The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Kenapa Ingin Mencelakaiku?



Kepergian Aurelie yang tidak lama disusul oleh Mikel, meninggalkan seruan bisik-bisik dari Keluarga Born serta Keluarga Sandler. Sehingga Tuan Alan Born nampak menghunuskan tatapan tajam kepada sosok pria yang baru saja lenyap dari pandangannya. Lalu tidak lama beralih pada putrinya yang sedang bersama Nyonya Sandler. Ingin rasanya meluapkan amarah terhadap putri satu-satunya itu, akan tetapi melihat kedekatan Nyonya Sandler dengan putrinya membuat niatnya itu terurungkan dan setidaknya apa yang baru saja terjadi tidak mempengaruhi Nyonya serta Tuan Sandler.


Tuan Alan Born kemudian bangkit berdiri bersamaan dengan suara dering ponsel yang menyentak. Sehingga ia pamit undur diri dari sana, mengabaikan putri satu-satunya itu.


"Seharusnya kau tidak menghubungiku! Tunggu sampai aku yang menghubungimu lebih dulu!" Hanya itu yang diucapkan oleh Tuan Alan Born, sebelum kemudian lenyap diantara sekerumunan tamu hotel yang lain.


Tanpa diketahui oleh pria setengah baya tersebut, Mikel masih berada di lobby. Ia mencari keberadaan Aurelie, menyapukan pandangan ke setiap penjuru namun sosok wanitanya itu sepertinya benar-benar sudah pergi. Hingga kemudian Mikel memutuskan untuk menghubungi Nathan sembari menyisir area parkir yang terhubung dengan tepi jalan.


"Nath, urusanku sudah selesai. Kau sudah bisa menjemputku sekarang," ucapnya.


"Baik Tuan, saya sudah berada dalam perjalanan." Suara Nath menyahut di seberang sana. Dan Mikel memutuskan sambungan teleponnya lebih dulu.


Pandangannya berhenti mengedar dan menyoroti dua wanita yang berjalan tidak jauh darinya. Salah satu diantaranya adalah wanita yang sejak tadi dicari keberadaannya.


"Sweetheart..." Hanya melihat wanita itu saja wajah tampannya mengembangkan senyuman. Memang hanya wanita itu yang mampu membangkitkan semangat serta gairah di dalam tubuhnya. Masih mempertahankan senyumnya, Mikel melangkah panjang mengikuti dua wanita yang belum menyadari keberadaannya.


Langkah Mikel terpaksa terhenti sejenak begitu merasakan keberadaan seseorang yang mengawasi di dalam mobil. Penglihatannya semakin dipertajam ketika ia menangkap bayangan langkah yang berusaha ingin mendekat ke arah dua wanita yang tidak lain ialah Aurelie serta asistennya.


Tubuhnya bergerak dengan sigap menuju pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Menarik bahu pria tersebut yang menutupi wajahnya dengan topi hitam, lalu segera menghempaskan pria itu hingga jatuh tersungkur.


Pria itu terpekik kaget, hendak bangkit dan melesat pergi, namun pergerakannya dihentikan oleh Mikel yang sudah lebih dulu menodongkan senjata api tepat di kepala pria misterius itu.


"Siapa kau?!" Ya, sejak menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan langkah pria itu yang terkesan mengendap-endap membututi. Karena itu Mikel segera merogoh senjata di balik pakaiannya.


Pria tersebut hanya menatap tajam pada wajah Mikel yang nampak mendelik meneliti siluet wajahnya yang tidak begitu jelas karena tertutupi oleh topi. Tidak berniat untuk menjawab dan hanya tersenyum miring.


"Siapa aku bukan urusanmu!" cetusnya.


"Jika kau ingin menyakitinya, tentu saja itu menjadi urusanku!" seru Mikel masih dengan menodongkan senjata api Glock Meyer 22 yang di bawanya malam ini.


