The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Dia Akan Menyesalinya!



Pada akhirnya Arthur memilih keluar dari ruangan, pria itu tidak tega menyaksikan Helena begitu rapuh di dalam dekapan pria lain. Dan untuk pertama kalinya ia tidak bisa berbuat apapun ketika miliknya seolah akan dirampas orang lain. Bukan karena Arthur tidak bisa berkutik, hanya saja ia berusaha mengertikan kondisi wanita itu. Memikirkan akibatnya jika ia terlalu memaksakan Helena untuk menerima kehadirannya saat ini.


Benar saja, ketika sosok Arthur lenyap tertelan pintu, Helena sedikit lemah tenang dan di tuntun oleh Steve menuju ranjang. Tubuh Helena masih bergetar, hanya saja tidak seperti sebelumnya. Dan bibir wanita itu pun sedari tadi bergetar menahan tangis.


"Kau sudah lebih baik?" Steve mundur satu langkah dari ranjang ketika tiba-tiba saja Helena menepis tangannya. Ia paham jika emosi yang tidak stabil membuat Helena dapat berubah kapanpun.


Sebagai jawabannya Helena hanya mengangguk. "Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun. Aku tidak ingin dia menemukanku...." tuturnya dengan bibir bergetar.


"Tenang saja, kau aman berada disini." Steve menenangkan Helena. Memahami akan ketakutan temannya itu, dia yang dimaksud tidak lain ialah ayah dari Helena. Sejak mengenal Helena saat di Universitas dan menjadi Dokter yang menangani masalah psikis wanita itu, Helena memang memiliki hubungan yang buruk dengan ayahnya. Steve sangat yakin jika penyebab Helena menjadi seperti ini karena keluarganya. Lagi pula meskipun ia memungkirinya tidak akan bisa menutupi sebuah fakta jika pria yang bernama Arthur itu tidak akan membiarkan terjadi sesuatu yang buruk. Dari cara pria itu menatap Helena, tersimpan sesuatu yang entah ia sendiri tidak dapat menyimpulkan dengan baik. Tetapi menyakini jika Helena sangat penting bagi pria itu. Jika tidak, untuk apa pria itu jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengunjungi seorang kenalan biasa.


Helena tidak menyahut, ia terlalu lelah dengan permasalahan yang sangat mengguncang psikisnya. Ia tidak tahu dimana sebenarnya tempat yang aman untuknya, sebab ia merasa tidak aman dimanapun dirinya berada jika masih dalam keadaan bernyawa.


Helena memutuskan untuk berbaring, ia menolak ketika Steve akan membantu menyelimuti dirinya. Hingga pada akhirnya Steve hanya bisa menatap nanar tubuh Helena yang sudah bergelung di bawah selimut dengan memberikan punggung kepadanya.


Meskipun keadaanmu rapuh seperti ini, kau masih saja menolakku dan tidak ingin membagi bebanmu padaku.


***


Sementara Arthur memasang wajah muram sejak keluar dari ruangan. Ia membenamkan tubuhnya di salah satu deretan kursi besi yang berada di depan ruangan Helena. Darren menatap heran, pasalnya saat memasuki ruangan, wajah Arthur nampak sedikit merekah. Tetapi lihatlah, aura pria itu semakin diselimuti awan gelap di punggungnya.


"Dia menolakku Der. Dia ketakutan saat melihatku." Arthur menyelipkan senyum kecut ketika mengatakan hal tersebut kepada Darren. Mengingat reaksi wanita itu yang menolak kehadirannya, membuat hatinya tercubit.


Kening Darren mengernyit, terkejut mendengarnya. Ia bisa melihat kekecewaan yang tercetak jelas di wajah teman sekaligus atasannya itu. "Nona Helena hanya butuh waktu Ar. Dia tidak berniat seperti itu." Dan Darren hanya bisa memberikan kalimat dorongan semangat untuk Arthur, tidak ingin membuat Arthur mengamuk di rumah sakit.


Pandangan Arthur tertunduk, ia merasa perkataan Darren tidak membantu menyalurkan rasa semangat untuknya. Lama ia menyelami pikirannya, detik kemudian kepalanya mendongak dan menoleh ke arah Darren.


