
Dan pernyataan Mikel tentu saja membuat Nathan terkejut. Sementara tubuh Helena mendadak kaku, tetapi kedua lututnya melemas. Matanya berusaha menemui Mikel yang terdapat kemarahan disana. Berbeda dengan Helena yang kini sudah memupuk air mata di wajahnya. Napas Mikel naik turun karena berhasil meluapkan emosinya yang selama ini selalu di tahan olehnya.
Helena menggeleng, tubuhnya nyaris meluruh ke lantai jika saja ia tidak sekuat tenaga menahan bobot tubuhnya. "Itu tidak benar. Selama ini kau hanya mencintaiku Mikel!" serunya tidak percaya.
"Tidak. Aku hanya mencintai satu wanita. Dan wanita itu yang membuatku bisa bertahan hingga saat ini." Untuk saat ini Mikel masih dapat mengendalikan dirinya. "Aku juga tidak mencintaimu Helena. Bukan aku yang akan membuatmu keluar dari rasa sakitmu. Jadi berhentilah, berhenti membohongi dirimu sendiri. Aku tidak mencintaimu dan kau juga tidak mencintaiku," serunya. Dan Helena masih nampak tenang mendengarkan.
"Pergilah. Kembalilah ke Paris. Jangan mengganggu Elie. Dia tidak tau apapun." Nada bicara Mikel sedikit rendah, berharap kali ini Helena dapat mengerti apa yang ia utarakan.
"Tidak!" Helena berteriak. Ia menarik rambutnya dengan kasar. "Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku!" Entah pikiran dari mana, sehingga Helena selalu mengecam jika mereka saling mencintai.
"Sadarlah Helena. Kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri jika seperti ini." Mikel meraih kedua bahu Helena dan mengguncangnya dengan kuat. Tidak peduli jika yang ia hadapi saat ini adalah seorang wanita. "Suatu saat kau akan menemukan seseorang yang tulus padamu. Jangan pedulikan ayahmu, aku akan mengembalikan semua uang yang diberikan oleh ayahmu dan detik itu juga hubungan kita yang sejak awal tidak pernah terjalin, berakhir sampai disini. Aku tidak peduli jika kau atau ayahmu akan mengambil sebagian saham di perusahaanku." Setidaknya bebannya sedikit berkurang. Ia tidak harus menuruti apa yang dikatakan oleh ayah dan putrinya itu.
"Tidak!" bantah Helena menepis kedua tangan Mikel. Air mata Helena semakin menggenangi wajahnya saat mendengar perkataan Mikel. "Aku mencintaimu. Dari dua tahun lalu aku mencintaimu dan kau juga merasakan yang sama. Jika tidak, mana mungkin selama ini kau baik padaku. Bahkan saat itu kau melindungiku dari Daddy yang lebih memilih istri baru dan putri sambungnya," serunya di sela-sela isakan tangisnya.
"Tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu. Hanya dia yang aku cintai, hanya dia..." Jika saja ia tidak menghargai Helena, sudah sejak tadi tangannya melayang di leher wanita itu dan mencengkramnya dengan kuat.
Tangis Helena semakin memecah, bahkan berulang kali ia menepuk dada Mikel dengan penuh kekecewaan. Nathan yang sejak tadi berdiri menjadi penonton tidak bisa melakukan apapun selain diam tidak bersuara. Sungguh ia baru mendengar cerita keseluruhan yang sebenarnya. Selama ini yang ia ketahui jika tuannya menjaga perasaan wanita itu karena sedikit memiliki rasa, tetapi kini ia sudah mendengar semuanya dan menyimpulkan jika tuannya hanya berempati terhadap Nona Helena, meskipun pada akhirnya membuat wanita itu menjadi salah paham.
"Kau bohong...." ujarnya semakin terisak-isak. Tangannya tidak berhenti memukul dada Mikel. "Kau pasti mencintaiku." Memejamkan mata sejenak, bersiap jika lagi-lagi ia harus menerima pernyataan yang sebenarnya dari mulut serta hati pria itu.
