The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Fakta Mengejutkan Dari Sosok Elie



Suasana tiba-tiba menghening ketika kedatangan tiga pria tampan. Namun yang menjadi fokus utama Helena adalah Arthur. Pria itu berada di hadapannya dan Elie baru saja mengenalkan pria itu sebagai kakaknya. Apa ia sedang bermimpi? Jika memang iya, tolong bangunkan dirinya.


"Helena, ada apa denganmu? Kenapa diam saja?" Entah sejak kapan Elie sudah berada di sisi ranjang, tangannya mengguncang bahu Helena, sehingga membuat Helena yang bergeming itu mulai bereaksi.


Wanita itu mengulas senyum tipis, menyembunyikan keterkejutannya. "Aku tidak apa-apa Elie. Aku hanya terkejut dan bingung saja." Benar, ia masih mencoba mencerna.


Elie tersenyum sembari mengangguk. Ia paham hanya dengan sekali lihat wajah Helena yang mendadak penuh kebingungan. "Dia adalah Arthur, kakakku. Kami terlahir kembar. Tapi aku sudah terbiasa memanggilnya kakak. Kau pasti sudah tau siapa Arthur." Pada akhirnya Elie membuka identitasnya di hadapan Helena. Ia ingin Helena mengetahui segalanya agar hubungan mereka lebih baik lagi kedepannya.


Helena menampilkan senyum canggung. Sungguh diluar dugaannya, ia tidak pernah menduga jika keduanya adalah kakak beradik yang terlahir kembar.


"Jadi kalian...." Bahkan Helena tidak dapat berkata-kata, apa yang baru diketahuinya sungguh mengejutkan dirinya. Kini ia mengerti kenapa pria itu begitu bersikukuh melindungi Elie yang ia pikir jika pria itu mencintai Elie sama seperti Mikel. Ternyata dugaannya salah, Arthur memang mencintai Elie, tetapi sebagai adik bukan sebagai wanita yang diinginkan sebagai pendamping hidup seperti dugaannya selama ini. "Aku pikir kalian... Dia.... ah sudahlah lupakan saja." Matanya tidak sengaja saling bersitatap, sontak saja membuat Helena melebarkan senyumnya.


"Memangnya apa yang kau pikirkan tentang kami?" Elie menelisik curiga, ia bisa melihat gelagat wanita itu yang berpikiran tidak-tidak mengenai hubungannya dengan Arthur.


"Tidak ada, aku tidak berpikir apa-apa." Helena membuang pandangannya ke arah lain, lebih tepatnya melemparkan tatapannya kepada sosok Darren yang tentu sudah tidak asing, sebab bertemu dengan Arthur sudah pasti akan ada asisten pria itu di sampingnya, mata yang bergulir indah itu berhenti pada sosok Oscar. "Dokter Oscar?" Doble terkejut, itulah yang dirasakan oleh Helena. Kenapa ia baru menyadari jika sedari tadi terdapat Dokter Oscar?


"Hallo, Nona Helena. Akhirnya Nona menyadari keberadaanku." Oscar tersenyum ramah, sejak tadi ia menunggu wanita itu mengenali dirinya.


"I-iya Dokter. Maaf aku tidak menyadari ada dokter." Helena balas tersenyum, sebisa mungkin ia menghindari kontak mata dengan Arthur yang menatapnya dengan tajam.


"Tidak masalah Nona. Apa kondisi Nona sudah baik-baik saja?" Oscar kembali menampilkan senyum, hingga menampakkan deretan giginya yang putih itu.


"Aku baik-baik saja, Dokter."


"Ehem...." Deheman Arthur mengurungkan suara Oscar yang kembali ingin menanggapi perkataan Helena. "Bukankah kau masih ada perkejaan? Lebih baik kau kembali saja ke ruanganmu!" Nada dingin itu sudah terbiasa dilontarkan oleh Arthur, namun tetap saja membuat mereka yang berada di sekitar menjadi membeku olehnya.


"Aku tidak ada pekerjaan Ar. Aku ingin memastikan lebih jauh kondisi Nona Helena." Kondisi yang ia maksud adalah mental pasiennya. Ia cemas jika peristiwa yang baru saja terjadi mengguncang wanita itu. Tentu sebagai dokter, ia tidak ingin melihat kondisi pasiennya semakin memburuk.


"Tidak perlu, hal itu biar menjadi urusanku." Sepertinya Arthur tidak sadar jika perkataannya mengundang keterkejutan Helena, terutama Elie. Namun tidak dengan Darren, ia seolah menjadi terbiasa mendapati Arthur yang tidak sadar dengan perasannya sendiri tetapi tetap bersikap dingin. "Maksudku, menjadi urusanku dan Elie." Meralat perkataannya ketika baru menyadari ada yang salah dengan perkataannya tersebut.


Kening Oscar mengkerut dalam. Tidak biasanya Arthur salah dalam berucap. Terlebih nampak salah tingkah di hadapan seorang wanita. Profesinya yang sebagai Dokter Psikolog membuatnya paham gerak-gerik seseorang. "Ya, baiklah. Aku hanya ingin memastikannya saja karena Nona Helena juga merupakan pasienku."


"Pasien?" Elie tertegun, ia menoleh ke arah Helena.


"Ak-aku kesulitan tidur jadi berkonsultasi dengan Dokter Oscar." Meski menyahuti pertanyaan Elie yang penuh tanda tanya itu. Faktanya ekor matanya melirik ke arah Arthur yang juga tidak berpaling menatap dirinya.


