
Di dalam ruangan VIP room mendadak mencekam ketika ketiga pria dingin saling bersitegang melalui tatapan mereka masing-masing. Terlebih Arthur yang sejak awal memang secara terang-terangan menentang pria itu untuk mendekati adiknya. Ia kian menajamkan mata lantaran gagal membuat Mikel pergi dari sana.
"Ada apa dengan kalian?" Suara Aurelie membelah suasana yang teramat mencekam itu. Bagaimana tidak, di antara ketiga pria itu tidak ada yang membuka suaranya terlebih dahulu. Hanya saling beradu ketajaman mata, sehingga membuatnya jengah dikelilingi pria-pria dingin tetapi tampan.
"Kau sudah melihatnya sendiri jika Elie baik-baik saja, jadi kau bisa pergi dari sini!" Arthur tidak mengindahkan pertanyaan sang adik dan justru melontarkan perkataan yang bermaksud mengusir.
"Ar...." Tatapan Mommy Elleana seolah menegur putranya itu. Ia heran, sejak kapan putranya itu menjadi tidak sopan terhadap orang lain. "Jangan dengarkan Ar, dia hanya bercanda saja." Sungguh Mommy Elleana menjadi tidak enak terhadap Mikel. Sebisa mungkin ia menyematkan senyuman agar Mikel tidak tersudut oleh kedua pria kesayangannya itu. Beruntung Austin tidak turut berada di rumah sakit karena sibuk menyusun skripsinya. Jika mereka sudah berkumpul, mungkin ruangan perawatan akan berubah menjadi ruangan terdakwa.
"Aku tidak bercanda, Mom!" seru Arthur disela hembusan napasnya yang kasar. Mommy Elleana kembali memberikan peringatan kepada putranya dalam tatapan matanya yang membeliak.
Mikel tersenyum menanggapi. "Tidak masalah Nyonya. Aku sudah terbiasa berada di situasi seperti ini." Memang wajah Mikel tidak menunjukkan bahwa dirinya tersinggung atau merasa tersudutkan. Ia harus menunjukkan kepada Arthur serta Paman Xavier jika dirinya bukan pria lemah yang gentar hanya karena diberikan tatapan penuh penekanan.
"Ck, jangan menatap istriku lebih dari lima detik!" Padahal pandangan Daddy Xavier tertuju pada layar ponselnya, akan tetapi ia seperti mendapatkan sinyal ketika ada seseorang yang menatap sang istri lebih dari lima detik.
Kesabaran Mikel benar-benar tengah di uji. Meski dulu ia terbiasa dengan sikap Paman Xavier, tetapi entah kenapa ia merasa jika pria setengah baya itu benar-benar menyebalkan. Bahkan sangat menyebalkan.
Elie mengulum senyumnya, ia menyadari jika sedari tadi Mikel berusaha mengeram rasa kesalnya. Salah sendiri kenapa mencoba-coba datang dan terlebih lagi ternyata selama ini Mikel sudah mengetahui identitasnya yang berasal dari Keluarga Romanov.
"Astaga, aku melupakan vitaminku." Seruan Mommy Elleana mengalihkan perhatian semuanya. Seketika Mommy Elleana menoleh ke arah sang suami dan mendadak bingung karena semua mata tertuju padanya. "Hubby, sepertinya aku harus ke apotik yang berada di lantai dasar rumah sakit." Mommy Elleana tersenyum canggung, ia kemudian beranjak berdiri. Ia tidak boleh melewatkan minum vitamin karena akan berdampak pada tubuhnya yang akan menjadi lemas.
Mendengar sang istri akan ke apotik, membuat Daddy Xavier turut bangkit dan mendekati istrinya itu. "Aku akan menemanimu Sweety." Hal yang tidak mungkin di lakukan oleh Daddy Xavier adalah membiarkan istrinya itu pergi seorang diri. Sehingga kemanapun sang istri pergi, ia harus mengekor ketimbang harus berjauhan.
"Baiklah...." Agar tidak menimbulkan drama berkepanjangan, Mommy Elleana membiarkan suaminya itu untuk menemani dirinya.
Keduanya lantas keluar dari ruangan setelah berpamitan sebentar untuk ke lantai dasar rumah sakit. Dan sepeninggalnya kedua pasangan suami istri setengah baya itu, kecanggungan kembali melingkupi, baik Arthur dan Mikel benar-benar tidak ingin saling berbasa-basi. Hingga suara dering ponsel terdengar begitu menggema lantaran ruangan di dalam sana nampak sunyi seperti ruangan kosong meski terdapat penghuninya.
Karena menurutnya panggilan itu bersifat rahasia, sehingga Arthur memutuskan menjawab panggilan itu di luar ruangan, meninggalkan Aurelie bersama Mikel yang sedari tadi tidak menggulir pandangan ke arah lain, hanya tertuju pada wajah wanita itu yang sungguh teramat ia rindukan.
"Aku senang kau baik-baik saja." Suara Mikel penuh dengan kelembutan. Kecemasan akan kondisi wanitanya yang mungkin saja memburuk sempat menghimpit dadanya. Tetapi begitu melihatnya secara langsung, Mikel bernapas penuh kelegaan.