"Tidak. Aku tidak mencintaimu Helen. Dan... kau juga tidak mencintaiku." Mikel semakin menegaskan ucapannya. Sejak bertemu dengan Helena, ia begitu iba dengan nasib wanita itu. Kehilangan ibunya serta tidak diakui oleh ayah kandungnya setelah pria tua itu memiliki istri serta putri yang lain, tentu bukan hal yang mudah untuk dihadapi dan dijalani. Terlebih pertama kali ia bertemu dengan Helena dua tahun lalu saat wanita itu mencoba untuk bunuh diri dengan melompat di jembatan dan itu mengingatkannya akan adiknya Meisha yang juga selalu mencoba untuk bunuh diri.
"Tapi kau berjanji saat itu untuk selalu menjagaku." Isakan tangis Helena melemah, rasa lelah yang bercampur rasa sesak cukup menguras tenaganya. Namun tidak menyurutkan air mata yang semakin meluruh di wajahnya.
"Maafkan aku...." Mikel bersuara setelah seperkian detik terbungkam. "Aku tidak bermaksud memberimu harapan. Aku hanya ingin kau hidup dengan baik dan melindungimu dari mereka. Aku sudah menganggapmu seperti adikku. Maaf Helen, meskipun ini menyakitkan tapi aku harap kau bisa mengerti."
"Kau jahat!" Helena menyeka buliran air mata di wajahnya lalu mendorong Mikel sekuat tenaga.
"Aku memang seperti itu. Jadi hentikan semuanya. Jika kau menganggap bahwa kau mencintaiku itu salah besar. Kau hanya ingin bergantung padaku, dan selama ini tidak ada pria yang memperlakukanmu sepertiku. Kau membiarkan orang lain berpikir bahwa kau wanita jalaang. Kau selalu diam dan merendahkan dirimu sendiri hanya karena pria sepertiku. Jadi hentikanlah, hiduplah dengan baik. Jangan pernah mencoba untuk bunuh diri lagi, itu tidak akan membuat ibumu kembali." Untuk pertama kalinya selama dua tahun lebih, Mikel berkata begitu lembut kepada Helena dan justru hal itu semakin membuat air mata Helena kembali memecah.
Sungguh Helena tidak mengerti dan tidak ingin mengerti. Yang selama ini ia tangkap dari perlakuan Mikel, jika pria itu menyayanginya meskipun dengan cara yang dingin.
"Nath, antarkan Helena kembali ke hotel." Mikel tidak ingin wanita itu mengemudikan mobil dalam keadaan jiwa wanita itu yang sedang terguncang. Terlebih selama ini wanita di hadapannya itu dalam psikis yang tidak baik-baik saja.
"Tidak perlu." Helena kembali menyeka air matanya. "Aku bisa pergi sendiri. Kau atau siapapun tidak perlu mengantarku." Helena berbalik memunggungi Mikel. Kenyataan yang diterima benar-benar menyayat hatinya.
"Nath!!" Nathan semakin terkesiap saat Mikel menekankan suaranya.
"Ba-baik tuan." Nathan mengangguk, hingga kemudian melesat keluar dari ruangan begitu Helena sudah lebih dulu berlalu dari sana dengan perasaan berkecamuk.
"Sudah kukatakan, kau tidak perlu mengantarku!" Helena membentak Nathan yang sejak tadi mengekori hingga mereka berada di lobby.
"Aku harus memastikan jika Nona baik-baik saja," sahut Nathan lembut.
"Tidak perlu. Katakan padanya untuk tidak lagi mengasihani diriku!" Helena terburu-buru pergi dari sana, menghindari Nathan yang terus mengekor, hingga kemudian sebuah taksi melintas di hadapannya. Ternyata wanita itu tidak mengendarai mobilnya, melainkan menggunakan taksi hingga meminta supir taksi itu untuk menunggu dirinya di depan perusahaan.
Nathan menghembuskan napasnya ke udara karena gagal mengantarkan pulang wanita itu seperti perintah atasannya. Helena begitu lihai masuk ke dalam taksi, hingga taksi itu segera berlalu dari pandangannya.
***
Di dalam perjalanan, Helena menumpahkan tangisnya. Rasa sakit empat tahun lalu kembali menyerangnya, dan ini lebih menyakitkan dari pada saat ibunya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Sang supir taksi begitu enggan bertanya, pria setengah baya itu hanya fokus mengemudi dan membiarkan penumpangnya itu menangis tersedu-sedu.
