
Beberapa pasang mata memandang haru dan tidak dapat membendung air mata yang menggenangi kelopak mata mereka. Sudah tiga puluh menit berlalu tetapi mereka tidak mengalihkan pandangan dari sosok pria yang baru sadarkan diri setelah empat hari mengalami koma.
"Berhentilah menatapku seperti itu." Jujur saja Arthur nampak risih karena keluarganya memandang dirinya begitu lekat. Bahkan terasa aneh menurutnya, sebab sejak bangun dari tidur panjangnya, Sang Mommy terus memeluknya dan Daddy-nya yang pencemburu itu hanya diam saja. Biasanya pria tua itu akan memarahi dirinya atau menarik istri tercintanya ketika memeluk pria lain, meski putranya sendiri.
"Mom, benar-benar takut jika kau tidak pernah bangun lagi sayang." Air mata kembali meluruh, Elleana sungguh tidak bisa menahan lebih lama lagi, sehingga membiarkan air matanya itu tumpah.
Xavier mengusap bahu Elleana, untuk memberikan ketenangan pada istri tercintanya itu. Posisinya yang berdiri sedikit menunduk untuk melabuhkan kecupan di puncak kepala sang istri.
"Kak Ar benar-benar membuat kita semua mencemaskanmu," timpal Elie di kursi yang lain, posisinya berseberangan dengan Elleana.
"Bahkan aku harus menunda sidang skripsiku saat mendengar kau koma, Kak." Austin turut menyambar, ia memang menduda sidangnya kala itu. Dan dua hari yang lalu melanjutkan sidang yang sempat tertunda.
Arthur tersenyum canggung. Ia tidak bermaksud membuat semua keluarga tercintanya itu menjadi sangat mencemaskan dirinya. Terlebih Austin hingga harus menunda sidang skripsi yang penting itu.
"Aku sudah baik-baik saja sekarang," ucapnya memberitahu keadaannya saat ini. Tubuhnya merasa lebih segar dari sebelumnya. "Dan kau As, bagaimana sidang skripsimu jika kau menundanya?" Dalam keadaan baru pulih saja, ia sudah mencemaskan adiknya itu. Ia tahu jika selama ini Austin berjuang untuk segera lulus.
Austin tersenyum mendengarnya. "Tenang saja, aku sudah sidang dua hari yang lalu."
"Baguslah...." Arthur mengangguk penuh kelegaan.
"Baiklah, sudah cukup bicaranya. Aku ingin kalian makan, karena aku tidak ingin istriku jatuh sakit jika putra dan putrinya tidak makan." Xavier menyela momen mengharukan itu. Biar bagaimanapun ia turut senang, putra sulungnya sudah sadar dari koma. Namun saat ini kesehatan istrinya juga sangat penting, terlebih selama Arthur koma, istrinya tidak makan dengan teratur.
"Astaga, aku hampir saja lupa. Sebaiknya kita makan terlebih dulu As," Elie segera beranjak berdiri menuju meja, dimana di atas sana sudah tersedia banyak makanan. "Kak Ar tau tidak, dari saat kau koma Mommy tidak makan dengan benar dan itu membuat Daddy sangat sedih." Elie kemudian melirik ke arah Daddy Xavier dan mengulum senyumnya.
"Aku sangat mencintai Mommy kalian, tentu saja sangat sedih jika melihat istriku jatuh sakit," sahut Xavier jujur, bahkan terlalu jujur menurut mereka.
"Ya.... ya.... Daddy memang suami terbaik, Mommy sangat beruntung memiliki Daddy." Kali ini Elie bergantian menggoda Sang Mommy, membuat wanita yang sudah memiliki tiga anak itu tersipu malu.
Kepala Elleana mendongak, menatap suaminya penuh dengan cinta. "Benar, Mommy sangat beruntung dan juga sangat mencintai Daddy kalian."
Xavier menunduk, membalas tatapan istrinya. Keduanya saling memandang selama beberapa saat, hingga Xavier membenamkan ciuman di bibir Elleana.
