The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Penyelamatkan Meisha Dan Nathan



Satu hari sebelumnya


Sebelum pergi dari Villa Magnolia, Mikel memperhatikan wanitanya di dalam sana dari dalam mobil. Ia terpaksa pergi begitu saja ketika fokus Elie terpecahkan. Jika ia berpamitan, maka ia semakin berat hati meninggalkan Elie, sebab itu Mikel memutuskan untuk melompat dari lantai dua, padahal ia yang dahulu sangat takut ketinggian. Namun peristiwa mengerikan itu dan rasa dendamnya mengubah sosoknya menjadi lebih kuat dan berani.


"Wanitamu akan baik-baik saja. Sekarang kita harus pergi, sebelum Pablo menerkam jalaang yang ku kirimkan." Mikel mengangguki perkataan Sid. Sebelum kemudian Sid melajukan mobil, meninggalkan Villa Magnolia.


Tidak membutuhkan waktu lama, Mikel dan Sid tiba di Markas. Mereka berjalan mengendap-endap memasuki Markas. Tidak ada siapapun, sebab Sid sudah membereskan beberapa anak buah dengan minuman beralkohol. Terbukti saat langkah Mikel menyusuri setiap lorong, beberapa dari mereka terlihat sudah sangat mabuk.


Derap langkah kaki yang berjalan mendekat, mengguncang telinga Mikel, ia memasang kewaspadaannya. Pun dengan Sid yang berjalan lebih dulu untuk memastikan langkah itu, wajahnya berubah seketika saat melihat dua anak buah Mikel yang berjalan mendekat.


"Apa sudah aman?" tanya Sid kepada keduanya.


"Sudah. Bos Pablo sudah berada di dalam kamar dengan wanita itu." Keterangan salah satu anak buah, membuat Mikel dan Sid melemparkan pandangan.


"Baguslah. Apa ruangan bawah tanah sudah kalian periksa?" tanya Mikel kemudian.


"Sudah Bos Mikel, tidak ada yang berjaga. Semua sibuk berpesta minuman dan wanita-wanita dari rumah bordil."


"Tetaplah berjaga. Aku akan ke ruangan bawah tanah. Jika ada yang mencurigai kalian, kalian sudah tau harus melakukan apa!" Setelah di angguki oleh dua anak buah, Mikel dan Sid segera berlalu dari sana menuju ruangan bawah tanah.


Namun Mikel harus melewati ruangan Pablo untuk memastikan pria keparat itu. Suara desahaan yang saling bersahutan terdengar samar-samar di pendengaran Mikel. Sudut bibirnya tertarik, ternyata rencananya memberikan beberapa jalaang untuk Pablo dan anak buah kepercayaan pria itu berjalan sesuai rencana. Pablo yang tentunya tidak akan bisa menahan hasratnya yang tinggi itu sudah pasti tidak akan bisa menolak.


"Sebaiknya kita segera ke ruangan bawah tanah Sid. Apa kau ingin berada disini, mendengarkan orang lain bercinta, heh?!" Mikel menarik kerah pakaian belakang Sid ketika pria itu mematung di tempat.


Sid tersadar, ia pun terkekeh. Jujur saja jika suara lenguhan itu membangkitkan gairahnya.


"Setelah ini aku akan menemui wanitaku untuk menyalurkan hasratku. Kau juga lakukanlah dengan wanitamu itu. Apa kau akan terus menahannya heh?!"


Mikel harus menulikan pendengarannya ketika Sid mulai berceloteh tentang gairahnya. Jujur saja ia pun tidak bisa menahannya, akan tetapi ia berjanji untuk menjaga Elie hingga mereka bersatu dalam sebuah ikatan.


"Tubuh wanitamu sangat seksi, sayang sekali jika tidak dicicipi." Sid sudah pernah melihat Elie dari kejauhan, atas perintah temannya itu, mau tidak mau Sid yang menjaga Elie secara diam-diam. Sid sudah sering melakukan hubungan sekss bersama dengan wanitanya, tidak maniak seperti Pablo hanya sesekali menyalurkan hasratnya.


"Diam atau kubunuh kau, Sid!" Sungguh, jika saja Sid bukan teman baiknya selama ini, ia sudah pasti akan membungkam mulut Sid dengan senjatanya ketika membicarakan tubuh Elie.


Alih-alih takut, Sid justru terkekeh. Ia senang sekali melihat wajah merah padam Mikel ketika merasa cemburu dan tidak terima ia memuji wanitanya.


Kekehan Sid mereda ketika langkah berhenti di depan sebuah pintu yang menjulang tinggi. Sid segera memasukkan kunci dan membuka pintu tersebut. Mikel yang sudah tidak sabar mendorong bahu Sid dan mendobrak pintu itu.


Pencahayaan yang minim membuat mata Mikel harus meraba ruangan itu. Hingga sapuan sorot matanya mendapati Meisha dan juga yang Nathan yang meringkuk bersama. Nathan terlihat memeluk tubuh ringkih sang adik yang entah tidur atau tidak sadarkan diri.


