
Mikel terisak pilu, mengeratkan pelukannya kepada Daddy Matthew. Ia menumpahkan segala kerinduan kepada pria yang banyak mengajarkan kehidupan padanya. Hanya saja saat itu ia masih terlalu muda dan tidak begitu menghiraukan setiap nasehat dan perkataan Daddy-nya.
"Ternyata kau benar Dad, terkadang kita tidak bisa memilih takdir seperti apa yang kita inginkan," ucap Mikel di tengah isakan tangisnya. "Dan aku sudah membuktikan padamu jika aku bisa berdiri dengan kakiku tanpa bantuanmu." Suara Mikel nyaris teredam isakan tangis, tetapi Matthew dapat mendengar dengan jelas ucapan yang menyentil akan percakapan mereka di masa lalu. Dimana dirinya pernah mengatakan, Suatu saat nanti kau akan memahami kehidupan yang sebenarnya. Karena itu harus bisa berdiri dengan kakimu sendiri dan jangan sampai menyalahkan takdir atas apapun yang menimpamu. Kau tidak akan bisa memilih takdirmu seperti apa. Tapi satu hal yang pasti, jika kau menerima takdirmu dengan baik, maka akan ada keajaiban yang tidak pernah kau duga sebelumnya akan terjadi.
Dan inilah jawabannya, di saat belasan tahun ia mencoba menerima takdirnya kehilangan kedua orang tuanya serta peristiwa yang menimpa sang adik, satu persatu jalannya di permudahkan. Ia dapat membalaskan dendam kepada Franco dan kematian pria itu sudah pasti sesuatu yang paling mengerikan untuk Todd. Selama ini ia berada di sisi orang-orang yang peduli padanya seperti Josh, Sid, Nathan dan Elie. Bahkan Arthur masih peduli padanya, tidak pernah ia duga jika pria itu pun akan turut membantu dirinya.
Mendengar kalimat yang pernah ia lontarkan untuk memberikan mindset yang baik agar putranya itu tidak selalu terpaku menikmati kehidupan, dimana orang-orang didalamnya penuh dusta dan sandiwara, bahkan tidak akan pernah mengetahui yang mana kawan dan lawan, siapapun saja bisa saja membunuh secara perlahan, seperti hubungan dengan adik tirinya. Bukan tanpa sebab ia pernah mengucapkan hal seperti itu, karena ia sangat mengenal sosok putranya yang kala itu, Mikel selalu bermain-main dan menikmati masa muda tanpa memikirkan masa depan seperti apa yang diinginkan. Terlebih sejak dulu, Mikel selalu terpaut akan sosok satu wanita yang entah sampai detik ini masih bertahta di hati putranya atau tidak.
Sebagai jawabannya, Matthew menepuk-nepuk pundak Mikel berulang kali. Putranya sudah tumbuh menjadi pria matang yang dewasa, meskipun selama ini sudah menjalani kehidupan yang menyakitkan.
"Terima kasih... terima kasih karena kalian masih hidup," lanjut Mikel menyerukan isi hatinya yang benar-benar dihujani jutaan rasa syukur yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Puas memeluk Daddy Matthew, mata Mikel berpindah pada sosok wanita paruh baya yang masih menampakkan kecantikannya. Wanita paruh baya itu sesegukan menangis sembari meremass pakaiannya. Mikel kemudian melepaskan pelukannya, ia membantu Daddy Matthew untuk beranjak berdiri. Sebelum kemudian bergerak maju mendekati wanita yang sudah melahirkan dirinya.
"Mom...." Mikel berjongkok, menumpu salah satu lututnya di atas rumput. Di tatapnya penuh kerinduan wanita yang duduk di kursi roda. Wajahnya tidak berisi seperti dulu, ia teringat perkataan pria yang membatunya jika kesehatan Mommy-nya memburuk. "Aku pulang Mom." Dan Mikel memeluk wanita cinta pertamanya, ia menumpahkan segala kerinduan dan rasa sayang yang membuatnya bertahan selama ini.
Kepala Mikel yang berada di pangkuan Mommy Aprille menjadi sasaran wanita itu mengusap rambut lebat putranya dengan lembut. Lelehan air matanya merambat di rahang sehingga menetes dan membasahi rambut Mikel.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu sayang?" Masih membelai lembut rambut Mikel, Mommy Aprille sudah dapat mengendalikan isakan tangisnya, sebab sungguh penasaran dengan perubahan wajah sang putra. Namun Mikel mengatup erat bibirnya, ia masih ingin menikmati momen yang sudah lama tidak ia rasakan. Mommy Aprille mengerti, putranya hanya ingin diam dan menikmati usapan telapak tangannya. "Meskipun wajahmu berubah seperti ini, tapi Mom bisa merasakan kehadiranmu. Saat tadi melihat pria asing di hadapan kami, hatiku bergetar. Mom seperti merasakan kehadiran Mike, apalagi saat kau memanggil kami dengan panggilan Mom dan Dad." Ada jeda sesaat, Mommy Aprille kembali terdiam, pikirannya meraba jauh ke masa lalu dimana saat itu ia selalu memarahi Mikel setiap kali berbuat ulah dan bahkan hanya bermain-main saja pada pelajarannya. Sungguh ia merindukan saat-saat seperti itu.
