The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Budak Cinta



Darren dan Veronica sudah berada di The Ivi Restauran. Makanan yang dipesan sudah berdatangan, karena sebelumnya Darren sudah reservasi terlebih dahulu saat di perjalanan.


"Ah, aku sudah sangat lapar." Lantas Veronica segera mengeksekusi makanan yang ada di hadapannya. Satu persatu ia cicipi dan ia sangat menyukainya.


Darren turut menikmati makanannya. Walaupun yang banyak menghabiskan makanannya adalah Veronica. Tetapi ia tidak mempermasalahkan. Justru ia sangat senang melihat wanitanya itu makan dengan lahap, tanpa menjaga image di hadapannya.


"Pelan-pelan saja. Tidak akan ada yang mengambil makananmu." Jemari Darren mengusap sudut bibir Veronica yang terdapat mayonaise.


Tubuh Veronica membeku seketika. Astaga, apa benar pria di hadapannya ini adalah kekasihnya? Manis sekali, pikirnya sulit percaya.


"A-aku akan pelan-pelan." Ayolah, saat ini ia ingin berjingkrak akan perlakuan kekasihnya. Akan tetapi ia harus bersikap anggun. Mana mungkin ia mempermalukan kekasihnya di depan banyak pengunjung.


Darren sudah menyelesaikan makannya. Ia meneguk air mineral lalu kembali memperhatikan Veronica yang masih belum menghabiskan makanannya.


"Aku sudah berbicara dengan kedua orang tuaku tentang pertunangan kita."


"Uhukk.... uhukk...." Makanan yang baru saja dikunyah gagal meluncur, alhasil membuat Veronica tersedak.


"Sudah kukatakan pelan-pelan saja." Darren yang panik buru-buru memberikan air mineral miliknya, yang segera diteguk tandas oleh wanita itu.


"Maaf, aku terlalu terkejut," cicitnya sembari meletakkan gelas di atas meja.


"Kenapa terkejut? Bukankah bertunangan adalah keinginanmu?" Darren menyindir dengan selarik senyum.


"Tapi kemarin aku hanya bercanda saja. Mana aku tahu jika kau benar-benar berbicara pada orang tuamu." Rasanya percakapan mereka saat ini lebih menarik perhatian Veronica alih-alih pada makanan yang masih tersisa itu. Ia menatap intens wajah Darren yang benar-benar membuktikan perkataannya tempo hari.


"Jadi kau berbohong masalah kau yang tidak akan menikah selama dua tahun selama masa kontrak kerjamu selesai? Dan kau juga tidak serius mengajakku bertunangan?"


Aish, pria ini kenapa terang-terangan sekali bicaranya. Veronica menjadi salah tingkah.


"Tidak. Aku tidak berbohong. Aku memang menandatangani kontrak yang isinya tidak boleh menikah selama dua tahun dan kontraknya sudah berjalan dua bulan. Itu artinya tersisa satu tahun sepuluh bulan lagi." Ia mengatakan yang sesungguhnya. Mana mungkin ia berbohong hanya untuk menghindari yang namanya pernikahan. Sejak dulu ia memimpikan pernikahan yang harmonis dan bahagia, seperti Elie dan Helena.


"Jika kau benar-benar mengajakku bertunangan, sudah pasti aku sangat senang." Terpancar rona kebahagiaan di wajah Veronica. Nampak jelas jika wanita itu begitu mencintai pria di hadapannya.


Darren mengangguk saja. Beberapa hari yang lalu Veronica mengatakan jika dalam surat kontrak terdapat perjanjian tertulis bahwa tidak boleh menikah selama dua tahun. Dan pada akhirnya ia mempertimbangkan keinginan wanita itu dan mengikat dengan pertunangan sebagai tanda keseriusan hubungan mereka. Beruntung saat ia memberitahukan niatnya yang ingin bertunangan dengan kekasihnya saat ini, kedua orang tuanya setuju dan tidak mempersulit hubungan mereka meskipun tidak mengetahui siapa calon menantu yang akan menjadi bagian dari anggota Hamilton.


"Kalau begitu bersiaplah, besok aku akan membawamu bertemu dengan kedua orang tuaku."


"Bertemu dengan Bibi Millie dan Paman Jack?" Sedikit tercengang mendengar penuturan Darren, sebab ia tidak tahu bahwa secepat ini ia akan dikenalkan kepada orang tua kekasihnya.


"A-apa mereka akan menyukaiku?" sambungnya. Tiba-tiba saja ia menjadi gugup. Ia akan bertemu dengan orang tua dari pria yang ia cintai. Meskipun ia sudah seringkali bertemu dan berbincang dengan Bibi Millie, tetapi ia belum pernah berbicara dengan Paman Jack yang memiliki sifat serupa dengan Darren. Menaklukkan Darren saja sangat sulit, dan kini ia harus menaklukkan hati calon ayah mertuanya.


"Mereka pasti akan menyukaimu." Yang Darren tangkap jika kekasihnya itu tengah merasa tidak percaya diri, sehingga ia berusaha meyakinkan. "Bukankah selama ini kau sudah dekat dengan ibuku?" imbuhnya. Sedari yang ia ketahui ketika berkumpul, Veronica selalu berbicara santai dengan Mommy-nya.


