The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Dilanda Cemburu



Arthur memijat pelipisnya yang berdenyut, ia baru saja tiba di penginapan dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Selama beberapa menit dirinya hanya terdiam, seolah tengah memikirkan sesuatu. Dan Darren menyadari apa yang kini tengah dipikirkan oleh Arthur. Apalagi jika bukan mengenai Sean? Pria itu berada di lokasi titik target dan Arthur serta dirinya berada disana. Tentu saja akan menimbulkan banyak pertanyaan di benak Sean. Ia pun sangat yakin jika Sean akan menyelidikinya lebih lanjut hingga pria itu mendapatkan jawaban yang dirasa masuk akal dan memuaskannya.


"Ar...." Sungguh Darren tidak tahan lagi ketika hanya keheningan yang melingkupi sekitar mereka. Ia harus membahas hal ini, saat ini juga.


Arthur masih tidak menyahut, namun telinganya mendengar panggilan Darren.


"Sepertinya kita harus mengatur ulang strategi. Sudah pasti Sean tidak akan diam dan akan menyelidiki keberadaan kita di tempat itu." Sedikit Darren ketahui mengenai Sean, pria itu berasal dari Pasukan Spetsnaz, pasukan khusus tentara yang di takuti di seluruh dunia, bahkan hampir seluruh gembong Mafia menghindari berurusan dengan Pasukan Spetsnaz. Selain bisa menghancurkan mereka hingga ke akar dengan atas izin pemerintahan, Pasukan Spetsnaz mampu membentuk pertahanan yang sulit sekali ditembus oleh mafia-mafia seperti mereka.


"Aku tau Der dan sekarang aku sedang berpikir!" Suara Arthur sedikit membentak. Sungguh ia tengah sakit kepala saat ini. Tidak hanya terjebak dalam situasi yang tidak ia inginkan, tetapi ia pun tidak menyukai Sean lantaran beberapa tahun yang lalu ia pernah ingin membubarkan Black Lion yang tidak pernah menyentuh dan bahkan menyenggol Sean beserta pasukannya. Selama ini Black Lion tidak seperti sindikat mafia lainnya, meskipun mereka selalu melakukan penyelundupkan senjata ilegal, tetapi mereka tidak pernah merugikan masyarakat setempat, tidak membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Black Lion hanya akan berperang untuk memperluas jaringannya untuk menjadi nomor satu di dalam dunia bawah.


"Sid, hubungi Pier untuk datang kemari. Bukankah seharusnya malam ini dia sudah tiba di Rusia?" kata Arthur mengingat percakapan dirinya dengan Pier terakhir kali untuk menangani kasus Austin serta teman-temannya.


"Hem, aku akan menghubunginya. Tetapi untuk apa kau memanggilnya datang kemari?" Sungguh Darren dibuat penasaran dengan apa yang direncakan Arthur dan jujur saja dia tidak bisa menebaknya.


Arthur menumpu kedua siku pada lututnya, jemari-jemarinya saling mengait. "Hanya untuk mengelabui saja. Sean akan mengikuti kegiatanku selama berada di Rusia dan kau tau diriku yang tidak ingin kehidupan pribadiku di selidiki oleh orang lain, sekalipun dia adalah keponakan dari Paman Sam."


"Aku mengerti. Aku akan segera menghubungi Pier dan masalah Sean, kau tenang saja, aku sudah mengatur jadwalmu selama berada di Rusia." Untunglah Arthur memiliki teman sekaligus kaki tangan yang begitu cekatan seperti Darren, mampu menghadle apapun.


Pintu yang diketuk berulang kali membuat Arthur serta Darren menoleh ke arah pintu. Mereka saling melemparkan pandangan, karena keduanya tidak merasa memiliki janji temu dengan seseorang dan Darren sudah memberikan peringatan kepada pihak hotel agar tidak mengganggu mereka selama beberapa jam ke depan. Mendengar ketukan itu semakin lama semakin terketuk tidak sabar, pada akhirnya Arthur menyuruh Darren untuk membukakan pintu. Darren mengangguk, ia pun melesat menuju pintu dan segera membukakan pintu untuk siapapun itu.


"Kenapa hanya membuka pintu saja aku perlu menunggu selama ini?!" Seseorang baru saja melengos masuk, membuat Darren terpaksa menyingkirkan karena tubuhnya nyaris memenuhi pintu, dan pria itu segera membenamkan tubuhnya di sofa. Setelah Darren menutup pintu, ia bergabung dengan keduanya.


"Kenapa kau datang kemari?!" sembur Arthur kepada pria yang tanpa sungkan duduk di sofa berhadapan dengannya. "Seharusnya kau selesaikan urusanmu agar kau bisa kembali ke London lebih cepat!"


"Aku sudah mengurus Pablo dan aku harus menemukan Todd sebelum pasukan menyebalkan itu menemukannya lebih dulu!" Ya, yang datang adalah Mikel. Setelah mengurus Pablo dan menyerahkannya kepada Sid juga Paman Josh, Mikel memilih untuk menemui Arthur.


Arthur bergeming, ia paham siapa yang dimaksud oleh Mikel. Siapa lagi jika bukan Sean.