Elie tidak menyahut. Ia nampak diam sejenak, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Hingga kemudian matanya berusaha menjangkau tatapan Mikel yang tidak berpindah darinya.
"Kenapa kau berpura-pura tidak tau identitasku? Apa selama ini kau menertawakanku?" Elie tersenyum getir. Seharusnya ia tau jika pria seperti Mikel tidak mungkin tidak mengetahui latar belakang dirinya yang sebenarnya.
"Apa aku terlihat seperti menertawakanmu selama ini, hm?" Mikel berusaha memangkas jarak di antara mereka dengan menggeser kursi yang saat ini sedang ia duduki.
Elie bergeming dan acuh tak acuh. Entahlah, ia benar-benar tidak bisa menebak pikiran dan bahkan isi hati pria itu.
Elie mencoba menyembunyikan rona merah yang menyembul di wajahnya itu dengan membuang pandangannya ke arah jendela yang memaparkan langit cerah.
"Aku memang memiliki alasan kuat. Kau akan mengetahui sifat asli seseorang jika kau tidak memiliki apa-apa. Mereka akan memujamu karena mereka tau jika kau memiliki banyak uang. Mereka tidak bersungguh-sungguh ingin berteman denganmu. Aku tidak mengerti, kenapa status sosial menjadi patokan seseorang dalam memilih teman atau pasangan hidupnya." Elie menjawab setelah berusaha menetralkan mimik wajahnya seperti semula. Benar, itulah alasan dirinya menyembunyikan identitasnya. Terbukti tidak ada teman yang bersungguh-sungguh ingin berteman baik padanya. Semua hanya datang disaat tengah butuh saja dan tidak peduli jika dirinya selalu dirundung masalah akibat mereka yang terlalu menganggap dirinya sebagai musuh. Padahal selama ini Elie berusaha bersikap remah tamah, akan tetapi tetap saja status sosialnya menjadi penyebab dirinya di pandang remeh.
Mikel tersenyum, entah apa yang sudah dilalui oleh wanitanya itu sehingga dapat berpikir demikian. Akan tetapi itu sangat membuatnya semakin terkesima dan menambah rasa cintanya untuk wanita itu. Elie yang dulu begitu manja dan sangat tidak peka terhadap sekelilingnya bisa berubah begitu banyak dan itu sangat membuatnya terkesan.
Tanpa aba-aba, Mikel berdiri dan mendekap wanita itu dengan erat sehingga membuat wanita itu terkesiap karena terkejut.
"Ke-kenapa mau memelukku?" Elie mencoba mendorong dada Mikel, namun rasanya percuma saja karena dekapan itu semakin diperkuat. Bahkan ia dapat merasakan deru napas berat Mikel di ceruk lehernya, seolah terdapat kegelisahan disana, dan hal tersebut membuat Elie mencemaskannya. "Ada apa?" tanyanya kemudian. Entahlah, Elie merasa jika dirinya sangat mengenal Mikel, sehingga hanya dengan dari bahasa tubuh pria itu saja, ia sudah dapat menduga jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran pria itu.
"Jangan tinggalkan aku," tutur Mikel disela pelukannya yang semakin diperkuat. "Apa kau tau jika aku sangat takut melihatmu tidak bernapas lagi."
"Mikel, aku...." Elie tau apa yang sedang dibicarakan oleh Mikel. Apalagi jika bukan mengenai dirinya yang nyaris tenggelam dan pria yang tengah mendekapnya ini yang sudah menyelamatkannya. "Tentang hal itu, aku sangat berterima kasih. Berkatmu aku selamat dan masih bernapas sampai saat ini." Telapak Elie terulur hendak menepuk punggung Mikel, akan tetapi diurungkannya karena Mikel tiba-tiba melepaskan pelukannya.
Mike mengangkat dagu wanita itu agar pandangan mereka saling bertemu, sebelum kemudian menatap wajah wanitanya itu dengan intens.
"Kau tau bahwa aku sangat mencintaimu, jadi jangan membuatku mencemaskanmu." Telapak tangan Mikel kemudian mengusap pipi Elie dengan lembut. "Menurutlah jika kakakmu menugaskan beberapa bodyguard untuk menjagamu karena aku tidak akan bisa selalu mengawasimu."
Elie mencoba meraba apa yang berusaha disampaikan oleh Mikel melalui nasihatnya itu. Namun nihil, ia benar-benar tidak bisa membaca apapun isi pikiran pria itu.
Saat ini Mikel memang tidak baik-baik saja dan mengalami kecemasan yang berlebihan. Terlebih ia baru saja mengibarkan bendera perang terhadap pamannya yang mungkin saja kini tengah mencari keberadaanya dan sudah pasti mencoba untuk membalaskan kematian putranya itu. Mikel tidak ingin melibatkan siapapun, biarlah ia yang menuntaskan segalanya meski harus mengorbankan nyawanya sekalipun.
To be continue
Elie
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...