
Dua minggu berlalu sudah. Hubungan Austin dan Jolicia belum juga membaik. Mereka dikalahkan oleh ego, merasa paling benar dan merasa kecewa satu sama lain. Meski ingin menyapa, akan tetapi keduanya lebih memilih mengabaikan, seolah mereka adalah orang asing.
Seperti saat ini, keduanya tidak sengaja dipertemukan di Town House Restauran saat jam makan siang. Austin yang mengenakan setelan jas menambah daya tarik pria itu. Membuat seluruh mata pengunjung yang lain menatap penuh damba. Namun Austin tidak pedulikan pandangan sekitar, ia tetap melanjutkan makan siangnya hingga selesai.
"Bas, selesaikan makanmu. Kita kembali ke perusahaan." Jengah, ia melihat Jolicia sedang bersama dengan pria sialan itu. Apa kelebihan bajingan itu selain ketampanan yang masih jauh di bawahnya.
Bastian mengangguk, ia buru-buru menyelesaikan makan siangnya karena tidak ingin membuat tuan mudanya menunggu terlalu lama. Hingga ia segera meminta bill pada waiters yang kebetulan melintas.
Austin melangkah lebih dulu disusul oleh Bastian yang sudah menyelesaikan pembayaran. Ia melewati meja dimana Jolicia masih menyantap makan siang bersama Maxime. Peduli? Oh tidak, Jolicia sudah membuatnya marah sekaligus kecewa, sehingga ia seolah tidak terusik dengan keberadaan Jolicia.
Jolicia mendongak karena menyadari langkah Austin yang mendekat. Kedua matanya seketika mengembun. Ternyata Austin menganggapnya orang asing, pria itu hanya melewati dirinya saja. Jangankan untuk bertegur sapa, menoleh pun tidak.
Maxime melihat kesedihan pada rona wajah Jolicia. Pria itu menjadi merasa bersalah. Digenggamnya punggung tangan Jolicia dengan lembut.
"Licia, sebaiknya kau bicara baik-baik padanya." Maxime memberikan senyum terbaiknya. "Aku yakin dia akan mengerti, karena Tuan Austin tidak mungkin bisa berlama-lama mendiamimu seperti ini." Kurang lebih ia tahu bagaimana kedekatan Jolicia dengan tuan muda Keluarga Romanov itu.
Entahlah. Jolicia merasa gamang. Ia hanya tidak menyukai kekeraskepalaan Austin. Biar bagaimanapun, Austin tidak boleh menilai orang hanya dari luarnya saja. Ia mengenal Maxime sejak di senior high school, dan selama ini pria itu selalu berlaku baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan luar.
"Hm, aku rasa tidak apa. Aku mengenal As dengan baik, dia hanya membutuhkan waktu untuk membuktikan semua ucapannya. Setelahnya dia pasti akan mencariku." Sejak kecil tumbuh bersama, membuatnya paham karakter Austin. Pria itu kelihatan diam jika sedang marah, akan tetapi Jolicia tahu jika sampai saat ini Austin tengah mencari bukti atas perkataannya. Jika memang penilaiannya terbukti salah, maka Austin akan datang padanya untuk meminta maaf. Sebab sampai saat ini ia yakin jika Austin hanya salah paham saja terhadap Maxime.
Maxime hanya mengangguk saja. Ia kembali menyantap makanannya, sesekali mencuri pandang pada wajah Jolicia yang semakin hari semakin cantik.
***
Pukul tiga sore, Austin memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya, meskipun hatinya merasa kosong selama beberapa hari ini, akan tetapi sikapnya yang selalu profesional membuatnya bisa menjadi pemimpin yang perfeksionis. Baginya masalah pribadi dan pekerjaan adalah hal yang berbeda, sehingga ia tidak mungkin mengabaikan pekerjaannya.
Austin keluar dari ruangan dan mendapati Bastian melangkah ke arahnya.
"Apa Tuan Muda akan pulang?" tanya Bastian memastikan.
"Hmm..." Menjawab dengan deheman, kemudian pandangannya tertuju pada beberapa dokumen yang dibawa oleh Bastian. "Apa aku harus menyelesaikan hari ini juga, Bas?" Kedatangan Bastian dengan membawa beberapa dokumen sudah membuatnya paham.
"Tidak Tuan Muda. Dokumen-dokumen ini tidak urgent, jadi hari ini Tuan Muda bisa pulang lebih awal."
Austin mengangguk. Baguslah jika seperti itu, sebab ia sudah merasakan sakit kepala dan perlu menghirup udara segar.
Karena Tuan Mudanya sudah meninggalkan ruangan, Bastian akan menyimpan dokumen-dokumen ini di dalam ruangan miliknya. Besok ia akan menyerahkan kembali.
Dan Austin sudah beberapa menit yang lalu meninggalkan Romanov Group, ia membelah jalanan ibukota dengan kecepatan standar. Hingga berkendara tiga puluh menit lamanya, Austin tiba ditempat tujuan. Mobilnya terpakir di depan cafe yang berseberangan dengan gedung menjulang tinggi, Miller Group. Sore ini ia memiliki janji temu dengan Devano. Sembari menunggu, Austin keluar dari mobil, mengambil satu batang rokok dan menyalakan pemantik pada ujung rokok, lalu menghisapnya. Bersandar pada body mobil, Austin mengedarkan pandangan ke sekitar. Karena memang belum saatnya jam pulang kantor, sehingga tidak banyak yang berlalu lalang disana.
