
Tidak hanya semilir angin malam yang dibiarkan menerpa. Keheningan pun menjadi penengah kecanggungan yang terjadi sejak beberapa menit yang lalu. Veronica benar-benar dibuat bingung oleh pria di hadapannya itu, ia sudah berbicara berulang kali, akan tetapi Darren tetap tidak ingin mengeluarkan suara. Tatapan mata tajamnya tidak menyurut dan hal itu yang membuatnya mendadak bergidik ngeri.
"Hm, apa kau sedang sakit gigi? Kenapa sejak tadi kau diam saja?" Veronica kembali bersuara. Entahlah, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan pria itu. Nampak jelas amarah yang terselip pada sorot mata pria itu.
"Tidak." Dan sekalinya bicara, Darren hanya menjawab singkat, tentu saja membuat Veronica mendecakkan lidahnya.
Sepertinya ia harus menekan kekesalannya. Jika pria itu memang tidak ingin bicara, maka biarkan dirinya yang berbicara.
"Kenapa kau bisa berada disini?" tanyanya kembali.
Darren sedikit beraksi mendengar pertanyaan aneh Veronica. Apa ia tidak boleh berada di Club milik Black Lion?
"Menurutmu apa yang dilakukan orang-orang di Club? Apa mereka hanya menumpang berteduh saja?" Diluar dugaan, Darren menyahut lembut meskipun masih terselip nada ketusnya.
Veronica terkekeh, baru kali ini ia mendengar Darren menimpali perkataannya dengan candaan. Meski datar seperti biasanya, tetapi ia merasa jika mereka sudah semakin lebih dekat.
"Siapa tau saja kau hanya menumpang ke toilet." Dan ia menimpali candaan Darren dengan kekehan.
Darren hanya mendecakkan lidah, lalu membuang pandangannya ke arah lain. Ia teringat dengan pria yang bersama dengan wanita itu sejak siang tadi di Restauran dan bahkan saat ini mereka pun bersama. Pandangannya kemudian kembali menemui Veronica.
"Where's your boyfriend?"
Hah?
Pertanyaan Darren membuat Veronica terperangah untuk beberapa saat. Boyfriend? Apa Darren berpikir jika dirinya sudah memiliki kekasih yang lain. Ia harus menjawab dengan tegas jika ia tidak memiliki kekasih. Baru saja ingin membuka mulutnya, Veronica urungkan, sebab ia ingin menggoda Darren dengan jawaban yang lain.
"He's... Not boyfriend anymore."
Salah satu Darren terangkat, jawaban Veronica mengecoh dirinya.
"Why not?" tanyanya kembali.
Veronica diam sejenak, ia mengulum senyum tipis. "Didn't wanna be...?" Dan makna ucapannya adalah mengajukan pertanyaan apakah pria itu tidak ingin menjadi kekasihnya, karena ia sudah menjelaskan tidak memiliki kekasih lagi sejak berpisah dengan Cade.
Wanita itu menatap penuh harap akan jawaban yang berikan Darren setelah ia menggoda pria itu.
"Idiot....!!" sahut Darren tidak habis pikir dengan Veronica yang secara terang-terangan bisa berkata demikian. Jika pria lain mungkin sudah salah paham dengan maksud wanita itu.
Sudah dapat ditebak jawaban Darren, Veronica hanya tersenyum, senyum yang semakin lama mengembang hingga membuat Darren hanya menggelengkan kepalanya.
"Kupikir kau akan mempertimbangkanku." Masih mempertahankan kulumann senyumnya.
"Yes, in your dreams." Meski menjawab ketus dan dingin, jika diperhatikan telinga Darren memerah. Dan Veronica menangkap hal itu.
"Kau malu, bukan? Katakan saja jika kau malu." Tanpa sadar Veronica mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Darren, sehingga membuat pria itu reflek menjauhkan diri.
"Ck, hentikan Nona. Jangan bicara sembarangan." Nampak kentara jika Darren merasa tidak terima dengan ucapan wanita di hadapannya itu. Ck, malu? Untuk apa ia malu?
Sadar akan posisinya yang tak berjarak dengan Darren, membuat wanita itu terkesiap sejenak. Ditatapnya dengan seksama wajah tampan Darren, meskipun ia sedikit mendongak lantaran pria itu lebih tinggi darinya.
"Bolehkah aku memeluknya? Aku hampir gila karena ingin memeluknya, tetapi jika kupeluk, aku takut di dorong olehnya." Veronica bergulat dengan batinnya. Ia ingin sekali merasakan berada di dalam dekapan tubuh Darren.
Darren yang melihat Veronica tiba-tiba diam menatap dengan heran. "Ada apa dengannya? Apa dia baru saja kerasukan sesuatu?"
"Nona...." Seruan suara Darren membuyarkan lamunan Veronica hingga wanita itu segera tersadar.
