The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tidak Terlalu Buruk



Dengan wajah merona, Veronica berjalan menyusuri lobby. Ketukan suara high heels yang berbenturan dengan lantai marmer mengundang perhatian para karyawan Romanov Group yang berada di lobby. Sejujurnya ini adalah kali pertama Veronica datang ke perusahaan besar, ia begitu mengagumi bangunan raksasa berlantai 40 itu.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Seorang resepsionis wanita bertanya dengan sopan kepada Veronica yang tentunya nampak asing di matanya.


"Ya, saya ingin bertemu dengan Tuan Darren. Apa Tuan Darren ada di ruangannya?" Veronica berharap jika pria itu ada di ruangannya, agar kedatangannya tidak sia-sia.


"Tunggu sebentar Nona, saya akan memeriksanya lebih dulu."


Veronica mengangguki perkataan resepsionis tersebut. Ia melihat resepsionis wanita itu tengah menghubungi seseorang.


Sedangkan Darren baru saja selesai membahas proyek yang sedang berjalan satu bulan ini. Karena Arthur sedang tidak berada ditempat sehingga ia melibatkan Austin. Pemuda itu meskipun terlihat selalu bermain-main, jika ia menekuni sesuatu, maka akan dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Austin pun memiliki otak yang cerdas seperti Arthur, sehingga mudah menangkap sesuatu yang baru saja ia pelajari.


"Setelah makan siang kita akan membahas proyek ini dengan Simons Corp," ujar Darren mengingatkan. Terlebih ini adalah kali pertama Austin akan ikut serta dalam meeting.


"Ya, aku ingat dan aku sudah mempelajari bahannya."


Darren mengangguk. Sejauh ini ia memperhatikan cara kerja Austin yang terbilang cepat tanggap.


"Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku," ujar Austin beranjak berdiri. Ia akan segera menyiapkan bahan yang lain untuk meeting usai makan siang.


"Hmm..." Darren hanya berdehem, fokusnya tertuju pada lembaran dokumen.


Tidak berselang lama kepergian Austin dari ruangan, terdengar suara ketukan pintu. Darren mempersilahkan siapapun itu untuk masuk.


"Tuan Darren, ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Tuan," kata Gabriela memberitahu.


"Wanita?" Kepala Darren sontak mendongak, ia menatap Gabriela sembari menerka siapa wanita yang mencari dirinya. "Suruh masuk saja," lanjutnya. Ia penasaran siapa wanita itu. Kenapa berani sekali mencari dirinya. Karena seumur hidupnya hanya ada beberapa wanita yang datang ke perusahaan mengatasnamakan kerjasama hanya sekedar untuk bertemu dengan Arthur. Kali ini wanita seperti apa yang menebalkan wajahnya?


"Baik Tuan." Gabriela mengangguk, lalu keluar dari ruangan untuk mempersilahkan wanita yang sudah menunggu. "Silahkan masuk, Nona."


"Terima kasih."


Dan Gabriela hanya membantu membukakan pintu, selanjutnya ia kembali ke meja kerjanya.


Kedua mata wanita itu mengitari ruangan kerja Darren. Ruangan yang cukup besar untuk ukuran seorang asisten. Dan ruangannya begitu manly, sangat cocok dengan karakter pria itu yang kaku. Tiba-tiba saja wanita itu menjadi penasaran bagaimana ruangan Tuan Arthur, ah pasti dua kali lipat lebih besar dari ruangan asistennya.


"Ehem...." Ia berdehem untuk memberitahukan keberadaannya yang sudah berada di dalam ruangan, lantaran pria itu terlalu fokus dengan pekerjaannya.


Mendengar suara deheman, kepala Darren terangkat ke arah sumber suara. Ia tertegun sejenak, memastikan jika wanita di hadapannya adalah wanita yang tadi malam ia selamatkan dari kekasih bajingannya.


"Nona Veronica?"


"Oh.. hai...." Veronica menjadi gelagapan sendiri ketika kontak mata mereka saling bertemu. Terlebih Darren nampak lebih gagah duduk di balik meja kerjanya yang besar. Dan belum lagi jasnya yang melekat pas ditubuh kekar pria itu.


