The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Hanya Perlu Menyingkirkan



Restauran yang berada di Shangri-La The Shard Hotel menjadi tempat tujuan Arthur bertemu dengan seseorang yang akan berinvestasi pada proyek perusahaannya kali ini. Pria itu berasal dari negara timur tengah dan hotel tersebut menjadi tempat singgah partner bisnisnya untuk sementara selama menjalin kerja sama dengan Perusahaan Romanov Group. Arthur mengayun langkahnya menuju ruangan VVIP yang sudah di reservasi oleh Darren sebelumnya. Dengan setia Darren mengekori dan menyesuaikan langkahnya dengan Arthur.


Keduanya mengayun langkah tanpa seulas senyum, wajah datar dan dinginnya memang menjadi ciri khas keduanya. Sehingga siapapun yang ingin menyapa mereka begitu enggan, sekalipun salah satu staf hotel tersebut.


Seorang manager restauran tersebut terlihat mendatangi Arthur, tak lama menunduk hormat meskipun usianya jauh di atas pewaris Keluarga Romanov itu. "Selamat siang Tuan Arthur. Ruangannya sudah kami siapkan." Ya, Arthur merupakan salah satu tamu VVIP tetap yang selalu menjadi pelanggan restauran tersebut.


Arthur mengangguk, sedangkan Darren mengucapkan terima kasih kepada manager restauran itu. Sebelum kemudian keduanya melangkah menuju ruangan yang selalu dikhususkan untuk Arthur dan Darren jika melakukan pertemuan bisnis dengan beberapa kolega.


Darren membukakan pintu untuk mereka, namun langkah Arthur terhenti sejenak karena bertepatan dengan langkah kaki yang berjalan tegas menghampiri disertai dengan suara yang memanggil 'Mr. Arthur'.


Arthur menoleh ke arah sumber suara, mengurungkan langkahnya memasuki ruangan makan tersebut. Darren turut menoleh tanpa melepaskan pegangan pintu yang ia buka sebelumnya.


"Mr. Arthur, maaf saya sedikit terlambat." Pria matang yang usianya terpaut tiga tahun dengan Arthur mendekat dengan seulas senyum tipis ciri khas pria timur tengah.


Dan Arthur membalas senyum pria yang sudah berdiri di hadapannya. "Tidak apa-apa Mr. Can. Saya juga baru saja datang. Dan kebetulan baru saja akan masuk."


"Oh, syukurlah. Saya sangat tidak enak jika anda dan asisten anda menunggu lama. Tadi pagi perut saya sedikit bermasalah." Mr. Can tidak ingin partner yang akan bekerja sama dengan perusahaannya berpikir jika dirinya tidak kompeten mengenai waktu. Karena itu ia menjelaskan kembali, meskipun sebelumnya asisten pribadinya sudah memberitahukan Darren terlebih dahulu.


"Tidak masalah Mr. Can. Saya sudah mendengar dari asisten anda, jika perut anda tidak begitu cocok dengan makanan Eropa. Karena itu asisten saya Darren sudah memesan makanan timur tengah yang ada di restauran hotel ini."


Mr. Can nampak terharu dengan ucapan pria yang usianya 3 tahun dibawahnya itu. Selain pandai mengurus perusahaan, Mr. Arthur sangat perhatian dan peduli terhadap partner bisnisnya. "Terima kasih Mr. Arthur sudah perhatian dengan saya."


"Tidak masalah," jawabnya dengan ramah. "Kalau begitu kita bicara bicara di dalam."


Mr. Can mengangguk setuju. "Baiklah...." Kemudian Arthur dan Mr. Can melangkah masuk disusul oleh Darren dan Asisten pribadi Mr. Can.


Tidak lama setelah keempatnya duduk saling berhadapan. Dua waitress wanita datang membawakan pesanan. Beberapa hidangan timur tengah tersaji di atas meja. Ini bukan pertama kalinya untuk Arthur dan Darren mencicipi makanan timur tengah. Setelah semua pesanan sudah lengkap, dua waitress tersebut pergi dari sana.


"Baiklah, kita makan terlebih dahulu, setelah itu kita akan membahas bisnis," ujar Mr. Can membuka suara setelah kedua waitress tersebut menghilang dari ruangan.


Mendengar ucapan Mr. Can, Arthur mengangguk. Memang untuk membahas kerja sama ada baiknya jika perut sudah terisi. Kemudian mereka menikmati makan siang dengan diselingi percakapan kecil. Hingga selama 15 menit mereka menyelesaikan acara makan siang mereka.