"Astaga, kalian benar-benar tidak tau tempat!" Elie mencebik sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Sementara Austin tidak pedulikan kemesraan kedua orangtuanya, pemuda itu hanya sibuk menguyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Biarkan saja, aku lapar. Sebaiknya kau juga makan Kak." Dan Austin menyuapi steak yang sudah ia potong ke dalam mulut kakaknya itu. Elie menerimanya dan segera mengunyah daging lembut itu.
Arthur menggeleng, meskipun berada dirumah sakit, suasananya seperti berada di Mansion. Dan sudah lama mereka tidak berkumpul seperti itu, sebab dirinya dan Austin jarang berada di Mansion.
"Mom, makanlah. Aku akan menyuapimu." Mendengar perkataan Arthur, Elleana sontak mengangguk dengan semangat. Sudah lama sekali ia tidak makan dari tangan putra sulungnya itu.
Xavier yang baru saja mengambilkan makanan untuk istrinya, menampakan wajah pias. "Sweety, sepertinya kau senang sekali disuapi oleh putramu." Dan ucapannya terselip nada kecemburuan.
"Tentu saja aku senang Hubby, sudah lama aku ingin Ar menyuapiku lagi. Berikan piringnya padaku." Elleana tersenyum sembari menyodorkan tangannya.
Terdengar helaan napas dari mulut Xavier. "Baiklah." Dan ia hanya bisa pasrah, memberikan piring berisi lauk pauk itu dengan enggan. Padahal ia ingin sekali menyuapi istrinya itu, akan tetapi istri tercintanya lebih memilih disuapi oleh pria lain. Ah bukan, putra mereka, tetapi tetap saja pria lain selain dirinya.
Xavier hanya bisa memandang istrinya yang sudah kembali duduk, tidak lupa piring itu sudah berpindah di tangan Arthur.
"Aku hanya menyuapi Mommy-ku. Jangan menatapku seperti itu, Dad." Arthur mendengkus ketika mendapati sorot mata Daddy-nya yang begitu tajam menyoroti dirinya.
Elleana sontak menoleh ke arah Sang Suami. "Hubby, apa kau marah, hm?" tanyanya memastikan.
Xavier menggeleng dengan cepat. "Tidak Sweety, makanlah yang banyak." Bagaimana mungkin ia mengatakan jika dirinya cemburu pada putranya sendiri. Elleana mengangguk, lalu kembali menerima suapan dari Arthur.
"Dad, duduklah. Aku akan menyuapimu juga." Austin menggeser posisi duduknya, meminta Sang Daddy untuk duduk bersisian dengannya. Sungguh melihat Daddy Xavier hanya berdiri disana sangat mengganggu pandangannya.
Elie berusaha untuk tidak terkekeh. Terlebih saat melihat tatapan Daddy-nya yang horor. Dengan perasaan kesal karena secara tidak langsung diejek oleh putranya sendiri. Mau tidak mau, Xavier melangkah mendekat, sebelum kemudian membenamkan tubuhnya tepat di samping Austin.
"Aku bisa makan sendiri As. Tidak perlu menyuapiku!" Xavier menyambar makanan miliknya yang tersedia di atas meja.
"Iya baiklah. Aku hanya menawari Dad saja." Setelah menggerutu, Austin kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Mereka menikmati makanan masing-masing dan mengakhiri makan siang yang menjelang sore itu.
"Mom baru ingat jika tadi ada seorang wanita cantik yang salah masuk ke dalam ruangan Ar." Perkataan Mommy Elleana yang memecah keheningan itu sontak membuat semuanya menoleh ke arahnya.
"Siapa Mom? Kenapa wanita itu tiba-tiba berada di lantai ini? Bukankah ruangan ini hanya ada satu saja?" Pertanyaan berbondong-bondong itu dilayangkan oleh Elie sembari membereskan sisa-sisa makanan mereka. Meskipun berasal dari keluarga kaya raya tidak membuat wanita itu bersikap manja dan seolah tidak bisa melakukan apapun jika tanpa bantuan pada maid.
Mommy Elleana mengangkat kedua bahunya. "Mom tidak tau. Dia tersesat karena ingin menjenguk temannya. Mungkin temannya itu tidak jelas memberitahukan ruangan tempatnya di rawat."