Oscar hanya tersenyum menanggapi. Sebagai Dokter sudah sepatutnya ia merahasiakan apa yang di derita pasien itu sendiri. Kecuali atas izin dari pasien yang tengah di tanganinya itu.


Elie mengangguk, ia tidak mencurigai apapun. Tetapi berbeda dengan Arthur, ia seolah sudah mengenal luar dalam wanita itu, jika ada yang disembunyikan. Aneh bukan, seolah dirinya paling paham mengenai wanita itu.


Tatapan Oscar menyelidik ke arah Arthur dan bergantian ke Helena. Keduanya berusaha menutupi sesuatu, tetapi sorot mata mereka tidak bisa membohongi jika terdapat percikan.... cinta? Sadar apa yang dipikirkannya itu tidak mungkin, Oscar menggulirkan pandangan kepada Darren. Pria datar itu bergeming, hanya memperhatikan mereka. Namun Darren mengedikkan bahu ketika Oscar menuntut penjelasan padanya.


Bukan urusanku. Seperti itulah yang di tangkap oleh Oscar dari sorot mata Darren. Kaki tangan sekaligus teman baik Arthur tentu saja akan merahasiakan apapun mengenai Arthur, kecuali jika mendapatkan izin dari pria gunung es itu.


"Baiklah, aku permisi dulu. Pasien-pasienku sudah menunggu." Pada akhirnya Oscar berpamitan.


"Iya Dokter."


Elie dan Helena menjawab serentak. Tidak dengan Arthur yang hanya menyahut dengan deheman. Oscar segera berlalu dari sana dengan sejuta pertanyaan yang berkumpul di otaknya


"Der, segera urus administrasi," bisik Arthur kepada Darren.


Darren mengangguk dan dengan cekatan keluar dari ruangan. Biar bagaimanapun menjadi tanggung jawab Arthur untuk membiayai rumah sakit, sebab wanita itu sudah menyelamatkan Elie.


"Jika tidak salah, Tuan Xavier memiliki sepasang anak kembar dan adik laki-laki." Suara Helena memecah keheningan yang sempat tercipta di dalam sana. Arthur memasang telinganya, masih setia berdiri tidak jauh dari ranjang.


"Benar." Elie antusias, untuk pertama kalinya ia begitu semangat ingin memperkenalkan keluarga tercintanya. "Aku dan Kak Ar kembar, dan kami memiliki adik yang baru akan wisuda minggu depan."


Helena mengangguk. "Aku pernah mendengar tentang kalian tapi aku benar-benar tidak tau jika kau adalah bagian dari mereka. Aku-" Helena mendadak tidak enak hati, sebab dahulu ia selalu membuat masalah dengan wanita yang kini duduk di tepi ranjang. Siapa yang mengira jika model Elie Cassandra adalah putri dari Keluarga Romanov yang berpengaruh itu. Untuk sementara ini, Helena mengabai sejenak Arthur yang sudah membebankan tubuhnya di kursi panjang berhadapan dengan ranjang.


"Aurelie Cassandra Romanov, bukankah itu nama dirimu yang sebenarnya? Kenapa kau menutupi dari publik dan bahkan media?" lanjutnya. Penasaran, sebab jika wanita lain mungkin akan bangga menjadi bagian dari Keluarga Romanov dan melakukan apapun dengan kekuasaannya.


Elie terkekeh, pertanyaan yang sama dari berbagai kalangan teman-temannya yang sudah mengetahui siapa dirinya.


"Aku lebih suka seperti ini. Jadi aku mengetahui siapa saja yang ingin berteman denganku tanpa memandang statusku." Elie menjawab apa adanya. Meskipun hubungannya dengan Helena baru terjalin beberapa jam yang lalu, tetapi ia tidak masalah jika wanita itu mengetahui rahasianya.


Arthur memperhatikan kedua wanita itu, entah sejak kapan mereka sudah saling akrab dan bahkan adiknya itu dengan mudahnya membeberkan rahasianya. Arthur memijat pangkal hidungnya, tidak mengerti dengan wanita yang bisa berubah-ubah dalam sekejap saja.


BRAK


Pintu yang baru saja terbuka dengan kasar mengalihkan perhatian ketiganya. Sosok tinggi semampai dengan rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu halus berjalan mendekati ranjang dengan wajah panik. Dilihatnya dua wanita yang sebenarnya sama-sama penting, hanya saja sosok wanita di masa kecilnya lebih mendominasi.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya menatap datar. Ia tidak ingin wanitanya itu salah paham dengan kecemasannya itu.


"Aku baik-baik saja, Mikel." Helena tersenyum sewajarnya. Ia tidak ingin sepasang kekasih yang saling mencintai itu berselisih karenanya. Padahal Elie menanggapi biasa saja, wanita itu justru menampilkan senyumnya.


Mikel mengangguk, ia ingin berterima kasih kepada Helena karena sudah menyelamatkan Elie. Namun diurungkannya lantaran terdapat Arthur yang menatap tajam ke arahnya. Bahkan tanpa Mikel sadari Arthur berdiri tidak suka dengan tangan yang mengerat dengan kepalan tangannya. Suasana menjadi mencekam karena aura kedua pria yang saling terlibat perang dingin itu.


To be continue


Babang Mikel



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...