"As..." Davano datang dengan tergesa-gesa, dilihatnya sosok Austin yang menoleh ke arahnya. "Sorry, menunggu lama. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lebih dulu."
Austin mengangguk mengerti. Sebagai pewaris Miller Group, Devano memikul tanggung jawab yang besar sama seperti kakaknya, Arthur.
Seperti Austin, Devano menyandarkan pinggangnya pada body mobil. "Jadi bagaimana, apa kau masih bertengkar dengan Licia?" tanyanya penasaran. Saat Austin bercerita padanya, ia tidak menyangka sebelumnya jika Austin dan Jolicia terlibat kesalahpahaman. Hanya saja keduanya sama-sama keras kepala dan tidak ingin ada yang mengalah.
"Menurutmu?" Austin mengepulkan asap rokok di udara. Tidak menjawab pertanyaan Devano yang tentu pria itu sudah mendapatkan jawabannya tanpa ia harus menjawab.
Devano terkekeh kecil. Penampilan Austin saat ini seperti pria yang sedang frustasi. "Kau merokok tanpa melepaskan jas, Mom Elle pasti akan memarahimu!"
Oh, shiitt! Austin melupakannya. Ia merokok tanpa melepaskan jas. Sudah pasti Mommy-nya dapat mencium aroma asap rokok yang tertinggal. Buru-buru ia membuang sisa rokok ke sembarang arah.
"Aku hanya perlu membuang jas-ku." Dan kemudian Austin melepaskan jas berwarna cokelat gelap serta kemeja yang melekat ditubuhnya. Melemparkannya di kursi belakangan mobil. Ia berniat akan membuang jas serta kemeja hitamnya saat dijalan nanti. Hanya menyisakan celana serta T-shirt hitam yang mencetak otot-otot tubuhnya. See, masalah selesai. Mudah bagi dirinya mencari alasan, ia hanya perlu membuang barang bukti yang akan membuat Mommy Elleana memarahi dirinya.
Devano berdecak berulang kali. Jas limited edition yang baru dibeli beberapa minggu lalu akan dibuang begitu saja?
"Bagaimana apanya?" Justru Austin balik bertanya.
Sungguh Devano dibuat kesal oleh sepupunya itu. "Kau dan Licia! Apalagi, heh!"
Ah, Austin baru paham, lalu ia menjawab, "Masih seperti sebelumnya. Dia tetap membela bajingann itu!" sungutnya kesal. Memang selama ini ia selalu berkeluh kesah pada Devano.
"Apa kau belum mendapatkan bukti apapun tentang bajingann itu?" Memang 'bajingaan' sangat cocok disematkan untuk Maxime.
Austin menggeleng. "Belum."
"Yang lebih penting kau harus bisa mengawasi Licia. Gadis itu terlalu polos," sahutnya menyarankan. "Hm tidak, lebih tepatnya terlalu bodoh," sambungnya meralat julukan yang lebih cocok disematkan pada sosok Jolicia.
Mendengar perkataan Devano, Austin terkekeh. Ia juga berpikir jika Jolicia terlalu bodoh karena mudah dibodohi. "Jika Jacob mendengarnya, kau akan dihabisi."
Devano terkekeh, tetapi ia mengangguk setuju. Jacob begitu arogan, temannya itu selalu bertindak dengan emosi ketimbang menggunakan logika lebih dulu.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Dev." Austin hendak memasuki mobil, membuat Devano tercengang.
"Kau menemuiku hanya untuk ini?" Sungguh saat ini ia yang kesal, setelah Austin sudah puas mengeluarkan kekesalannya, ia ditinggalkan begitu saja.
"Memangnya apa yang kau harapkan?" ujarnya berdecak lidah.
"Ck, kupikir kau akan mengajakku ke suatu tempat."
"Tidak. Lain kali saja, aku ada urusan lain," sahut Austin yang sudah memasuki mobil dengan atap terbuka.
"Ya, baiklah. Terserah kau saja!" Karena malas berdebat, Devano lebih baik mengiyakan saja. "Sampaikan salamku untuk Licia," lanjutnya dengan senyuman mengejek.
Austin tidak menjawab, melainkan mengacungkan jari tengah. Fucckk youu. Sehingga tawa Devano meledak bersamaan dengan mobil Austin yang berlalu pergi.
***
Disepanjang jalan, Austin mengutuk Devano. Senang sekali pria itu mengejek dirinya. Hingga Austin menginjak pedal rem ketika berada di lampu merah, tepat bersisian dengan sebuah bangunan bertuliskan Charlie's Cafe & Bakery. Bukan toko itu yang menarik perhatiannya, melainkan sosok wanita yang tengah bersenggama dengan Maxime di depan toko itu.
"Damn it!!!" Tanpa sadar mencengkram stir kemudi. Kesal sudah pasti, rasanya ia ingin menyeret Jolicia dari sana. Namun diurungkannya, karena hanya akan menambah masalah pada hubungan mereka. Jolicia sangat keras kepala dan berteguh pada pendapatnya.
Sebelum lepas kendali seperti sebelumnya, Austin melajukan mobilnya karena sejak tadi ia sudah ditegur oleh beberapa suara klakson agar mobilnya segera melaju.
Meski saat ini tengah mengemudi, ingatannya melayang pada kedekatan mereka. Licia yang ia kenal, bisa tertawa lepas dengan pria lain. Sial. Menyebalkan bukan? Rasanya ia ingin menembak wajah congkak bajingann itu!
To be continue
Babang Austin
Babang Devano
Nanti Yoona post video As yang lagi galau di instagram ya....... 😆😆