Mikel berjalan mendekat, ia berjongkok menumpu satu lututnya pada lantai. "Nath...." Lalu meraih wajah Nathan yang penuh luka lebam. Wajah Mikel mengetat, ia tidak terima asisten kepercayaan diperlakukan seperti ini.


Mendengar suara yang tidak asing, Nathan mendongak dan perlahan kelopak matanya terpisah. "Tuan...." lirihnya bergumam. "Nona Meisha baik-baik saja, aku selalu melindunginya." Dalam keadaan tidak berdaya, Nathan menyelipkan sebuah senyuman, senyum yang menandakan jika ia baik-baik saja dan berhasil melindungi adik dari Tuannya.


"Aku percaya kau bisa melindungi Mei. Terima kasih kau menjaganya dengan baik," ucapnya dalam dengan hati yang miris melihat keadaan Nathan penuh luka lebam, bahkan terlihat luka sayatan pada lengan dan bahu asistennya itu.


Nathan yang lemah hanya mengangguk pelan, matanya kembali terpejam. Ia sudah tidak kuat untuk mempertahankan kedua matanya agar tetap terbuka. Detik itu juga Nathan tidak sadarkan diri dengan satu tangan yang masih merangkul pundak Meisha


"Sid!!" Mikel memanggil Sid yang menunggu di depan pintu. Ia berlari masuk mendengar suara Mikel berseru memanggilnya.


"Ada apa?" tanyanya mendekat.


"Bantu Nathan, aku akan menggendong Mei." Mikel terlihat hendak menggendong Meisha. Hingga Sid segera memapah tubuh Nathan yang penuh dengan luka.


Tidak heran lagi jika Pablo akan melakukan hal sejekeji ini. Mungkin Nathan berusaha mati-matian menjaga Meisha dari tatapan liar Pablo, mengingat ketua Loz Zetas itu selalu meneteskan air liur ketika melihat wanita cantik.


Mikel segera membawa Meisha dan Nathan keluar dari Markas dan memasukkan keduanya ke dalam mobil. Membebaskan Meisha dan Nathan ternyata lebih mudah dari dugaannya, namun ia harus tetap waspada jika Pablo menyadari tindakannya ini.


"Aku tidak bisa menemanimu. Aku akan berjaga disini dan menuntaskan sesuatu." Sedikit Sid terkekeh di sela-sela perkataannya.


"Baiklah. Aku akan menghubungimu nanti," ucapnya.


"Hem...."


Sid melihat mobil Mikel yang sudah menjauh dari pandangannya. Ia pun kembali masuk ke dalam Markas dan bersiap untuk menuntaskan hasratnya dengan wanitanya yang selama ini menjadi pelampiasan hasratnya.


***


Keesokan harinya


Mikel duduk di tepi ranjang sembari membelai sulur anak rambut yang membingkai wajah Meisha. Terdapat luka di sudut bibir adiknya itu, Mikel sangat yakin jika itu adalah perbuatan Pablo.


"Aku tidak akan mengampuni Pablo jika kau terluka lebih dari ini, Mei." Cukup lama Mikel mencoba menahan amarahnya kepada Pablo. Namun sejak kemarin Sid mencoba menenangkannya dan ia pun menuruti perkataan Sid jika ia tidak boleh bertindak gegabah.


Mikel beranjak berdiri, ia mengambil ponsel yang diletakkan di atas nakas. Lalu mulai menghubungi anak buahnya yang ia tugaskan untuk berjaga dirumah sakit.


"Bagaimana keadaan Nathan?" tanyanya memastikan.


"Masih belum sadarkan diri Bos."


"Aku akan ke rumah sakit sebelum pergi ke perusahaan. Jaga Nathan dengan benar, kali ini aku tidak ingin kalian lalai menjaga Nathan!" ujarnya terselip sebuah ancaman. Saat itu mereka gagal melindungi Meisha dan Nathan dirumah sakit dan ia tidak ingin hal itu terulang kembali.


"Baik Bos," sahutnya mantap. "Bos, ada hal yang ingin aku sampaikan." Anak buah itu mendadak ragu, ia terdiam selama beberapa saat.


"Hem, cepat katakan!" Mikel mendesak anak buahnya itu, ia tidak memiliki waktu lebih dan bersiap untuk pergi ke perusahaan setelah lama ia mengabaikan perusahaannya.


"Aku melihat Nona Helena bersama dengan pria lain."


"Apa maksudmu?" Kedua alis Mikel bertautan dalam.


"Aku tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Tapi sepertinya mereka sedang bertengkar, bos."


Terdengar helaan napas dari bibir Mikel. "Tugasmu hanya mengawasinya saja. Dia bertemu dengan siapapun tidak perlu melaporkannya kepadaku!"


"Baiklah Bos, maafkan aku."


Mikel menutup sambungan telepon, mendengkus napas kesal. Ia hanya bertanggung jawab atas nyawa wanita itu, bukan segala sesuatu yang dilakukan wanita itu dirinya harus mengetahuinya.


"Ah, aku merindukanmu Sweetheart," gumamannya. Karena sampai kapanpun Elie akan selalu bertahta di hatinya setelah Meisha.


To be continue


Nathan



Meisha



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...