The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tidak Berhak Mengetahui Siapa Pembunuhnya!



Tatapan Helena mengiba, berharap Arthur tidak akan benar-benar membuatnya berakhir. Kedua mata Arthur yang kian menajam itu beradu pandang dengan mata Helena yang sudah memupuk air mata yang kini menggenangi kelopak mata wanita itu. Cengkraman Arthur mengendur hingga perlahan melepaskan cengkraman tangannya dari leher Helena.


"Uhuukkk.... uhuukkk...." Nyaris saja Helena berada ujung kematian. Wanita itu segera meraup oksigen penuh untuk melegakan paru-parunya yang terasa kering akibat cengkraman tangan Arthur yang membuatnya benar-benar tidak bisa bernapas.


Arthur mendengkus kesal. Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba melepaskan wanita itu? Wajah kesalnya begitu nampak kentara, membuat Helena tidak berhenti memperhatikannya.


"Arrghhhh!!" Arthur menendang ban mobil, meluapkan amarahnya yang tertahan. "Pergi kau sialan!" ujarnya kemudian kepada Helena tanpa menyurutkan tatapan dingin.


Helena yang masih mencoba mengatur dadanya yang terasa sesak, mengacuhkan seruan pria itu. Sehingga membuat Arthur dua kali lipat mengeram amarah. Tidak ingin berlama-lama dengan wanita di hadapannya, Arthur berlalu pergi.


"Dia benar-benar menyeramkan." Helena menatap kepergian Arthur dengan sendu, tidak mengejar seperti sebelumnya. Entahlah, ia tidak ingin Arthur kembali menyakitinya.


Meninggalkan Helena seorang diri disana, Arthur melangkah panjang menuju mobil Alan Born terparkir, ia menyentuh dadanya yang mendadak berdegup nyeri. Bayangan wajah Helena yang menahan rasa sakit ketika ia mencekiknya seperti menari-nari dalam ingatannya.


"Arrghhhh, ada apa denganku?!" Tangan Arthur terkepal dan kemudian meninju pilar basement berulang kali. "Ar sialan, pasti kau tidak ingin aku menghabisi wanita itu!" Tangannya memang bergerak sendiri melepaskan cengkeramannya. Bahkan ia merasakan sendiri jika Arthur yang sebenarnya berhasil mengambil alih dirinya untuk sesaat.


Lama menunggu di basement, akhirnya Alan Born terlihat keluar dari hotel dan hendak menuju mobilnya dengan berjalan tergesa-gesa. Saat pria tua itu menerima telepon, memberikan ruang untuk Arthur berjalan mendekati mobil pria tua itu, ia mencoba membuka bagasi mobil dan ternyata tidak terkunci, sungguh suatu keberuntungan untuknya. Lantas Arthur segera bersembunyi di dalam bagasi mobil. Ia ingin tahu kemana tujuan Alan Born yang tiba-tiba menampakkan wajah panik.


Di dalam bagasi, Arthur dapat merasakan guncangan, bertanda jika mobilnya sudah melaju meninggalkan Hotel. Membutuhkan waktu dua puluh menit, mobil yang melaju dengan kecepatan penuh itu mendadak berhenti, Arthur tidak lagi merasakan guncangan, sehingga menyimpulkan jika mobilnya sudah tiba di tempat tujuan.


Benar, Arthur mendengar suara pintu terbuka lalu ditutup setelahnya. Ia sangat yakin jika Alan Born baru saja turun dari mobil. Saat keadaan sudah aman menurutnya, Arthur segera membuka bagasi mobil lalu keluar dari sana. Kepalanya mendongak, menyapukan pandangan pada bangunan tua yang lebih seperti gudang terbengkalai. Seringai senyum tiba-tiba terukir mengerikan, jelas tempat ini akan memudahkannya untuk melenyapkan pria tua itu.


Dengan berjalan mengendap-endap, Arthur melangkah masuk, pintu yang tidak terkunci memudahkannya melesat begitu saja. Pandangannya kembali mengedar dan penerangan di dalam sana hanya di bantu sinar matahari yang mengintip dari celah jendela yang terbuka, sehingga Arthur harus menajamkan penglihatannya ke setiap sudut. Tidak ada yang aneh, hanya saja terlihat beberapa peti dengan ukuran yang berbeda-beda. Samar-samar Arthur dapat mendengar suara Alan Born yang tengah berbicara pada seseorang.


