
Beberapa pemuda tampan dan satu gadis cantik baru saja menyelesaikan makan siang mereka. Seperti biasa mereka selalu menjadi pusat perhatian dimana pun dan kapan pun karena kehebohan mereka yang tidak mengenal tempat. Pengunjung disana sesekali menelinga percakapan pemuda-pemuda itu yang tentu saja dapat di dengar dengan jelas.
"Ah, sepertinya aku membutuhkan tempat tidurku. Aku tiba-tiba saja mengantuk." Liam mengusap perutnya yang atletis ketika baru saja menghabiskan beberapa makanan yang ia pesan.
Kaleng soda kosong yang melayang di udara tepat mengenai kening Liam. Sontak saja ia mengaduh sembari mengusap keningnya dan menoleh ke arah temannya yang dengan santai menatapnya.
"Supaya kau tidak mengantuk. Apa kau lupa jika setelah ini kita masih ada kelas?" ucap Elden terkekeh menampakkan lesung pipitnya. Ia adalah pelaku yang melemparkan kaleng soda kosong tepat mengenai kepala Liam.
Liam hanya bisa menggerutu tanpa bisa memarahi Elden. Bercanda seperti itu memang sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Tidak ada yang tersinggung maupun menjadi boomerang untuk mereka.
Austin hanya tersenyum tipis mendengarkan lelucon para teman-temannya. Menyesap minuman dan sesekali melirik ke arah Jolicia yang fokus dengan ponselnya.
"Chris, sebaiknya kau pulang saja. Aku akan menemui Kak Ar dan Kak Helen di penthouse mereka," ujar Austin kepada Chris yang sedari tadi duduk mendengarkan dan memperhatikan pemuda-pemuda itu.
Mendengar perkataan Austin, Chris hanya mengangguk saja. Tugasnya memang memantau sekitar universitas dan berusaha menangkap dalang yang menjebak Austin beserta teman-temannya. Dan Jolicia mengalihkan perhatiannya dari ponsel, ia menatap Austin seperkian detik sebelum kemudian kembali memusatkan perhatian kepada ponselnya.
"Kalau begitu kita pergi sekarang." Gavin beranjak berdiri, ia menghabiskan minuman yang tersisa setengah. Di susul Liam, Elden dan Chris yang juga beranjak dari tempat duduk mereka.
"Licia, kau ikut denganku atau tetap disini?" tanya Austin ketika mendapati Jolicia masih fokus pada ponsel dan tidak memperhatikan mereka yang sudah berlalu lebih dulu.
Wajah Jolicia mendongak, ia memperhatikan tempat duduk yang sebelumnya ramai, kini hanya tersisa dirinya saja. "Aku ikut denganmu As. Daddy bilang akan ke Mansion Paman Vier." Jolicia buru-buru menyambar tasnya dan memasukkan ponsel ke dalam sana. Mengejar langkah Austin yang sudah berlalu meninggalkannya.
Mereka sudah berada di parkiran mobil yang berada di tepi jalan. Sorot mata Elden tidak sengaja menangkap sosok Elie yang bersama dengan seorang pria.
"As, bukankah itu Kak Elie?" Dan Elden menunjuk keberadaan Elie yang berada di seberang cafe bersama dengan seorang pria tampan. Bahkan ia bisa menebak jika usianya tidak jauh dari dirinya.
Mereka semua mengikuti jari telunjuk Elden mengarah. Dan reaksi Austin nampak biasa saja, tidak terkejut mendapati sang kakak dengan pria lain. Meskipun ia sudah mengetahui jika kakak perempuannya itu sudah bersama dengan Mike.
"Biarkan saja. Sebaiknya cepat kalian pergi." Austin mendorong ketiga teman-temannya untuk segera masuk ke dalam mobil. Sementara Chris menumpang di mobil mereka hingga tiba di universitas.
"Kami pergi dulu. Kalian berdua berhati-hatilah," ucap Gavin kepada Austin dan Jolicia, yang segera di angguki oleh keduanya. Kemudian mobil mereka segera pergi meninggalkan Austin berdua saja dengan Jolicia.
