The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Tidak Perlu Lagi Menemuiku?!



Seorang pria duduk menghadap jendela besar yang menyuguhkan pemandangan langit biru di luar sana. Tetapi perlahan mulai memantulkan semburat jingga keemasan. Sudah beberapa jam yang lalu ia seperti itu, tidak ada gairah untuk melakukan hal apapun. Tatapan matanya yang tajam bagaikan elang nampak kosong, penuh keredupan disana. Meski langkah seseorang yang baru saja memasuki ruangan tidak sekalipun membuatnya tergugah.


"Hari sudah sore Tuan, sebaiknya anda pulang saja ke Mansion. Biar saya yang menjaga Nona Meisha." Nathan berucap sembari memperhatikan lekat-lekat reaksi tuannya. Sebab sudah dua kali perkataannya diabaikan dan tidak didengar, seolah tidak ada dirinya disana. Dan kali ini Nathan memberanikan diri mengulangi perkataannya.


Mendengar perkataan Nathan, Mikel menghembuskan napas berat, lalu menarik sedikit lengan panjang yang menutupi arlojinya. Dilihatnya arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 sore. Ternyata sudah empat jam dirinya berdiam diri seperti itu tepat di hadapan ranjang rumah sakit, dimana adiknya terbaring disana. Sorot matanya kemudian bergulir menatap sosok adiknya, sudah terbaring lemah disana setelah satu minggu berteriak histeris dan mencoba untuk mengakhiri hidupnya kembali.


Ada rasa sesal di dalam hati, sebab ia tidak bisa menjaga adiknya dengan baik. Bahkan kini ia pun harus menerima kemarahan wanitanya beberapa jam yang lalu.


"Sweetheart....." ucapnya lembut. Tangannya berusaha menjangkau lengan wanitanya.


"Jangan menyentuhku!"


Mikel cukup tersentak dengan reaksi Elie, ia bisa melihat jika terdapat kemarahan di manik hazel wanitanya itu.


"Kenapa kau marah, hm?" Mikel bertanya dengan lembut. Sorot matanya hanya dipenuhi oleh wajah Elie saja, sehingga tidak mempedulikan seorang gadis yang berdiri di samping wanitanya itu.


"Kak Elie, aku teringat ada urusan. Aku pergi lebih dulu." Gadis cantik itu tidak lain ialah Freya, adik dari Devano dan putri dari Edward dengan Olivia. Gadis itu bisa melihat tatapan mata seorang pria yang menghujam penuh kerinduan, sudah seharusnya ia menyingkir bukan?


"Frey, kau disini-" Namun sebelum Elie menyelesaikan kalimatnya, adik sepupunya itu sudah berlalu pergi begitu saja meninggalkan dirinya dengan Mikel.


Pandangannya kemudian beralih menemui Mikel, tidak ada keramahan pada saat menatap pria itu, sehingga membuat Mikel dilanda kebingungan dan menerka-nerka.


Apa wanita itu marah padanya? batinnya bertanya-tanya.


"Katakan ada apa kau datang kemari, Tuan Mikel?" Kedua tangan Elie menyilang di depan dada, menghembuskan napas kesal saat mengulangi pertanyaan yang sama.


"Sweetheart, apa kau marah padaku?" Mikel berusaha menjangkau helaian rambut yang membingkai wajah wanita itu. Namun Elie masih tidak membiarkan pria itu menyentuh tubuhnya sedikitpun.


"Untuk apa aku marah padamu?" sahut Elie, entah kenapa ia memalingkan wajahnya dari tatapan pria itu.


"Jika kau tidak marah, kau tidak mungkin memanggilku Tuan dan kau tidak mungkin tidak ingin menatap mataku padahal kau sedang bicara denganku. Jika kau sedang marah kau lebih menyimpan rasa kesalmu seorang diri dari pada kau harus memberitahu penyebab kemarahanmu!" Ya, Mikel sangat mengenali Elie, jika wanita itu merajuk atau marah, akan membuang pandangannya ke arah lain alih-alih menatap sumber kemarahannya itu. Bahkan Elie selalu menyimpan sesuatu yang membuatnya marah hingga berlarut-larut, sehingga wanita itu betah berlama-lama mendiamkan seseorang yang sudah berhasil membuat wanita itu marah.


Elie tertegun sejenak mendengar perkataan Mikel. Jarang sekali ada yang menyadari perasaannya jika tengah dalam mood kesal atau dalam keadaan marah. Ia memang selalu membiarkan kemarahannya itu hingga berlarut-larut lamanya. Tetapi tidak mungkin ia mengakui jika yang dikatakan pria itu benar, sudah pasti itu hanya sebuah kebetulan saja.


"Aku tidak marah!" bantahnya. "Jangan bersikap kau seolah tau sifatku. Aku memang seperti ini dengan pria asing!"


"Aku bukan pria asing, Sweetheart." Mikel merengkuh kedua bahu Elie, kali ini berhasil sebab Elie kalah tenaga untuk menyingkirkan tangan Mikel dari bahunya. "Kau wanitaku, sudah pasti aku juga pria milikmu. Jadi jangan katakan aku pria asing."


"Aku bukan milikmu. Diantara kita tidak ada hubungan apapun, apa kau lupa jika kau sudah memiliki wanita lain?!" seru Elie. Napasnya menggebu-gebu penuh dengan emosi yang tertahan.