"Der, cari penginapan terdekat. Setidaknya 10 menit dari rumah sakit ini!" katanya menuntut sebuah permintaan yang sebenarnya adalah sebuah perintah tanpa bisa dibantah.


Darren tercengang selama beberapa saat. "Tapi Ar, aku sudah memesan hotel sebelumnya," jawabnya merasa keberatan dengan permintaan Arthur. Sebelumnya ia sudah memesan hotel ternama di Kota Paris untuk mereka singgahi selama beberapa hari kedepan. "Lagi pula disekitar rumah sakit tidak ada hotel atau penginapan apapun," imbuhnya. Memang di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tidak nampak bangunan lain yang seperti hotel. Hanya terdapat bangunan minimarket dan beberapa gedung perkantoran.


"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun, Der! Jika tidak ada hotel di sekitar rumah sakit, kau bisa menyewa rumah yang berada di sekitar minimarket. Itu cukup untuk kita beristirahat."


Hah? Lebih tercengang lagi Darren, ia memang melihat ada sebuah rumah sederhana bertingkat dua yang tersambung dengan sebuah cafe. Mungkin rumah itu merupakan rumah dari pemilik cafe tersebut.


"Apa kau yakin Ar? Rumah itu tidak terlalu besar. Apa kau akan nyaman menginap di tempat seperti itu?" Entahlah, Darren merasa ragu. Bahkan rumah tersebut tidak lebih besar dari kamar Arthur yang begitu luas dan mewah.


Helaan napas Arthur terdengar kasar, disertai tatapan yang menghunus ketika hari ini Darren lebih banyak enggan menurutinya. "Kau hanya perlu melakukannya, Der! Tidak perlu banyak bicara!"


"Baiklah," sahut Darren pada akhirnya. Ia hanya bisa menuruti saja apapun yang dikatakan oleh Arthur. Ia kemudian bangkit berdiri dan menghampiri kedua anak buah yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Kalian datanglah ke cafe yang ada di dekat rumah sakit. Cafe itu tersambung dengan rumah, kalian bicaralah kepada pemiliknya dan menyewa rumah itu bagaimana pun caranya!" Seperti Arthur, Darren pun tidak mau tahu, bagaimana pun mereka harus berhasil melakukannya. Darren kemudian mengambil cek kosong dan pena di dalam jas saku celana, lalu menuliskan sejumlah nominal di atas cek kosong tersebut. "Dan berikan cek ini kepada pemilik rumah itu!" sambungnya memberikan cek dengan jumlah nominal cukup besar kepada salah satu mereka.


"Baik." Keduanya mengangguk dan menyanggupi perintah Darren yang mutlak adalah perintah dari bos muda mereka. Keduanya segera berlalu dari sana, bertepatan dengan Steve yang keluar dari ruangan Helena.


Arthur segera berdiri begitu melihat sosok Steve yang sudah berdiri di depan pintu. Sosok Arthur yang menjulang tinggi menghalangi pandangan Steve, membuat pria itu mau tidak mau mendekati Arthur.


"Bagaimana keadaanya?" Arthur tidak mengindahkan perkataan Steve, ia lebih mencemaskan keadaan Helena ketimbang mendengarkan perkataan pria yang berada di hadapannya itu.


"Sudah lebih tenang dan saat ini dia tertidur," jawab Steve.


Arthur mengangguk meskipun hatinya merasakan remasaan kuat mendengar jika wanita itu terlelap ketika berada dalam satu ruangan yang sama dengan seorang pria, meksipun pria itu dokter yang menanganinya.


"Saat itu kau berada di tempat kejadian, aku ingin mendengarnya secara langsung darimu!" Arthur mengalihkan pikirannya yang cukup menyita emosinya itu, ia tidak ingin mengakui kedekatan pria itu dengan Helena. Tetapi sepertinya tidak ada pilihan lain selain mengorek informasi dari pria yang berani menatap dirinya dengan tajam.


Dan Steve tidak bisa memiliki kemampuan untuk menutupi segalanya dari Arthur. Dirinya pun masih harus menyelidiki masalah yang terjadi dengan Helena beserta keluarga wanita itu. Ia dan temannya memiliki jalan buntu hingga saat ini belum menemukan apapun.


