
MARYLEBONE TOWN HALL, LONDON
Para tamu undangan yang hadir sebagian sudah memenuhi hall. Bagi mereka yang mendapatkan undangan merasa sangat beruntung, sebab selain menghadiri pesta mewah, mereka dapat mendekatkan diri dengan pebisnis lainnya. Tak jarang menjadi ajang memamerkan kejayaan perusahaan dan kekayaan mereka. Hal tersebut sudah menjadi hal yang lumrah dikalangan bisnis.
Sebagian sibuk berbincang, sebagian tamu lainnya mengagumi interior klasik yang dipenuhi oleh sentuhan lilin yang berjumlah ratusan disepanjang tangga.
Keluarga Romanov dan Keluarga Scott menyambut rekan-rekan mereka. Sesekali bertukar pembicaraan antara Xavier dan Zayn. Keduanya nampak akur dan terlihat begitu dekat. Hingga membuat semua mengagumi kedekatan kedua pria kaya raya itu. Akan tetapi dibalik kedekatan mereka, tak jarang keduanya mendebatkan hal yang tidak penting. Seperti saat ini, sejak insiden lamaran, keduanya tak bertegur sapa. Hanya didepan lainnya saja mereka terlihat seperti tidak memiliki masalah.
"Hubby, aku dan Angel akan menemui Nyonya Carter," ucap Mommy Elleana kepada suaminya yang baru selesai berbincang dengan rekan bisnis lama.
Ekor mata Xavier melirik ke arah sekumpulan wanita setengah baya. Lalu menjawab, "Baiklah, aku akan menunggu disini." Tentu ia tidak akan mendampingi istrinya, karena disana hanya terdapat sekumpulan wanita. Jika ada pria, maka ia akan menemani karena tidak rela sang istri didekati pria matang lainnya.
Mommy Elleana mengangguk, lalu mengajak Mommy Angela untuk menghampiri teman mereka. Tetapi sebelum menemui Nyonya Carter, tentunya Mommy Angela harus meminta izin pada suaminya lebih dulu. Ia menunggu sejenak saat mendapati sang suami masih berbincang dengan klien yang entah siapa. Tanpa Mommy Angela ketahui, klien tersebut merupakan salah satu klien yang dahulu berulang kali meminjam jasanya untuk menghabisi seseorang dan kebetulan sekali menjadi rekan bisnis Romanov. Meskipun begitu, pria tua yang sempat menjadi klien Zayn itu selalu menutup rapat mengenai sosok Zayn yang sebenarnya.
Setelah suaminya itu datang menghampiri dirinya. Mommy Elleana berkata, "Zayn, aku dan Elle akan menemui Nyonya Carter."
"Nyonya Carter?" Zayn merasa tidak asing dengan nama yang disebut oleh sang istri.
"Hum, teman satu perkumpulanku dengan Elle." Lantas Mommy Angela menunjuk keberadaan Nyonya Carter bersama yang lainnya.
Zayn manggut-manggut. "Baiklah." Lagi pula tidak mungkin ia melarang sang istri untuk bertemu dengan teman-temannya.
Setelah mendapatkan izin dari kedua suami posesif. Mommy Elleana serta Mommy Angela segera menghampiri sekumpulan teman-teman mereka. Dan sepeninggalnya sang istri, Xavier serta Zayn tak kunjung bertegur sapa. Keduanya berdiri bersisian, akan tetapi tidak saling berdebat seperti yang biasa terjadi jika mereka bertemu.
"Paman Vier... Paman Zayn, kalian baik-baik saja?" Entah datangnya dari mana, Devano putra dari Edward sudah berdiri di antara kedua Pamannya. Sungguh, Devano merasakan atmosfer yang berbeda dari keduanya.
"Ya...." Baik Xavier dan Zayn menjawab serentak.
Devano menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Cukup merasa heran dengan kedua pria setengah baya itu yang biasanya selalu bertengkar, kini mendadak saling diam. Oh tidak, apa hal ini pertanda kiamat sudah dekat?
"Dev, kau disini?" Edward berlari dari arah belakang Xavier serta Zayn. "Panggilkan As, acara akan segera dimulai. Frey juga sedang memanggil Licia."
"Baik Dad." Devano mengangguk, lalu segera melangkah pergi untuk memanggil sepupunya.
Setelahnya, Edward memusatkan perhatian pada Zayn dan Xavier secara bergantian. Mengamati dalam diam hubungan keduanya yang nampak tidak seperti biasa. Padahal sudah beberapa minggu berlalu, akan tetapi keduanya masih saling mendiamkan.
"Vier, As adalah putramu..." ucapnya membuka suara terlebih dahulu. Lalu beralih pada Zayn. "Dan kau Zayn, Licia ada putrimu!"
"Lalu???" Lagi-lagi Xavier dan Zayn menjawab serentak hingga membuat mereka saling bersitatap tanpa sadar. Namun segera membuang pandangan, seolah tidak sudi melihat satu sama lain.
Edward menghempaskan napas kasar. Keduanya sungguh menggemaskan dan rasanya ia ingin menghajar adik ipar serta temannya itu. Sebab dengan santainya mereka menjawab, lalu? Apa mereka tidak tau jika sedari tadi ia sibuk kesana kemari untuk mengatur pesta. Bahkan saat ini Jack tengah sibuk, akan tetapi orang tua dari pemilik acara justru terlihat sibuk berselisih dalam diam.
"Lalu, aku mewakili kalian sebagai Pamannya. Kalian disini, sedangkan aku dan Jack sibuk mengerahkan semua anak buah untuk berjaga." Ya, Edward memang mengerahkan para anak buah Black Lion dan juga Red Dragon di sekitar lokasi gedung yang begitu luas.
