
Sebuah mobil berwarna silver melaju dengan kecepatan penuh di jalan raya, hingga membelah jalan setapak pemukiman sederhana Kota Vladivostok, Rusia Timur. Pasukan Spetsnaz mulai berpencar mengejar mobil yang di tumpangi oleh Todd, ketua Mocro Mafia yang berhasil meloloskan diri dibantu oleh beberapa anak buah yang masih berkeliaran bebas.
Sean berulang kali mengumpati beberapa anggotanya yang tidak becus menjaga tahanan kelas kakap seperti Todd. Padahal sebelumnya ia mewanti-wanti agar tidak mengalihkan perhatian dari Todd yang terkenal sangat licik dan licin seperti belut.
"Bodoh! Sudah kukatakan jangan pernah meninggalkannya. Lihatlah, dia berhasil melarikan diri!" seru Sean dengan napas yang memburu penuh amarah. Sudah susah payah mereka menangkap penjahat kelas kakap seperti Todd, tetapi dengan mudahnya pria tua itu melarikan diri dari penjara sementara.
Ya, Sean beserta pasukannya akan membawa Todd menuju Penjara Pulau Petak Rusia yang terletak di tengah danau putih. Penjara terpencil yang hanya menampung penjahat paling berbahaya. Siksaan mental dan psikologi begitu berat di terima oleh para penjahat yang di penjara disana, sehingga akan membuat mereka tewas dengan perlahan.
"Maafkan kami Letnan, dia berhasil melumpuhkan kami." Salah satu anggota menyahuti sembari menekan lengan yang terus mengucurkan darah segar. Todd berhasil menembak tiga anggota pasukan khusus tersebut.
Sean menahan kegeramannya. Tidak sepenuhnya salah beberapa anggotanya. Hanya saja ia beserta seluruh pasukannya tidak dapat menebak rencana pria tua itu.
"Obati luka kalian. Aku akan mengejar tahanan kita yang melarikan diri!" Setelah di angguki oleh beberapa anak buah, Sean bergegas masuk ke dalam mobil untuk mengejar mobil yang di tumpangi oleh Todd.
Dengan menggunakan walkie talkie, alat genggam komunikasi yang bisa terhubung dengan anggota pasukannya, Sean mengirimkan sinyal kepada anak buah untuk berhenti pada satu titik, sebab ia sudah menemukan keberadaan Todd yang sebelumnya sudah ia berikan alat pelacak di pakaian Todd.
"Jangan biarkan dia lolos!" ujarnya memberi peringatan.
"Baik Letnan." Beberapa anggota pasukannya menyahut dan tidak terdengar sebuah perintah kembali. Tak lama kemudian dua Pasukan Spetsnaz tersebut menemukan mobil yang ditumpangi oleh Todd.
"Lebih cepat lagi. Kita harus bisa menangkapnya lagi!"
"Hm..." Rekan kerjanya mengangguk dan kemudian menambah kecepatan penuh.
Menyadari jika ada mobil Pasukan Spetsnaz yang mengejar dan sudah nyaris mencapai mobil, Todd memerintahkan anak buahnya yang mengemudi untuk melaju lebih cepat lagi. Yang sialnya mobil pasukan militer itu berpencar mengejar dirinya.
"Lebih cepat lagi bodoh! Aku tidak ingin tertangkap lagi!" teriak Todd berbalutkan rasa panik. Sungguh ia tidak ingin mendekam di dalam penjara. Terlebih ia mendengar jika ia akan dimasukkan ke dalam Penjara Pulau Petak Rusia. Semua orang mengetahui penjara itu, penjara paling mengerikan untuk penjahat berbahaya seperti dirinya.
Kecepatan mobil mereka ternyata masih dapat dijangkau oleh mobil Pasukan Spetsnaz di belakangnya. Membuat Todd semakin dilanda kepanikan, tetapi ia tentu tidak kehabisan akal, ia menyuruh anak buahnya yang duduk di kursi samping kemudi untuk melemparkan granat.