"Aku dan temanku tidak sengaja bertemu dengannya ketika akan menuju ke Bandara. Beberapa pria menyerang Helen dan aku tidak tau apa yang mereka lakukan saat itu hingga membuat Helen tidak sadarkan diri. Tapi begitu aku bawa ke rumah sakit terdekat, dokter mengambil sampel darah Helen dan aku terkejut mendengar hasilnya jika Helen di bius dan bahkan cairan itu cepat atau lambat akan merangsang otak Helena. Cairan itu seperti obat halusinasi, jika digunakan dalam dosis berlebih akan mengakibatkan kelainan otak dan kemudian menjadi gila." Bayangan ketika di rumah sakit kala itu memenuhi otak Steve. Sungguh ironis sekali yang di rasakan oleh Helena. Namun pertanyaannya siapa yang melakukannya saat itu ia sendiri siapa pelakunya. "Hanya saja pada saat Helen tersadar, dia berteriak histeris dan meneriaki kami akan membunuhnya. Sebelum dokter menyuntikan obat penenang, Helen berulang kali menyebut ayahnya dan istri baru ayahnya adalah seorang pembunuh. Entah itu benar atau tidak, untuk mencari tau apa yang terjadi dengan Helen dan keluarganya, aku membawanya bersamaku menggunakan jet pribadiku dan aku minta tolong pada temanku yang seorang Sheriff untuk melakukan penjagaan dan menutup akses apapun mengenai Helen."


Di sepanjang Steve bercerita, satu tangan Arthur mengepal kuat. Seolah energi emosinya terkumpul disana. Rahangnya mengeras dengan dada yang bergemuruh mendengar penuturan Steve. Ia semakin yakin jika yang membius Helena adalah orang-orang suruhan Jorge.


Steve terlihat ragu ingin kembali bersuara, tetapi memang tidak perlu ada yang ditutupi dari pria seperti Arthur. Ia sangat yakin jika Arthur akan dengan mudah mendapatkan informasi apapun yang diinginkan.


"Dan aku merasa gagal karena baru mengetahui jika cairan beberapa tahun yang lalu mengakibatkan psikis Helen tidak stabil. Dan dari rekam medis yang aku dapatkan dari asisten pribadinya, aku menemukan adanya cidera di kepala Helen yang membuat wanita itu kehilangan sebagian memorinya. Aku pernah mengganti obat yang dikonsumsi Helen tiga tahun yang lalu saat kami pertama kali bertemu lagi setelah sekian lama. Dia mengeluh selalu berhalusinasi dan justru mengkonsumsi obat yang akan memperburuk kondisinya. Aku tidak memberitahukan kepadanya obat yang dikonsumsinya saat itu, aku tidak ingin membuatnya cemas secara berlebih," imbuhnya.


Damn! Rahang Arthur semakin mengeras, bahkan matanya yang terlihat sudah memerah itu terpejam sejenak. Darren dapat merasakan jika Arthur tengah memupuk emosinya. Oh tidak, jangan sampai sisi lain Arthur kembali menguasai.


"Dokter Steve, apa tidak ada cara untuk membuat Nona Helena kembali pulih seperti sebelumnya? Karena Nona Helena bersikap seperti tidak ada yang terjadi dalam dirinya sebelumnya." Perkataan Darren membuat Arthur menoleh ke arahnya dengan tatapan yang masih terselip amarah, namun berusaha meredam.


Steve menarik kedua sudut bibirnya tipis. "Helen akan segera pulih jika rutin mengkonsumsi obat, melakukan terapi atau teknik relaksasi dan yang terpenting menghindari sesuatu yang dapat memicu rasa ketakutannya."


Darren mengangguk saja seolah ia baru paham. Yang sebenarnya ia hanya ingin mengalihkan perhatian Arthur dari rasa penuh amarah itu.


Karena tidak ada yang di bicarakan kembali, Steve pamit undur diri, sebab ia masih memiliki pekerjaan lain. Dan selepas kepergian Steve, Arthur menatap Darren dengan sorot tajam yang tak menyurut.


"Der, cari tau segalanya. Jika pria itu adalah dalang yang membuat Helena menjadi seperti ini, kupastikan dia akan menyesalinya!"


To be continue


...Pokoknya jangan pernah bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...