"Hm, kau benar." Veronica mengangguk ragu. "Tapi saat itu kita belum memiliki hubungan. Aku takut ibumu tidak menyukaiku, karena selama ini Bibi Millie mengetahui sifatku yang sebenarnya. Bagaimana jika Bibi sudah merasa ilfeel padaku sejak saat itu?" Ya, ia selalu apa adanya ketika berhadapan dengan Keluarga Romanov dan Keluarga Hamilton. Ia tidak berpikir jika ia benar-benar akan menjadi bagian dari keluarga tersohor itu. Memimpikannya saja terasa sulit dan ia sempat ingin menyerah mendekati Darren yang terasa jauh dari jangkauannya. Tetapi malam penyatuan mereka membuat hubungan yang semula rumit itu perlahan mendekatkan Darren padanya.


Darren menghela napas. Ia menatap wajah Veronica yang diliputi kegelisahan. Sepertinya ini kali pertama ia mendapati wanita itu tengah tidak percaya diri. Padahal sejauh mengenal Veronica, sifat apa adanya wanita itu yang menarik perhatiannya. Sejak awal ia tidak pernah menanggapi wanita lain, meski ia kesal setengah mati sekalipun karena digoda sedemikian rupa. Tetapi terhadap Veronica, ia bahkan rela direpotkan oleh wanita itu. Apa sebenarnya ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah, kenapa ia baru menyadari hal itu? pikirnya.


"Ke-kenapa melihatku seperti itu?" Veronica mendelik saat tatapan Darren lurus memandang wajahnya. "A-apa ada sesuatu di wajahku?" Tentu panik, ia tidak ingin terlihat jelek di hadapan Darren. Mendapatkan pria itu saja sulit, bagaimana bisa ia membuat pria-nya berpikir jika mereka tidak pantas berdampingan.


Blush


Wajah Veronica memerah bagaikan kepiting rebus. Bagaimana bisa Darren menyindirnya dengan lantang seperti itu. Harus ia akui jika saat itu ia memang membuang rasa malunya untuk mendekati Darren.


"Kau menyadarinya?" cicitnya tertunduk malu-malu.


Darren terkekeh kecil. Semenjak mengenal Veronica ada saja sesuatu yang membuatnya selalu terkekeh karena wanita itu. Seperti saat ini, wajah malu kekasihnya sangat lucu di matanya.


"Hem, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya jika hampir setiap hari kau mendatangiku?"


"Itu karena kau tidak peka. Kau terlalu kaku, jika aku tidak bergerak cepat, kau mungkin sudah dimiliki wanita lain." Veronica membela dirinya meskipun ia terlanjur malu. Tapi biarlah, Darren sudah mengetahui sifatnya yang sebenarnya.


"Wanita lain?" Alis Darren menyatu dengan kerutan dalam.


"Benar. Wanita yang akan dijodohkan denganmu saat itu. Aku benar-benar tidak tenang saat mendengar kau akan dijodohkan dengan wanita Asia. Aku sudah melihat fotonya dan kuakui dia memang sangat cantik." Ah, mengingatnya saja sudah membuat tingkat kecemburuan Veronica bertambah. Ia sempat tidak percaya diri bersaing dengan wanita Asia itu. Tetapi Dewi Fortuna masih berpihak padanya, ia mendengar cerita dari Elie jika Darren menolak perjodohannya.


"Sejak awal bertemu, aku tidak pernah tertarik dengannya." Tentu Darren harus mempertegas perkataannya. Sejak pertemuan di Jepang dengan wanita itu, ia tidak memiliki ketertarikan terhadap Keiko.


"Benarkah?" Mata Veronica berbinar-binar. "Jadi siapa wanita yang berhasil menarik perhatianmu?" serunya sengaja memancing. Ingin sekali ia mendengar pengakuan dari bibir Darren yang sudah sering ia rasakan itu.


"Apa perlu diperjelas?" Berbeda dengan Darren yang begitu enggan menjawab.


"Tentu saja. Aku ingin mendengar langsung darimu." Bukan Veronica namanya jika ia menyerah begitu saja.


Darren menarik napas dalam. "Satu-satunya wanita yang berhasil menarik perhatianku hanya kau." Dan pada akhirnya ia menjawab apa yang ingin ia didengar oleh wanita itu. Dengan diakhir usapan lembut pada kepala Veronica.


Wajah Veronica kembali memerah. Ia tidak menduga jika Darren benar-benar akan mengatakannya. Terlebih pria itu mengusap kepalanya dengan begitu lembut.


"Aku tidak akan mencuci kepalaku selama beberapa hari," tuturnya menatap hangat pada wajah Darren.


"Kenapa?" Tentu Darren mengernyit bingung. Kenapa kekasihnya berbicara demikian.


"Karena kau baru saja mengusap kepalaku." Dan Veronica menjawab dengan polosnya.


"Berlebihan sekali." Darren menggelengkan kepala. Ia benar-benar dibuat heran dengan tingkah wanitanya itu. Tetapi anehnya ia menyukainya. Ah, sepertinya ia sudah mulai menjadi budak cinta seperti Arthur dan Mike.


To be continue


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir batin, maafkan Yoona kalau ada kesalahan kata. Btw Yoona lg drop, jadi kemarin-kemarin sempet jarang up. Semoga kalian selalu sehat ya 🤗❤️


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...