The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Rencana Yang Apik (Flashback)



Saat mobil yang ditumpangi Austin, Jacob, Licia serta Mommy Angela terguling dan tergelincir. Sesungguhnya mereka kesulitan untuk keluar dari mobil, meskipun begitu mereka tidak terluka parah. Hanya kepala Jacob yang sedikit mengeluarkan darah lantaran terbentur. Sedangkan Austin masih berusaha menahan bobot tubuhnya agar tidak menimpa Mommy Angela serta Licia. Kali ini ia akui jika dirinya tidak berdaya dan hanya bisa menunggu seseorang untuk menyelamatkan mereka.


Jacob pun serupa, pria itu berusaha menjaga kesadarannya. Sesekali ia melirik ke arah Austin dan berharap jika teman baiknya itu dapat bertahan. Karena jika sampai Austin tidak sadarkan diri, maka Mommy Angela dan Licia yang akan terjepit.


Samar-samar mereka mendengar langkah kaki seseorang, baik Austin dan Jacob saling melirik. Mereka tidak dapat menebak siapa seseorang yang berjalan mendekat, bisa saja orang-orang mereka atau bisa juga musuh mereka.


"Te-tetaplah berpura-pura kita terluka parah," ucap Austin dengan ringisan kecil dan berusaha untuk tidak banyak bergerak.


Jacob mengangguk. Ia tidak banyak bertanya, sebab ia paham apa yang akan direncanakan Austin. Semakin lama, pandangannya semakin memburam. Jacob tahu betul jika tidak lama lagi kesadarannya akan menghilang.


Melihat Jacob yang perlahan tidak sadarkan diri sama seperti Mommy Angela serta Licia, Austin hanya bisa semakin pasrah. Akan tetapi ia teringat benda penting di dalam saku celananya. Sehingga dengan susah payah, Austin merogoh kantung celananya. Ia berupaya menemukan benda yang ia cari di celah kecil saku celananya, hingga kemudian mampu menjangkau benda itu. Dengan berhati-hati meraih tangan Licia dan menyematkan cincin di jari manis gadis itu. Benda yang tidak menarik perhatian sebab begitu menyerupai warna kulit. Meskipun begitu, Austin berharap akan berguna nantinya. Dan dirinya pun segera melepaskan giwang dari cuping telinga Licia yang menurutnya mencurigakan, sebab dari posisi dirinya yang begitu dekat dengan kepala Licia, dengan jelas ia mendapati salah satu berlian itu memiliki bentuk yang berbeda, seperti sebuah alat penghubung ciptaan Black Lion.


Perlahan langkah seseorang itu semakin terdengar jelas. Kesadaran Austin pun melemah, entah apa yang akan terjadi, tetapi ia yakin semuanya akan baik-baik saja.


***


Di tengah gencatan senjata yang saling bersahutan, Austin dan Jacob justru terlihat santai. Mereka membiarkan para anak buah yang membereskan para anak buah Bloods Dead. Salah satu anak buah mendekati Austin dan memberikan ponsel entah milik siapa, tetapi ponsel itu berdering berulang kali.


"Bos Ar." Anak buahnya itu menjawab kebingungan Austin, sehingga memberitahu maksud dirinya memberikan ponsel miliknya. Sebab ponsel Tuan Muda Austin tidak dapat dihubungi.


Austin kemudian mengambil ponsel dari tangan anak buahnya itu. Dengan cepat ia menggeser icon hijau dan menjawabnya.


"Ada apa kak?" Austin mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video call, sehingga keduanya dapat melihat penampakan wajah mereka masing-masing.


"Apa kau baru saja melukis wajahmu?" Sungguh pertanyaan aneh, mana mungkin sang adik melukis di wajah hanya karena mendapati beberapa luka memar serta darah yang sudah mengering disudut bibir Austin.


"Menurutmu? Apa aku membuatnya sendiri?" Austin mendengkus kesal.


"Entahlah. Tapi terlihat sangat cocok."


"Ck...." Austin hanya bisa mendecakkan lidahnya.


"Selesaikan dengan cepat. Kali ini aku tidak bisa membantumu."


"Baiklah," jawabnya menyanggupi. "Dan jangan katakan apapun pada Daddy." Austin cemas jika Daddy-nya mengetahui apa yang terjadi padanya, maka Daddy-nya akan lebih murka.


"Terlambat. Kau lihat saja ke arah jarum jam angka 1 dan gedung berlantai 10. Dad mengawasimu dari sana." Dari mana Arthur mengetahuinya? Karena mereka saling mengawasi. Banyak bicara bukanlah gaya Xavier beserta keturunannya, mereka lebih suka bertindak secara langsung.


"What?!" Austin terperanjat. Tapi sialnya Arthur sudah memutuskan sambungan telepon secara sepihak sebelum ia menuntut penjelasan. Bertepatan dengan tiga anak Bloods Dead yang ingin menyerangnya. Tetapi dengan lihai Austin menangkap senjata dari salah satu anak buah Black Lion dan kemudian beberapa peluru ditembakkan kepada tiga anak buah Bloods Dead yang ingin menembaki dirinya.


Begitu tiga anak buah Bloods Dead terkapar dengan bersimbah darah, Austin berlari keluar gudang tersebut untuk melihat gedung berlantai 10 yang hanya berjarak beberapa meter saja. Ia menyipitkan kedua matanya ketika mendapati gedung itu terdapat teropong. Ah, Daddy-nya ternyata mencemaskan dirinya.