"Bodoh. Seharusnya kalian bisa amankan lebih banyak lagi!" Alan Born memukul kepala pria di hadapannya itu.


"Tapi Tuan, hanya ini saja yang tersisa. Selebihnya Mr. Vasco sudah mengamankan bagiannya." Tidak pedulikan rasa sakit yang ia dapatkan dari tuannya, pria itu kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ck, bukankah dia sudah mati?" Ya, setahu dirinya Vasco yang merupakan ketua dari Kartel Sinaloa sudah tewas di tangan Black Lion.


"Benar Tuan, tapi orang-orang kepercayaannya mengamankan seluruh aset miliknya."


Pria di hadapan Alan Born hanya mampu tertunduk, mendengarkan makian dan keluhan yang pria tua itu rasakan selama bekerja sama dengan jaringan Mafia sekelas Kartel Sinaloa.


"Kalau begitu kau kirimkan satu model yang baru bergabung minggu lalu. Kirim dia ke rumah bordir, wanita perawan akan sangat disukai oleh pria-pria kaya disana." Perintah Alan Born selalu seperti itu. Ia akan mengirimkan beberapa model dari agensinya untuk meraup keuntungan yang bernilai lebih tinggi. Biasanya ia akan selalu membawakan model dari agensi yang sudah ia wariskan kepada putrinya itu untuk dijadikan teman ranjang Vasco, akan tetapi naas saat ini pria itu sudah tewas.


"Tapi ingat jika wanita itu mencoba melaporkan kejadian yang dia alami, kalian habisi seperti biasa, katakan jika terjadi kecelakaan di tempat kerja." Ya, selama ini para model yang sudah menjadi korban diberikan uang kompensasi yang cukup banyak, akan tetapi jika ada yang mencoba melapor kepada pihak kepolisian, maka Alan Born tidak segan untuk menghabisinya.


"Baik tuan." Pria tersebut pamit undur diri. Ia akan segera melaksanakan perintah dari tuannya itu.


"Ck, sayang sekali aku gagal menjual putri semata wayang Keluarga Romanov," gumamnya mengusap dagu. Pandangannya tertuju pada peti mati yang terbuka, dimana terdapat beberapa emas batangan di dalam sana.


Perusahaan Born di ambang kebangkrutan sehingga ia harus mengumpulkan banyak uang untuk memulihkan saham perusahaan. Dan pelaku kehancuran perusahaannya tidak lain ialah pria yang bernama Arthur Kennard Romanov, pewaris dari Romanov Group. Itu sebabnya ketika mengetahui identitas asli Elie Cassandra yang bernama lengkap Aurelie Cassandra Romanov, ia mengurungkan niatnya yang ingin menjual wanita itu kepada Vasco. Dan sebagai gantinya, Vasco menginginkan teman baik dari wanita itu. Benar, dalang di balik penculikan Veronica adalah dirinya, tentu atas perintah dari Vasco dan yang selama ini menguntit kemanapun Elie pergi adalah orang-orang suruhan Alan Born, mereka mencari celah untuk menjadikan wanita itu teman ranjang pria-pria berkuasa seperti Vasco.


BRAK


Tubuh Alan Born tersentak kaget ketika mendapati satu anak buah terkapar di lantai kumuh itu. Wajahnya menyiratkan tanda tanya kepada anak buahnya, apa yang terjadi diluar sana. Namun belum sempat bertanya, seseorang berdiri tegap menghalangi pandangannya. Pria itu menutupi wajahnya dengan penutup mulut berwarna hitam, namun nampak jelas jika kedua mata pria itu yang memancarkan aura membunuh


"Kau.... siapa kau?!" Alan Born berteriak marah. Tentu ia tidak suka jika ada penyusup yang masuk ke dalam wilayahnya.


"Orang yang akan mati, tidak berhak mengetahui siapa pembunuhnya!"


Kedua mata Alan Born membeliak, sulit mempercayai apa yang di dengarnya. Jadi kedatangan pria itu untuk membunuh dirinya?


To be continue


...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...