"Apa kau baru saja mengeluh, Ed?!" seru Xavier merasa tersentil dengan sindiran kakak iparnya itu.
"Katakan saja jika kau merasa keberatan. Aku bisa menyuruh yang lain untuk membantu!" sembur Zayn kemudian merasa tidak terima.
Woow... Kenapa mereka berdua menyerangku? batin Edward merasa tersudut.
"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan," sahut Edward jujur. Memang ia tidak merasa keberatan. Hanya saja merasa sedikit kesal dengan keduanya. Lebih baik ia melihat pertengkaran mereka, ketimbang harus melihat mereka berselisih dalam diam. Karena aura keduanya lebih menyeramkan dan membuat siapapun yang berada di dekat mereka merasa terancam.
"Lalu kenapa kau berkata seperti itu jika kau tidak merasa keberatan, heh?!" hardik Xavier merasa tidak puas dengan jawaban Edward.
"Benar. Kau seperti terpaksa melakukannya!" Lagi-lagi Zayn menyambar.
"Jadi kalian menyerangku, heh? Kalian ingin dua lawan satu? Begitu?!" Edward menjadi tersulut emosi. Pasalnya ia seperti tengah di serang dua orang sekaligus.
"Tidak perlu dua lawan satu. Aku saja cukup untuk melawanmu!" ujar Xavier sengit.
"Tidak bisa begitu, apa kau melupakanku, heh?!" Zayn kembali merasa tidak terima. Ia bahkan menyentak bahu Xavier.
"Aku juga ingin melawanmu dan juga melawan Ed!" Zayn menyerukan keinginannya.
"Huh, kalau begitu kita saling melawan. Aku tidak takut pada kalian!" Edward membusungkan dada, ia terlihat benar-benar sedang menantang.
Dari kejauhan Jacob serta Elden menyadari jika ketiga paruh baya itu sedang bersitegang. Arthur yang juga memperhatikan Daddy Xavier sedari tadi segera menyuruh Darren untuk melerai mereka.
"Astaga Daddy," ujar Jacob.
"Yaampun Paman," seru Elden putra dari Nico kepada ketiga Pamannya itu.
Lantas keduanya segera berlari menghampiri ketiga pria matang yang saling bersitegang. Disusul langkah Darren dari arah berlawanan.
"Dad, jangan berulah disini." Datang-datang Jacob langsung menegur Daddy Zayn.
"Paman hentikan!" sambung Elden membawa Paman Edward menjauh beberapa langkah.
Sedangkan Darren sudah berdiri disisi Paman Xavier. Sebelum kemudian berbisik," Paman, Ar sedang melihat Paman."
Begitu mendengar nama Arthur, Xavier segera menolehkan kepala ke arah Arthur berada. Benar saja, putra sulungnya itu menghunuskan tatapan tajam dan penuh peringatan.
Xavier mengangkat kedua bahunya. Sebagai tanda jika ia tidak bersalah disertai wajah yang terlihat pias seperti seorang anak yang kedapati melakukan kesalahan.
Darren berusaha mengulum senyum, saat ini Paman Xavier terlihat seperti putra dari Arthur. Memang tidak heran jika kadangkala orang tua bersikap layaknya anak kecil.
"Kau kembali saja Der. Katakan pada Ar jika kami hanya sedang bercanda," ujar Xavier menyuruh Darren agar kembali ke tempat semula.
Bercanda? Yang benar saja? Bahkan siapapun yang melihat mereka dapat merasakan aura ketegangan diantara ketiganya.
"Hahaha Vier benar. Kami hanya sedang bercanda saja." Tiba-tiba saja Zayn turut menimpali. Ia yang berhadapan dengan Edward mendelikkan mata berulang kali agar Edward membenarkan perkataannya.
Edward yang paham pun mengangguk-angguk. "Benar. Kami hanya bercanda saja hahaha," ucapnya diselingi tawa. Tawa yang menurut mereka dipaksakan.
"Cih, kau terlihat bodoh Ed!" batin Zayn merasa Edward begitu menggelikan.
"Sekali bodoh akan tetap bodoh!" batin Xavier mencibir Edward.
Namun Elden, Jacob dan Darren hanya mengangguk saja, meskipun mereka tahu jika ketiga pria matang itu hanya mengelak.
"Kalau begitu kita duduk disana saja, Paman." Sembari menunjuk ruang kosong yang tidak jauh dari kursi Arthur. Darren memberikan solusi yang terbaik tentunya, dengan menjauhkan diri dari sumber yang akan memicu pertikaian.
Xavier tidak menolak. Ia bahkan melangkah lebih dulu meninggalkan Darren.
"Dad, sebaiknya kita mencari Licia. Aku belum melihatnya sejak tadi," ujar Jacob kemudian mencari alasan. Tidak mungkin ia meninggalkan Daddy-nya bersama Paman Vier dan Paman Edward, pikirnya.
Zayn mengiyakan saja. Lebih baik ia mencari udara segera untuk mendinginkan kepalanya yang sempat mengepulkan hawa panas.
"Ayo Paman Ed, kita juga harus mencari kesibukan yang lain." Dan kali ini giliran Elden yang mengajak Paman Edward untuk menjauh. Setidaknya untuk beberapa saat saja, agar drama di acara pertunangan tidak kembali berlanjut.
Reaksi Edward serupa seperti Xavier dan Zayn, tidak menolak dan menuruti Elden. Mengikuti langkah kakinya entah kemana. Yang pasti Edward juga ingin mendinginkan kepala, karena jujur saja diusianya yang tidak lagi muda, membuat napasnya sulit teratur. Dengan kata lain ia tidak ingin terkena serangan jantung. Oh Big No, Xavier serta Zayn pasti akan mentertawakan dirinya.
See you next bonus chapter
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...