Ponsel yang masih berada dalam genggaman Austin berdering kembali. Kali ini tertera nama Daddy Xavier di layar ponsel tersebut.


"Habisi mereka Son. Dan pulanglah dengan keadaan baik-baik saja. Sejak kemarin Mommy-mu mencemaskanmu. Aku tidak ingin melihatnya menangis karena kau tidak juga pulang."


Austin terkekeh mendengar penuturan Daddy-nya di seberang sana. Ia pikir Daddy-nya tidak akan tau apa yang ia lakukan untuk menyelamatkan Licia. Memang tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Daddy-nya dan juga Arthur.


"Hm, kalau begitu bersenang-senanglah." Tut. Panggilan telepon terputus begitu saja. Walaupun di seberang sana, Daddy Xavier memantau gerak-gerik sang putra. Ia hanya tidak terjadi sesuatu dengan putra bungsunya dan akan menjadi orang pertama yang akan menghancurkan Bloods Dead jika putranya harus merenggang nyawa.


Austin kembali memasuki ruangan. Ia menarik Jacob keluar dari sana. "Kita harus segera mencari Licia!"


"Kau sudah mendeteksi dimana keberadaannya saat ini?" Jacob mencoba memastikan. Sebab sejak kemarin, mereka belum dapat menemukan keberadaan sang adik.


"Hm, aku sudah menyuruh yang lain melacak keberadaan Licia," sahut Austin tersenyum licik. Seolah tersimpan rencana besar di dalam isi kepalanya.


Jacob mengangguk saja. "Ah, baguslah. Aku juga tidak sabar ingin mengakhiri ini secepatnya."


"Benar. Tapi setidaknya Bibi Angel baik-baik saja."


"Daddy-ku tidak akan tinggal diam saja mendengar keadaan istri tercintanya. Dia lebih baik kehilangan perusahaan dari pada harus kehilangan istrinya."


Ya, semua pun mengetahui bagaimana Zayn sangat mencintai istrinya, sehingga siapapun akan disingkirkan jika ada yang berani mengusik istrinya. Dan pada saat mendengar jika istri serta putranya dalam bahaya, Zayn langsung kembali ke London, padahal ia baru saja tiba di Los Angeles. Tetapi memilih kembali lebih dulu dan melimpahkan perusahaannya kepada Roy serta Jeff.


Percakapan mereka terjeda sejenak begitu melihat mobil Lion dua mobil sedan memasuki area gudang.


"Kalian cepat masuk. Kita akan ke Perbatasan Bosnia." Elden yang mengemudikan mobilnya berseru kepada Austin serta Jacob.


Keduanya mengangguk, lalu segera menaiki mobil masing-masing. Austin bersama Elden dan Liam, sedangkan Jacob berada satu atap dengan Maxwell dan Bene.


Austin merebut tab yang dipegang oleh Liam. Ia memastikan aplikasi ciptakan Black Lion berjalan normal, hingga terlihat titik berwarna merah masih berada di Perbatasan Bosnia. Ia menyunggingkan senyum penuh arti. Cincin yang ia pasangkan di jari manis Licia bekerja dengan baik dan melacak keberadaan gadis itu. Selama dua hari ini Lion Boys memantau pergerakan Licia dari layar tab. Berkat bantuan giwang yang dikenakan oleh Austin dan Jacob, mereka bisa berkomunikasi dengan yang lainnya.


Ya, sebelum pergi ke rumah sakit, Austin sudah memiliki firasat yang tidak baik, sehingga ia dan yang lainnya menyiapkan rencana yang sudah disusun dengan apik, tetapi seolah-olah mereka nampak bodoh. Terlebih saat mereka disekap di gudang, para anak buah Bloods Dead meremehkan dirinya dan Jacob. Semua itu tak luput didengar oleh yang lainnya melalui giwang, sehingga Lion Boys serta Dragon Boys dapat mendengarnya dan mulai menyusun rencana mereka. Tanpa Austin dan Jacob, mereka mulai mencari tahu siapa yang berani-beraninya mengusik mereka. Dan informasi mengenai bloods Dead mereka dapatkan dengan mudah.


Ting


Tanda pesan masuk diterima di ponsel milik Lim. Dengan segera Lim membuka pesan yang ternyata dari Arthur. "Kak Ar mengirim foto Demon. Dia masih berada di Club bersama Tuan Brison," katanya memberitahu pada Austin yang masih fokus menatap layar tab. Perlu diketahui, Tuan Brison mengenal baik Arthur, sehingga pria paruh baya itu tidak keberatan saat Arthur meminta tolong padanya untuk menahan Demon lebih lama lagi, agar mereka dengar mudah menyusup ke Markas Bloods Dead.


"Bagus." Semakin puaslah Austin mendengar penuturan Liam.


"Gav, Dean, Dev, Albern, Beryl dan Aiden sudah berada di Perbatasan Bosnia. Mereka bersiap akan menyusup ke Markas Bloods Dead dan membebaskan para tawanan." Elden turut menimpali, sembari menancapkan pedal gas dengan kecepatan tinggi.


Austin menarik sudut bibirnya ke atas. Inilah saatnya mereka membalas serangan. Sudah cukup Maxime dan ketua dari Bloods Dead bermain-main dengan Black Lion serta Red Dragon.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...