"Dan satu hal lagi, entah ini rencanamu atau tidak, tapi yang jelas aku tidak suka siapapun mendekati Elie!" Dahi Arthur mengernyit dalam saat mendengar ucapan Mikel yang tiba-tiba beralih kepada Elie.


"Apa maksudmu?" tanya Arthur bingung sekaligus mendesak Mikel agar berbicara pada intinya saja.


Namun alih-alih langsung menjawab, Mikel justru berdecak sengit. Ia kesal kepada Arthur yang justru berpura-pura tidak tahu, padahal ia sangat yakin jika mungkin ini adalah ulah dari pria menyebalkan di hadapannya.


Untuk menjawab kebingungan Arthur, Mikel melemparkan ponselnya kepada Arthur yang segera di tangkap oleh Arthur. Jika tidak, mungkin ponsel mahal milik Mikel sudah mendarat di wajahnya.


Dengan tatapan kesal, Arthur melihat ponsel Mikel dan matanya terpaku sejenak pada sebuah foto dengan caption 'putri satu-satunya Tuan Xavier Alexander Romanov kedapati berkencan dengan seorang pria muda yang sangat tampan'. Dan melihat foto yang terpampang sangat jelas itu nyaris memenuhi berita hari ini.


Arthur tidak bereaksi, maupun memberikan respons apapun. Sehingga membuat Darren penasaran dan ia segera memeriksa portal berita hari ini. Sama seperti Arthur, Darren pun terdiam selama beberapa saat ketika melihat pria yang berdiri di sisi Elie, bahkan merangkul pundak Elie dengan mesra.


"Apa ini ulahmu? Kau mengirim seorang pria untuk bersama dengan Elie?!" seru Mikel mencerca. Tidak pedulikan Arthur akan marah padanya atau tidak, yang jelas saat ini ia yang tengah marah lantaran mendapati wanitanya berkencan dengan pria lain.


Beritanya sangat berlebihan, batin Arthur mencibir beberapa portal yang membuat berita biasa tetapi digembar-gemborkan seperti itu.


BRAK!


"Katakan! Apa ini ulahmu?!" Mikel menggebrak meja, menggetarkan miniatur yang berdiri tegak di atas meja kaca tersebut hingga berpindah posisi.


Arthur masih bergeming, membiarkan Mikel berasumsi yang tidak-tidak mengenai dirinya.


"Kau??!" Geram sungguh geram. Mikel bangkit berdiri, ia ingin menyahut kerah pakaian Arthur namun Darren segera menghalanginya.


"Jangan membuat keributan. Sebaiknya tidak mencurigai Ar karena dia tidak tau apapun."


Mikel yang diliputi oleh emosi hanya mendecakan lidah mendengar penuturan Darren.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika Elie bebas berkencan dengan pria lain? Lalu kenapa kau seperti ini?!" kata Arthur sembari beranjak dan perkataannya itu semakin menyulutkan emosi Mikel.


"Aku akan membunuh pria itu!" seru Mikel tidak pedulikan jika ia harus menelan perkataannya sendiri kala itu. Sungguh ia pun berat hati saat mengatakan hal bodoh seperti itu.


"Kalau begitu kau akan berhadapan dengan Elie. Dia pasti akan membencimu!" Arthur menyunggingkan senyum, sungguh menikmati kemarahan Mikel yang tengah dilanda api cemburu. Ia tidak akan menghakimi Elie berdekatan dengan siapapun, sebab adiknya itu adalah wanita bebas. Asalkan pria itu memiliki latar belakang yang baik, tidak peduli kaya ataupun hanya orang biasa.


Semakin kacau Mikel mendengar seruan Arthur. Apakah pria itu begitu berharga bagi Elie sehingga wanitanya itu akan sangat membencinya jika dirinya melenyapkan pria itu?


"Arrgghh sialaaan!!" Mikel menendang meja. Miniatur yang berdiri itu terlonjak ke udara dan pada akhirnya terjerembab di lantai. "Akan kupastikan Elie hanya milikku! Kau atau siapapun tidak akan bisa memisahkanku dengannya!" Tangan Mikel terkepal, mengumpulkan emosi yang tertahan itu disana. Sungguh ia ingin sekali meninju siapapun, tetapi tidak mungkin ia meninju wajah Arthur yang sudah pasti akan membuat hubungan mereka yang sudah kembali membaik menjadi renggang. Untuk memudarkan emosinya, Mikel lebih memilih pergi dari sana, ia membuka pintu dengan kasar dan menutupnya pun dengan gebrakan yang menggemparkan barang-barang di dalam sana.


"Ck...." Arthur berdecak melihat kepergian Mikel. Padahal ia tidak memiliki niat untuk memisahkan mereka.


"Apa tidak masalah dia marah seperti itu Ar?" Darren bertanya memastikan. Ia hanya tidak ingin keduanya kembali menghadapi situasi dan hubungan yang menjadi lebih rumit.


"Biarkan saja. Jika emosinya sudah mereda, dia akan datang menemuiku!" Arthur sangat mengenali Mikel, pria itu akan marah tiba-tiba tetapi pada akhirnya akan membaik dengan sendirinya.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...