Namun sebuah mobil mewah yang tiba-tiba berhenti itu mengharuskan sang supir untuk menginjak pedal rem. Jika tidak, maka taksinya hanya akan saling bertabrakan dengan mobil mewah tersebut.
"Paman, ada apa?" tanya Helena. Tubuhnya nyaris terguncang ke depan. Bahkan ia langsung berhenti menangis detik itu juga.
Supir taksi itu menoleh. "Maaf Nona, ada mobil mewah yang menyalip lalu berhenti mendadak."
"Turunlah," ucapnya kepada Helena.
Kening Helena berkerut dan mengikuti ucapan wanita itu untuk turun dari mobil. "Ada apa?" tanyanya sembari menelisik penampilan wanita di hadapannya yang terlihat berkelas.
"Aku ingin bicara denganmu. Ikutlah denganku."
Namun Helena tidak mengiyakan ucapan wanita asing itu. "Maaf, aku tidak mengenalmu, jadi untuk apa aku harus menuruti ucapanmu."
Wanita tersebut berdecak dengan tangan yang menyilang di depan dada. "Kau pasti akan tertarik."
"Tidak. Lagi pula tidak ada hal yang membuatku tertarik." Helena tidak peduli dan lantas membuka pintu mobil.
"Aku tau kau memiliki masalah dengan wanita yang bernama Elie. Aku bisa membantumu untuk menyingkirkannya." Pergerakan tangan Helena terhenti begitu mendengar perkataan wanita itu. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil dan menatap wanita itu yang tersenyum ke arahnya.
Dan disinilah mereka berdua berada, di salah satu Restauran terdekat. Mereka berada di VIP room dimana tidak akan ada yang mendengar percakapan mereka.
"Aku mempunyai penawaran menarik untukmu," ujar wanita itu setelah seorang pelayan wanita mengantarkan pesanan mereka dan berlalu dari sana.
"Kau belum mengenalkan dirimu," sahut Helena. Saat ini identitas wanita itu lebih penting ketimbang penawaran menarik yang dikatakan wanita di hadapannya.
"Haha aku menyukaimu," sahutnya terkekeh kecil. "Perkenalkan aku adalah Carmela Born. Pemilik dari Glory Ent."
Kedua alis Helena nampak berkerut, merasa tidak asing dengan nama perusahaan tersebut. "Lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Carmela tersenyum, lalu menyodorkan sebuah foto kepada Helena. Helena nampak malas meraih foto tersebut namun ia tertarik dengan wanita di foto itu yang terlihat seperti sedang berpelukan.
"Dia..."
"Benar, dia Elie Cassandra. Kau membencinya bukan? Aku bisa membantumu." Carmela tersenyum tipis, senyum menyeringai penuh dengan maksud terselubung.
"Apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku?" tanya Helena.
"Tentu saja membantumu menyingkirkan wanita itu dan kau bisa mendapatkan Tuan Mikel kembali." Ya, Carmela sudah mencari tahu semuanya. Mikel yang begitu melindungi sosok Elie, membuatnya penasaran dan pada akhirnya menyelidiki tentang pria itu. Terkejut bukan main karena ternyata pria itu sudah memiliki wanita lain.
Helena tersenyum menanggapi. "Lalu apa yang kau rencanakan?"
"Tentu saja membuatnya malu dengan menyebarkan foto-foto ini. Lihatlah, dia begitu sombong karena dikelilingi pria kaya dan tampan," seru Carmela.
Helena mengangguk. "Kenapa kau membencinya?"
"Karena dia telah mempermalukanku. Dia juga sudah membuat tunanganku tidak peduli padaku belakangan ini. Tunanganku adalah mantan kekasihnya dan aku ingin memberinya pelajaran karena berani-beraninya bermain-main dengan putri dari keluarga Born." Hingga sampai detik ini, Carmela begitu membenci Elie. Ia tidak akan membiarkan wanita itu hidup dengan tenang sampai kapanpun. "Bagaimana? Apa kau mau bekerjasama denganku untuk menyingkirkannya?" tanyanya kembali.
Helena nampak berpikir. Sebelum kemudian tersenyum tipis, sehingga membuat Carmela merasa jika Helena akan bekerjasama dengannya.
To be continue
Helena
...Jangan lupa dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...