Darren masih belum memberikan respons berlebih, hanya sorot matanya yang tajam seolah mempertanyakan kedatangan wanita itu ke perusahaan Romanov Group.


"Maaf jika mengganggu waktumu, a-aku kesini hanya ingin mengantarkan makan siang saja." Entah kemana keberanian Veronica yang menggebu-gebu sebelumnya. Hanya karena di tatap begitu tajam membuatnya menciut bagaikan permen kapas.


Alis Darren mengernyit? Makan siang? Wanita di hadapannya itu datang menemuinya hanya untuk mengantarkan makan siang?


"Apa Nona tidak salah tempat?" Darren mencoba memastikan. Mungkin saja pikiran wanita itu masih tertinggal di Pulau Mustique, pikirnya.


"Ti-tidak. Aku benar-benar membawakan makan siang untuk Tuan Darren." Demi Tuhan, sebenarnya Veronica sangat gugup. Apa saat ini ia terlihat seperti wanita tidak tahu malu? Atau wanita yang setengah tidak waras? Ah, apapun yang di pikirkan pria itu, ia tidak peduli. Ia hanya perlu menebalkan wajah cantiknya.


Kaki jenjang Veronica mengayun menuju sofa, lalu meletakkan paper bag yang ia bawa di atas meja. Tanpa mengindahkan tatapan Darren yang masih menyoroti dirinya, wanita itu menatap langit-langit dan detik kemudian pandangannya memindai furniture di dalam ruangan.


Wah, ruangannya sebagus ini. Aku penasaran berapa gajinya selama satu bulan bekerja di perusahaan besar ini. Mungkin bisa menghidupi wanitanya selama berbulan-bulan.


Karena begitu terpesona dengan ruangan Darren, wanita itu tidak sadar jika Darren sudah duduk di sofa berhadapan dengannya.


"Astaga, sejak kapan kau duduk disana?" pekiknya terkejut. Tangannya mengusap dadanya yang berdebar. "Lebih baik kau duduk di kursi kerjamu saja."


"Ini adalah ruanganku Nona. Jadi terserah jika aku ingin duduk dimana saja," sahut Darren datar. Pandangannya masih menatap lekat wajah Veronica. Mungkin sebentar lagi wajah wanita itu akan berlubang karena begitu lama ditatap dengan tajam.


"Ah benar, kau bebas duduk dimana saja." Veronica terkekeh-kekeh, meminimalisir kecanggungan yang tiba-tiba melingkupi.


Ck, jantung sialan. Berhenti melompat-lompat seperti ini. Berbeda dengan senyuman yang tersemat di wajah Veronica, yang menandakan jika wanita itu biasa saja. Jantungnya sungguh tidak biasa, seenaknya berdebar tidak seirama.


"Ah, silahkan dimakan. Bukankah sebentar lagi sudah waktunya jam makan siang?" Veronica mengambil paper bag yang terisi kotak makan. Lalu meletakkan tepat di hadapan Darren hingga pria itu dapat mencium aroma sedap dari dalam paper bag tersebut.


Darren menghela napas pelan. Ia melenturkan bahunya, lalu menatap wanita itu dan bergantian menatap paper bag bermotif bunga-bunga itu.


"Dalam rangka apa Nona repot-repot membawakan makan siang untukku?" tanyanya masih mempertahankan wajah datarnya.


"Aku terima ucapan terima kasih Nona. Meski bukan Nona sekalipun aku akan menolong seseorang yang sedang butuh bantuan."


Ck, sejak kapan diriku suka menolong orang lain? batinnya. Rasanya ia geli dengan perkataannya sendiri. Namun tidak mungkin ia menarik kembali perkataan yang sudah terucap.


Veronica mengangguk. "Tetap saja aku harus berterima kasih. Dan kau juga tidak keberatan berpura-pura menjadi pria-ku. Untuk kedepannya jika kau bertemu dengannya abaikan saja. Cade bukan pria yang akan diam saja jika sudah dipermalukan. Dia pasti akan membalasmu." Sebenarnya itu alasan utama ia repot-repot memasak makan siang untuk Darren. Pria itu sudah terlalu direpotkan olehnya.


"Aku menunggu pembalasannya," sahut Darren santai tetapi menyelipkan seringai di sudut bibirnya. Memangnya apa yang bisa dilakukan pria itu untuk membalasnya?