"Hm, aku boleh memelukmu?" cicitnya entah sadar atau tidak.
Tertegun. Itulah reaksi Darren. Wanita itu tiba-tiba diam, lalu tiba-tiba juga mengatakan ingin memeluknya.
"Apa kau baik-baik saja?" Darren ingin memastikan. Bisa saja wanita itu sedikit mabuk, sehingga bicaranya melantur. "Maksudku, apa kau sudah mabuk?"
"Eh, aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" Menjawab dengan polos, wanita itu mengerjapkan mata berulang kali.
"Baguslah jika kau baik-baik saja. Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" Entah lupa atau sudah mulai terbiasa, belakangan ini Darren sudah jarang menyematkan kata 'Nona'.
Kepala Veronica mengangguk. Tentu saja ia sadar dengan jelas. "Lalu bagaimana? Apa aku boleh memelukmu?"
"Jangan bercanda, Veronica!" Sungguh Darren menjadi merasa tidak nyaman. Wanita itu selalu sukses membuatnya menggeleng tidak habis pikir. Tidak ada rasa malu dan canggung. Apa ada wanita seperti itu? Tentu ada dan nyata di hadapannya.
Veronica meringis mendengar nada Darren yang tiba-tiba meninggi. Terlebih pria itu menekankan namanya tanpa embel 'Nona'. Sekesal itukah pria itu padanya? pikirnya.
"Ck, baiklah jika tidak boleh. Lagi pula aku hanya bercanda saja. Dan ah, sepertinya aku sedikit mabuk." Dan wanita itu memijat pelipisnya seolah dirinya benar-benar dikuasai oleh alkohol. Yang sebenarnya ia hanya sedang menahan rasa malu. Sungguh ia benar-benar tidak bisa menjaga bicaranya sehingga hanya mempermalukan dirinya sendiri.
Mendengar kata mabuk, Darren mengamati raut wajah Veronica, memang wajah wanita itu sedikit memerah.
"Udaranya semakin dingin. Sepertinya aku harus kembali masuk ke dalam," ucap Veronica sambil memeluk kedua lengannya.
"Ya...." Hanya sahutan singkat dari Darren. Hingga kemudian Veronica melangkah masuk lebih dulu, sejak tadi ia menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan rasa malu. Bagaimana tidak malu, jika secara tidak langsung pria itu menolaknya mentah-mentah.
"Ah, kau ini dari mana saja. Sejak tadi aku mencarimu." Larry langsung menyambar pergelangan tangan Veronica. Ia mengabaikan pria yang beberapa langkah berada di belakang Veronica. Larry mengetahui sosok pria itu, yang merupakan asisten dan orang kepercayaan Tuan Arthur, sebab itu ia tidak ingin berurusan dengan pria seperti itu.
"Sudah kukatakan jika aku menjawab panggilan dari Leyla, di dalam tidak ada sinyal." Veronica memutar bola matanya jengah, sudah tahu jika tadi ia berpamitan, tetapi Larry masih saja mencarinya.
"Ck, apa harus lebih dari satu jam?" sahut Larry menyindir. Ia sangat tahu apa yang dilakukan oleh Veronica di luar. Jelas-jelas ia melihat Veronica bersama dengan seorang pria dan berbicara dengan sangat akrab. Namun ia tidak bisa bertanya, sebab pria yang ia lihat berada tepat di belakang temannya itu.
Langkah keduanya semakin diperlebar menuju tempat meja mereka. Jika Larry dan Veronica berbelok kanan, maka Darren tetap berjalan lurus menuju tempat duduknya bersama yang lainnya.
"Vero astaga, kau dari mana saja?" Aroma alkohol menguar jelas di indera penciuman Veronica ketika Joana tiba-tiba merangkul dirinya yang baru saja membenamkan tubuhnya di kursi.
"Gosh, kau sudah mabuk, Joana? Kau minum berapa banyak?" Sorot matanya bergantian menatap wajah Joana dan beberapa botol kosong yang tercampakkan di atas meja. "Ck, bagaimana kau tidak mabuk jika kau sudah minum sebanyak itu?!" serunya.
"Hei, aku tidak mabuk. Aku masih sedikit sadar Vero sayang." Ya, Joana masih sangat sadar, ia hanya sedikit pusing tetapi kesadarannya masih tetap terjaga. Ia tidak akan mudah tumbang, mengingat ia adalah peminum yang handal sama seperti Veronica. "Ah, aku baru saja berkenalan dengan seorang pria tampan. Benar 'kan Larry? Pria itu lebih tampan darimu, bahkan kami berdua minum bersama," lanjutnya menunjuk Larry.