"Tidak ada wanita lain selain dirimu, Elie!" Tanpa sadar Mikel meremat kedua bahu Elie. Sungguh ia tidak suka saat Elie berkata jika di antara mereka tidak ada hubungan apapun.


Elie berdecih mendengarnya, ia menepis kasar kedua tangan Mikel. "Kau merayuku seperti ini, padahal di belakangku, kau masih menjalin hubungan dengannya!"


Mikel tertegun sekaligus menampakkan kerutan bingung pada dahinya. "Siapa yang kau bicarakan? Aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun. Kau.... hanya kau wanitaku, kekasihku dan tidak ada wanita lain selain dirimu!" Mikel menekankan kalimatnya. Sungguh tidak ada wanita lain yang mampu mengisi hatinya selain Elie. Akan tetapi wanita itu menuding dengan kalimat yang ambigu.


"Katakan siapa yang kau bicarakan?" lanjutnya menuntut penjelasan dari wanitanya itu.


Mikel terkejut, layar ponsel itu menunjukkan sebuah potret dirinya bersama dengan seorang wanita yang tidak lain ialah Helena. Dan ia mengetahui potret itu diambil saat dirinya berada di rumah sakit mencari keberadaan Helena untuk menemui Jorge Bonham, ayah dari wanita itu.


"Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bertemu dengannya untuk menyelesaikan masalah." Mikel tidak berbohong, ia memang menyelesaikan masalah dengan Jorge sekaligus membantu Helena menghadapi keluarga tidak tahu diri itu.


"Benarkah?" Elie menjauhkan ponselnya dari pandangan Mikel. Tentu ia tidak percaya begitu saja. "Memangnya apa yang aku pikirkan? Jika kau menemuinya itu bukan urusanku. Kalian sudah lama bersama, untuk apa menjelaskannya kepadaku!"


"Elie, dengar....." Mikel bergerak maju. "Suatu saat kau akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Untuk saat ini kau harus percaya padaku, diluar sana banyak yang ingin menjatuhkanku. Karena itu ku mohon jangan seperti ini. Kau benar-benar membuatku hampir gila!" Mikel tidak malu menunjukkan wajah frustasi ketika wanita itu marah dan memanggilnya dengan kata Tuan. Sungguh dadanya berdenyut nyeri jika wanita itu berniat menjauhi dirinya.


"Aku...." Elie tidak mampu menyahut kembali. Saat ini ia tengah dilanda kebingungan, disatu sisi ia begitu marah terhadap pria itu. Sungguh ia merasa tidak nyaman dan mendadak kesal saat mengetahui jika Mikel masih berhubungan dengan Helena. Namun di sisi lain, ia merasa tidak pantas jika dirinya harus marah atau merasa cemburu.


"Dengar, aku senang jika kau marah seperti ini." Perkataan Mikel memecah keheningan yang terjadi selama beberapa saat. "Karena artinya kau cemburu, di hatimu sudah ada aku." Jari telunjuk Mikel kemudian mengarah pada dada Elie, menunjukkan bahwa kini dirinya ada di dalam sana.


"Lalu kemana saja kau selama ini? Bukankah kau akan menemuiku lagi, tapi sudah satu minggu kau tidak mendatangiku. Apa kau mulai terpengaruh dengan ancaman Daddy dan Ar?!" seru Elie. Wanita itu menduga jika menghilangnya pria itu satu minggu lamanya karena terpengaruh akan ancaman dan perkataan dua pria berharga di hidupnya itu.


"Aku...." Bibir Mikel mendadak kelu untuk menjelaskan. Tidak mungkin ia memberitahu yang sebenarnya. Belum saatnya siapapun mengetahui identitasnya, sebelum ia berhasil menyingkirkan Pamannya. Ia sangat yakin jika saat ini Pamannya sudah menemukan keberadaannya dan siap untuk melancarkan aksi balas dendam. Ya, Mikel sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuhnya.


"Apa kau sulit mengatakannya?" Elie mencebik kesal, padahal ia hanya ingin tahu apa yang pria itu lakukan selama satu minggu ini. "Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya, kau tidak perlu lagi menemuiku!" Elie yang kesal pun berlalu melewati Mikel.


"Argghh, sial!" Mikel mengumpat. Ia berusaha mengejar wanitanya. "Sweetheart tunggu...." Namun Elie tidak mengindahkan seruan Mikel, wanita itu terus melangkah hingga masuk ke dalam ruangan.


Langkah Arthur mendadak terhenti, tidak mungkin ia masuk ke dalam sana. Dimana terdapat mereka yang dikenalnya itu tengah berada di dalam.


"Maafkan aku, Sweetheart...." gumamnya hingga kemudian segera berlalu dari sana.


***


"Tuan?" Nathan kembali memanggil tuannya yang sejak tadi bergeming.


Mikel menoleh, ia kemudian bangkit berdiri. "Aku mengandalkanmu Nath. Jaga Mei apapun yang terjadi. Aku harus menemui Sid, hubungi aku jika Mei kembali mengamuk." Mikel mendorong kursi yang baru saja ia duduki dan meraih jas abu-abu yang terlampir di sandaran kursi, lalu segera mengenakannya.


"Baik Tuan." Nathan mengangguk mengerti. Ia akan melakukan tanggung jawabnya menjaga Meisha. Pandangan sendu Nathan tertuju pada Meisha yang masih terbaring di ranjang setelah memastikan tuannya lenyap di balik pintu.


To be continue


Babang Mikel



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...