Melihat sesuatu yang dijatuhkan ke arah mobil, dua Pasukan Spetsnaz itu mencoba untuk menikung ke kiri. Namun mereka terlambat untuk menghindar, sehingga granat tersebut menggelinding ke bawah mobil mereka dan seketika.....
DUUAARR!!
Granat berhasil meledakkan mobil tersebut, sehingga tergelincir dan terguling di tengah jalan, menewaskan dua Pasukan Spetsnaz. Bertepatan dengan mobil Sean yang baru saja menikung ke kiri dan mendapati mobil anggota pasukannya sudah meledak hingga terguling. Sean buru-buru membanting stir agar mobilnya tidak menghantam mobil dua pasukannya itu dan kemudian mengerem mendadak.
"Damn it!!!" Sean memukul stir kemudinya, ia keluar dari dalam mobil, bertepatan dengan beberapa mobil anggota pasukannya yang lain berdatangan. "Kalian segera berpencar! Kejar mobil itu kesana!" teriaknya dan menuju arah yang berlawanan.
"Baik Letnan." Tiga mobil kembali melaju dengan kecepatan tinggi ke arah barat. Dan dua mobil sisanya mengevakusi mobil beserta mayat rekan mereka, agar tidak menggangu aktivitas kendaraan lain disana.
Sean mengusap kasar wajahnya, targetnya kali ini benar-benar sulit di hadapi. Meskipun sudah tua, Sean tidak memungkiri jika Todd memiliki tubuh yang gagah, lihai dan cerdik.
***
Langit sudah berubah warna, senja yang tadi menyambutnya membelah jalanan ibu kota sudah memudarkan warna dan berganti dengan malam. Kini anak buah yang mengemudi mengurangi kecepatan mobil hingga kemudian menepikan mobil di antara semak-semak belukar dan bangunan kosong, tetapi mata mereka tetap awas pada sekitar. Cemas jika Pasukan Spetsnaz dapat menemukan persembunyian mereka saat ini.
"Sepertinya keadaan sudah lebih aman," ucap anak buah yang duduk di samping Todd.
"Hm..." Todd memijat keningnya yang tiba-tiba merasakan pening. "Apa kalian sudah menyiapkan yang kuperintahkan?" tanyanya kemudian.
"Kapal sudah siap di pelabuhan."
"Bagus, kita jalan sekarang!" kata Todd tidak ingin menunda kepergiannya.
Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Novorossiysk, pelabuhan utama Rusia di laut hitam. Di sepanjang perjalanan Todd tersenyum puas di dalam hati, ia mengumpati mereka yang begitu bodoh. Selama ini ia selalu berhasil dari kejaran para polisi dan pasukan khusus militer sekalipun. Siapapun tidak akan ada yang bisa menangkapnya. Namun sepertinya Todd lupa akan satu hal, ia tidak tahu jika ia sudah di pantau. Todd tidak akan bisa lepas begitu saja, meskipun pasukan khusus gagal menangkapnya. Sampai kapanpun musuh terbesarnya tidak akan membiarkannya lolos begitu saja. Ya, Mike beserta anak buahnya yang akan mengambil alih pekerjaan pasukan khusus tersebut.
Beberapa mobil terlihat berdatangan, menghimpit mobil yang ditumpangi Todd agar tidak dapat melaju dengan mudahnya. Beberapa mobil mengepung, sehingga membuat anak buah Todd terpaksa menghentikan laju kendaraannya.
Beberapa anak buah Loz Zetas berhamburan keluar dari mobil ketika mobil mereka sudah sempurna mengepung mobil Todd. Sehingga membuat pria tua itu beserta beberapa anak buah terperangkap di dalam mobil. Mereka berusaha untuk membuka pintu mobil, akan tetapi sisi kanan kiri dan bahkan bagian depan belakang mobil mereka dihimpit oleh beberapa mobil anak buah Loz Zetas.