"Kak Ar pasti menunggu. Cepat masuk," kata Austin membuka pintu mobil dan segera memasuki mobil, disusul oleh Jolicia setelahnya.
Perlu waktu setidaknya satu jam menuju penthouse Arthur yang berada di pusat Kota London. Mobil yang dikendarai oleh Austin sudah memasuki halaman penthouse. Keduanya turun dari mobil serempak dan memasuki penthouse.
"Kak Ar... Kak Helen, aku dan Licia sudah datang." Austin berteriak dan melabuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Berbeda dengan Jolicia yang menyapukan pandangannya pada sekitar. Sebab ini pertama kalinya ia mendatangi penthouse milik Arthur dan ia terpana dengan interior di dalam sana. Benar-benar cocok dengan kepribadian pria itu.
Tidak mendapatkan sahutan dari Arthur maupun Helena, kening Austin mengernyit heran. "Apa mereka sudah lebih dulu ke Mansion? Tapi tidak mungkin mereka meninggalkan penthouse tanpa mengunci pintunya," gumamnya kemudian.
Austin yang penasaran kemudian beranjak dari tempat duduk. Langkahnya menuju lantai atas, yang hanya terdapat satu kamar milik kakaknya itu. Melihat Austin menaiki tangga Jolicia kembali mengekor tanpa menimbulkan suara.
"Ar, honey... pelan-pelan saja."
"Hm, aku sudah lebih pelan. Sebentar lagi aku akan sampai."
"Aahhhh... a-aku juga akan sampai, Honey."
Langkah Austin terpaksa terhenti ketika ia mendengarkan suara lucknut yang sudah mencemari telinganya yang suci. Kenapa bisa dikatakan suci? Karena hingga sampai saat ini Austin tidak pernah mendengar maupun menonton video dewasa.
Jolicia yang menghentikan langkah bersisian dengan Austin pun tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aduh, Mom. Maafkan aku yang tidak sengaja mendengar suara merdu seperti itu," batinnya. Jolicia selalu ingat akan pesan Mommy Angela jika dirinya harus tutup telinga jika tidak sengaja mendengar suara-suara kenikmatan itu.
"Sebaiknya kita tunggu di bawah saja." Austin segera melenggang pergi dari depan kamar pasangan suami istri itu dan menuruni tangga, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Jolicia pun menyusul, ia tidak mungkin berdiri disana lebih lama lagi. Bisa-bisanya otaknya tercemar sebelum waktunya.
Kini keduanya memilih duduk di sofa ruang tamu. Menunggu Arthur dan Helena menyelesaikan ritual panas mereka. Sesekali Austin dan Jolicia melirik satu sama lain, tetapi detik kemudian saling membuang pandangan masing-masing. Entahlah, tiba-tiba kecanggungan melingkupi mereka.
"Kalian sudah datang?" Suara Arthur membelah keheningan panjang antara Austin dan Jolicia. Keduanya kompak melihat ke arah Arthur yang menuruni tangga bersama dengan Helena. Wajah keduanya nampak berseri-seri usai melakukan sesi percintaan yang entah sudah ke berapa kalinya.
Arthur tidak menyahut, ia dan Helena sudah bersiap untuk kembali ke Mansion setelah menghabiskan waktu sepanjang malam di penthouse usai kelelahan mengajak Helena berjalan-jalan.
"Kalau begitu cepatlah! Apa kau malah ingin duduk disini As?" seru Arthur memperhatikan adiknya yang masih santai seolah enggan beranjak berdiri. Padahal Jolicia sudah berdiri sejak ia dan Helena menuruni tangga.
"Hm..." Dengan masih memasang wajah kesal, Austin bangkit berdiri. Ia melirik ke arah kakak iparnya yang tersenyum padanya.
Austin dan Jolicia berjalan lebih dulu keluar dari penthouse di ikuti oleh Arthur serta Helena. Dan mereka memasuki mobil yang sama menuju Mansion.
Belum tiba di tempat tujuan, Austin yang mengemudikan mobil tiba-tiba menginjak pedal rem. Matanya tertuju pada seorang pria paruh baya yang gagah dan tidak asing.