"Cih!" Pria itu meludah dan segera bangkit, ia langsung menerjang tubuh Mikel. Namun Mikel berhasil menghindar bahkan menendang perut pria itu menggunakan lututnya.


"Katakan, siapa kau?! Kenapa kau mengikuti wanita itu?!" tanya Mikel sekali lagi dengan suara yang lebih ditekankan.


"Sudah kukatakan bukan urusanmu, cih!" dengkus pria itu. Hingga kemudian ia berusaha melarikan diri, memutar arah langkahnya.


Bam!


Muntahan peluru berhasil mengenai kaki pria yang berusaha melarikan diri. Senjata api Mikel terpasang silencer, alat yang dipasang untuk meredam suara atau kilatan yang dihasilkan dari tembakan sehingga suara dari tembakan itu hanya terdengar meletup saja.


"Arrghhh...." Namun tetap saja meskipun senjata itu sudah terpasang alat silencer, tidak mengurangi rasa sakit dari peluru yang menembus ke dalam kulit hingga daging pada kaki pria itu.


"Katakan, siapa kau?!" Mikel mengulangi pertanyaan yang sama. Menampakkan urat-urat di lehernya disertai tatapan yang menghujam sengit. Mikel kemudian melangkah mendekati pria misterius itu.


Namun deru napas mobil disusul dengan lengkingan pedal gas yang di tekan begitu kuat, samar-samar menyelinap di indera pendengaran Mikel, hingga pusat perhatiannya tersita ke arah mobil tersebut. Sontak saja dimanfaatkan oleh pria misterius itu untuk melarikan diri dengan kaki yang bercucuran darah, tidak pedulikan rasa sakit yang menyiksa. Karena yang dipikirkannya saat ini adalah meloloskan diri dari pria yang sudah menembak kakinya.


"Shiittt!!" Mikel mengumpat ketika menyadari pria itu berhasil melarikan diri darinya. Tidak ingin fokusnya kembali terpecah, lantas Mikel segera berlari menuju mobil sedan hitam yang berusaha menjangkau Aurelie yang posisinya tepat berada di bahu jalan.


Seseorang sudah membuka pintu mobil dengan posisi mobil yang masih melaju dengan kecepatan tinggi. Seseorang itu nampak sudah mengulurkan tangannya dan bersiap menarik wanita itu masuk ke dalam mobil. Tidak peduli akan bagaimana kondisi wanita tersebut saat dipaksa masuk ke dalam mobil yang masih melaju itu.


Grep


Jantung Mikel seolah berhenti berdetak membayangkan jika mobil itu berhasil menarik lengan Aurelie. Beruntung tangannya lebih dulu menjangkau lengan wanitanya, hingga tanpa sadar membuat Mandy terjerembab di aspal.


Tubuh Aurelie terhuyung ke dalam dekapan Mikel ketika lengannya di tarik oleh pria itu secara tiba-tiba. Sehingga membuat kedua mata wanita itu nyaris mencelos keluar begitu menyadari jika Mikel tengah mendekapnya dengan menggenggam sebuah senjata api.


Gagal membawa Aurelie, mobil sedan tersebut segera pergi dari sana. Namun kepergian mobil itu rupanya tertangkap oleh sorot mata Aurelie serta Mandy yang meringis berusaha untuk berdiri.


"Kau....?" Aurelie mendorong tubuh Mikel. Ia mengatur napasnya lantaran terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Aku baik-baik saja," jawabnya hingga kemudian pandangannya beralih kepada Mandy yang hanya meringis nyeri. "Mandy, kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Karena Aurelie berada di dalam dekapan Mikel, sementara Mandy jatuh tersungkur, sehingga membuat wanita itu sangat mencemaskan asistennya.


Mandy hanya tersenyum. Nasibnya tidak seberuntung Aurelie yang begitu dilindungi oleh seorang pria kaya raya. "Aku baik-baik saja Elie, hanya sedikit terkejut," sahutnya.


