
Meskipun kesal, Arthur tetap menyusul temannya itu ke lantai bawah. Kebetulan kerongkongannya sangat kering usai memaki si bodoh Oscar dan ia membutuhkan air minum untuk membasahi kerongkongannya.
"Oscar, bagaimana keadaan Ar. Apa putraku baik-baik saja?" Langkah Oscar terhenti sejenak, ia memutar tubuhnya ke arah asal suara.
"Ar baik-baik saja Bibi, hanya saja dia-"
"Aku baik-baik saja Mom. Hanya perlu beristirahat saja." Meski tersenyum kepada Elleana, namun tidak dengan sorot matanya yang mengarah tajam untuk Oscar.
"Syukurlah, Mom benar-benar cemas."
Oscar mengusap kepalanya. Arthur tidak ingin jika dirinya memberitahu tentang keadaan Arthur yang sebenarnya, sehingga ia harus mengunci rapat mulutnya jika ingin selamat.
"Tidak ada yang perlu dicemaskan Bibi. Ar benar-benar sehat," sambar Oscar tersenyum.
Elleana mengangguk mengerti. "Apa kau sudah sarapan? Sarapan-lah lebih dulu, Bibi tadi memasak cukup banyak," ucapnya kepada Oscar.
"Tidak Bibi terima kasih, sebelum datang kemari aku sudah sarapan," jawabnya. "Dimana Paman? Aku tidak melihatnya sejak tadi." Pandangan Oscar yang menyapu ke sekeliling itu tidak menemukan Xavier.
"Ada di dalam kamar, sebentar lagi turun." Memang sejak tadi Elleana berada di ruangan tengah, ia tengah menonton siaran berita. Sementara Austin mungkin berada di ruangan gym, dan Elie sudah pergi sejak pagi-pagi buta. Kini fokus Elleana dengan Oscar tersita ke arah televisi yang menyalah, menyuguhkan berita mengenai seorang desainer muda yang cantik dan energik.
"Wah, dia sangat cantik. Aku tidak heran jika dia menjadi desainer, dia seperti boneka hidup." Kedua mata Elleana berbinar penuh kekaguman pada sosok wanita yang ada di dalam berita tersebut. "Tapi dia terlihat tidak asing, aku seperti pernah melihatnya," gumamnya berusaha mengingat-ingat, tetapi nihil Elleana tetap tidak ingat. Faktor usia membuat daya ingatnya melemah.
"Kenapa tidak Bibi jadikan sebagai menantu Bibi?" Oscar berbicara takut-takut, tetapi berhubung Arthur berada di dapur membuatnya berani berkata demikian.
"Maksudmu, sebagai istri Ar?" tanya Elleana memastikan dan Oscar mengangguk semangat. "Tapi Ar tidak mungkin menginginkan wanita sepertinya, dia terlalu cantik dan seksi." Elleana tertawa renyah, sebenarnya ia tidak mempermasalahkan penampilan wanita itu. Yang lebih penting adalah kepribadiannya.
"Ada apa Mom?" Arthur sudah kembali dari dapur dengan membawa satu gelas air mineral.
"Lihatlah Ar, wanita itu sangat cantik. Apa kira-kira kriteria wanitamu seperti itu?" Tanpa berbasa-basi, Elleana langsung menanyakan kepada putranya itu. Sungguh sebagai Mommy, ia tidak tahu kriteria wanita yang diinginkan putra sulungnya itu.
Arthur mengikuti arah pandang Elleana dan Oscar yang tertuju pada layar televisi sembari meneguk kembali air mineral. "Uhukkk.... uhuukkk...." Dan mengetahui sosok wanita itu membuat Arthur tersedak hingga terbatuk-batuk.
"Ar, pelan-pelan saja." Elleana memperingati putranya itu. "Kenapa bisa tersedak seperti itu?" Elleana mendekati sang putra lalu menepuk-nepuk pelan punggung tegap Arthur.
Arthur tidak menyahut, ia sibuk memperhatikan sosok wanita cantik di dalam layar televisi tersebut. Ia baru ingat jika wanita itu desainer di Paris dan rancangannya cukup terkenal. Ya, wanita itu adalah Helena Bonham, wanita yang mampu mengusik hati dan perasaan Arthur.
"Lihatlah Ar, dia sangat cantik bukan? Bibirnya sangat mungil. Kira-kira merek apa lipstik yang dia pakai? Mom menyukainya juga." Sedari tadi fokus Elleana tertuju pada bibir wanita itu yang diberikan sentuhan warna infinite coral.
"Uhukk...." Arthur kembali tersedak dengan air liurnya sendiri ketika Mommy-nya itu membicarakan bibir wanita itu. Bibir yang sudah terjaamah oleh bibirnya.
Pandangan Oscar tersita sejenak ke arah Arthur, lalu kembali memperhatikan layar televisi. "Tidak salah lagi, ternyata dia wanita yang sama."
"Ada apa Oscar? Apa kau mengenalnya?" tanya Elleana yang mendengar gumaman Oscar.
Oscar mengangguk. "Benar Bibi, wanita itu adalah salah satu pasienku. Aku tidak tau jika dia seorang desainer di Paris, dua kali wanita itu berkonsultasi denganku."
Meski wajah Arthur nampak tidak peduli, akan tetapi sebenarnya ia mencuri dengar perkataan Oscar. Pasien? Apa yang terjadi dengannya? batinnya mulai bertanya-tanya.