Sosok Mike menjadi pusat perhatian Todd, pria itu berjalan melintasi anak buah Loz Zetas tanpa menyurutkan tatapan tajam kepada Todd. Dengan sengaja Mike menggores bagian depan mobil Todd menggunakan pisau yang ia keluarkan dari dalam saku jaketnya. Ia berhenti melangkah ke sisi kanan mobil, mengetuk kaca agar pria tua itu membuka kaca mobil. Detik itu juga kaca terbuka dan Mike dapat dengan jelas melihat wajah Todd yang datar, namun ia tahu jika Todd berusaha menyembunyikan amarahnya.
"Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama lagi!" ujar Mike menyunggingkan senyum remeh.
Todd hanya mampu berdecak. Kakinya di bawah kursi menyenggol kaki anak buahnya, mengisyaratkan jika mereka harus melakukan sesuatu. Paham apa yang dipertahankan oleh bos mereka, anak buah Todd segera mengeluarkan senjata masing-masing.
Dor
Dor
Dor
Mike tersenyum, peluru tiga anak buahnya lebih dulu menembus kaca mobil dan berhasil menghantam di kepala mereka.
"Kau seorang diri saat ini, apa yang bisa kau lakukan?!" Sungguh tatapan penuh remeh Mike, membuat Todd tiada henti mengutuk pria keparat itu.
Dan dalam seketika mobil yang di tumpangi oleh Todd meledak begitu saja. Memercikan kobaran api yang perlahan membesar. Mike berjalan menjauhi mobil yang meledak itu. Ia menatap alat pelacak yang terpasang di pakaian Todd, sebelum kemudian melemparkannya ke sembarang arah, yakin jika sebentar lagi Pasukan Spetsnaz akan berdatangan.
"Padamkan apinya dan cari mayat mereka!" perintah Sean kepada seluruh anggota pasukannya. Ia mengamati mobil itu, bergantian mengamati sekitar. Jika mobil itu terbakar sudah pasti Todd berada di dalam, tetapi itu semua belum cukup membuktikan jika tahanan mereka sudah tawas. Ia harus mengotopsi mayat mereka.
***
Di dalam sebuah bangunan tua, Todd di seret paksa oleh beberapa anak buah Mike dan pria itu di dorong hingga tersungkur di atas lantai. Pakaian pria tua itu berbeda dari sebelumnya, Mike memang sengaja mengenakan pakaian milik Todd kepada mayat seseorang untuk menggantikan posisi Todd di dalam mobil. Sebelum mobil itu meledak, ia sudah meletakkan segala sampel yang melekat di tubuh Todd. Mike sangat tahu jelas golongan darah milik Todd, mencari seseorang yang memiliki sampel darah seperti Todd dan membakar mobil itu agar mayat serta sidik jari Todd tidak dapat diidentifikasi.
"Kau beruntung tidak dimasukkan ke dalam Penjara Pulau Petak. Aku membuat kau terhindar dari tempat yang mengerikan itu," ujar Mike penuh maksud. Yang artinya keluar dari kandang buaya, tetapi justru masuk ke dalam serigala.
"Ck...!" Todd berdecak. Bukankah sama saja, ia pun akan mendapatkan siksaan yang lebih dari penjara mengerikan itu.
Melihat Todd yang memalingkan wajahnya, Mike kesal dan segera mencengkram kuat rahang Todd. "Apa kau sudah menjadi bisu, heh?!" Lalu dengan kasar menghempaskan wajah Todd.
"Keparat sialan!" umpat Todd meludah.
"Maki aku sepuasmu, karena setelah ini kau tidak akan bisa berteriak lagi."
"Percuma kau membunuhku, Matthew dan Aprille tidak akan pernah kembali hidup. Dan kau akan selalu hidup dengan kesendirianmu, hahaha!" Todd tergelak. Tidak masalah jika ia harus lenyap di tangan Mike, tetapi satu hal yang pasti. Tewasnya dirinya tidak akan mengubah apapun, Mike akan selalu merasa kesepian tanpa hadirnya Matthew dan Aprille.
"Benarkah?" Mikel menyahut santai, tidak terpengaruh. "Kalau begitu kau perlu melihat kejutanku."
"Kejutan apa hah? Tidak perlu berbasa-basi lagi. Cepat bunuh diriku sekarang juga!" seru Todd.