"Lalu apa yang dia lakukan? Apa dia menyakitimu dan Ar, Sweety?" Wajah Xavier menyiratkan kegelisahan. Tentu saja ia cemas jika seorang wanita yang entah siapa itu bermaksud ingin mencelakai keduanya.
"Tidak Hubby, jangan berburuk sangka seperti itu. Dia tidak melakukan apapun. Saat aku kembali dia justru terkejut dan menjelaskan jika salah ruangan. Aku percaya padanya, tatapannya sangat polos. Sehingga mustahil wanita muda itu berniat macam-macam kepadaku maupun Ar." Elleana begitu membela wanita yang tidak diketahui namanya itu. Rasanya sangat tidak adil jika wanita yang nampak baik itu dicurigai oleh suaminya.
Mendengar ucapan sang istri, Xavier mengangguk mengerti. Istrinya itu memiliki insting yang kuat jika sudah menilai seseorang, sehingga ia percaya saja.
"Dan saat Mom masuk ke dalam kamar, Mom sangat terkejut melihat Ar sudah membuka matanya," sambungnya kemudian menceritakan yang sebenarnya.
"Berarti wanita itu membawa keberuntungan untuk Kak Ar. Kedatangannya bisa membuat Kak Ar langsung membuka mata," seru Elie antusias. Sungguh wanita itu selalu mempercayai sesuatu yang diluar akal manusia.
"Jangan bicara sembarangan, Elie. Tidak ada wanita yang membawa keberuntungan selain kau dan Mom. Jangan berpikir yang tidak-tidak!" tukas Arthur penuh ketegasan.
"Kau salah jika membicarakan wanita di depan Kak Ar. Dia anti terhadap wanita." Austin berbisik kepada Elie sembari terkekeh kecil.
Mommy Elleana tidak menimpali ucapan Arthur. Wanita setengah baya itu hanya bersitatap dengan suaminya. Memang sangat sulit membuat Arthur mengubah pandangannya terhadap wanita.
"Hmm, Mommy baru ingat. Bukankah besok Elie akan melakukan pekerjaan pertamanya menjadi model di perusahaan Aunty Jenn?" Elleana berusaha mencairkan suasana, ia tidak ingin membuat Arthur menjadi tidak nyaman dan kembali emosi. Mengingat putra sulungnya itu baru saja sadar.
"Benar Mom. Besok aku akan ke Birmingham. Sudah lama aku tidak berpose di depan kamera, pasti gerakanku menjadi kaku." Sembari terkekeh, Elie nampak begitu antusias. Pekerjaan yang ia geluti memang sangat ia sukai.
"Tidak, putri Mom selalu menakjubkan. Tidak mungkin hanya satu bulan tidak berpose di depan kamera menjadi kaku." Elleana menggeleng, ada-ada saja putrinya itu, pikirnya.
"Semua model wanita pasti sangat iri denganmu Kak," sambar Austin. Sedari tadi ketiga pria disana mendengarkan percakapan mereka.
"Untuk apa mereka iri denganku. Aku disana bekerja sebagai Elie Cassandra bukan sebagai keponakan pemilik agensi."
"Ck, jadi lagi-lagi kau merahasiakan identitasmu?" Austin tidak pernah habis pikir, kenapa kakaknya itu selalu menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Jika wanita lain, akan sangat bangga menjadi pusat perhatian dan di idolakan banyak pria maupun wanita.
Elie mengangguk mengiyakan. "Aku tidak ingin mereka memandangku karena berasal dari Keluarga Romanov."
"Apapun keputusanmu Dad akan mendukung." Xavier menyuarakan dukungannya. Putrinya itu memang berbeda, sebab itu ia merasa bangga.
"Benar. Mom juga akan mendukungmu."
"Besok akan ada dua bodyguard yang menjagamu. Kak Ar tidak akan membiarkanmu ke Birmingham seorang diri," ucap Arthur. Tentu ia tidak ingin kejadian kala itu terulang kembali.
"Baik kak, aku mengerti." Elie tidak akan memprotes lagi, sebab apa yang dilakukan kakak kembarannya itu demi menjaga keselamatannya.
To be continue
Babang Arthur
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...