"Kenapa dia bisa menjadi pasienmu?" tanya Elleana turut penasaran.
Dering ponsel menyita perhatian Arthur, ia segera merogoh ponsel di dalam saku celananya. "Ada apa Der?" Yang menghubungi dirinya adalah Darren, memberikan kabar buruk padanya. "Aku akan segera kesana!" Lalu memutuskan sambungan telepon.
"Ar, ada apa?" Melihat wajah Arthur yang panik membuat Elleana mengerutkan keningnya. Bahkan ia melupakan keingintahuannya mengenai wanita di televisi yang juga merupakan pasien Oscar.
"Tidak ada apa-apa Mom. Aku melupakan rapat penting, jadi aku akan datang ke perusahaan." Senyum Arthur mengartikan jika semuanya baik-baik saja.
"Baiklah, hati-hati." Elleana tidak mencurigai apapun, ia hanya mengangguk saja.
Arthur kemudian berlari ke kamar untuk mengganti pakaian. Tidak membutuhkan waktu lama, Arthur sudah kembali menuruni tangga.
"Kau ikut denganku." Menyambar bahu Oscar untuk ikut bersamanya.
"Bibi, aku pergi dulu." Masih sempat untuk Oscar berpamitan dengan langkah yang diseret oleh Arthur.
"Kalian berhati-hatilah," teriak Elleana di ambang pintu. Kepalanya menggeleng, Arthur benar-benar selalu berlaku seenaknya saja terhadap Oscar.
***
"Rumah sakit." Dan akhirnya pertanyaan Oscar di jawab sudah.
Oscar mengening. "Rumah sakit? Untuk apa?"
"Elie hampir saja tertabrak mobil." Menjawab sembari fokus mengemudi.
"Astaga." Oscar terkejut mendengarnya. "Lalu bagaimana keadaannya? Apa Elie baik-baik saja?"
"Elie baik-baik saja. Ada seorang wanita yang menyelamatkan Elie, jadi wanita itu yang terluka," sahutnya. Di sambungan telepon tadi, Darren tidak memberitahukan siapa wanita itu. Ia terburu-buru memutuskan sambungan telepon.
"Jadi wanita itu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Elie?"
"Jangan banyak bicara, kau membuatku sakit kepala!" Arthur menghardik kesal, ia tidak ingin fokusnya terpecah.
"Ck, tidak mungkin kau sakit kepala. Saat ini justru kau sedang berdebar-debar mengingat wanita yang kau cintai itu."
"Shut up fuckk up, Oscar!" umpat Arthur "Jika kau terlalu banyak bicara, jangan salahkan aku menendangmu keluar dari mobilku!" Lagi-lagi ancaman Arthur bekerja, Oscar tidak lagi banyak berbicara. Ia menutup rapat bibirnya hingga mobil mereka tiba di rumah sakit, dimana Oscar juga bekerja disana.
Keduanya setengah berlari menuju ruangan dimana wanita itu mendapatkan perawatan. Sosok Elie sudah memenuhi pandangan Arthur dan Oscar, bahkan Darren pun sudah tiba lebih dulu di rumah sakit.
"Kak Ar." Elie yang menyadari kedatangan Arthur, menoleh seketika.
"Kau baik-baik saja, hm?" Arthur memeriksa tubuh Elie mulai dari wajah adiknya itu, memastikan jika memang tidak terdapat luka.
"Aku baik-baik saja. Tapi dia terluka karena menyelamatkanku," cicitnya. Terselip rasa bersalah pada sorot mata Elie.
"Siapa yang sudah menyelamatkanmu?"
"Dia-"
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian keempatnya, seorang dokter wanita setengah baya keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh satu perawat wanita.
"Dokter bagaimana keadaannya?" Elie yang paling mencemaskan wanita itu. Tentu saja, sebab pertemuan mereka yang tidak terduga membuat wanita itu harus terluka karena dirinya.
"Pasien baik-baik saja, tidak ada luka serius, hanya terluka di beberapa bagian tangan." Penuturan dokter tersebut.
Elie bernapas penuh kelegaan, setidaknya wanita itu baik-baik saja dan ia tidak harus merasa bersalah, mengingat keduanya baru saja ingin melupakan ketegangan yang sempat terjadi di antara mereka.
"Terima kasih Dokter," ucapnya.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi." Dokter tersebut berpamitan pergi dari sana diikuti oleh satu perawatnya.
"Ayo kak kita masuk, aku akan kenalkan dia pada Kak Ar." Elie mengaitkan tangannya di lengan Arthur, kemudian membuka pintu ruangan. Oscar dan Darren turut masuk dalam diam.
"Helena, kenalkan dia kakakku." Suara Elie memecahkan keheningan di dalam sana, sebab wanita itu terlihat tengah tercenung.
Deg
Baik Arthur dan wanita itu terkejut saat melihat satu sama lain. Sungguh pertemuan sekian kali yang tidak terduga.
"Helena?" Pandangan Arthur kemudian bergulir kepada Darren, ia menuntut penjelasan kepada tangan kanannya itu.
Darren mengangkat kedua bahunya, sebab ia tidak tau apa yang sudah terjadi di antara Elie dengan Helena. Sementara Oscar mendadak bingung. Bukankah wanita itu baru saja ia lihat di televisi yang juga merupakan pasiennya? pikirnya.
To be continue
Babang Arthur
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...