Aurelie mengangguk lega. Ia dapat memastikan dengan kepala matanya sendiri jika Mandy tidak terluka. "Syukurlah...." Telapak tangannya kemudian mengusap lembut lengan Mandy. Tatapan penuh tanda tanya terhias di wajah Aurelie ketika tatapannya dengan Mikel bertemu dan saling mengunci sejenak.


"Terima kasih karena kau sudah menolongku," ucapannya, hingga merasakan gejolak kecanggungan yang tiba-tiba menyelimuti mereka. "Tapi siapa mereka? Kenapa ingin mencelakaiku?" tanyanya kemudian penasaran.


"Aku juga tidak tau, aku gagal mendapatkan salah satu dari mereka karena berhasil meloloskan diri," tutur Mikel lembut. Tidak perlu memberitahukan jika sebenarnya mereka ingin menculik wanitanya itu. "Padahal aku sudah menembak kakinya," gumamnya namun tertangkap di telinga Aurelie.


Sejenak Aurelie terperangah, pantas saja pria itu menggenggam senjata api. Ternyata nyaris melenyapkan seseorang untuk melindungi dirinya. Rasa haru seketika merasuk ke dalam hatinya.


"Aku akan mengantar kalian," katanya menegaskan. Lalu memasukkan kembali senjata api itu ke dalam saku jasnya.


"Tapi...."


"Aku tidak menerima penolakan!"


Aurelie menghela napas. Jika sudah seperti ini, satu-satunya cara adalah menerima tawaran pria itu.


Mandy hanya tersenyum tipis, meskipun keberadaan dirinya dilupakan, akan tetapi entah kenapa ia menyukai kedekatan Elie dengan pemilik MJ Corp itu.


Namun tiba-tiba saja mata mereka masing-masing silau akan cahaya lampu yang berasal dari mobil berwarna silver menyoroti mereka.


"Tuan?!" Nathan yang baru saja turun dari mobil segera menghampiri. Ia cukup terkejut karena Tuannya serta wanita model itu terlihat bersama meskipun ada seseorang yang menemani mereka.


Mikel menolehkan kepala. "Baguslah Nath, kau sudah sampai," ucapnya merasa lega. "Bereskan kekacauan di taman kecil itu!" perintahnya kemudian.


"Baik Tuan." Meskipun bingung, Nathan tetap melakukan tugasnya mengirim pesan pada seseorang untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh tuannya yang ia sendiri tidak tau.


"Masuklah ke dalam mobil lebih dulu," ucap Mikel kepada Aurelie.


"Tapi kau....?" Aurelie ragu, bagaimana mungkin dirinya menaiki mobil orang lain terlebih dahulu.


"Aku ada urusan sebentar dengan Nathan," ucapnya kembali dengan lembut dan menyematkan senyuman.


Aurelie mengangguk kecil, lalu menggandeng tangan Mandy agar masuk ke dalam mobil bersamanya. Mandy menurut, malam ini benar-benar membuatnya lelah karena banyak berpikir yang berlebihan.


Begitu memastikan kedua wanita itu masuk ke dalam mobil, Mikel menoleh ke arah Nathan yang sudah menunggu penjelasan.


"Ada seorang pria yang hampir saja melukai Elie dan aku menembak pria itu karena dia ingin melarikan diri," terangnya hingga membuat Nathan mengangguk mengerti. Memang selama ini Tuannya itu selalu membawa salah satu senjata api untuk melindungi dirinya sendiri. "Cari tau kejadian malam ini Nath," perintahnya hingga diangguki oleh Nathan. "Kalau begitu kita segera pergi dari sini Nath," katanya kemudian.


Setelah kembali mengangguk, Nathan kemudian menyusul Tuannya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Hingga kemudian ia segera melajukan mobil meninggalkan lokasi tersebut dan membiarkan orang-orang mereka membereskan kekacauan yang dibuat oleh Tuannya.


To be continue


Babang Mikel



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...