"Ck, tidak menarik jika kau mati tanpa mengetahui apapun. Karena itu kau harus melihat kejutan yang kuberikan."
"Tidak perlu. Lebih baik kau cepat lenyapkan aku saja. Hanya buang-buang waktu saja melihat kejutanmu!" gerutunya disertai napas yang terbuang kasar.
Langkah kaki yang berjalan mendekat menggema di dalam sana, memenuhi pendengaran Todd. Sehingga membuat pria tua itu menoleh ke asal suara. Tatapan malasnya berubah seketika, matanya membeliak penuh melihat pria yang sudah menghentikan langkah di hadapannya.
"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin! Kau bukan Matthew!" Todd berusaha menyakinkan dirinya jika ia salah melihat.
"Dia Matthew, pria yang sudah kau lenyapkan sebelas tahun lalu. Tanpa kau ketahui yang sebenarnya jika ayah dan ibuku masih hidup."
Mulut Todd ternganga, ia benar-benar tidak percaya jika Matthew dan Aprille masih hidup dan kini pria itu terlihat baik-baik saja.
"Tidak! Kalian berdua sudah mati malam itu!" Todd masih tidak ingin mempercayainya.
"Sayangnya apa yang kau lihat ini sungguh ayahku. Kau merasa tertipu bukan?" Mike kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya pada saat Kakek Mateo beserta orang-orangnya berhasil menyelamatkan Matthew serta Aprille dari kebakaran sebelas tahun lalu. Dan akibatnya Matthew menjadi tidak bisa bicara dan Aprille mengalami kelumpuhan.
Todd yang mendengar kenyataan itu hanya bisa melemas seketika, dadanya bergemuruh tidak karuan. Matthew dan Aprille masih hidup meskipun keduanya cacat. Dan rasa ingin membunuh kakak tirinya itu kembali meletup-letup.
"Kalau begitu kau harus mati hari ini!" Todd bangkit dan menyerang Matthew.
BUGH
Matthew menendang perut Todd, hingga membuatnya terpental. Ia kemudian mengambil pisau yang diberikan oleh putranya.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan Dad. Dia sudah membunuh Kakek Mateo, karena itu dia pantas mendapatkan apa yang seharusnya!" Mike semakin menyulutkan api yang terpendam di dalam diri Matthew. Semasa hidupnya Matthew menghindari tindakan pembunuhan, tetapi hari ini ia benar-benar akan membunuh Todd dan membuat pria itu tersiksa seperti dirinya.
"Apa yang ingin kau lakukan, hah?!" Todd mendadak panik ketika Matthew mendekat ke arahnya. Yang sorot matanya menguarkan aura membunuh.
Matthew tidak menyahut, ia kembali melayangkan tendangan tepat di wajah Todd. "Kau yang membuatku menjadi tidak bisa bicara. Kau juga yang membuat istriku lumpuh. Aku akan melakukan hal yang sama padamu!" Krek. Matthew menginjak kaki Todd membuat pria itu teriak kesakitan dan menggeliat di lantai. Matthew melakukannya berulang kali hingga apa yang ia lakukan benar-benar menghancur leburkan tulang belulang kedua kaki Todd.
Tidak percaya bahwa ia akan berakhir menyedihkan. Itulah yang dirasakan oleh Todd. Ia hanya bisa pasrah ketika Matthew berjongkok, lalu mengarahkan pisau itu tepat di wajahnya.
"Nikmati rasa sakitnya, seperti aku yang kesakitan saat kau menancapkan pisau ke leherku!" Jleb. Dalam sekali hentakan saja pisau itu menembus ke dalam tenggorokan Todd.
Kedua mata Todd membelalak, ia tidak bisa berteriak untuk menyuarakan rasa sakitnya.
"Selamat tinggal Paman. Kasihan sekali kau harus tersiksa seperti ini!" Pandangan Todd yang samar-samar itu tertuju pada Mike yang menatap penuh kepuasan, tetapi berpura-pura memasang wajah iba.
To be continue
Babang Mike
Mampir ke instagram Yoona ya, ada cuplikan video bab ini ðŸ¤ðŸ¤—
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...