"Mr. Arthur, sebelumnya saya sudah meninjau lokasi yang berada di Balaban Silivri. Tempat itu memang sangat indah dan luas. Sebelumnya saya mendengar jika Perusahaan Romanov Group akan membangun 20 Cluster di Istanbul, karena itu saya sudah membaca proposal yang kalian buat," ujar Mr. Can antusias. Sejak awal ia memang ingin bekerja sama dengan salah satu perusahaan terbesar di Negara Eropa itu tetapi belum ada kesempatan. Dan kali ini ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berinvestasi di salah satu proyek besar Perusahaan Romanov Group yang sedang berjalan di Istanbul. "Dan saya benar-benar tertarik untuk berinvestasi, karena saya sudah melihat sepak terjang ayah anda dalam menjalankan bisnis dan sejauh ini perusahaan Romanov di tangan ayah anda maupun anda sendiri sangat berkembang pesat," imbuhnya kemudian. Raut wajahnya tidak mampu menyembunyikan betapa kagumnya dirinya dengan sosok pria muda di hadapannya.


Melihat Mr. Can yang begitu antusias dengan proyek besar perusahaannya dan menyanjung dirinya serta Sang Daddy, Arthur nampak menarik tipis sudut bibirnya. "Mr. Can terlalu memuji saya. Proyek ini belum berjalan sepenuhnya, karena untuk pertama kalinya Romanov Group membangun proyek disana. Tapi saya juga melihat peluang disana karena permintaan rumah berkonsep alam dengan taman meningkat di penduduk Istanbul. Apalagi kawasan hutan disana cukup bagus dan terawat, karena itu pertama-tama kami memang ingin melaksanakan proyek kami dengan konsep 'ruang terbuka dan hidup aman' yang kami bangun berdasarkan realitas gempa bumi di Istanbul. Selain itu kami berencana mengalokasikan setidaknya ruang terbuka untuk fasilitas taman dan kolam renang, sisanya bisa dialokasikan untuk penghijauan." Dengan seksama Mr. Can mendengarkan penuturan yang disampaikan oleh Arthur sangat sesuai dengan rincian di dalam proposal yang sudah ia baca sebelumnya.


"Saya sangat setuju, struktur langit-langit setinggi 6 meter sangat sesuai dengan konsep loteng." Sungguh, Mr. Can benar-benar menanggapi dengan antusias. Ia tidak perlu sulit mencari Perusahaan yang sejalan dengan pemikirannya. Beruntung ia bisa mengenal sosok Arthur dari teman lamanya.


Senyum Arthur melebar, ide yang sudah di diskusikan selama rapat di perusahaan diterima dengan baik oleh partner bisnisnya. "Jika Mr. Can benar-benar setuju kita bisa menandatangani kontrak saat ini juga dan kebetulan kami sudah mempersiapkannya."


Mendengar perkataan Arthur, dengan cekatan Darren menyodorkan surat kontrak kerja sama perusahaan mereka. Darren menjelaskan dengan lugas mengenai value dan profit untuk perusahaan. Mengingat Romanov Group memiliki banyak proyek-proyek sebelumnya yang sudah berjalan dengan baik dan sangat menguntungkan.


Mr. Can mengangguk paham, ia mulai membaca dengan teliti tinta yang menggores kertas di hadapannya itu. Ia tersenyum tipis, memang ia tidak perlu meragukan Romanov Group yang sepak terjangnya sudah melebar luas. "Baiklah, saya akan menandatangani kontrak kerja sama perusahaan kita." Dan kemudian Mr. Can membubuhi tanda tangannya di surat kontrak tersebut. Baik Mr. Can dan Arthur menyematkan senyum.


"Senang bekerja sama dengan anda Mr. Can." Arthur mengulurkan tangannya kepada Mr. Can yang langsung disambut baik. Keduanya berjabat tangan sebagai awal mula kerja sama mereka.


"Senang juga bekerja sama dengan anda Mr. Arthur. Proyek kita kali ini pasti akan sukses seperti proyek anda sebelumnya." Lagi-lagi Mr. Can menyanjung Romanov Group.


"Terima kasih, anda terlalu memuji Mr. Can," sahut Arthur.


"Sayangnya itu adalah fakta Mr. Arthur, dan anda terlalu merendah," ucap Mr. Can terkekeh. "Ternyata benar apa yang dikatakan oleh teman saya, anda tidak sedingin seperti yang diberitakan."