"Ada apa Mom?" Mikel tiba-tiba mengangkat kepalanya, ia menatap sendu wajah Mommy-nya. Ia mengusap sisa cairan bening di wajah wanita cinta pertamanya itu. "Apa Mom merasa tidak nyaman duduk di kursi roda seperti ini? Jika tidak nyaman biarkan aku yang menggendong." Mikel hendak beranjak berdiri, tetapi lengannya lebih dulu di tahan oleh Mommy Aprille.
Wanita paruh baya tersebut mengulas senyum tipis. "Mom baik-baik saja. Mom hanya merasa ini seperti mimpi." Telapak tangan Mommy Aprille terulur mengusap wajah Mikel yang sudah banyak berubah. "Kau masih saja tampan, bahkan bertambah tampan. Katakan, sudah beberapa banyak wanita yang kau kencani?" Mata Mommy Aprille membulat, memberikan penuh peringatan agar putranya itu tidak macam-macam seperti nasehat yang ia berikan di masa lalu.
Mikel terkekeh, sudut matanya kembali melelehkan air mata. Celotehan seperti itulah yang selalu ia rindukan dari Mommy Aprille. "Tidak ada satu wanita pun yang dapat menggantikan Elie," ucapnya sembari meraih tangan Mommy Aprille lalu mengecupnya berulang kali.
"Benarkah?" Mommy Aprille begitu antusias. Dan dijawab anggukan kepala oleh Mikel.
Percakapan ibu dan anak itu tidak luput dari perhatian Matthew, Josh dan kedua pria penduduk setempat. Mereka menatap penuh haru dan Matthew mengusap sudut matanya yang kembali basah. Senyum sang istri kembali seperti dulu, meskipun selama ini selalu tersenyum padanya, akan tetapi senyum yang ditujukkan menyimpan kesedihan yang mendalam. Dan saat ini ia kembali melihat senyum istri tercintanya yang tanpa beban.
"Tuan..." Matthew terkesiap ketika suara tidak asing memanggil dirinya. Ia segera menoleh dan memutar tubuh menghadap pria yang merupakan orang kepercayaannya.
Kedua mata Josh berkaca-kaca. Yang ia lihat di hadapannya adalah tuannya. "Saya sangat senang melihat Tuan dan Nyonya masih hidup dan baik- baik saja."
Matthew bergeming sesaat, kemudian ia berjalan mendekat dan memeluk tubuh Josh yang dibalas pelukan oleh Josh. "Terima kasih sudah menjaga Mike selama ini," batinnya tulus dan melepaskan pelukan mereka. Ingin sekali Matthew mengatakan demikian, tetapi hanya dari pelukannya itu ia berharap Josh dapat merasakan ungkapan rasa terima kasihnya.
"Sudah tugas saya menjaga dan melindungi Tuan Muda Mike. Bagi saya Tuan Muda Mike dan Nona Mei sudah seperti putra dan putri saya." Josh paham apa yang ingin di utarakan oleh tuannya itu. Hubungan mereka dulu sangat dekat, tidak hanya sekedar atasan dan bawahan saja. Terlihat tatapan mata Josh yang menyiratkan ketulusan. Selama ini ia sangat menyayangi Mike dan Meisha. Keduanya menjadi obat yang menyembuhkan keterpurukannya ketika kehilangan istri beserta putrinya yang meninggal karena kecelakaan sebelas tahun yang lalu. Kejadiannya satu bulan sebelum peristiwa Todd menyerang kala itu. Itu sebabnya seumur hidupnya ia hanya akan mengabdikan hidupnya kepada Keluarga Jhonson hingga akhir hayatnya.
Mendengar nama Meisha disebut, Matthew mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok gadis kecil yang selalu manja kepadanya.
"Dimana Mei?" Bahasa bibirnya bertanya keberadaan Meisha. Matanya mulai mendelik curiga. "Dimana dia, Josh? Dimana putriku?" Matthew mengguncang kedua bahu Josh dengan suara yang tidak keluar, meskipun ia sudah berteriak. Pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya, ia tidak ingin mendengar jika Meisha sudah tiada, meskipun kenyataannya selama ini ia mengaggap seperti itu. Akan tetapi melihat Mike masih hidup, Matthew pun menginginkan jika Meisha juga hidup seperti Mike.
"Nona Mei...." Baru saja Josh ingin menjawab, namun terurungkan karena kedatangan pria tua dengan rahang yang ditumbuhi bulu-bulu panjang yang mencapai leher.