Jolicia mengikuti arah pandang Austin dan ia terkejut mendapati Daddy Zayn berada di tepi jalan bersama dengan pria yang sebaya seperti mereka.
"Hei, sialan. Kau pikir jalanan ini milik nenek moyang kalian?! Cepat singkirkan mobil butut ini!" teriaknya kepada pengendara mobil yang menepikan mobilnya di pinggir jalan secara tiba-tiba. Mobilnya baru saja menghantam mobil butut di depannya, Zayn hanya bisa meringis melihat mobil kesayangan ringsek seperti itu.
Nyali kedua pemuda itu menciut. Padahal sebelumnya mereka bersikeras agar pria tua itu membayar ganti rugi.
"Ta-tapi kami tidak salah. Paman yang tidak membawa mobil dengan benar."
"Iya benar, seharusnya paman membayar ganti rugi jika tidak ingin kami laporkan ke polisi." Pemuda satunya lagi menimpali perkataan temannya.
"Heh, sialan! Kalian ingin memerasku?!" seru Zayn tidak terima. Setelah sekian lama, baru kali ini ada yang berani memeras uangnya. Apa ia harus kembali menjadi mengerikan seperti dulu dan memenggal kepala mereka? pikirnya.
"Zayn, sudah. Apa kau tidak malu dilihat banyak orang?" Mommy Angela turun dari mobil dan menghampiri suaminya.
"Heh?" Zayn mengedarkan pandangannya. Apa mata istrinya bermasalah? Sebab tidak ada siapapun yang melihat. Suasana nampak lengang seperti berada di jalan tak berpenghuni. "Tidak ada siapa-siapa sayang. Hanya ada kau dan aku disini." Perkataan Zayn membuat wajah Mommy Angela bersemu merah. Berbeda dengan kedua pemuda di hadapan mereka yang terlihat mual.
"Kalian bisa melanjutkan kemesraan kalian saat sudah sampai rumah. Sekarang lebih baik menyelesaikan masalah dengan membayar ganti rugi."
"Cih...!" Zayn kembali memusatkan perhatiannya kepada dua pemuda itu. "Apa di otak kalian hanya ada uang saja?!"
"Semua perlu uang paman, agar bisa bertahan hidup."
"Benar. Paman tidak akan mengerti hidup susah seperti kami."
"Cukup! Aku tidak tertarik dengan kehidupan kalian!" Zayn berjalan menuju mobil, melewati sang istri untuk mengambil dompet di dalam mobil, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. "Ini ambillah, gunakan dengan baik. Lebih baik jangan mencari uang seperti ini. Beruntung kalian bertemu denganku, jika kalian bertemu dengan orang lain, mungkin kalian akan kehilangan kepala kalian!" Sedikit memberi nasehat, selebihnya Zayn tidak peduli mereka akan mengikuti nasehatnya atau tidak. Dan Zayn segera masuk ke dalam mobil setelah memastikan sang istri duduk kembali dengan nyaman di dalam mobil.
Keduanya hanya bisa saling menatap, mereka tidak menduga jika pria tua itu menyadari motif mereka yang bermaksud memeras dan menyusun skenario seolah-olah kecelakaan.
"As, jalankan mobilnya. Jangan sampai tamu penting yang di tunggu-tunggu datang lebih dulu." Arthur membuka suaranya sembari mengelus kepala Helena yang bersandar di bahunya. Terlebih untuk apa As masih menepikan mobilnya jika pertunjukannya sudah selesai.
Dan Jolicia hanya bisa menggelengkan kepala, di jaman modern seperti ini masih saja ada seseorang yang mencari uang dengan cara seperti itu.
"Iya Kak Ar." Austin segera kembali melajukan mobilnya. Ia sebenarnya penasaran siapa tamu penting yang akan datang ke kediaman mereka. Namun rasanya percuma saja bertanya, karena jawaban Arthur akan tetap sama, 'kau akan mengetahuinya nanti'.
To be continue
Austin
Sabar ya nanti Babang Mike sama Elie akan bertemu π₯Ίπ€
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian π Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian π...
...Always be happy π·...
...Instagram : @rantyyoona...