Arthur nampak terkekeh. "Mereka bebas menyimpulkan apapun tentang saya. Asalkan tidak merugikan perusahaan," jawabnya. "Dan apa yang anda katakan? Teman? Apa anda mengenal teman yang juga mengenal saya?" Sedikit rasa penasarannya akan teman yang dibicarakan oleh Mr. Can.


Senyum Mr. Can nampak memudar, ia baru menyadari apa yang ia katakan. Hingga ia mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Ya, teman lama yang baru kembali ke Eropa. Dia tau banyak mengenai Romanov Group, sedikit lebihnya dia membagikan yang dia ketahui mengenai perusahaan anda."


Arthur hanya mengangguk saja, mungkin perusahaan yang pernah bekerja sama dengannya yang memberitahukan tentang dirinya. Terlebih ia memiliki banyak partner bisnis dari beberapa negara. "Baiklah Mr. Can, saya harus kembali ke perusahaan. Untuk selanjutnya saya yang akan berkunjung ke Istanbul dan meninjau proyek disana." Arthur kembali mengulurkan tangannya.


"Baiklah Mr. Arthur, saya tunggu kedatangan anda." Dan Mr. Can menyambut uluran tangan Arthur. Untuk sesaat keduanya kembali berjabat tangan. Sebelum kemudian Arthur berlalu dari sana.


"Ada apa?" tanya Darren memastikan apa yang tengah dilihat oleh Arthur.


Arthur kemudian menggeleng. "Tidak ada," sahutnya memalingkan pandangan kesemula. "Apa kau sudah mencari tau keberadaan Elie, Der?" tanyanya teringat akan adik kembarnya yang sulit dihubungi sejak pagi.


"Elie sedang ada pemotretan. Dan sepertinya nanti malam akan menghadiri pesta topeng di hotel Westminster Bridge jam 7 malam." Darren menjelaskan apa yang dilaporkan dari salah satu anak buah yang bertugas memantau Aurelie. Arthur mengangguk, sebelum kemudian mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju lobby hotel.


***


Sementara Mr. Can dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sudah berada di dalam kamar hotelnya. Entah kapan pria itu masuk, ia selalu tidak bisa menyadari kehadiran temannya itu.


"Bagaimana?" tanyanya membenamkan tubuhnya di sofa.


"Apa yang bagaimana?" Can balik bertanya. Ia melemparkan jas dengan asal.


"Tentu saja kerja sama kalian."


"Sesuai dengan yang kau katakan. Dia tidak seburuk yang diberitakan. Mr. Arthur lebih pintar dan aku senang bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Romanov Group." Can mengembangkan senyum. Nampak jelas jika pria itu mengangumi sosok Arthur.


"Baguslah."


"Ck, kau belum menjelaskan hubunganmu dengan Mr. Arthur?!" Sungguh Can sangat penasaran, mengingat selama ini temannya itu tidak pernah ingin memberitahunya.


"Kau tidak perlu tau," sahutnya menyambar botol wine dan menuangkannya ke dalam gelas.


"Astaga, kau masih tidak percaya padaku?!" seru Can.


"Nope!" Pria itu menyahut tegas setelah meneguk habis wine di dalam gelasnya.


Can hanya menghela napas kasar. Ia memang sudah sangat paham, mengingat sesuatu yang terjadi membuat temannya itu sangat sulit percaya kepada orang lain, termasuk dirinya.


"Baiklah.... baiklah..." Dan Can menyerah, ia tidak ingin memaksa seperti sebelum-sebelumnya. "Bukankah kau ingin menemui pujaan hatimu? Lalu kenapa kau masih disini?"


"Hem..." Pria itu meletakkan gelas kosong di atas meja. "Dia semakin cantik Can. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menariknya ke dalam pelukanku."


"Kalau begitu lakukan saja?!" Can sudah terbiasa dengan cerita temannya mengenai wanita yang ia sendiri belum pernah melihatnya.


"Tidak," jawabnya cepat. "Tapi entahlah nanti malam." Nampak seringai senyum di wajah tampannya.


"Ck, kau ini. Bukankah katamu dia sudah memiliki kekasih?" tanya Can mengingatkan akan status wanita itu.


"Aku hanya perlu menyingkirkan pria itu saja. Beres!" Sembari menyunggingkan senyum penuh arti.


Can menggelengkan kepala. Sepuluh tahun mengenal temannya itu, membuatnya sedikit paham jika temannya tersebut tidak akan pernah bermain-main dengan perkataannya.


To be continue


Arthur



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...