatkan. Makanlah yang banyak." Aprille terlihat kembali dari dapur dengan membawa piring besar berisi beberapa lembar roti panggang selai kacang cokelat. Meletakkan di atas meja, sebelum kemudian mendudukkan diri kembali di kursi.
Kekesalan wajah Meisha mendadak pudar, wajahnya kembali sumringah tatkala melihat banyak roti panggang selai kacang cokelat buatan sang Mommy. "Waah, terima kasih Mom." Berseru senang dan menyambar roti panggang tersebut. Meskipun hanya makanan sederhana tetapi Meisha selalu menyukainya, ia selalu merasa jika tidak ada yang bisa membuat roti panggang selezat buatan Mommy-nya.
Diam-diam Michael tersenyum tipis. Jujur saja, ia selalu senang dan menikmati setiap kali adiknya itu selalu lahap menghabiskan roti panggang kesukaan gadis itu.
"Hem sayang, setelah sarapan kita bersiap-siap pergi ke Villa," ujar Matthew kepada istrinya.
"Iya sayang, aku sudah tidak sabar ingin melihat Mei mengenakan gaun rancanganku, apalagi ulang tahunnya kali ini berbeda seperti sebelumnya. Jadi aku sudah menyiapkan yang spesial untuk ulang tahun Mei tengah malam nanti," seru Aprille antuasias. Jika selama ini Meisha mengundang teman-temannya di setiap hari ulang tahunnya, kali ini di usianya yang akan menginjak 17 tahun, Meisha hanya ingin merayakan bersama kedua orang tuanya serta kakaknya saja.
Matthew tersenyum, apapun mengenai putra dan putrinya, istrinya itu akan selalu bersemangat.
"Mom, jadi kita benar-benar akan pergi ke Villa?" Meskipun sedari tadi memperhatikan Meisha, Michael diam-diam mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.
Aprille mengangguk. "Benar. Mom dan Daddy sudah menyiapkan semuanya disana. Jadi kita hanya perlu berangkat dan tidak perlu membawa apapun."
"No, Mei ingin merayakan di Villa kita yang berada di Witsenkade." Ternyata Meisha pun diam-diam mendengarkan. Ia tidak ingin jika sampai kakaknya itu mempengaruhi Mommy-nya sehingga acara berlibur ke Villa terancam batal.
"Kau sudah mendengarnya Mike. Mei hanya ingin merayakannya di Villa," kata Aprille kemudian kepada Michael dengan tersenyum.
Michael menghela napas panjang, mau tidak mau ia harus tetap pergi bersama keluarganya kesana. "Baiklah....."
Melihat kakaknya yang hanya bisa pasrah, membuat Meisha menjulurkan lidahnya tanda mengejek. Michael tidak menanggapi ejekan sang adik, pria itu terlalu larut dengan pikirannya sendiri.
***
Setibanya di Villa, Jhonson Family bersama-sama masuk ke dalam sana. Hanya perlu waktu tiga jam saja untuk mereka mencapai Villa yang berada di Kota Witsenkade Amsterdam. Matthew, Aprille dan Meisha sibuk menyiapkan beberapa perlengkapan barbeque untuk tengah malam nanti. Sementara Michael lebih memilih bermain basketball di sekitar Villa. Matahari sudah naik semakin tinggi, tidak terasa ia sudah bermain selama dua jam, waktu pun sudah menunjukkan pukul satu siang. Michael memutuskan untuk kembali ke Villa, namun telinganya tersentak tatkala mendengar deru tembakan yang menggema berulang kali di udara. Michael diam sejenak untuk mempertajam pendengarannya jika ia tidak sedang salah mendengar. Suara tembakan itu masih terdengar sangat melengking, sehingga kemudian ia berlari cepat menuju Villa.
Sekelompok pria berjas hitam dengan senjata masing-masing di tangan mereka menyerang dan mengepung Villa milik keluarga Jhonson. Beberapa kelompok lainnya dari arah berlawanan tergopoh-gopoh menghampiri dan membalas serangan mereka, hingga terjadilah aksi saling serang menyerang.
Michael yang baru saja kembali, menyaksikan Villa milik keluarganya di serang dan ia tidak bisa berbuat apapun. Kedua matanya berkaca-kaca ketika melihat beberapa dari mereka saling membunuh dan tergeletak disana. Pikirannya tertuju kepada kedua orang tuanya serta adiknya yang masih berada di dalam Villa. Michael hendak berlari memasuki Villa, namun langkahnya di urungkan ketika melihat kedua orang tuanya di seret paksa oleh beberapa dari mereka untuk masuk ke dalam mobil. Tangan Mikel mengepal, ia tidak terima orang tuanya di perlakukan seperti itu. Tanpa Michael sadari jika mereka tidak membawa Meisha, yang ternyata adiknya tengah berusaha melarikan diri dari kejaran seseorang yang membawa senjata api.
Tanpa menunggu waktu lama, Michael masuk ke dalam mobilnya setelah mengambil kunci mobil di dalam Villa dan kembali berlari keluar, lalu masuk ke dalam mobil untuk mengejar mobil yang membawa kedua orang tuanya. Ia mengira jika Meisha sudah lebih dulu dibawa masuk ke dalam mobil yang sama, sehingga wajahnya semakin panik dan gusar.
"Kalian harus baik-baik saja."
Michael mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi, tidak peduli jika ia akan menghantam pembatas tebing. Jalanan itu sangat lengang sehingga mempermudahnya mengikuti beberapa mobil di depannya dengan jarak yang aman.
Beberapa mobil hitam berhenti di sebuah bangunan tua yang selalu disebut Markas. Mereka membawa Matthew serta Aprille masuk dengan paksa, keduanya berusaha memberontak namun ternyata tenaga mereka tidak cukup kuat karena tubuh mereka mendadak melemas setelah menghirup aroma gas yang sepertinya membius organ tubuh mereka hingga menjadi melemah.
"Hahahaha selamat datang di Markasku, adik tersayangku." Nampak pria yang berusia yang lebih tua dari Matthew. Pria itu menyambut kedatangan Matthew serta istri dari adik tirinya itu.
"Keparat kau, Todd. Berani-beraninya kau menyerangku dan keluargaku!" seru Matthew. Kedua lengannya masih di cekal oleh anak buah dari kakak tirinya yang bernama Todd Reus.
"Hahahaha aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan!" Todd tergelak mendengarnya. "Selama ini kau sudah menjadi penghalangku untuk mendapatkan semua harta kekayaan ayah. Jadi kau pantas menerima semua ini. Aku akan mengambil semua hartamu dan juga....." Pandangan Todd beralih kepada Aprille, ia kemudian tersenyum penuh arti. "Dan juga aku akan mengambil istrimu," ujarnya. Sejak pertama kali melihat Aprille, Todd menginginkan Aprille, ia bahkan rela mengabaikan istrinya demi menarik perhatian istri dari adik tirinya. Namun wanita itu tidak pernah sekalipun meliriknya.
"Keparat! bajingan!" Matthew memberontak, ia baru mengetahui jika selama ini kakak tirinya itu menginginkan istrinya.
To be continue
Yoona kupas satu persatu ya.. mungkin terkesan alurnya lambat tapi beginilah adanya, kalian yang udah lama jadi pembaca Yoona pasti udah tau karakter penulisan Yoona gimana. Selalu ada misteri disetiap novel Yoona yang kadang bikin kalian darting dan salah paham ðŸ¤
...Yang udah baca Elleana And The King Of Mafia pasti udah tau visual Matthew dan Aprille...
...Yoona minta dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...