***
Kedatangan Mikel sampai ke telinga tetua disana, sehingga pria tua yang berusia serupa dengan Kakek Mateo bersama orang-orang kepercayaannya menghentikan langkahnya saat menyaksikan momen bersatunya satu keluarga yang selama ini terpisah, saling menyakini jika sudah tiada tanpa pernah terpikir jika mereka masih hidup di tempat yang berbeda.
Sedikit cerita mengenai Keluarga Jhonson, hanya tetua tersebut yang mengetahuinya. Bahkan ia diam-diam menjaga Matthew dan Aprille dari orang-orang yang selama ini ingin berniat jahat dan ia diberikan kepercayaan oleh Mateo untuk tidak membiarkan orang-orang asing menemui mereka tanpa ada persetujuan darinya. Selama ini tetua itu sesekali berkomunikasi dengan Mateo, hanya saja sudah beberapa bulan semenjak terakhir kali menghubungi Mateo, pria yang sebaya dengannya itu sudah tidak pernah lagi menghubunginya.
Beberapa orang yang tidak berkepentingan menunggu di luar, karena bangunan itu tidak cukup menampung banyak orang.
"Aku senang jika putra Matt dan Aprille masih hidup. Mateo sudah banyak bercerita tentangmu. Ternyata benar yang dikatakannya, kau anak muda yang gagah dan tampan." Pria tua yang biasa disebut tetua di Desa Svaneti tersenyum ramah.
"Terima kasih, kau terlalu memujiku," sahut Mikel mengulas senyum. Ia bingung memanggil nama pria tua di hadapannya, sebab sejak tadi belum memperkenalkan diri.
"Panggil aku Yasen. Semua penduduk disini memanggilku seperti itu," katanya dan Mikel mengangguk mengerti. "Tapi dimana Mateo? Kenapa dia tidak datang bersama dengan kalian?" Pandangan mata Yasen menatap bergantian ke arah Mikel dan Josh.
Mikel melihat ke arah Josh, kemudian bergantian mengarahkan pandangannya kepada kedua orang tuanya yang juga menuntut jawaban darinya.
Mikel terlihat menarik napas panjang, sebelum ia menjawab, "Kakek Mateo meninggal satu hari sebelum aku datang kemari." Dan ia memberitahu apa yang terjadi dengan Kakek Mateo, hingga membuat Matthew, Aprille dan Yasen sangat terkejut.
"Ba-bagaimana mungkin?" Mommy Aprille menutup mulutnya tidak percaya. Bahunya bergetar, ia tentu saja sangat sedih mendengar kabar duka yang menimpa Mateo, pria yang sudah mereka anggap sebagai pengganti Gustavo. Matthew mengusap bahu sang istri, ia pun begitu terpukul akan kematian Mateo yang merupakan dewa penolong bagi dirinya serta sang istri.
"Seseorang menganiaya Kakek Mateo, aku datang terlambat." Dan Mikel menceritakan kejadian yang lain, ia membuat cerita seolah-seolah jika Kakek Mateo dirampok dan dianiaya. Namun Matthew tidak percaya begitu saja, pasti ada sesuatu yang terjadi sebelum kematian Mateo. Ia akan menanyakan nanti kepada putranya, meskipun ia tidak dapat berbicara, tetapi ia bisa bertanya melalui tulisan.
Yasen menjatuhkan kedua bahunya, ia pun tidak percaya jika temannya itu sudah pergi mendahului dirinya. "Malang sekali nasibmu Mateo, tapi kau pasti senang dapat bertemu dengan istri tercintamu."
Semua yang mendengar hanya saling menunduk, hingga menciptakan keheningan yang panjang.
"Mei?" Tiba-tiba Mommy Aprille menyebut nama putrinya, Meisha. "Mike, dimana Mei? Dimana adikmu?" Sorot mata Mommy mendesak Mikel agar segera menjawabnya.
"Mei...."
"Katakan, apa yang terjadi dengan Mei?" Suara Mommy Aprille menyela Mikel yang hendak menyahut, wanita paruh baya itu mendadak cemas dan kalut. Ia tidak ingin mendengar jika putrinya tidak seberuntung putranya.
Josh yang mendapatkan tatapan tajam dari Matthew hanya mampu menundukkan kepala. Ia tidak berani menyahuti dan memberitahu keadaan Meisha yang sebenarnya, jika tuan mudanya saja begitu ragu untuk memberitahu.
"Aku akan membawa kalian ke Inggris dan bertemu dengan Mei."
Kecemasan yang sempat melanda pikiran Aprille dan Matthew mendadak lenyap ketika putra mereka akan membawa mereka bertemu dengan Meisha. Itu bertanda jika putri mereka masih hidup.
To be continue
Orang ganteng nangis tetep aja ganteng ya ðŸ¤
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...