"Hm...." Larry hanya berdehem saja. Meskipun memang benar adanya jika Joana berkenalan dengan seorang pria asing tetapi tampan, karena itu dimeja begitu dipenuhi oleh beberapa botol minuman. Sedangkan ia hanya minum sedikit saja, sebab ia masih harus mengendarai mobil dan mengantarkan kedua wanita itu dengan selamat.
Veronica hanya mengulum senyum, Joana adalah tipe wanita yang tidak bisa mengabaikan pria tampan yang berusaha mendekatinya.
"Lalu apa kau berkenalan dengannya?" tanyanya memastikan. Veronica menebak jika Joana tidak hanya berkenalan tetapi juga mendapatkan nomor ponsel pria itu.
"Ya, aku berkenalan dan mendapatkan nomor ponselnya." See, Joana selalu bergerak cepat.
"Wah, kau luar biasa, Nona Joana. Berapa banyak pria yang terjerat dengan pesonamu, hm." Veronica menggoda Joana sembari meneguk minumannya.
Joana terkekeh geli digoda seperti itu. Ia tidak sengaja menyapukan pandangannya ke arah lain dan ia mendapati tatapan tajam terhunus pada meja mereka saat ini.
"Astaga Vero, kenapa pria itu menatap ke arah sini?" cicitnya disertai dagu yang menunjuk ke arah objek yang menjadi pusat perhatiannya.
Baik Veronica dan Larry mengikuti arah pandang Joana, Veronica terkejut mendapati tatapan mata itu milik Darren.
"Astaga, ada ada dengannya? Sejak tadi tidak berhenti menatapku seperti itu," gumamnya. Buru-buru wanita itu memutuskan kontak mata dengan Darren.
Dan Larry, ia memasang wajar datar. Ia mencondongkan tubuhnya pada Veronica, lalu berbisik, "Kau berhutang penjelasan padaku, Vero. Sebenarnya ada hubungan apa kau dengannya?"
"Ck, aku tidak ada hubungan apapun dengannya, Larry. Kami hanya saling mengenal saja," sahut Veronica berkilah.
"Kau pikir aku akan percaya." Larry menyunggingkan senyum meremehkan. Cukup lama mengenal Veronica, tentu saja ia tahu gelagat aneh temannya itu.
"Ah, kau benar-benar menyebalkan, Larry." Veronica yang sudah tertangkap basah hanya menepuk bahu Larry dengan kencang.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Aku akan mengantarkan kalian ke apartemen." Kemudian Larry menghabiskan minumannya dalam satu tegukan.
"Hm, aku juga sedikit lelah. Aku ingin berbaring di atas ranjangku," kata Veronica memberitahu keadaan tubuhnya saat ini.
"Kalau begitu nanti biar kutemani." Dan Larry menggoda wanita itu dengan kekehan kecilnya.
"Tidak!" Veronica menyahut tegas. "Hei, Joana. Kita pulang saja, kau masih bisa berdiri tidak?" Ia menepuk-nepuk lengan Joana berulang kali.
"Iya, aku bisa berdiri dengan baik." Kemudian Joana bangkit dari kursinya, awalnya nyaris terjungkal akan tetapi wanita itu berhasil menahan keseimbangan tubuhnya.
"Baguslah, kita harus cepat pulang. Aku sudah sangat lelah. Aku tidak ingin mengurusmu yang mabuk disini," gerutu Veronica beranjak berdiri.
"Iya... iya... kau ini cerewet sekali." Joana yang malas mendengar suara Veronica, berjalan lebih dulu, disusul oleh Veronica dan Larry.
Sementara kepergian ketiganya disaksikan oleh Darren yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya dari mereka, tepatnya hanya pada Veronica saja pandangannya tertuju.
"Der, minum ini supaya suasana hatimu lebih baik." Austin menyodorkan satu gelas minuman beralkohol tepat di hadapan Darren. "Wanita itu sulit dimengerti bukan? Terkadang ingin dimengerti dan bersikap manja, tetapi justru dia sendiri yang membingungkan."
Kedua alis Darren menaut dalam mendengarkan celotehan Austin yang tiba-tiba itu. "Siapa yang kau bicarakan?" tanyanya memastikan.
Entahlah, ini pertama kalinya ia mendengar Austin mengeluhkan seorang wanita. Yang biasanya adik dari teman sekaligus atasannya itu hanya sibuk dengan dunianya sendiri, tetapi ia akui jika Austin lebih peka ketimbang yang lainnya.
"Aku tidak membahas siapa-siapa. Aku hanya menebak isi pikiranmu," sanggahnya menatap ratusan pengunjung di hadapannya itu.
"Ck, kau berubah profesi menjadi peramal rupanya," kata Darren mengejek.
Austin terkekeh. Ia kembali meneguk minumannya. Keduanya larut dengan pikiran mereka masing-masing dengan meneguk beberapa botol minuman. Entah siapa yang lebih dulu mabuk, keduanya bertekad tidak akan mabuk secepat itu.
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...