Hah? Veronica tercengang. Apa ia tidak salah mendengar? Kenapa Darren terlihat menunggu mantan kekasihnya itu kembali membuat masalah.


Namun detik kemudian wanita itu tersadar akan tujuannya dan ia tidak bisa berlama-lama karena harus bekerja. "Tuan Darren, aku tidak bisa berlama-lama disini karena harus ke agensi."


"Ya, silahkan Nona."


Diluar dugaan. Veronica pikir Darren akan tersentuh dengan tindakannya yang membawakan makanan untuknya, lalu menahannya agar berlama-lama di ruangannya. Jika itu pria lain mungkin akan menahan dirinya, sialnya ia sedang berhadapan dengan lemari es.


Veronica menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Kau jangan kecewa karena aku tidak bisa menemanimu makan. Lain kali aku akan datang lagi."


"Tidak. Tidak perlu datang lagi." Darren menjawab cepat.


"Eh, kenapa?" Veronica menautkan alisnya bingung.


"Jangan merepotkan diri Nona seperti ini. Aku bisa mencari makan siang di luar."


"Ah, begitu." Veronica mengangguk seolah mengerti. "Mungkin lain kali aku harus mengajakmu makan siang diluar."


"Ehm, tidak-"


"Sudahlah, aku hampir terlambat." Tiba-tiba saja Veronica beranjak berdiri. "Mungkin rasanya tidak selezat di restauran dan harap dimaklumi karena untuk pertama kalinya aku memasak." Terdapat rona merah di sekitar wajah Veronica. Wanita itu seolah ingin memberitahukan pria itu hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


"Tidak perlu terharu dan mengucapkan terima kasih, aku melakukannya dengan senang hati," lanjutnya kembali hingga sukses membuat Darren tercengang. "Kalau begitu aku permisi dulu Tuan Darren. Selamat menikmati makan siang." Veronica benar-benar tidak memberikan kesempatan untuk Darren menjawab, ia segera melenggang pergi. Rasanya ia sudah tidak sanggup menahan rasa malunya di hadapan pria itu.


Darren masih memandangi pintu yang sudah tertutup rapat. Ia masih tercengang selama beberapa saat dan berhasil memasang wajah datarnya kembali. "Wanita itu benar-benar...." Heran, karena ada saja perilaku wanita itu yang membuatnya hanya menggelengkan kepala.


Detik kemudian pandangan Darren tertuju pada paper bag yang dibawakan oleh wanita itu. Ia mengeluarkan kotak makan dan segera melihat isinya.


Bulgogi dan nasi, hanya makanan sederhana dan Darren menatap makanan tersebut dengan tatapan entahlah. Karena pria itu selalu memasang ekspresi yang sama seperti biasanya. Dengan ragu-ragu ia mengambil sendok lalu mulai mencoba untuk mencicipi hasil masakan wanita itu.


"Tidak terlalu buruk," gumamnya menilai rasa Bulgogi. Setidaknya tidak gagal untuk seorang yang baru memasak untuk pertama kali.


Darren memasukkan kembali suapan kedua, kali ini menggunakan nasi, bertepatan dengan seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya.


"Der, pesankan aku makanan-" Perkataan Austin tertelan kembali saat melihat Darren tengah menikmati makanan. Dan pria itu tiba-tiba saja terbatuk-batuk lantaran terkejut.


"Sialan kau As, aku hampir tersedak!" seru Darren usai meneguk air mineral yang dibawakan oleh wanita itu.


"Mana aku tau jika kau sedang makan?" Austin mendudukkan dirinya di sofa. "Dari mana kau mendapatkan makanan itu Der?"


"Bukan urusanmu As!"


Melihat dari reaksi Darren seperti itu, mungkin saja makanan itu dari seseorang yang dengan sengaja dibuat khusus untuk temannya itu.


"Apa dari salah satu kekasihmu Der?" goda Austin.


"Jangan bicara omong kosong As. Sebaiknya kau cepat pesan makanan."


"Hahahah baiklah." Austin puas mentertawakan Darren. Lalu ia berjalan keluar ruangan untuk menemui Gabriela dan meminta sekretaris kakaknya itu untuk membawakannya makanan dari kantin.


To be continue


Darren



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...